Its Real Love Jilid 2

Its Real Love Jilid 2
kehilangan


__ADS_3

leodra memandang gundukan tanah yang sekarang menjadi tempat bersemayam nya raga sang ayah dengan deraian air mata yang masih setia membasahi pipi mulus nya.


pertahanan nya runtuh saat menyaksikan kepergian sang ayah, kini cinta pertama nya telah tiada, ia masih belum bisa mempercayai ini, dalam sekejap semua nya berubah, hanya butuh beberapa menit waktu yang di perlukan takdir untuk merubah status nya yang kini menjadi seorang istri, dan hanya beberapa menit pula waktu yang diperlukan takdir untuk memisahkan nya dari sosok pelindung nya


andre tidak pernah melepas rangkulan nya dari bahu leodra barang sedetik pun. ia tidak mau melihat lebih banyak lagi air mata yang membasahi pipi sang istri.


3 tahun bersama leodra bukan lah waktu yang sebentar, ia sudah bersama leodra dan gisel dalam suka maupun duka, namun ia belum pernah melihat setetes air mata pun yang keluar dari mata indah leodra, tapi detik ini ia menyadari satu hal, bahwa leodra hanya lah wanita rapuh yang bersembunyi dibalik sifat acuh nya.


"ayah sudah tenang disana" hanya itu kalimat penenang yang mampu diucapkan andre

__ADS_1


leodra tidak mengubris ucapan andre, karena saat ini yang ada dalam fikiran nya adalah sang ayah. kak bian yang melihat bagaimana leodra mengacuhkan andre pun segera berjalan menghampiri sang adik


"jangan terlalu larut dek, ngga baik. mending sekarang kita pulang, ayah udah tenang disana" kak bian memberi pengertian sembari memberi isyarat pada andre untuk membantu sang adik berdiri


saat leodra sudah berdiri, seorang wanita dengan pakaian serba hitam dan kaca mata hitam menghampiri nya, leodra tahu siapa wanita ini, wanita yang pernah ia pergoki sedang berpelukan bersama calon suami nya waktu itu;gisel


"aku turut berduka atas kepergian om bimo" gisel mengulurkan tangan nya untuk menjabat tangan leodra sebagai permintaan bela sungkawa. leodra hanya melihat tangan gisel yang masih menggantung di udara, merasa leodra tidak menyambut uluran tangan nya, gisel pun menarik tangan nya kembali


"maaf" leodra mengatakan maaf dengan nada begitu lirih namun masih mampu di tangkap oleh indra pendengaran gisel dengan begitu jelas

__ADS_1


kedua nya berpelukan cukup lama dan menangis bersama, hal yang pertama kali dilakukan leodra pada gisel selama mereka saling mengenal. selama ini leodra tidak mau terlalu mendekat kan diri pada siapapun, ia terlalu membatasi diri dengan kemungkinan kemungkinan yang akan datang, ia takut jika sampai di khianati kembali oleh orang terdekat nya, sudah cukup sakit hati yang ia rasakan atas pengkhianatan dari para sahabat nya saat ia masih duduk di sekolah menengah pertama. tapi kini ia percaya bahwa gisel benar benar sahabat yang sesungguh nya


leodra tidak tahu apakah gisel dan andre masih memiliki hubungan atau tidak, tapi dengan melihat kehadiran gisel di pemakaman ayah nya membuat leodra sadar bahwa gisel adalah sosok sahabat yang sebenar nya


"tetap lah menjadi wanita tangguh yang selama ini orang kenal" gisel merenggangkan pelukan nya lalu menghapus air mata yang masih dengan setia menetes di pipi mulus leodra


leodra mentatap wajah gisel sembari mengangguk lalu kembali memeluk sosok yang pernah sangat ia hindari itu, mulai hari ini leodra percaya bahwa persahabatan itu ada.


'bukan tentang siapa yang datang lebih awal, tapi siapa yang bertahan hingga akhir'

__ADS_1


kalimat yang dulu sangat leodra benci, kini ia yakini kebenaran nya


__ADS_2