Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 24


__ADS_3

Najma  mengelus perutnya penuh cinta, merasakan gerakan si jabang bayi di sana. Najma tak sabar untuk segera bertemu dengan bayinya, senyum diwajahnyanya merekah menyambut kehadiran pria yang dicintainya. Pram baru saja pulang kerja, wajah pria itu nampak kuyu.


“Mas Pram, kesini deh bayinya nendang perut aku nih....” melihat wajah Najma yang nampak bahagia membuat Pram tersenyum lebar, ia duduk di dekat wanita itu dan menyentuh perutnya.


Jujur saja setiap kali teringat benih siapa yang dikandung Najma, Pram merasakan hatinya sakit. Tapi demi bisa melihat wajah bahagia wanita yang dicintainya, Pram menekan rasa sakitnya itu.


“Dia aktif sekali,” ujar Pram, andai saja calon bayi ini miliknya. Pram pasti akan merasa lebih bahagia dari pada Najma. Gerakan kecil di perut Najma membuat selalu Pram takjub.


“Mas, malam ini aku mau jalan-jalan.” Najma menatap Pram penuh harap, semoga pria itu tidak menolaknya dengan alasan ia cape bekerja seharian dan harus istirahat untuk besok dapat bekerja lagi.


“Kenapa? Kamu mau bilang tidak bisa karena besok kamu harus bangun pagi dan ada meeting di kantor,” ucap Najma ketus, melihat Pram cukup lama terdiam.


Pram menggeleng, ia mengecup mesra pipi wanita itu. “Mau jalan-jalan ke mana?” alis Najma berkerut, ia memikirkan tempat apa yang akan mereka datangi malam ini.


“Hm ... Bagaimana kalau ke tempat kita pertama kali kencan.” Ekspresi Pram menunjukkan kalau ia tidak setuju dengan tempat yang dikatakan Najma.


“Kamu sekarang sedang hamil, tidak bagus untuk kesehatanmu juga terkena angin laut, apa lagi saat malam.” Najma mengerucutkan bibirnya, memasang ekspresi merajuk andalannya.


“Aku akan mengenakan pakaian yang tebal. Ayolah Mas, kamu tidak ingin mengenang masa saat kita masih pacaran dulu.?” Pram memijit pangkal hidungnya, memang susah baginya untuk menolak permintaan Najma. Terlebih saat membayangkan sepanjang malam ini Najma akan bersedih karena tidak dituruti kemauannya.


“Baiklah, tapi kita hanya sebentar saja di sana,” ujar Pram. Najma mengangguk setuju, ia beranjak untuk memilih pakaian yang cocok untuk kencannya dengan Pram malam ini.


Dress ibu hamil bermotif bunga-bunga, serta cardigan dipilih Najma. Flatshoes cantik menghiasi kakinya. Dengan tampilan sederhana seperti ini saja, Najma sudah terlihat sangat menawan. Sementara Pram memakai pakaian casual membuatnya terlihat lebih segar dari pada memakai pakaian formal seperti biasanya. Pasangan itu terlihat benar-benar serasi, Pram yang tampan dan Najma yang cantik.


“Ayo berangkat!” Najma menarik tangan Pram dengan semangat. Najma itu gairah dalam hidup Pram, melihat Najma bahagia seperti ini Pram pun merasakan hal yang sama.


Sebuah Cafe yang terletak di tepi pantai, merupakan tempat kencan pertama Najma dan Pram, meski dulu ada sedikit ancaman dari Pram. Ya, awalnya dulu hubungan Pram dan Najma terjalin karena keterpaksaan.


Pram yang sudah jatuh cinta dengan Najma semenjak pertama kali bertemu, begitu berambisi untuk menjadikan wanita itu miliknya, segala cara ia lakukan untuk menjadikan wanita itu miliknya. Takut dengan ancaman Pram, Najma pun menerima pria itu menjadi kekasihnya. Meski awalnya karena terpaksa, perlahan tapi pasti Najma mulai jatuh cinta pada Pram dan terbiasa dengan perlakuan pria itu. Pram telah berhasil merenggut seluruh cintanya.


“Tempatnya sudah banyak berubah ya?” Najma memperhatikan sekitarnya, tempat duduk mereka kini menghadap langsung ke pantai.

__ADS_1


“Hm .... kita terakhir kali kesini sewaktu ulang tahun pernikahan kita yang keempat,” ujar Pram. Najma memberikan senyum lembut untuk pria yang dicintainya itu.


Mata bulatnya menikmati hamparan laut malam, angin laut yang berembus seolah membelai wajah cantiknya. Telapak tangan Pram yang besar terasa hangat saat menggenggam tangannya. Betapa Najma telah dibutakan oleh cintanya pada pria ini.


“Sayang, setelah bayi kamu nanti lahir aku harap dia bisa membuat hubungan kita menjadi lebih berwarna. Semoga dia mewarisi wajahmu ya,” ucap Pram tulus, matanya tertuju perut Najma.


“Aku harap juga begitu,” ujar Najma, wanita itu sungguh tak sabar menantikan kehadiran bayinya. Najma ingin segera dapat memeluknya dan mengajak anaknya kelak bermain serta melakukan hal-hal yang menyenangkan.


*****


Bayu menatap kamarnya yang nampak acak-acakan. Yuda adik kembarnya adalah pelaku dari semua itu. Melihat saudara kembarnya kesal Yuda menyeringai jahil, hal yang paling menyenangkan dalam hidup Yuda adalah membuat Bayu kesal.


"Siapa wanita cantik di dalam foto ini? aku minta satu untuk berfantasi." Yuda menunjukkan selembar foto wanita cantik.


Mata Bayu langsung melotot, ia mengambil paksa benda itu dari tangan Yuda. "Kembalikan bodoh! Dasar otak mesum!" Umpat Bayu, setelah berhasil mengambil foto Najma dari tangan Yuda.


"Wahh santai bro. Kau jauh lebih mesum dari pada aku. Bra itu milik siapa?" Yuda menunjuk sebuah benda berwarna pink yang ada dipojokkan tempat tidur Bayu. Wajah Bayu berubah merah saat boroknya ketahuan. Bra itu milik Najma yang tanpa sepengetahuan wanita itu ia curi.


"Kalau iya, memang kamu mau apa?" tantang Bayu, ia tidak mau terlihat kalah dengan adik kembarnya yang dasarnya memang jahil.


"Aku akan menceritakan ini pada Ibu," ucap Yuda dengan congkak, ia membayangkan Bayu akan mendapatkan hadiah jeweran dari ibu mereka.


"Ceritakan saja." Bayu menjulurkan  lidahnya meledek Yuda. Jika dulu, mungkin ia sudah ketakutan setengah mati ketika kepergok menyimpan bra perempuan. Tapi kini Bayu santai saja, Ibunya tahu ia sudah menikah dan orang yang ia jadikan bahan untuk fantasinya itu istrinya sendiri.


Bayu mengabaikan Yuda, dengan santai berbaring di tempat tidurnya. Matanya menatap foto-foto Najma yang ia tempelkan di dinding kamarnya, ia merindukan wanita itu. Selama disini ia hanya tidur memeluk guling. Kalau dengan Najma ia akan tidur memeluk wanita itu sambil mengelus-elus tubuh moleknya.


"Aku merindukanmu bro, kau cuek sekali denganku. Kita ini ‘kan selalu bersama mulai dari di dalam kandungan Ibu, aku ingin kita selalu bersama selamanya bro." Yuda merangsek mendekati Bayu, memasang ekspresi sedih yang dibuat-buat. Bayu meringis jijik, terlebih Yuda hampir mencium pipinya jika ia tidak segera menghindar.


"Mendengarmu berbicara seperti itu aku jadi berpikir kalau sebenarnya kamu itu homo!" Yuda menggerang kesal saat dikatakan homo oleh saudara kembarnya. Bayu ini bagaimana sih, tidak seru sekali jika diajak bercanda.


"Sembarangan kamu mengatakan aku homo, asal kamu tahu Bayu biar begini aku sudah pernah meniduri perempuan!" Mata Bayu melotot mendengar pengakuan Yuda. Brengsek juga bocah tengil ini pikirnya.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu Yuda! Awas aku akan laporkan perbuatanmu pada Bapak biar tahu rasa kamu disidang." Bayu mengambil guling dan memukulkannya bertubi-tubi ke tubuh Yuda yang berusaha menghindar dari pukulannya.


"Akhh...! Hentikan Bayu. Aku hanya bercanda, walau pun aku playboy tapi aku masih perjaka ting-ting. Perjakaku ini hanya akan kuberikan untuk istriku saja!" Kata Yuda. Bayu berhenti memukuli Yuda, yang kini tergelak karena sudah berhasil mengerjai Bayu.


Bayu dengan kesal melempar guling yang tadi ia gunakan untuk memukuli Yuda tepat mengenai wajah tengil pemuda itu. Bayu mengabaikan Yuda dengan cuek kembali berbaring tak lupa ia menaruh bra milik Najma di bawah bantalnya.


Yuda mengedikkan bahunya mengabaikan sifat cuek Bayu. Matanya kembali menatap foto wanita matang yang ditempelkan Bayu di dinding kamarnya. Yuda akui wanita itu sangat cantik, ia belum pernah melihat wanita secantik itu sebelumnya, pantas saja Bayu yang cuek doyan menjadikan wanita itu sebagai fantasinya. Ia akan menanyakan siapa wanita itu nanti, setelah mood Bayu membaik.


*****


Pram menelan ludah melihat Najma malam ini, semenjak hamil wanita itu semakin berisi saja. Sebagai laki-laki normal, Pram tentunya memiliki nafsu. Apa lagi ia sudah lama tidak mendapat kepuasan dari tubuh indah wanita cantik itu.


Setiap malam Najma selalu memakai pakaian seksi, seolah mengundangnya untuk menerkam tubuh indah itu. Selama ini Pram menahan diri untuk tidak menyentuh Najma karena khawatir terjadi sesuatu dengan kandungan wanita itu.


Tapi malam ini Pram sudah tidak dapat menahan nafsunya lagi. Pram meraba gunung kembar Najma, wanita itu menunjukkan ekspresi yang tidak bisa dijabarkan ketika tangan Pram dengan nakal bergerilya di area sensitifnya.


“Kamu mau apa? Jauhin tangan kamu!” Pram menyeringai mesum, ia mengungkung tubuh wanita itu. Tangan Pram membelai halus pipi Najma.


“Kamu tambah cantik sekarang.” Najma mengerti arah pembicaraan Pram, pria itu menginginkannya. Saat ini pun tangan Pram telah menyusup dibalik gaun tidurnya.


“Aku tidak mau!” Najma menyahut ketus, ia mengalihkan tatapannya dari wajah Pram.


“Sayang, kita sudah lama tidak melakukannya. Aku pengen....” Pram meniup-niup bagian belakang telinga Najma, titik sensitif wanita itu.


“Tetap aku tidak mau. Aku sekarang lagi hamil. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan bayiku memang kamu mau tanggung jawab?”


“Aku akan melakukannya dengan pelan, aku tidak akan menyakiti bayinya,” bujuk Pram.


“Tidak mau. Kamu pergi ke kamar mandi saja sana! Aku tidak mau terjadi sesuatu pada bayiku! Kamu jangan maksa aku. Lihat kondisi aku sekarang bagaimana, kamu jangan mementingkan nafsumu saja!” Pram menghela napas kasar, ia bangkit dari posisinya semula menindih Najma.


Ucapan Najma barusan telah melukai egonya, selama ini wanita itu tidak pernah menolak ketika diminta untuk melayaninya. Anak yang ada dikandung Najma pasti tidak menyukainya, sehingga wanita itu selalu bersikap ketus padanya.

__ADS_1


__ADS_2