
Setelah menjemput Najma dari tempat pengasingannya, Pram lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang pergi bekerja ke kantornya. Hal yang sebenarnya hampir tidak pernah ia lakukan karena dirinya tipe pria yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada keluarga.
Pram yang sedang mengecek laporan keuangan perusahaannya sesekali melirik Najma. Wanita itu baru tidur beberapa menit lalu setelah sebelumnya mual-mual. Jika tau hamil hanya akan menyusahkan Najma dan membuat wanita itu tersiksa, maka Pram tidak akan pernah meminta wanita itu untuk hamil.
"Shit!" Pram mengumpat saat pintu kamarnya di ketuk. Konsentrasinya seketika pecah.
"Maaf Pak mengganggu, tapi di bawah ada nyonya Endah," ucap pelayan di rumahnya setelah Pram membukakan pintu.
"Layani Ibuku dengan baik. Aku akan segera menemuinya," kata Pram.
"Baik Pak," ucap pelayan itu. Pram lebih dulu merapikan beberapa berkas yang berserakan di atas sofa. Pram mendekati tempat tidur, ia mengelus pelan perut Najma yang terlihat membuncit tak lupa mencium pipi wanita itu.
Pram yakin kehadiran Ibunya pasti akan membuat masalah. Benar saja ketika ia turun menemui wanita itu. Ibunya tengah membentak pelayan karena membuat teh terlalu manis.
"Ibu." Pram menyapa Endah dengan malas, wanita rubah itu langsung memasang senyum manis saat melihat Pram.
"Pram duduk disini nak. Kamu apa kabar?" Endah berusaha menghilangkan rasa marah yang sempat menghinggapinya, demi bisa terlihat baik di depan Pram.
"Aku kurang baik," sahut Pram duduk di dekat Ibunya. Endah sempat mengernyit heran melihat wajah Pram yang nampak lesu. Tapi segera ditepisnya rasa simpatinya itu, ada hal yang lebih penting selain menanyakan apa penyebab Pram seperti itu.
"Jadi, sebenarnya Ibu kesini ingin membahas hubunganmu dengan Adila. Dia mengadu pada Ibu kalau kamu tidak mau lagi bertemu dengannya, kamu juga membentak Adila sewaktu menemuimu ke kantor," kata Endah tanpa basa-basi lagi.
"Ibu jangan memaksa aku berhubungan dengan gadis itu. Aku tidak menyukainya Bu. Aku hanya mencintai Najma, sampai kapan pun hanya Najma yang akan jadi istriku," ucap Pram tegas, ia muak dengan Adila yang terus-terusan mengejarnya tanpa tahu malu.
"Najma sudah mulai tua. Lebih baik kamu sama Adila dia masih muda. Lagi pula Najma sekarang tinggal bersama orang tuanya bukan, sudahlah ceraikan saja langsung," kata Endah. Wanita tua itu belum tahu kebenaran kalau Pram dan Najma sudah lama bercerai.
"Ibu lupa kalau aku juga sudah mulai tua, bahkan usiaku lebih tua dari Najma. Ibu ingat kalau dulunya aku anak berandal yang suka membuat masalah, tapi saat aku mengenal Najma aku memutuskan untuk berubah karena aku memiliki tujuan untuk membuat dia bahagia bila bersamaku. Najma hidupku Bu, sekarang dia sudah tinggal bersamaku kembali."
Endah benar-benar geram mendengar ucapan Pram, ia semakin benci dengan Najma. "Wanita itu sudah berada disini! dimana dia? Ibu ingin menemuinya!"
"Jangan Bu. Najma sedang sakit. Aku mohon Ibu jangan kasar lagi dengannya, tidak bisakah Ibu kembali menyayangi Najma seperti dulu?" Endah mendengus. Dulu ia memang sayang dengan Najma karena wanita itu mengingatkan ia pada anak perempuannya yang sudah meninggal, tapi sekarang ia membenci wanita itu. Pram yang awalnya ia doktrin dengan tidak baik berharap masa depan Pram akan hancur, berantakan saat Pram mengenal Najma.
Pram perlahan-lahan mulai berubah menjadi baik, bahkan hanya dalam waktu dua tahun setelah Pram menikahi Najma pria itu sudah berhasil memiliki perusahaan sendiri atas kerja kerasnya. Tapi untungnya ia berhasil membuat Pram menjauhi Najma, namun sekarang rencana kembali gagal total.
"Ibu," ucap Pram, melihat wanita itu nampak diam
"Ya sudah. Terserah dirimu saja." Endah mengelus lengan Pram, ia kembali memasang topeng busuknya selama ini berpura-pura sebagai Ibu yang baik hati.
__ADS_1
"Terima kasih Ibu," ucap Pram, ia teringat perkataan Ayahnya waktu itu. Sampai sekarang ia masih belum membuktikan kebenaran itu, saat ini Pram tidak peduli lagi pula selama ini Endah menyayanginya. Wanita itu merawatnya dengan baik tak ubahnya seperti Ibu kandung, bagi Pram meski memang benar Endah bukan Ibu kandungnya ia akan tetap menyayangi wanita itu, semuanya tidak akan ada yang berubah.
*****
Wajah Bayu terlihat suntuk, ia terus menendang-nendang batu kerikil yang ada di depannya. Langit cerah sekali hari ini, namun tak secerah suasana hati Bayu yang kacau balau.
"Bayu!" tubuh Bayu menegang mendengar suara itu. Elsa gadis itu menghampirinya. Ah gawat aku tidak ingin bertemu dia, batin Bayu.
"Bayu kapan kamu pulang? kenapa tidak main ke rumahku?" Elsa menyapa Bayu dengan riang. Wajar saja ia sudah lama tidak bertatap muka dengan Bayu terlebih selama beberapa bulan belakangan Bayu sering mengabaikan pesan singkat dan telepon darinya.
"Tidak ada waktu," sahut Bayu agak ketus. Elsa yang sudah mengenal betul sifat Bayu merasa tidak ada yang aneh dengan sikap tak acuh lelaki itu.
"Aku kangen kamu Bayu. Kapan kamu mau ngelamar aku? teman-teman kita sudah banyak yang menikah, bahkan beberapa di antara mereka sudah ada yang punya anak. Kita sudah empat tahun pacaran Bayu, aku sudah cukup lama menunggu kepastian darimu."
Bayu memperhatikan penampilan Elsa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Elsa umumnya berpenampilan seperti gadis desa kebanyakan. Berpakaian sopan dan tertutup, rambut yang dikuncir rapi, serta sifatnya yang nampak malu-malu, dulunya gadis itu merupakan kekasih idaman Bayu.
Tapi setelah ia mengenal Najma semuanya berubah, ia suka dengan Najma yang memiliki mata bulat dan tatapan yang tajam. Ketika wanita itu berbicara ia selalu memandang lawan bicaranya dengan rasa percaya diri. Namun wanita itu terlalu tinggi untuk diraihnya.
"Jika kamu ingin segera menikah. Kamu bisa cari laki-laki lain," ucap Bayu membuat mata Elsa terbelalak. Mungkinkah apa yang ia takutkan selama ini terjadi. Bayu telah menyimpan perempuan lain di hatinya. Sebegitu tegakah Bayu mengkhianati penantian serta kesetiaannya selama ini.
"Aku hanya memberi saran. Jika kamu ingin cepat menikah kamu bisa cari lelaki lain jangan menungguku!"
"Kamu kenapa Bayu?" Elsa menatap kekasihnya dengan sendu, air mata mengenangi pelupuk matanya. Jangan harap kalau Bayu akan meminta maaf lalu memeluknya. Dari dulu ia mengenal Bayu sebagai lelaki yang cuek jika ia menangis karena kesal dengan sikap Bayu yang terlalu tak acuh, malahan Bayu mengejeknya sebagai gadis cengeng.
"Sudahlah Elsa, aku mulai bosan denganmu, kamu terlalu cengeng." Bayu meninggalkan Elsa begitu saja, tidak tahukah Bayu jika perasaan perempuan itu terlalu sensitif? Elsa menatap kepergian Bayu dengan air mata yang mulai merembes membasahi pipinya.
*****
Najma menusuk-nusuk pipi Pram dengan jarinya memastikan kalau pria itu sudah tidur. Najma melepaskan tangan Pram yang melingkar memeluknya. Ia mengambil handphone, meninggalkan pria itu yang masih tertidur nyenyak.
Dilain tempat Bayu kini tengah duduk di bale-bale belakang rumahnya. Pikirannya terbagi dua, antara Elsa gadis desa yang mencintainya dengan tulus dan Najma wanita yang berstatus sebagai istri titipan.
Pikirannya kini lebih banyak tertuju pada Najma, tentu saja kecantikan wanita itu sudah menyilaukan matanya. Wanita yang awalnya tidak ia sukai karena sifatnya yang manja dan cerewet, tapi ternyata Najma sungguh pandai dalam memikat hati seorang lelaki dengan senyum maut dan suara merdu yang ia miliki ketika membujuk seorang lelaki untuk menuruti kemauannya. Jika saja Najma wanita penggoda, maka sudah banyak rumah tangga orang yang dihancurkan olehnya.
Bayu yang awalnya bersikap kasar dan cuek dengan Najma, akhirnya luluh dengan sejuta pesona yang dimiliki wanita itu. Sampai-sampai ia mulai melupakan perasannya pada Elsa pacarnya yang selama ini setia menantinya, dan kini perasaannya terombang-ambing tak tentu arah. Najma tidak memiliki rasa untuknya. Itu yang Bayu tangkap dari apa yang ditujukan wanita itu selama ini padanya.
Lamunan Bayu buar oleh dering ponselnya, nomor tidak dikenal. Tanpa pikir panjang ia langsung mengangkatnya. Siapa tahu penting, pikir Bayu simpel.
__ADS_1
"Hallo Bayu." Seketika darah Bayu berdesir mendengar suara merdu itu.
"Najma." Di seberang sana Najma tersenyum. Bayu ternyata mengenali suaranya.
"Kamu apa kabar?" Bayu mengubah posisi duduknya, ia mulai gelisah.
"Aku baik. Kandunganmu bagaimana?" tanya Bayu, matanya menatap lurus hamparan malam yang pekat.
"Baik-baik saja Bayu. saat ini dia sedang bergerak-gerak, sepertinya dia senang mendengar suaramu." Najma mengelus perutnya, ia kini sedang berada di balkon menelepon Bayu dengan sembunyi-sembunyi.
Perasaan Bayu kini tengah berdebar, jika saja berada di dekat Najma sekarang, ia ingin sekali menyentuh perut wanita itu merasakan gerakan-gerakan kecil calon anaknya.
"Emm, begini Bayu. Sebenarnya aku ingin mengatakan kalau kamu tidak usah kembali lagi menemuiku, aku kini sudah kembali bersama Pram. Aku mau kamu jatuhkan talak padaku. Dan setelah bayinya nanti lahir aku mengizinkan kamu untuk menemuinya kapan pun kamu mau." Najma tanpa ragu menyampaikan tujuannya, mengapa ia menelepon Bayu.
Bayu memejamkan matanya yang terasa panas, jantungnya berdenyut nyeri. Mungkin inilah yang dinamakan perasaan yang tumbuh tapi tak sempat berbunga. Bayu mencintai Najma, tapi ia tak sempat merasa bahagia karena rasa cintanya itu.
"Bayu kamu masih mendengarku?" Bayu langsung mematikan handphonenya tanpa menjawab lebih dulu pertanyaan Najma yang di sana kebingungan saat Bayu tak menanggapi ucapannya.
"Hallo, Bayu." Najma menggerang kesal. Bayu ternyata mematikan handphonenya hingga kini tidak dapat dihubungi lagi.
"Sayang!" Najma terlonjak kaget, mendengar suara berat Pram. Pria itu menghampiri dirinya yang kini tengah panas dingin, ia merasa seperti seorang istri yang kepergok selingkuh di belakang suaminya.
"Kenapa disini? ayo masuk udaranya dingin." Pram merangkul Najma mengajak wanita itu untuk kembali masuk ke dalam kamar.
"Kamu pegang handphone untuk apa?" tanya Pram, melihat Najma menggenggam ponselnya dengan sangat erat.
"Aku habis main media sosial tadi," kata Najma dengan wajah kaku, ia takut Pram mengetahui kalau barusan ia habis menelepon Bayu. Bisa gawat, pria itu akan mengamuk.
Najma menurut ketika Pram membantunya untuk berbaring, pria itu memeluknya dengan posesif seperti biasa. Tatapan menyelidik Pram membuat Najma merasa tidak nyaman, jangan-jangan Pram tahu kalau aku habis menelepon Bayu tadi, pikir Najma.
"Sayang bisakah kamu berjanji padaku satu hal?" Najma memutar bola matanya sambil berdecak kesal.
"Ah bosan, kamu meminta aku untuk berjanji terus. Nyatanya kamu sendiri tidak pernah menepati janjimu padaku."
Pram tersenyum kecut mendapat reaksi seperti itu. "Berjanjilah untuk tetap bersamaku selamanya, jangan pernah tinggalkan aku. Aku bisa gila jika kamu pergi," ucap Pram sungguh-sungguh.
"Aku mengantuk." Najma segera bersembunyi dibalik selimut. Pram menatap itu dengan nanar jantungnya berdenyut nyeri, batinnya bertanya mungkinkah Najma sudah tidak mencintai dirinya lagi?
__ADS_1