
Dalamnya samudra dapat diukur, namun dalamnya perasaan seseorang kita tidak dapat mengukurnya. Mungkin itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan apa yang dialami Bayu.
Bisa saja orang mengira perasaan yang dimilikinya terhadap Najma hanyalah kekaguman dan obsesi semata. Tetapi disini hanya Bayu dan Tuhanlah yang tahu persis, betapa tulus dan dalamnya perasaan cinta Bayu terhadap Najma.
Bayu begitu mencintai Najma, meski Najma bukanlah cinta pertamanya. Tapi apalah arti cinta pertama, cinta pertama belum tentu menjadi cinta sejati. Cinta sejati, perasaan kekal yang akan dibawa sampai mati.
Bayu begitu memuja, mencinta, dan mendamba bisa bersama dengan Najma. Wanita yang ia cintai, ibu dari anaknya. Wanita yang telah membuatnya menjadi seorang ayah dari anak perempuan yang cantik, hasil dari penyatuan keduanya waktu itu.
Sakitnya Najma dan kehadiran Pram disisi wanita itu kembali, membuat Bayu seolah kehilangan kesempatan. Bolehkah Bayu menyalahkan takdir yang seolah tak pernah mengizinkan ia bisa memiliki Najma sepenuhnya. Haruskah Bayu memarahi hatinya yang tak tahu diri karena mencintai wanita secantik Najma.
“Papaa...!” sosok kecil yang lincah menarik perhatian Bayu, putrinya Akela sudah dari dua hari yang lalu menemaninya. Ketika Bayu menjenguk Najma waktu itu, Akela merengek ingin ikut pulang dengannya.
“Kenapa sayang?” Bayu mendudukkan sosok mungil itu di pangkuannya. Diusapnya wajah mungil itu, Akela gambaran Najma dalam versi mini.
“Kangen Mama....” Bayu tersenyum simpul, mengecup kening anaknya.
“Mau Papa antar pulang?” dengan cepat Akela menggeleng, ia menenggelamkan wajahnya dengan manja di dada Bayu.
“Aku mau sama Papa. Mama jarang temani aku main.” Adunya pada sang Papa. Dan Bayu pun langsung teringat dengan kesibukan Najma selaku pewaris tunggal kerajaan bisnis ayahnya.
“Mama pasti kangen denganmu,” ujar Bayu, teringat ia akan wajah cantik Najma yang pucat karena sakitnya. Jika bisa, Bayu ingin sakit itu dipindahkan pada dirinya saja. Bayu sungguh tak tega melihat Najma sakit seperti itu, Bayu merasa jiwanya kaku melihat sang pujaan hati lemah tak berdaya.
*****
Di tempat yang berbeda, Pram sedang menguatkan hatinya sendiri saat mengetahui secara jelas sakit apa yang di derita Najma. Pram tak rela jika harus kehilangan, apalagi jika maut yang memisahkan mereka. Jika tahu Najma akan sakit separah ini, maka dari awal Pram tak akan sudi menjauh dari Najma barang sebentar saja.
“Mas.... Apa saja yang kamu lakukan selama dua tahun tanpa aku?” suara Najma yang terdengar lirih mengiris pendengaran Pram.
__ADS_1
“Aku mengubah diriku menjadi lebih baik lagi dan tentu saja selalu mencari informasi tentangmu,” ujar Pram dengan senyum terukir di bibir indahnya.
“Curang! Selama dua tahun aku sama sekali tidak mengetahui kabarmu, tapi kamu selalu tahu tentang aku.” Najma memasang ekspresi merajuk andalannya. Pram terkekeh, sudah setua ini Najma ternyata masih saja suka merajuk. Pram berani bertaruh kalau sifat manja Najma sampai sekarang masih belum berkurang.
Suara ketukan pintu mengganggu kemesraan keduanya, dari celotehnya, Najma sudah dapat menebak kalau itu Akela. Benar saja, ketika pintu terbuka Akela langsung berlari dengan lincah menuju tempat tidur Najma disusul Bayu yang mengkhawatirkan langkah Akela jikalau anak itu terjatuh.
“Mama!” Akela dengan cerianya menyapa Najma, berbeda sekali dengan Bayu dan Pram yang nampak tegang saat bertatap muka. Dua pria dengan perbedaan usia yang lumayan jauh, namun mereka mencintai satu wanita yang sama yaitu Najma.
“Papa aku mau duduk di dekat Mama!” pinta Akela pada Bayu, mengalihkan sedikit ketegangan kedua pria beda usia itu. Bayu mengikuti maunya Akela, dia mengangkat tubuh mungil itu, kemudian mendudukkan di samping Najma.
Tatapan mata Pram fokus ke arah Akela yang menggeliat manja, meminta perhatian pada ibunya. Sosok kecil yang lincah bagai kupu-kupu, andaikan saja bocah cantik itu darah dagingnya bersama Najma. Kebahagiaan Pram tentu akan terasa sempurna. Sayangnya Akela milik Najma dan Bayu.
“Bisa kita bicara berdua?” ujar Pram dengan suara pelan, namun masih bisa didengar oleh Bayu.
“Tentu saja,” sahut Bayu cepat. Tatapan mata Pram dan Najma yang sama-sama menyorotnya membuat Bayu sedikit tak nyaman, sepertinya ia dianggap penganggu di sini. Dan Bayu pun sadar akan itu.
*****
Pram berdehem, untuk menghilangkan rasa canggung di antara mereka. “Aku yakin kamu pasti sudah tahu persis jika Najma tidak akan memilihmu,” ucap Pram dengan nada datar, rasa bersalah di hatinya muncul saat Bayu menatap matanya.
“Ya, aku tahu....” Sahut Bayu lemah, apalah arti dirinya dibandingkan Pram yang di mata Najma, pria itu dinilai sempurna.
“Maka dari itu, bisakah kamu menjauh?” tega, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan Pram saat ini.
“Aku bisa menahan diri untuk tidak mengganggu hubungan kalian, tapi aku tidak bisa menjauhi putriku seperti apa yang kamu minta dulu.” Helaan napas berat terdengar dari Pram, saat mendengar kalimat yang diucapkan Bayu barusan.
Pram yang selama dua tahun ini menghabiskan waktunya untuk memperbaiki diri, mengerti jika Bayu begitu mengasihi putri kecilnya dan Pram pun sadar. Ia tidak bisa seenaknya menyuruh seorang ayah menjauhi putri kandungnya sendiri.
__ADS_1
“Aku tidak akan melarangmu dekat dengan Akela, hanya aku minta hilangkan perasaanmu terhadap Najma karena itu hanya akan membuatmu sakit. Kami saling mencintai. Carilah kebahagiaanmu mulai sekarang, jangan berharap lagi pada Najma karena dia milikku.”
Bayu mendesah pelan, matanya menatap ke arah matahari yang mulai tenggelam, sinar keemasannya mulai meredup bersamaan dengan hancurnya perasaan Bayu setelah mendengar ucapan Pram barusan. Sakit sekali, hatinya benar-benar hancur berkeping.
*****
Harapan Pram setelah dua tahun berpisah, ia bisa kembali bersama dengan Najma tanpa adanya rintangan lagi. Namun justru sakit yang diderita Najma semakin parah. Wanita itu kini kehilangan kesadarannya. Pram merasa ia tak berguna karena tidak bisa melakukan apa pun untuk membuat Najma keluar dari rasa sakitnya.
Raut-raut wajah penuh kesedihan dari orang-orang yang menyayangi Najma tergambar jelas di mata Pram saat ini. Letih hanya mengurung diri meratapi ketidak berdayaan, Pram memilih untuk berinteraksi dengan putri kesayangan Najma. Bocah kecil itu banyak bicara, membuat Pram sedikit merasa terhibur.
“Yakin kamu ingin menjadi ayahnya?” suara Risma mengalihkan fokus Pram dari Akela.
“Aku sudah mengenal Akela semenjak dia masih berada di kandungan Najma, meski dia bukan darah dagingku. Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri,” ucap Pram tulus, Risma tersenyum miring. Wanita yang sudah berumur itu nampak memikirkan sesuatu.
“Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi ayah yang baik Pram. Sedangkan dirimu sampai saat ini masih belum bisa berdamai dengan ayahmu. Selesaikan semuanya dahulu, sebelum kamu berpikir bisa hidup dalam damai,” kata wanita tua itu, Pram nampak menelan ludahnya.
Berdamai dengan Seno, ayah kandung yang dulu membuangnya. Mampukah ia memaafkan dan berdamai dengan masa lalunya yang buruk mengenai seorang ayah? Bisakah ia menerima Seno dalam hidupnya? Segala pertanyaan itu memenuhi kepalanya, bagai sebuah tayangan film yang diputar secara acak.
*****
Memang benar adanya, takdir tak pernah bertanya apa perasaan kita. Bagi yang bernasib buruk takdir memang terasa amatlah kejam. Mempermainkan jalan hidup seperti derita tak berkesudahan.
Pram duduk di samping Najma yang terbaring lemah dengan mata terpejam rapat. Pram rindu ketika mata indah milik Najma menatapnya penuh cinta dan begitu memuja.
“Aku tidak akan membuatmu pergi meninggalkan aku,” ucap Pram seakan berjanji pada dirinya sendiri.
Penyakit jantung yang diderita Najma semakin parah, sehingga melakukan transplantasi jantung adalah jalan satu-satunya. Masalahnya menemukan jantung yang cocok tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan.
__ADS_1
“Kamu akan tetap hidup. Kita akan menua bersama seperti janji kita dahulu,” ucap Pram lagi. Sebuah kecupan manis mendarat di kening Najma tanda rasa cintanya yang begitu besar dan tak bisa digambarkan melewati kata-kata, namun dapat dirasa.