Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 40


__ADS_3

Bayu sekarang sedang mengunjungi Akela di rumah Najma, anaknya itu sekarang sudah berusia delapan bulan. Ia sudah mulai bisa merangkak dan berdiri, dia juga sudah bisa mengucapkan beberapa patah kata meski tidak jelas.


"Akela lihat itu ada Papa." Najma menunjuk Bayu, Akela tersenyum lebar melihat kehadiran Bayu. Apa lagi setelah Bayu menggendongnya, Bayu mencium pipi Akela yang semakin bulat.


"Hallo kamu makin lucu," ujar Bayu, ia makin gemas dengan Akela.


"Papah!" Ucap Akela, membuat Bayu melebarkan matanya. Akela memanggilnya Papa untuk pertama kali.


"Dia sudah bisa?" Bayu menatap Najma, wanita itu mengangguk membenarkan.


"Dia sering aku ajari," ucap Najma, wajah wanita itu terlihat sangat cerah. Dia pasti bahagia sekali, berbanding terbalik dengan Bayu.


"Kamu akan kembali dengan mantan suamimu?" Tanya Bayu kemudian, Najma meringis melihat tatapan tak suka di mata Bayu.


"Iya, tapi tidak dalam waktu dekat." Najma membenarkan pertanyaan Bayu. Beruntung sekali Pram meski sering kali menyakiti Najma tetap memberinya kesempatan, pikir Bayu.


"Kamu bawa apa untuk Akela?" Najma menatap paper bag yang dibawa Bayu. Setiap berkunjung Bayu memang selalu membawakan sesuatu untuk Akela.


"Itu hanya boneka. Kuharap Pram akan menyayangi Akela dan memperlakukannya seperti anak kandung sendiri." Bayu bicara terkesan sinis, ia sebenarnya tidak yakin orang seperti Pram bisa menjadi Ayah yang baik.


Meski pun Pram menyayangi Akela nanti, memang Pram bisa mendidiknya untuk menjadi anak yang baik. Istrinya saja ia tidak bisa mendidiknya, apa lagi anak.


"Tenang saja Bayu, Pram menyayangi Akela bahkan mereka berdua sekarang sudah dekat," ujar Najma.


"Baguslah, semoga dia bisa menjadi Ayah tiri yang baik." Bayu sengaja menekan kata Ayah tiri, ia sangat cemburu membayangkan kedekatan Akela dengan Pram. Posisinya sebagai Ayah seiring dengan waktu berjalan pasti akan tergantikan.


"Kalau kamu nantinya tidak bisa merawat Akela dengan baik berikan saja dia padaku, biar aku yang mengasuhnya," ujar Bayu.


"Kamu apa-apaan Bayu, aku ini Ibunya aku tahu bagaimana caranya merawat anakku." Najma merasa tersinggung dengan ucapan Bayu, secara tidak langsung Bayu menganggapnya sebagai Ibu yang tidak becus dalam mengurus anak.

__ADS_1


"Siapa tahu saja nanti setelah kamu kembali bersama Pram perlakuanmu akan berubah." Bayu masih dengan sikap sinisnya, ia susah-susah bikin anak orang lain yang menikmati hasilnya. Bayu sungguh tidak rela jika nanti Akela disia-siakan oleh Pram.


Najma diam dengan wajah cemberut, dia tidak mau lagi menanggapi perkataan Bayu. Sebagai Ayah yang tidak selalu bisa berada di dekat anaknya, Najma mengerti kalau Bayu mengkhawatirkan Akela.


“Pah....” Akela memanggil Bayu yang kini wajahnya nampak tak bersahabat. Meski kesal dengan Najma Bayu tetap perhatian dengan Akela.


“Kenapa sayang? Kamu mau main?” Akela menggeleng, ia malahan menarik-narik baju Bayu. Najma yang banyak menghabiskan waktu dengan Akela paham dengan apa yang diinginkan anaknya.


“Akela kayaknya mau diajak jalan-jalan Bayu. Bagaimana kalau kita ke halaman saja sekalian melatih Akela belajar jalan,” ujar Najma.


“Baiklah,” sahut Bayu, ia melangkah mendahului Najma. Akela terus mengoceh seolah mengajak Bayu untuk bicara lewat ocehannya yang tidak jelas itu, ia seolah menyampaikan perasaannya senangnya karena dijenguk oleh Papanya itu.


Bayu dibuat gemas dengan tingkah Akela, ia ingin anak ini selalu bersamanya, jika saja Bayu tidak memiliki akal sehat akan ia bawa Akela pergi meski pun nanti mereka hanya hidup berdua.


*****


Pram datang lagi ke rumah orang tua Najma, tujuannya sudah pasti ingin bertemu dengan Najma. Tak disangka ia bertemu dengan Bayu. Lalaki muda itu sudah ingin pulang.


"Tentu saja, dia anakku." Bayu menekan ucapannya, Pram mengangguk samar ia mengerti ke tidak sukaan Bayu. Pram sudah tau kalau Bayu menaruh hati dengan Najma.


"Aku doakan semoga kamu mendapat pasangan hidup yang lebih baik," ucap Pram tulus, Bayu hanya bergumam. Dikira gampang untuk move on.


Pram lalu menemui Najma, wanita itu kini sedang menimang anaknya. Akela sudah tidur, pantas saja Bayu pulang.


"Tumben jam segini dia sudah tidur," ujar Pram, biasanya Akela masih sibuk merangkak ke sana kemari dan mengajak Najma bermain.


"Dia kelelahan habis main dengan Bayu." Akela tadi begitu antusias sekali dengan kedatangan Papanya, Bayu juga begitu betah meladeni Akela.


Pram menghela napas kasar, ia meminta Najma untuk meletakan Akela dulu. Lalu wanita itu kini menghampirinya, mereka duduk saling berhadapan.

__ADS_1


"Najma ada satu hal penting yang ingin aku bicarakan." Perasaan Najma mulai tak nyaman, ia yakini kalau apa yang ingin disampaikan Pram kini bukanlah hal baik.


"Apa itu?" Tanya Najma, dengan raut wajah penasaran bercampur cemas.


"Aku tidak mungkin kembali menikahimu dalam waktu dekat, aku telah banyak berbuat kesalahan. Aku ingin memperbaiki diriku lebih dulu, jadi aku tidak akan menemuimu dalam jangka waktu yang tidak bisa aku tentukan. Najma, bersediakah kamu menungguku?"


Najma menunduk, sanggupkah ia menunggu Pram kembali padanya. Sedang Pram sendiri tak bisa memberi kepastian kapan pria itu akan kembali.


"Kenapa kamu harus pergi?" Pram tersenyum kecut, ia mengusap kepala wanita itu.


"Aku pergi untuk menjadi lebih baik, kelak aku pasti akan kembali. Jadi kumohon tunggu aku dan tetap jaga cintamu untukku." Pram mengunci manik mata wanita itu.


"Aku akan menunggumu, tapi jangan pergi terlalu lama, aku tidak yakin akan tetap setia menunggumu. Kelak pasti akan ada banyak hal yang berubah." Najma akhirnya menyanggupi permintaan Pram.


Pram memeluk Najma, mereka sudah saling mengenal sejak belasan tahun lalu. Saling jatuh cinta di usia yang masih remaja, kini mereka akan berpisah dalam jangka waktu yang cukup lama.


Tapi Pram pastikan ini bukan perpisahan untuk selamanya, ia pergi hanya untuk sementara waktu sampai ia berhasil memperbaiki diri dan kembali pada Najma untuk memulai hubungan mereka dari awal lagi.


*****


Najma bertemu dengan sahabatnya Jihan, hubungan mereka kini sudah kembali membaik. Jihan terlihat gemas dengan Akela yang sangat imut, belum lagi pipi bulat bayi itu yang seolah minta digigit.


"Kenapa kamu mesti pisah sih dengan brondongmu itu?" Tanya Jihan dengan nada protes, Najma terlihat memutar bola matanya.


Bagi Jihan, lebih bagus Bayu si brondong. Ketimbang si kunyuk Pram itu, tapi Najma malah meninggalkan Bayu yang sudah jelas-jelas bisa memberikannya keturunan.


"Aku tidak cinta dia. Lagi pula dia masih muda pastinya dia banyak memikirkan untuk bersenang-senang seperti laki-laki seumurannya." Najma mengatakan alasannya dengan gamblang.


"Tapi Bayu bilang cinta kamu bukan? lagi pula kalian sudah punya anak aku yakin kalau Bayu bisa menjadi dewasa. Dulu kamu dan Pram juga menikah muda," ujar Jihan, dengan gaya nyinyir.

__ADS_1


"Itu beda cerita, sudahlah. Jangan dibahas lagi, kami juga sudah cerai," kata Najma, menghindari Jihan untuk membahas topik itu lebih lanjut. Ia tidak mau lagi mengungkit hal itu, ia dan Bayu sudah berakhir komunikasi keduanya terjadi hanya karena ada Akela di antara keduanya.


Meski berat bagi Bayu untuk berpisah darinya, tapi Najma yakin kalau Bayu dengan cepat pasti dapat melupakan ia dan mencari penggantinya. Laki-laki itu akan bahagia, bersama wanita yang pasti bukan dirinya.


__ADS_2