
Najma menimang bayinya yang kini genap berusia seminggu, Akela sekarang sedang rewel tidak mau diturunkan dari gendongannya. Najma yang tak terbiasa mulai pegal tangannya, selama ini ia hidup terlalu manja.
"Akela kamu jangan kaya gini Mama capek," keluh Najma, bosan hanya berada di dalam rumah Najma bermaksud mengajak anaknya untuk menikmati angin segar di tempat dimana biasanya ia bersantai.
Namun rencananya itu harus ia batalkan saat mendengar lengkingan suara yang sangat ia kenali. Endah, untuk apa wanita itu datang kemari? Najma menatap anaknya dengan cemas. Selama ini jika Endah datang ke rumah wanita tua itu pasti melukai dirinya.
"Oh pantas Pram sekarang sudah jarang menemuiku. Ternyata kalian punya anak haram rupanya!" ucapnya sinis, menatap Najma yang terlihat berusaha melindungi bayinya
"Anak siapa yang kamu gendong itu? Dia pasti bukan anak Pram? Siapa pria selingkuhanmu heh... aku tidak rela jika anak harammu mendapatkan warisan dari Pram!" ucapan Endah menohok Najma, ia sangat sakit hati putri kesayangannya dikatakan anak haram. Harta warisan, Najma mencemooh orang tuanya bahkan lebih kaya dari Pram dan ia sendiri merupakan anak tunggal.
"Tutup mulutmu! Kamu tidak berhak menghina anakku!" ucap Najma lantang. Mata Endah melotot, Najma berani bersuara lebih keras darinya. Ia ingin melayangkan tamparannya ke wajah wanita itu, namun sebuah tangan kekar menahan lengannya.
"Ibu!" suara Pram menggelegar, hingga membuat Akela terkejut dan langsung menangis.
"Kamu urus ibumu itu," desis Najma meninggalkan Pram dan Endah, ia segera pergi ke kamar untuk menenangkan anaknya. Jika kali ini Pram memarahinya karena membela Endah Najma akan langsung meninggalkan pria itu.
"Pram, lepaskan tangan Ibu!" Endah menatap Pram dengan tajam, ia kesal karena Pram menghalanginya untuk memberi pelajaran pada Najma.
"Berhentilah menyakiti Najma Bu."
"Oo. Jadi sekarang kamu lebih membela Najma dari pada Ibu? Ibumu ini hanya ingin memberikan pelajaran pada wanita tukang selingkuh itu. Ibu yakin bayi Najma itu bukan anakmu!"
"Berhentilah mengganggu kehidupan pernikahanku Bu!" Pram bersuara lebih keras dari Endah. Seumur-umur ia tidak pernah bicara sekasar ini pada ibunya.
"Kamu sekarang sudah berani membentak Ibu?" ucap Endah tak percaya, Pram yang ia didik agar selalu patuh padanya hari ini sudah berani membentaknya.
"Iya. Karena aku sudah tahu kalau Ibu bukan orang tua kandungku," ucap Pram, membuat mata Endah melotot horor. Hal yang selama ini ia tutupi akhirnya terbongkar juga.
*****
Najma mengambil handphonenya, ia mengetikan nomor yang sudah ia hafal di luar kepalanya. Ia ingin menghubungi seseorang yang akan membawanya pergi dari sini. Najma tidak ingin keselamatan anaknya terancam.
Jika dulu ia dengan kukuh bertahan, sekarang ini ia menyerah. Saat ini anaknya lah yang paling berarti di hidupnya, kehadiran anaknya menyadarkan ia dari sifat keras kepalanya.
"Papa jemput, aku ingin pulang," ucap Najma lirih, ia menunggu respon yang diberikan Ayahnya.
"......."
"Iya, aku menyerah. Aku memilih mengakhiri hubunganku dengan Pram, aku akan kembali menjadi anak Papa." Saat mengucapkan itu. Najma merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya.
Tanpa diminta air matanya menetes begitu saja, semuanya berakhir hari ini. Ia akan meninggalkan rumah yang menjadi saksi kisah pernikahannya, ia akan meninggalkan pria yang sudah memberi banyak warna dalam hidupnya.
__ADS_1
Semuanya berakhir demi sang anak, dan Najma berharap setelah ia mengakhiri semua ini kehidupannya akan memiliki kisah yang lebih baik, semoga saja.
*****
Bagas sangat senang dengan keputusan Najma, ia langsung menjemput putrinya itu tanpa mempedulikan larangan istrinya. Alasannya, Risma tidak bisa menerima bayinya Najma.
"Bagaimana dengan Mama?" Tanya Najma ragu.
"Tidak usah pedulikan Mamamu, semuanya akan baik-baik saja. Bagaimana pun, Akela juga cucunya." Najma mengangguk, wanita itu menatap anaknya sendu.
Apakah salah jika Akela terlahir dari benih laki-laki biasa, tapi seperti apa pun Akela Najma tetap mencintainya. Bayi ini darah dagingnya.
"Apa Bayu sudah mengetahui kelahiran anaknya?"
"Iya, dia mengatakan ingin bertemu dengan Akela." Bagas menatap cucunya, bayi itu membawanya kembali ke masa lalu. Wajah mungil Akela mirip dengan Najma sewaktu masih bayi.
"Sini bayinya. Biar Papa yang gendong," ujar Bagas. Tanpa berpikir dua kali Najma membiarkan Bagas menggendong Akela. Seolah tau kalau yang menggendong adalah Kakeknya Akela tersenyum ketika Bagas menatapnya. Bagas terpesona dibuatnya, tidak butuh lama ia langsung sayang pada bayi mungil itu.
"Kamu kalo mau istirahat saja. Akela biar Papa yang jaga," ucap Bagas.
"Benaran Papa mau jaga Akela? Kalau begitu aku mau tidur, setelah Akela lahir aku jarang tidur siang." Najma semringah.
"Iya, tapi jangan tidur siang terlalu lama. Bagaimana kalau nanti Akela ingin menyusu."
*****
Bayu dengan ragu menginjakkan kakinya di halaman rumah besar milik orang tua Najma. Kedatangannya disambut langsung oleh ART di rumah itu. Ia diantarkan ke ruang keluarga. Najma sudah duduk menunggu sambil menggendong bayinya.
Tatapan Bayu langsung tertuju pada bayi yang digendong Najma, namun ia ragu untuk mendekat. Najma terlihat angkuh, tidak seperti beberapa bulan yang lalu.
"Duduk saja Bayu tidak usah sungkan, kebetulan sekarang orang tuaku juga tidak berada di rumah," ucap Najma, melihat Bayu ragu-ragu ketika ingin menyapanya lebih dulu. Bayu mengangguk dengan kaku, suasana hening.
Bayu tidak ada niatan untuk membuka suaranya, Najma menyadari arah tatapan Bayu.
"Kamu mau menggendong Akela? kebetulan dia sekarang sedang membuka matanya."
"Iya," sahut Bayu singkat, ia menerima bayinya dengan gugup. Demi tuhan ia semakin gugup saat bayi itu menatapnya, meski Bayu tahu penglihatan bayi kecil itu belum lah terlalu jelas.
Bayu dengan ragu mengecup kening bayinya, ia takut anak itu akan menangis saat ia cium. Tapi ternyata setelah ia cium anak itu hanya diam. Ayah mana yang tidak akan jatuh hati bila melihat sosok anaknya yang lucu seperti ini.
"Bayu kapan kamu akan menceraikan aku?" Bayu tidak terlalu terkejut dengan pertanyaan Najma, karena sebelumnya ia sudah menebak kalau Najma akan menanyakan hal ini.
__ADS_1
"Aku akan menceraikanmu. Tapi dengan satu syarat, kamu harus mau bertemu dengan Ibuku. Beliau ingin melihatmu dan Akela," ucap Bayu tanpa menatap Najma yang membelalakkan matanya karena tidak menyangka dengan permintaan Bayu barusan.
"Kamu menceritakan pernikahan kita pada orang tuamu? Kenapa Bayu? Waktu itu aku sudah bilang rahasiakan saja semuanya."
"Aku tidak bisa membohongi orang tuaku, jika pun aku berbohong. Kurasa itu percuma, karena suatu saat mereka pasti akan mengetahuinya juga." Najma nampak menelan ludah, sial ia dibuat gugup dengan tatapan Bayu yang mengintimidasi. Ia kalah dengan seorang bocah ingusan.
"Jadi maksudnya, kamu ingin aku ikut denganmu? Yang benar saja Bayu Akela masih sangat kecil, aku tidak mau membawanya bepergian jauh," ucap Najma, ia rasa itu alasan yang tepat untuk menolak keinginan Bayu.
Najma tidak mau bertemu dengan orang tua Bayu. Apa yang akan ia katakan pada mereka nantinya atas pernikahan sandiwara yang terjadi di antara dirinya dan Bayu.
"Kutunggu sampai Akela berusia enam bulan. Aku ingin dia bertemu orang tuaku. Kamu tidak boleh menolak bagaimana pun Akela anakku, aku juga berhak atas dirinya. Setelah Akela dan kamu bertemu dengan orang tuaku, maka aku akan menceraikanmu," ucap Bayu tanpa bisa diganggu gugat, Bayu tidak akan menerima alasan apa pun dari Najma.
*****
"Ma, yakin tidak mau menggendong Akela? Dia lucu loh mirip Najma sewaktu masih bayi." Bagas merayu istrinya yang tadi terus cemberut.
"Tidak. Dia bukan cucuku." Risma menyahut ketus.
"Jangan bicara seperti itu, nanti kamu menyesal." Bagas menyentuh lengan istrinya. Risma segera menarik tangannya, ia kesal Bagas membawa Najma kembali tanpa persetujuannya.
Maksud Risma kasih pelajaran sesekali untuk Najma. Bagaimana jika diabaikan saja anak itu, biar dia tahu rasa selama ini begitu menggilai Pram sampai tidak mendengarkan apa kata orang tua. Namun Bagas yang terlalu mencintai putrinya, tak sampai hati jika harus melakukan itu.
"Ya sudahlah terserah Mama mau bersikap seperti apa. Papa mau ke kamar Najma dulu mau lihat Akela," ujar Bagas bermaksud untuk menarik perhatian istrinya. Meski penasaran dengan wajah cucunya Risma memilih tetap pura-pura tidak peduli.
Ketika Akela sudah selesai dimandikan oleh Najma. Bagas sengaja membawanya menemui Risma, ia menimang cucunya itu dengan sayang. Bagas memperhatikan reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan istrinya.
"Ma...." panggil Bagas.
"Ngapain kamu bawa bayi itu kemari?"
"Enggak pengen kenalan sama cucumu?"
"Tidak!"
"Yakin?" Bagas mengerling mesra, ia tidak putus semangat untuk membujuk istrinya.
Bagas membuka bedong Akela, bayi lucu itu menggeliat nyaman terbebas dari kain yang membungkus tubuhnya. Ekspresi wajahnya terlihat sangat menggemaskan. Risma yang tak acuh, akhirnya mulai luluh juga.
Wanita itu kemudian menyentuh tangan mungil cucunya. Diperhatikannya dengan intens wajah bayi itu. "mirip Najma sewaktu masih bayi," ucapnya. Bagas tersenyum lebar, usahanya untuk membujuk istrinya akhirnya berhasil.
"Apa aku bilang. Akela mirip dengan Najma." Risma mengernyit menatap lubang kecil di pipi sebelah kanan Akela.
__ADS_1
"Dia punya lesung pipit." Bagas mengernyit, ia baru mengetahui itu. Najma tidak punya lesung pipit di wajahnya. Teringat Bagas dengan Bayu, ayah dari cucunya itu punya dua lesung Pipit di wajahnya.
Lesung pipitnya Akela warisan dari Bayu, namun Bagas tak mungkin membahas itu. "Biar dia tambah manis kalau lagi senyum," ujar Bagas menyahuti ucapan istrinya barusan.