Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 18


__ADS_3

“Bayu setelah kamu pulang kerja bawakan aku asinan ya. Buat ngemil nanti malam, persediaan camilanku sudah habis,” ujar Najma, sambil bersolek di depan cermin, meski ia hanya menghabiskan waktu di rumah tampil cantik tetap suatu keharusan untuknya.


“Iya, kamu mau apa lagi?” tanya Bayu, biasanya Najma tak hanya meminta satu benda padanya. Wanita itu terlihat berpikir, meski tangannya sibuk menyisir rambut panjangnya yang bergelombang.


“Aku juga mau lollipop.” Najma mendengus, melihat Bayu nampak menahan tawa mendengar permintaannya barusan. Pasti pemuda itu menganggapnya anak kecil karena meminta permen.


“Ini anakmu yang minta Bayu, kalau aku tidak hamil mana mungkin lah aku minta lollipop.” Wajah Bayu yang biasanya terlihat tak acuh kini mengembangkan senyumnya hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas. Sungguh Najma iri dengan dua lesung pipi yang dimiliki Bayu.


Bayu berlutut di depan Najma, tangannya bergerak mengelus perut wanita itu. “Anakku ternyata banyak maunya,” ujar Bayu. Najma mengerucutkan bibirnya.


“Ngidamku itu masih batas normal Bayu. Apa yang aku minta juga mudah dicarinya.” Bayu mengangguk, sebenarnya ia tidak keberatan memenuhi keinginan ngidam Najma selama ini.


Bayu berharap semoga Najma dan calon bayinya sehat sampai saat melahirkan nanti, Bayu ingin melihat seperti apa rupa anaknya. Apakah calon anaknya nanti lebih mirip dirinya atau Najma? tapi ia berharap kalau anaknya nanti mewarisi wajah cantik Najma.


*****


Najma tersenyum licik melihat pantulan wajahnya di cermin. Betapa mudahnya menipu Bayu, cukup dengan bersikap sedikit manis lelaki itu luluh dengannya. Padahal kebanyakan sikap manjanya pada Bayu itu hanya pura-pura, dengan ia bersikap seperti itu Bayu pasti tidak akan curiga kalau ia berencana untuk pergi. Baru saja ia keluar dari kamarnya, Najma mendengar suara teriakan yang sangat ia kenali.


"Jihan!" Najma terkejut melihat kehadiran sahabatnya. Jihan tersenyum dengan senang menghampiri Najma yang tengah keheranan melihat kehadirannya disini.


"Aku tahu kamu tinggal disini dari Ibumu, beliau juga mengizinkan aku menemuimu," ujar Jihan, seperti mengerti dengan pertanyaan yang ada di benak Najma.


"Aku dengar kamu hamil, hebat juga suami barumu dalam beberapa bulan dia sudah berhasil membuatmu bunting." Jihan menyenggol lengan Najma, mencubit gemas pipi sahabatnya itu. Najma hanya memutar bola matanya, ia mengajaknya sahabatnya untuk duduk santai di ruang keluarga.


Sebenarnya ia heran dengan sikap Jihan yang terlihat senang sekali. Padahal selama ini sahabatnya itu selalu bersikap judes dengannya semenjak tahu permasalahan ia dan Pram.


"Selamat yah akhirnya kamu pisah juga dengan Pram, aku senang mendengarnya." Raut wajah Najma langsung berubah, pantas saja Jihan sangat senang.


"Kami hanya pisah sementara." Najma menyahut dengan ketus.


"Pisah sementara bagaimana maksudnya? Lagi pula apa yang kamu harapkan dari pria seperti Pram. Dia mandul, terus Ibunya jahat seperti nenek sihir. Lebih bagus suamimu yang sekarang buktinya sebentar lagi kamu akan punya anak, aku juga lebih setuju kalau kamu menikah dengannya."


"Aku hanya mencintai Pram, asal kamu tahu aku menikah dengan Bayu hanya karena aku ingin anak darinya." Jihan menutup mulutnya. Ia tidak menyangka Najma sahabatnya ternyata memiliki pikiran yang sangat picik.


"Gila kamu. Kamu tidak memikirkan perasaan lelaki yang kamu nikahi?"


"Dia sudah tahu kalau aku menikah dengannya karena aku menginginkan anak, dan yah seperti katamu, aku memang sudah gila. Jadi kamu tidak perlu lagi mengurusi orang gila sepertiku." Jihan mengepalkan tangannya, dibuat greget oleh sahabatnya itu.


Jihan menghela napas, ia memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Aku membawa berita untukmu," ucap Jihan kemudian, ia terlihat begitu antusias sekali.


"Apakah itu penting?" tanya Najma tanpa minat, yang ia tahu dari dulu Jihan itu tukang gosip. Ia akan menggosipkan apa pun, termasuk hal yang sama sekali tidak penting.

__ADS_1


"Tentu saja. Ini tentang mertuamu, ralat maksudku mantan mertuamu. Kemarin aku menghabiskan waktu dengan berbelanja di mal bersama mertuaku, dan ternyata mertuaku mengenal Ibunya Pram. Kamu tahu apa yang setelah itu dikatakan oleh mertuaku?" Jihan menggantung ceritanya, menatap Najma dengan mimik serius.


"Mana aku tahu. Kamu pikir aku mendengar apa yang Ibu mertuamu katakan waktu itu." Najma menyahut dengan jengkel.


"Kata Ibu mertuaku. Bu Endah itu bukan Ibu kandung Pram. Katanya Pram hanya anak tiri, dulunya Ibu Endah itu istri kedua Ayahnya Pram." Najma hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Ia telah sepuluh tahun menikah dengan Pram tidak pernah ia tahu akan cerita itu.


"Jangan mengada-ngada kamu, kalau Bu Endah bukan Ibunya Pram. Lalu siapa Ibu kandungnya?" Nada bicara Najma naik satu oktaf, melihat perlakuan Pram selama ini yang selalu mengutamakan Ibunya ucapan Jihan rasanya mustahil.


"Kata mertuaku Ibu kandung Pram sudah meninggal, karena ia begitu terpukul mengetahui suaminya menikah lagi terlebih Pram yang waktu itu baru saja ia lahirkan diambil darinya."


"Apa! tapi bagaimana mungkin."


"Di dunia ini tidak ada yang namanya tidak mungkin. Apa pun pasti bisa terjadi. Selama menikah dengan Pram apa kamu pernah bertemu dengan Ayahnya?"


"Hanya sekali." Najma mencoba mengingat pertemuannya dan Ayah Pram, waktu itu Ayah Pram datang di kediaman mereka. Saat tahu pria itu mertuanya tentu saja Najma memperlakukannya dengan baik, tapi saat Pram pulang ke rumah pria itu justru dengan marah mengusir Ayahnya.


Saat Najma bertanya Pram malah ingin menampar Najma, dengan emosi Pram mengatakan pada Najma jangan pernah berhubungan dengan Ayahnya.


"Pram terlihat sangat membenci Ayahnya." Najma bergumam pelan.


"Mungkin itu semua terjadi karena hasutan si nenek sihir. Kamu tahu sendirilah bagaimana penurutnya Pram pada Ibunya itu." Jihan mencibir, ia berharap semoga saja Najma segera tersadar dari kegilaannya dan lekas melupakan Pram pria sinting itu.


*****


“Bi Roro lihat Bayu enggak?” tanya Najma pada pelayan yang bertugas memasak di rumah ini.


“Bayu tadi Bibi lihat duduk di beranda.” Najma mengangguk setelah mendapat jawaban ia segera menghampiri Bayu.


Asap mengepul dari rokok yang dihisap Bayu, lelaki itu memang pecandu rokok akibat dirinya yang salah gaul. Dulu sewaktu remaja Bayu suka sekali bergaul dengan anak badung. Awalnya Bayu merokok hanya mencoba karena iseng, sampai akhirnya ia kecanduan.


“Bayu matikan rokokmu, napasku sesak karena asapnya.” Bayu segera mematikan rokoknya, ia ingat larangan tidak boleh merokok di dekat ibu hamil.


“Kenapa masih belum tidur?” Najma memutar bola matanya kesal, dasar Bayu tidak peka.


“Aku pengen tidur ditemani kamu Bayu. Ayo masuk aku sudah ngantuk ini.” Najma mulai memasang tampang merajuk, untung saja dia cantik jadi meski memasang ekspresi sekonyol apa pun tetap saja terlihat menarik.


“Ayo,” ajak Bayu setelah membuang puntung rokoknya, ia merangkul wanita seksi yang kini berstatus sebagai istri sirinya itu.


Najma segera naik ke tempat tidurnya, matanya sudah berat ingin segera berlayar ke pulau mimpi. Bayu memeluk wanita itu, ketika payudara Najma yang empuk menekan lengannya pipi Bayu memanas. Ah sial, makinya dalam hati.


Pikiran mesum tiba-tiba menghinggapi kepala Bayu saat melihat belahan dada Najma yang begitu menggiurkan. Bayu menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran mesum itu. Untung sekarang Najma sudah tidur.

__ADS_1


Bayu memilih memandangi wajah cantik Najma. Wanita ini tak hanya cantik dan menarik, tapi ia memiliki sesuatu yang membuat siapa pun pasti ingin menyayanginya. Bayu tidak tahu entah sejak kapan ia mulai menyayangi wanita ini. Namun yang pasti ia mulai merasakan perasaan aneh saat ia pertama kali mengecup kening wanita itu di hari pernikahan mereka.


Ia menyayangi Najma sebagai Ibu dari calon anaknya. Sekarang yang harus ia lakukan hanya menjaga agar rasa sayangnya tidak berubah menjadi perasaan cinta. Masih jelas di ingatannya status Najma yang hanya istri titipan. Suatu saat wanita itu pasti akan diambil oleh pemiliknya yang asli.


Bayu mengela napas, ia mengalihkan perhatiannya dari Najma. Bayu mengambil ponselnya ia mendapati banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan dari Elsa kekasihnya. Jujur Bayu merasa bersalah. Bayu merasa ia telah mengkhianati kekasihnya.


Saat Elsa nanti tahu ia sudah pernah menikah, akankah gadis itu masih bisa menerima dirinya? beserta alasan yang akan ia jelaskan nanti. Bayu berharap semuanya akan baik-baik saja. Setelah urusan di antara dirinya dan Najma berakhir ia akan kembali menata kehidupannya dari awal. Bayu akan berusaha menjalani hidup tanpa ada bayang-bayang Najma.


Ia akan menikahi Elsa dan mencintai gadis itu selamanya. Bayu hanya perlu mengingat kalau ia memiliki seorang anak dari wanita lain selain Elsa, gadis yang mungkin nanti akan menjadi istrinya.


*****


Di dunia ini tidak ada yang Pram benci selain Ayahnya, kini pria itu dengan beraninya datang menemui ia di perusahaannya.


"Mau apa lagi menemuiku?" Pram begitu geram melihat kehadiran Seno Ayahnya.


"Apa kabarmu nak?" Pram berdecih sinis.


"Tidak usah berbasa-basi. Katakan saja apa tujuanmu menemuiku kesini. Jika tidak penting lekaslah pergi dari sini. Aku memiliki pekerjaan yang sangat penting ketimbang meladenimu berbicara."


Seno menghela napas, sesungguhnya hatinya sakit mendapati perlakuan seperti itu dari anak kandungnya sendiri. Tatapannya menerawang, dibalik tatapan itu ada sebuah cerita bisu yang sangat susah ia sampaikan melewati lisan. Andaikan saja Pram mau menatap mata tuanya untuk melihat sinar luka yang terpancar di sana, tapi itu rasanya mustahil mengingat Pram yang teramat membencinya.


"Ayah ingin menceritakan tentang hubungan antara kamu dan Ibumu." Pram merasa muak sekali melihat ekspresi sedih yang tergambar di wajah tua bangka Seno.


"Apa lagi, kamu ingin kembali mengatakan kalau dia bukan Ibuku!"


"Dia memang bukan Ibu kandungmu Pram, jika kamu tidak percaya kamu bisa lakukan tes DNA untuk membuktikan kebenaran dari ucapan Ayah." Tes DNA, darah Pram seketika berdesir. Ia tidak pernah terpikir untuk melakukan itu.


"Lalu siapa Ibu kandungku?" tanya Pram, ia mulai sedikit meyakini ucapan Seno.


"Wulandari nama Ibu kandungmu, dia istri pertamaku."


"Oh, cerita busuk apakah yang terjadi dimasa mudamu," ujar Pram dengan sinis, tangannya mengepal menahan geram.


"Sewaktu aku masih muda dan bodoh, aku menjalin hubungan dengan Endah Ibu tirimu walau saat itu aku sudah memiliki Wulandari sebagai istriku."


"Cukup! Intinya kamu menduakan wanita bernama Wulandari itu dengan menikahi Ibu sebagai istri keduamu, tidak perlu dilanjutkan kisahmu itu. Aku tidak ingin mendengarnya, sebaiknya kamu pergi dari hadapanku!"


"Ayah belum selesai Pram, ada satu hal yang ingin Ayah sampaikan. Ayah ingin memenuhi janji Ayah pada Ibu kandungmu, tolong kunjungi makam Ibumu Pram."


"Shit! Pergi dari hadapanku segera, sebelum aku memanggil orang untuk mengusirmu," ujar Pram, penjelasan Seno membuat kepalanya seolah ingin meledak. Pria itu meminta agar ia mengunjungi makam Wulandari yang dikatakan Seno sebagai Ibu kandungnya, berarti wanita itu sudah meninggal.

__ADS_1


Ibu kandungnya sudah meninggal, dan Pram tidak tahu kebenarannya selama tiga puluh lima tahun hidupnya ia malah diasuh oleh wanita yang bukan Ibunya. Cerita itu begitu menampar telak dirinya, Pram berharap ini hanya mimpi buruknya di siang bolong.


Cukup, ia tidak boleh percaya begitu saja dengan ucapan pria brengsek seperti Seno. Pram harus lebih dahulu membuktikan kebenarannya dengan melakukan tes DNA, sebelum mempercayai ucapan pria itu.


__ADS_2