Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 43


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian itu Najma layaknya mayat hidup, ia tak semangat menjalani harinya. Bekerja tanpa memikirkan kesehatan, jarang makan dan hanya mau bicara dengan anaknya saja. Nyeri di dadanya semakin sering terasa, wajahnya pucat dengan cekungan mata yang terlihat jelas. Dalam seminggu ia kehilangan 5 kg bobot badannya.


Malam ini Najma tidak dapat memejamkan matanya, ia bangkit dari tempat tidurnya meninggalkan Akela berbaring sendirian. Najma ingin ke rumah Endah, entah kenapa ia sangat yakin kalau wanita itu tahu dimana keberadaan Pram.


Tengah malam buta Najma keluar diam-diam mengendarai mobilnya sendiri, meski sudah lama tidak pernah berkunjung ke rumah mantan ibu mertuanya itu. Najma masih mengingat jelas dimana letak rumahnya. Najma keluar dari mobilnya dengan terburu-buru, ia menggedor-gedor pintu rumah Endah.


“Ibu! Buka pintunya Bu!”


“Ibu!” Cukup lama menunggu, Endah akhirnya membuka pintu rumahnya, wajah wanita tua itu nampak mengantuk.


“Najma....” ucapnya, memastikan kalau ia tidak salah mengenali orang.


“Ibu! Dimana Mas Pram Bu? Aku mohon beritahu aku dimana Mas Pram.”


“Pram sudah lama tidak menemuiku. Kamu salah jika mencari Pram kesini. Memang apa yang terjadi dengan kalian?” Endah memang tidak tahu menahu perihal Najma dan Pram, ia sudah lama tidak berhubungan lagi dengan anak tirinya itu. Pram mengabaikannya semenjak tahu siapa dia sebenarnya.


“Jangan bohong Bu! Ibu pasti tahu dimana keberadaan Pram.” Tangis Najma pecah, wanita itu persis seperti orang gila sekarang.

__ADS_1


“Aduh Najma! Sebaiknya kamu pulang! Kamu bikin malu saya kalau tetangga sampai tahu.” Najma seolah tidak peduli, tangisnya justru semakin kencang, ia sangat frustrasi mencari keberadaan Pram.


Najma merasa dadanya kembali terasa sesak, pandangannya berputar ketika Endah mendorongnya Najma terjatuh tanpa perlawanan. Sakit di tubuhnya semakin menjadi-jadi.


“Astaga Najma!” Endah menjerit ketika melihat Najma pingsan, wanita penyakitan ini benar-benar merepotkannya. Jika saja sisi kemanusiaannya sudah hilang, Endah akan biarkan Najma membeku di luar kedinginan malam ini.


*****


Risma dan Bagas panik mendengar kabar anak mereka berada di rumah sakit, terlebih yang menghubungi mereka Endah, tak ingin disalahkan Endah tanpa diminta segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Bagas mengusap wajahnya frustrasi ketika mendengar cerita Endah barusan.


Selama dua tahun ini, Najma nampak baik-baik saja tanpa Pram. Pasti ada yang mendasari sehingga Najma menjadi seperti sekarang. Bagas pun teringat dengan perubahan Najma seminggu belakangan. Putrinya itu tidak banyak bicara dan nampak murung.


Bukannya menjawab Najma justru menangis histeris, ia hendak menarik infusnya jika saja Risma tak segera memeluknya. “Najma kamu kenapa? Jangan seperti ini, katakan apa yang kamu mau?”


“Aku mau Pram Ma, aku mau dia!” Wajah Bagas berubah tegang mendengar apa yang diinginkan Najma.


“Najma, lupakan saja Pram, dia tidak akan menemuimu lagi,” ucap Bagas.

__ADS_1


“Tidak! Aku mau Pram!” Risma menatap suaminya, ia tahu kalau selama ini Bagas lah yang meminta Pram menjauhi Najma. Mereka pikir seiring waktu Najma bisa melupakan Pram, tapi saat melihat Najma seperti sekarang mereka sadar kalau usaha mereka menjauhkan Pram dari Najma selama ini sia-sia belaka.


*****


Kabar sakitnya Najma akhirnya sampai ke telinga Pram. Bagas memintanya untuk menemui Najma. Pram tentu saja dengan senang hati mengunjungi Najma, namun saat melihat keadaan wanita yang dicintainya hati Pram teriris.


Pram melangkah pelan, mendekati ranjang tempat Najma terbaring lemah. Disentuhnya pelan wajah pucat wanita itu, Pram merasa menjadi pria yang sangat payah karena gagal menepati janjinya dahulu untuk menjaga dan melindungi Najma.


“Mas Pram....” Pram tersadar dari lamunannya, mata indah milik Najma terbuka menampakkan binar kegembiraan ketika melihat pria yang dicintainya berada tempat di sampingnya saat ia baru membuka mata.


“Benarkah ini dirimu?” tanya Najma tak percaya, melihat apa yang tampak di depannya. Pram tersenyum hangat, menggetarkan seluruh saraf Najma yang selama ini membeku karena merindu pria itu. Pram cinta pertamanya dan ia harapkan akan menjadi cinta terakhirnya juga.


“Ini aku sayang, aku kembali untukmu,” ucap Pram dengan air mata meleleh tanpa bisa ia dicegah. Air mata cinta dan kerinduannya jatuh, saat ia bisa kembali menyapa cinta sejatinya.


“Jangan pergi lagi aku mohon. Jangankan tinggalkan aku sendiri dengan cinta ini.” Pinta Najma penuh harap, ia tak peduli dikatakan bodoh meski disakiti berulang kali tetapi cintanya masih teramat besar untuk Pram.


“Aku tidak akan pergi lagi, aku akan tinggal bersamamu. Kita akan menyatu selamanya sampai maut memisahkan,” ujar Pram, lalu memeluk Najma untuk meredakan rasa rindu yang membuncah.

__ADS_1


Air mata bahagia menetes di pipi keduanya, air mata dua anak manusia yang saling mencinta. Yang mereka harapkan setelah berpisah sekian lama adalah menjalani hidup dengan bahagia, namun kembali lagi pada takdir. Takdirlah nanti yang akan bercerita seperti apa kisah mereka.


__ADS_2