
leodra duduk dengan tatapan menerawang, di samping ada sang bunda yang nampak tenang, namun leodra tahu bahwa apa yang ia rasakan saat ini juga dirasakan oleh sang bunda
di seberang tempat duduk leodra terdapat nyonya sonia yang juga menunjukan kepanikan nya, dan di samping nya berdiri seorang laki laki tampan yang satu minggu lagi akan menjadi suami nya
sedangkan kak bian dan lisa beserta keluarga kecil mereka belum tiba karena memang jarak antara kota tempat mereka tinggal dengan rumah sakit tempat tuan bimo dirawat terbilang cukup jauh.
mereka memang masih berada di kota yang berbeda saat ini, di karena kan kak bian dan suami dari lisa masih memiliki kesibukan masing masing yang benar benar tidak bisa di tinggal kan
tuan bimo yang beberapa saat yang lalu memeluk nya kini terbaring tak berdaya di dalam sana, leodra tidak tahu apa yang terjadi tapi entah mengapa fikiran leodra mengatakan bahwa saat ini ayah nya tidak sedang baik baik saja
ceklek...
pintu ruangan terbuka menampakkan tuan hans yang berdiri diambang pintu setelah tadi menemani tuan bimo didalam sana atas permintaan tuan bimo sendiri
tuan hans tampak menghela nafas lalu beralih menatap orang orang yang kini sedang menatap nya satu persatu
"bimo meminta kita semua untuk masuk" hanya itu kata bisa tuan hans ucapkan
__ADS_1
"tapi kenapa om? apa ada masalah dengan ayah" leodra menuntut jawaban karena ia melihat tuan hans seperti menyembunyikan sesuatu
"kita dengar langsung saja dari ayah kamu" tuan hans memberi isyarat agar semua nya masuk
setelah masuk dalam ruang perawatan tuan bimo, kini terlihat nyata didepan mata leodra bagaimana sang ayah terbaring tak berdaya dengan selang oksigen di hidung nya, di tangan kanan nya juga terdapat selang infus, dan masih banyak lagi peralatan medis yang saat ini menempel di tubuh sang ayah
"ayah" suara leodra tercekat karena menahan tangis nya
tuan bimo tersenyum lalu merentangkan tangan nya untuk memeluk sang putri, kedua nya berpelukan cukup lama, tidak ada air mata dalam pelukan itu, leodra sebisa mungkin harus menahan semua nya, ia tidak mau sang ayah tambah drop jika melihat ia menangis
tuan bimo merenggangkan pelukan nya dan melihat wajah cantik sang putri sulung
tuan bimo melirik sudut ruangan yang terdapat andre disana
"nak andre" tuan bimo mengisyarat kan sang calon menantu untuk mendekat, andre pun mendekat ke pembaringan tuan bimo dan berdiri tepat bersebelahan dengan leodra
tuan bimo meraih tangan andre, lalu beralih pada tangan putri nya sendiri, ia satukan kedua tangan itu diatas tangan nya.
__ADS_1
leodra dan andre masih tampak bingung dengan tindakan tuan bimo
"apa maksud ayah?" tanya leodra pelan
"ayah ingin menyaksikan putri ayah menikah" tuan bimo menjawab dengan diiringi senyuman nya
fikiran leodra sudah berkelana saat mendengar kata kata ayah nya barusan. tidak..tidak.. ia segera menepis fikiran fikiran buruk itu, tidak mungkin ayah nya akan pergi bukan?
"ayah pasti bisa menyaksikan kakak menikah, makanya ayah harus sembuh supaya bisa menikahkan kakak" leodra berucap dengan nada lembut disertai dengan senyuman nya
tuan bimo menggeleng, mata nya sudah tampak berkaca kaca
"ayah tidak bisa bertahan selama itu, ayah ingin melihat kakak menikah disini, sekarang. ayah merasa waktu ayah tidak akan lama lagi, ayah mohon" tuan bimo menangkup kan kedua tangan nya di depan dada sebagai bentuk permohonan
leodra menurunkan tangkupan tangan sang ayah, seraya menggeleng
"ayah tidak boleh melakukan itu, kakak akan menuruti permintaan ayah, tapi... " leodra melirik andre yang berada di sisi nya, ia ragu apakah andre mau menikah dengan nya, apalagi dirumah sakit
__ADS_1
semua mata kini tertuju pada andre, menunggu reaksi andre atas permintaan tuan bimo, andre menghela nafas nya perlahan dan meyakin kan hati nya bahwa keputusan yang ia ambil saat ini adalah keputusan yang tepat
"saya bersedia" semua nampak lega setelah mendengar jawaban andre