
Hidup itu tidak bisa direncanakan, apa yang direncanakan biasanya tak berjalan sesuai dengan yang diimpikan. Najma di dalam Villa merasa amat sangat bosan. Pram mengunci seluruh jendela dan pintu yang ada disini. Ia hanya bisa berpuas hati melihat betapa lebatnya hutan yang ada di samping kiri Villa melewati jendela. Di dalam hutan itu ada sebuah sungai kecil yang airnya begitu jernih. Pram pernah mengajaknya ke sana beberapa kali.
Najma yang sedang melamun terlonjak mendengar pintu depan Villa di gedor dengan sangat keras. Najma begitu ketakutan disini tidak ada orang jangan-jangan itu orang jahat yang ingin mencelakainya. Menjadi istri dari seorang pengusaha yang banyak memiliki pesaing tidaklah mudah, beberapa kali musuh Pram pernah mencoba untuk membuatnya celaka.
Badannya kini gemetaran, sementara wajahnya terasa panas mewakili rasa takut di hatinya yang membuat ia mulai kesusahan untuk bernapas secara teratur. Najma mendengar suara yang begitu familier memanggil namanya. Melawan rasa takut di hatinya Najma memberanikan dirinya untuk mendekati arah pintu depan, semakin jelas terdengar suara siapa yang memanggil dirinya.
"Papa!" Najma setengah memekik. Ia berjalan ke arah jendela membuka tirai yang menutupinya. Ia melihat Bagas beserta orang kepercayaannya. Bagas melihat anaknya segera menghampiri.
"Buka pintunya." Najma kini tersadar ia tidak bisa membuka pintu karena dikunci dari luar oleh Pram.
"Pintunya dikunci aku tidak bisa membukanya." Najma melihat ekspresi Ayahnya berubah marah. Bagas terlihat membicarakan sesuatu dengan orang kepercayaannya mereka kemudian sepakat untuk mendobrak pintu Villa.
"Ikut Papa pulang!" Bagas tanpa basa-basi langsung menarik tangan Najma, ia menyeret Najma dengan kasar mengikuti langkah kakinya.
"Aku tidak mau pulang." Najma meronta, menyentak cengkraman Ayahnya hingga terlepas.
"Ibumu sakit. Apa begitu buta kamu dengan cinta sampai orang yang telah melahirkanmu sakit kamu tidak peduli." Najma merasa tersindir oleh ucapan Ayahnya.
"Apa Papa memperbolehkan aku menemui Mama?" Najma bertanya dengan ragu, mendengar Ibunya sakit ia merasa khawatir sudah lama ia tidak bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Aku datang kesini karena Mama yang menginginkan. Sekarang tinggal pilih. Kamu ikut Papa menjenguk Mama selagi dia masih hidup atau menjenguk makamnya." Najma menegang apa sakit Ibunya begitu parah? haruskah ia pergi? tapi bagaimana nanti dengan Pram.
"Tunggu sebentar, aku ingin menghubungi Pram."
"Tidak usah sebut pria itu di depan Papa, sekarang masuk ke dalam mobil. Ikuti kata Papa jika kamu masih ingin melihat Mama." Tidak ada pilihan. Najma terpaksa masuk ke dalam mobil Ayahnya.
__ADS_1
Ayahnya Najma kenal sebagai sosok pria yang hangat dan penuh kasih berbeda dengan yang sekarang. Ayahnya tidak pernah membentak dirinya apa lagi memperlakukan ia kasar seperti tadi. Melihat Ayahnya yang nampak dingin Najma memilih menatap keluar, ia ingin menghapal jalan kalau saja nanti Ayahnya tidak mau mengantarkan ia pulang.
Bagas menatap putrinya dalam diam, ingatannya melayang pada saat dimana pertama kali ia menggendong putrinya. Ketika Najma kecil berhasil mengucapkan kata Papa dengan sempurna ia merasa bangga. Najma kecil yang dulu begitu nakal sering kali membuat khawatir orang tuanya. Ketika pulang bermain ia selalu membawa luka di tubuhnya entah itu karena jatuh dari sepeda atau berkelahi dengan teman sebayanya.
Tapi senakal apa pun dia tidak pernah marah, justru semakin hari rasa sayangnya terhadap anak semata wayangnya semakin bertambah. Walau lelah saat pulang kerja ketika Najma kecil minta ditemani bermain ia tak akan menolak, tapi waktu sudah mengubah segalanya.
Najma bukan lagi putri kecilnya yang manja, dia kini telah menjadi orang asing. Ia kini ingin memeluk Najma yang duduk di sebelahnya, tapi tak bisa karena entah mengapa seperti ada dinding tak kasat mata yang menghalangi mereka. Tanpa sepengetahuan Najma setitik air matanya jatuh, air mata dari seorang Ayah yang begitu tulus mencintai putrinya.
*****
Setelah pergi dari kediaman Pram karena tidak lagi bekerja dengan pria itu, Bayu tidak langsung pulang ke kampung halamannya. Ia memilih untuk ngekost dan bekerja sebagai pegawai di salah satu toko. Bisa saja Bayu langsung pulang ke kampung halamannya, apa lagi ia sudah memiliki uang tabungan yang lumayan dan perkebunannya di kampung juga sudah maju. Tapi Bayu tak ingin pergi, sebelum semua masalahnya di sini selesai.
Cek berisikan nominal uang yang diberikan Pram ketika pria itu pergi Bayu langsung merobeknya. Ia bukan penggila harta walau hidupnya memang pas-pasan. Lagi pula ia menikahi Najma karena ancaman pria itu yang akan menghancurkan keluarganya. Sungguh tak ada niat sedikit pun di hatinya mendapatkan uang dengan cara seperti itu.
Pram sekarang sangat susah untuk ditemui, telepon atau pesannya tidak ada yang direspons. Padahal ia hanya ingin menanyakan tentang status pernikahannya dan Najma, agar ia segera hidup tenang. Ia tidak ingin berlama-lama terjebak dalam hubungan pasangan yang begitu mendewakan cinta itu, Najma yang buta karena cinta dan Pram yang egois.
Dan masalah calon anaknya yang ada di kandungan Najma. Bayu rasa ia berhak mendapatkan pengakuan dari anak itu kelak. Anak itu darah dagingnya, belum tau rupanya saja rasa sayang itu sudah hadir di sanubarinya. Apa lagi nanti saat ia melihat perut Najma membesar, kemudian anak itu lahir, ia rasanya tak rela jika kelak anak itu tak mengenali dirinya sebagai seorang Ayah kandung yang sudah menghadirkannya.
Meski pun selama ini Bayu terkesan cuek, tapi dirinya memiliki sifat penyayang yang tidak banyak diketahui kecuali oleh orang terdekatnya. Tak heran jika Bayu tidak rela jika kelak darah dagingnya tidak mengenalinya.
*****
Pram merasakan firasat tidak baik saat pulang melihat pintu depan Villa nya terbuka dengan lebar, terlebih melihat pintu itu mengalami sedikit kerusakan. Pram ingat sebelum pergi ia mengunci pintu itu serta membawa kuncinya, berarti tadi ada yang ada kesini dan membuka pintu dengan kasar.
Pram segera mencari Najma, tujuan utamanya kamar ia tak menemukan wanita itu. Kepalanya kini sudah dipenuhi dengan pikiran negatif. Pram dengan risau mencari Najma ke seluruh penjuru Villa sambil berteriak-teriak memanggil wanita itu seperti orang kehabisan akal.
__ADS_1
Pram mengusap wajah frustrasi, ia menghancurkan benda apa pun yang ada di depannya meluapkan emosi yang kini berada di ubun-ubun. Panik dan marah terkadang membuat seseorang tidak dapat berpikir jernih. Pram melupakan kalau Villa nya memiliki CCTV.
Setelah lama diam tanpa melakukan apa pun. Pram baru teringat untuk mengecek CCTV Villa nya. Ia segera pergi menuju ruang CCTV, alangkah murkanya ia melihat siapa yang membawa wanitanya pergi.
"Bangsat!" Pram menggeram marah meninju layar CCTV itu hingga pecah, ia tak mempedulikan darah segar yang mengalir dari luka di tangannya.
Ayah Najma yang datang menjemput wanita itu, ia akan sangat susah jika ingin bertemu kembali dengan wanita itu. Mengingat orang tua Najma sudah tidak lagi menyukainya. Bahkan semenjak tahu Pram menyakiti putrinya Bagas menarik semua saham yang ia tanam di perusahaan milik Pram sehingga perusahaannya sempat terguncang selama beberapa bulan.
Pram merasa kepalanya akan meledak, ia butuh pelarian mengonsumsi alkohol sepertinya bagus untuk melupakan sejenak masalahnya. Ia berharap semoga saja besok Najma pulang menemuinya. Jika tidak maka ia akan membawa Najma kabur dan menyembunyikan wanita itu dari kedua orang tuanya.
*****
Najma menatap sendu wajah pucat ibunya, hatinya sakit saat melihat keadaan wanita yang sudah melahirkannya itu seperti ini. Najma merasa berdosa, tapi sisi jahat dalam hatinya mengatakan ini balasan yang pantas atas keegoisan yang pernah orang tuanya dulu lakukan.
“Mama....” Risma membuka matanya saat mendengar suara itu.
“Najma anakku!” Risma langsung memeluk anaknya, perasaannya membuncah saat dapat mendekap makhluk yang dulu pernah hidup di dalam rahimnya.
“Mama kenapa sakit?” Najma menyentuh wajah pucat ibunya.
“Mama hanya merindukanmu, jika kamu merawat Mama akan cepat sembuh,” ujar Risma. Najma mengecup pipi ibunya.
“Cepatlah sembuh Ma, aku menyayangi Mama.” Najma melirik ke arah ayahnya Bagas yang nampak senang melihat kedekatan istri dan anaknya. Najma mengelus perutnya pelan, bagaimana reaksi kedua orang tuanya saat tahu dirinya mengandung?
Akankah mereka senang saat mengetahui kalau sebentar lagi akan memiliki cucu darinya? atau justru mereka malah memintanya untuk menggugurkan kandungannya karena ia mengandung benih dari laki-laki biasa.
__ADS_1