
leodra mengerjab berulang kali untuk menyesuaikan pencahayaan sinar matahari yang sudah menerobos masuk melalui celah jendela kamar nya.
leodra berbalik dan menghadap sang suami yang kini masih terlelap dalam tidur nya serta tangan nya yang tidak pernah lepas untuk merangkul leodra, leodra menyunggingkan senyum yang begitu cerah di bibir nya saat ia mengingat bahwa saat ini ia telah menjadi milik andre sepenuh nya, andre adalah milik nya, suami nya, dan calon ayah untuk anak anak nya kelak, tidak ada yang bisa mengambil andre dari sisi nya, karena andre hanya milik nya, takdir andre sudah tertulis untuk nya, ia yakin itu.
leodra membelai wajah sang suami dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajah nya, ia masih tidak menyangka bahwa laki laki yang selama ini ia cintai bisa menjadi suami nya, suami utuh nya.
"terima kasih" gumam andre masih dengan matanya yang terpejam seraya memegang tangan leodra yang saat ini masih setia menyusuri setiap inci wajah nya
"i love you" ucap leodra
*
*
*
ting.. tong...
suara bel membuat leodra mengalihkan perhatian nya dari layar televisi yang ada di hadapan nya, segera ia berjalan menuju pintu apartemen dan mendapati seorang laki laki tengah berdiri di depan pintu apartemen nya
"maaf" ucap leodra sungkan karena ia tidak mengenal laki laki tersebut
"maaf bu, saya mau mengantar kan paket atas nama bapak andre prabaswara" ucap laki laki tersebut yang ternyata seorang pengantar paket. laki laki tersebut menyodorkan sebuah amplop ke tangan leodra
__ADS_1
"terima kasih" leodra menyambut amplop tersebut
setelah laki laki tadi pergi, leodra kembali masuk kedalam apartemen nya dan kembali duduk di tempat nya semula.
leodra meletakkan amplop itu diatas meja sofa yang saat ini ia duduki, lalu mengambil remot tv dan kembali menonton film yang sebenar nya tidak menarik sama sekali.
entah mengapa amplop itu seakan menarik leodra untuk selalu melihat nya, leodra mengambil kembali amplop yang tadi ia letakkan, ada sedikit rasa penasaran dalam hati nya tentang isi dari amplop ini, ia ingin membuka nya lalu melihat apa sebenar nya yang tersimpan didalam sana. tapi fikiran nya menolak itu, ia tidak mungkin membuka barang yang bukan diperuntukkan untuk nya, tapi bukan kah andre adalah suami nya? itu artinya apa yang menjadi milik andre juga menjadi milik nya, tapi bukan kah akan sangat lancang jika ia membuka amplop ini? ahhh hati dan fikiran leodra tengah berperang sekarang
tidak, leodra harus menghargai apa yang menjadi milik suami nya, ada hal yang pantas untuk ia ketahui dan ada yang tidak, kalaupun ia pantas mengetahui nya, tapi bukan berarti ia harus bertindak lancang dengan membuka amplop yang di peruntukkan untuk suami nya tanpa sepengetahuan pemilik nya bukan?
baiklah leodra, sabar dan tunggu hingga suami mu pulang, dan kau akan mengetahui apa sebenarnya isi dari amplop berharga itu
"lee" leodra melihat ke arah asal suara itu terdengar
"kenapa?" tanya andre saat mendapati raut terkejut di wajah istri nya
"nggak papa, oh iya bang tadi ada paket buat abang" ucap leodra seraya berjalan kearah sofa untuk kembali mengambil amplop tersebut
andre membolak balik amplop itu, nampak nya andre pun tidak tahu apa isi dari amplop tersebut
"ini apa?" tanya andre, leodra hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu "kenapa tidak di buka?" tanya andre
"takut penting" cicit leodra
__ADS_1
"apapun yang aku punya juga milik mu, jangan pernah sungkan lagi, oke" andre merangkul pundak leodra dan mencium pucuk kepala sang istri sembari mengajak nya menuju ruang makan
leodra segera menyiapkan makanan di meja makan untuk ia dan sang suami makan siang, sedangkan andre terlihat langsung membuka amplop tadi
"kenapa bang?" tanya leodra sembari menghampiri andre dan berdiri di belakang punggung sang suami dan bergelayut dengan mesra di leher sang suami yang saat ini duduk di kursi meja makan
"gisel" leodra merenggangkan pelukan nya pada leher sang suami saat melihat apa isi dari amplop yang sedari tadi membuat nya penasaran itu
andre segera bangkit dari kursi nya dan berbalik untuk menghadap sang istri yang saat ini tidak lagi memeluk nya, andre sudah bisa menebak kekhawatiran sang istri saat ini
"sayang" andre memeluk leodra yang saat ini menunjukan raut wajah tak terbaca
leodra mendorong dada andre seraya mendongak untuk melihat raut wajah sang suami
"abang... " leodra langsung menghentikan ucapan nya saat melihat andre menggeleng dengan pasti
andre kembali memeluk leodra dengan erat dan tak henti menciumi pucuk kepala sang istri
"jangan berfikir macam macam oke, abang tidak apa apa"
tulisan gabut, sebenernya lagi nggak mood banget buat nulis + ngga ada ide cerita, jadi maafkeun kalo ngga dapet feel nya
thank you
__ADS_1