
Pram baru saja tiba di rumahnya. Ia melangkah buru-buru mencari Najma. Pram merindukan wanita itu setelah satu minggu tidak bertemu, apa lagi Najma sangat jarang membalas pesan atau pun mengangkat teleponnya.
"Dimana Najma?" Pram bertanya pada salah satu pelayan di rumahnya.
"Ibu tadi sedang berada di gazebo." Pram mengangguk. Ia segera pergi ke gazebo ia melihat Najma tengah tiduran dengan nyaman. Tempat itu memang khusus dibuatkan Pram agar Najma bisa bersantai. Disitu terdapat beberapa bantal dan sebuah sofa panjang.
"Hei, tukang tidur!" Najma tersentak dari alam khayalannya. Ia segera bangun dari posisi tidurannya.
"Kapan kamu tiba di rumah?" tanya Najma. Hari ini memang kepulangan Pram jadi ia tidak terlalu terkejut. Bahkan jika Pram terlambat pulang pun bagi Najma biasa saja. Karena sebelumnya, berbulan-bulan Pram sering meninggalkannya tanpa kabar
"Baru saja. Kenapa tiduran disini?"
"Disini nyaman," sahut Najma simpel.
Pram mengernyit melihat luka di bibir Najma, pipi wanita itu terlihat memar, mata wanita itu juga seperti habis menangis. Pram menyentuh luka di bibir Najma
"Bibirmu kenapa?" Najma menghela napas kasar. Ia menepis tangan Pram yang menyentuh bibirnya. Ia membuang pandangannya ke arah lain, tanpa mempedulikan pertanyaan pria itu.
"Kamu habis di pukul seseorang?" tanya Pram dengan curiga.
"Iya, aku habis dipukul Ibumu." Batin Najma menjerit. Tadi siang Endah datang mengamuk tanpa sebab dan memukulinya dengan membabi buta.
"Siapa yang memukulmu?" Najma masih tak menjawab pertanyaan Pram. Lagi pula percuma mengatakan siapa pelakunya. Pram dipastikan tidak akan mempercayai ucapannya jika berkaitan dengan Endah.
Pram selalu meyakini kalau Ibunya tidak akan berbuat kesalahan. Melihat Najma yang masih tidak mau bicara Pram akhirnya memilih diam dan memeluk wanita itu untuk menumpahkan rasa rindunya.
"Aku akan menunggu sampai kamu bersedia menceritakannya," ujar Pram. Najma berdecih jika Pram tahu kejadian yang sesungguhnya pastinya pria itu akan berbalik memarahinya.
*****
Pram berkunjung ke rumah Ibunya atas dasar permintaan wanita tua itu. Endah yang sudah tahu kalau Pram akan berkunjung memasak banyak untuk menyambut kedatangan anaknya. Ia sangat bahagia saat Pram datang sendiri. “Syukurlah Pram tidak membawa istri sialannya itu,” batin Endah tertawa bahagia.
"Ibu masak banyak untuk kamu Pram, karena Ibu tahu kamu tidak pernah makan masakan rumah yang enak. Istrimu itu 'kan tidak bisa masak, kamu sih salah pilih istri. Seharusnya kamu itu dulu cari istri yang pintar masak, jangan kaya si Najma itu istri cuma bisanya ngabisin duit." Pram tersenyum kecut mendengar ocehan Ibunya yang membuat telinga siapa pun akan sakit.
"Jika Ibu boleh tahu dalam sebulan istrimu itu menghabiskan uang berapa? pasti ratusan juta ya? lama-lama kamu bisa tekor karena punya istri seperti itu Pram," cibirnya.
"Najma punya gaji sendiri Bu, lagi pula Ibu kan tahu kalau Najma punya bisnis yang ia kelola dengan sahabatnya Jihan." Endah mencebik, bibirnya yang memakai lipstik tebal itu bergerak-gerak.
"Duh anak ini, kenapa tidak diiyakan saja sih ucapanku tadi," batin Endah dongkol. Ia tersenyum dipaksakan saat Pram menatapnya.
"Ah, lupakan ucapan Ibu tadi, lebih baik kita sekarang makan malam," ujarnya.
"Iya Bu," sahut Pram. Sebenarnya ia ingin menanyakan tentang kebenaran cerita Ayahnya waktu itu. Benarkah ia bukan anak kandung Ibunya? tapi ia takut jika pertanyaannya nanti menyakiti hati Ibunya.
__ADS_1
"Bu.... sewaktu aku keluar kota kemarin aku bertemu dengan Ayah." Pram akhirnya memberanikan diri untuk bercerita tentang pertemuan ia dan Ayahnya. Endah nampak kaget, hampir saja ia tersedak.
"Kamu bertemu dengan pria itu. Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya dengan panik. Pram menyadari kepanikan Ibunya, mulai menaruh kecurigaan.
"Hanya bertanya tentang kabar," sahut Pram pelan. Ia memilih untuk tidak bertanya tentang dirinya yang bukan anak kandung ibunya, biarlah rasa penasarannya ia pendam dulu setidaknya untuk sementara ini.
"Itu saja. Apa tidak ada hal lain?" desak Endah.
"Tidak ada. Hanya tentang kabar."
"Huh... syukurlah." Endah menghela napas lega, setelah tadi sempat dilanda kepanikan. Ia khawatir setelah Pram bertemu dengan ayahnya, pria itu tidak lagi menjadi anaknya yang penurut.
"Memang kenapa Bu?" Pram menatap reaksi Ibunya yang terkesan menakuti sesuatu.
"Tidak apa-apa. Pram kalau Ayahmu ada berbicara sesuatu kamu jangan percaya. Kamu hanya harus percaya dengan Ibu. Kamu itu satu-satunya anak yang Ibu sayangi." Pram kini mulai curiga, hatinya sedikit meyakini cerita Ayahnya waktu itu, mendengar ucapan Ibunya barusan.
Pram mengernyit melihat lengan Ibunya terdapat bekas cakaran, "tangan Ibu kenapa?"
Endah memutar bola matanya. Ini saat yang tepat untuk ia kembali menjelek-jelekkan si Najma. "Ini bekas dicakar istrimu yang kurang ajar itu," ujarnya.
"Najma," ucap Pram dengan rasa tidak percaya kalau wanita itu berani melukai Ibunya. Wanita yang paling Pram hormati.
"Kamu tidak percaya kalau Najma yang melakukannya? kemarin itu Ibu ke rumahmu. Ibu curiga kalau Najma dan supirnya itu menjalin hubungan gelap, apa lagi waktu itu kamu tidak ada di rumah. Istrimu itu marah dan langsung mencakar Ibu."
"Dia melakukan itu pada Ibu? Aku ingin segera pulang." Pram tidak terima Najma melukai ibunya.
*****
Najma mengambil kartu gaple milik Bayu, ia ingin mengajak pemuda berwajah teduh itu untuk main kartu. “Bayu. Aku lihat kamu sama petugas keamanan sering main gaple,” ujar Najma. Bayu yang semula sibuk dengan gadget, mengalihkan sejenak perhatiannya dari benda itu.
“Memang kenapa?”
“Bagaimana kalau kita main gaple,” ujar Najma. Bayu tersenyum sinis, dua tahun ia bekerja dengan wanita ini. Bayu baru tahu seperti apa sifat Najma sebenarnya setelah ia menikah dengan wanita itu.
“Memangnya kamu mengerti caranya?”
“Tentu saja. Dulu aku sama Papa sering main ini,” ucap Najma. Bayu mengangguk sebagai isyarat kalau ia mau menemani wanita itu main gaple.
“Kuperhatikan selama ini kamu terlihat lebih dekat dengan Ayahmu,” ujar Bayu. Najma mengangkat wajahnya menatap Bayu.
“Iya, karena Papa jarang sekali menolak permintaanku. Selain itu, saat berada di dekat Papa aku selalu merasa terlindungi.” Mendengar cerita Najma tentang sosok ayahnya, Bayu mencoba membandingkan dengan sosok bapaknya yang tegas dan garang. Bayu tidak akan bisa berkutik jika dihadapkan pada kemarahan Bapaknya.
“Ayahmu? pasti dialah pria yang menjadi cinta pertamamu?” Najma mengangguk membenarkan pertanyaan Bayu.
__ADS_1
Teringat Najma akan kenangan indah masa kecilnya dahulu bersama orang tuanya, sebelum Bagas dan Risma menjadi orang tua super sibuk yang membuat Najma merasa terabaikan dengan kesibukan orang tuanya waktu. Karena merasa terabaikan itulah membuat Najma mulai menjadi anak pembakang, sampai pada akhirnya ia bertemu dengan Pram.
*****
Setelah pulang ke rumahnya Pram langsung mencari Najma. Ia marah saat melihat wanita itu sedang bercanda dengan Bayu bahkan Najma tak segan untuk tertawa lepas. Hatinya cemburu, sekaligus marah bercampur menjadi satu, saat teringat dengan cerita Ibunya tadi malam.
"Jadi begini kelakuan kalian di belakangku!" Suara keras Pram mengagetkan keduanya.
"Maksud kamu apa?" tanya Najma, ia tidak mengerti dengan Pram yang tiba-tiba marah, padahal pria itu baru saja pulang.
"Sini kamu ikut aku!" Pram menarik kasar tangan Najma, memaksa wanita itu untuk mengikutinya. Bayu sendiri memilih untuk tidak ikut campur dengan masalah pasangan itu. Ia kesal jika Pram memarahinya saat ia membela Najma.
"Kamu sekarang makin berani dengan Ibuku. Luka-luka di tubuhmu kemarin itu karena kamu berkelahi dengan Ibuku bukan!" Pram tanpa basa-basi langsung meluapkan amarahnya, sambil berusaha mempertahankan akal sehatnya agar tidak berbuat hal-hal nekat karena saat ini ia sangat ingin mencekik Najma sampai wanita itu kehabisan napas.
"Ibumu duluan yang memukulku!"
"Berani kamu sekarang melawanku!" Pram bertambah murka, saat Najma menyahut ucapannya dengan nada tinggi.
"Iya! Karena kamu sudah bukan suamiku lagi," sahut Najma dengan berani. Ia sudah muak selalu disalahkan oleh Pram.
Plakk.....
Rasa panas langsung menjalari pipi Najma. Bibirnya terluka sampai mengeluarkan darah yang terasa asin saat bersentuhan dengan lidahnya. “Kamu itu masih istriku secara hukum!” napas Pram tak beraturan, sementara Najma tertegun seolah tidak percaya kalau Pram menghadiahkan tamparan ke wajahnya untuk pertama kali setelah sepuluh tahun menikah.
"Benar kata Ibu seharusnya aku tidak memilih kamu sebagai istriku!" Najma merasa dadanya sesak, mendengar apa yang diucapkan Pram.
"Apa kamu menyesal menikahi aku?" Pram tak menjawab, ia tidak ada niatan untuk mengucapkan kalimat barusan. Dirinya hanya lepas kontrol. Dada Najma kini bergemuruh sakit, sudah banyak kata-kata menyakitkan yang dilontarkan pria itu selama mereka menikah, tapi yang diucapkan Pram barusan itu lebih menyakitkan.
"Aku akan pergi." Pram seolah baru mendapatkan akal sehatnya kembali setelah melihat Najma sudah menjauh darinya.
"Tunggu!" Ia mencekal lengan wanita itu.
"Kamu tidak boleh pergi."
"Untuk apa kamu memintaku untuk tetap bersamamu? ucapanmu barusan secara tidak langsung mengatakan kalau kamu menyesal menikahiku. Lepaskan aku ingin pergi!" Pram mencengkeram bahu Najma sampai wanita itu meringis kesakitan.
"Jika aku bilang jangan pergi kamu tidak boleh pergi. Jika kamu membantah aku tak segan untuk menyakitimu," desis Pram. Najma menangis inikah akibat dari ia tidak menuruti ucapan orang tuanya.
Harapan kalau Pram akan berubah nyatanya perlakuan pria itu malah semakin menyakitkan hati. Pram hanya mendengarkan apa kata Ibunya. Tanpa melihat lebih dulu sebab dan akibatnya. Seharusnya Najma sadar kalau Pram itu adalah boneka Ibunya yang selalu patuh dengan apa yang dikatakan wanita tua itu.
*****
Pram mondar-mandir gelisah, ia tidak suka melihat kedekatan yang mulai terjalin di antara Bayu dan Najma. Bayu sudah tidak kasar seperti di awal menikah dulu, malahan pria muda itu mulai menunjukkan perhatiannya pada Najma.
__ADS_1
Pram tidak suka itu, jika berlama-lama dibiarkan pasti akan membuat terciptanya kisah baru. Bayu bisa saja jatuh cinta pada Najma yang memiliki paras cantik dan menawan, kemudian ingin memiliki wanita itu selamanya. Bayu lalu membujuk Najma untuk meninggalkan Pram jika mereka sudah punya anak dengan alasan kuat kekurangan yang ada pada diri Pram.
“Sial, aku harus segera memisahkan mereka,” batin Pram. Tidak peduli jika Najma sampai pada saat ini masih belum juga hamil. Pram tidak ingin mengambil resiko Najma berpindah ke lain hati dan tidak mencintainya lagi.