
Dengan langkah tergesa, Shelo menuju ke kamarnya. Dia khawatir Juki membuka ponselnya dan menghapus apapun yang ingin dihapus oleh laki-laki itu. Karena dari ponsel sebelumnya, Juki pernah menghapus semua kontak teman laki-laki Shelo. Sampai tidak bersisa satu pun.
Gadis itu bernapas lega saat semua file yang tersimpan di sana, semuanya terlihat masih utuh. Dia pun tersenyum cerah, secerah sinar mentari di pagi hari. Apalagi saat dia mendapatkan pesan dari Kak Peter, senyumnya semakin berkembang. Terlihat Kak Peter mengirim gambar nasi goreng dengan tangan dia yang sedang memegang sendok. Hanya tangan, tanpa memperlihatkan wajahnya.
Kak Peter : [Akhirnya aku buat sendiri nasi gorengnya karena Kakak tidak mau mengantarkan ke sini]
^^^[Silakan dinikmati Kak. Aku mau ngetik dulu]^^^
Kak Peter : [Selamat bekerja]
Shelo menghela napas dalam melihat pesan-pesan yang dia kirim ke orang yang tidak dia tahu wujud aslinya. Namun, Shelo tertegun untuk sesaat ketika memperhatikan foto nasi goreng yang dikirimkan oleh Kak Peter. Dia merasa tidak asing dengan piring itu. Shelo pun bergegas ke dapur untuk melihat piring yang ada di rak piring.
"Kamu kenapa celingukan begitu? Apa gigi palsu kamu hilang?" celetuk Juki yang masih asyik menikmati nasi gorengnya.
"Sebentar! Sini aku lihat dulu!" Shelo langsung mengambil piring yang ada di depan Juki. Akan tetapi, laki-laki itu tidak mengijinkan istrinya untuk mengambil piringnya.
"Jangan ganggu acara makan aku! Sana pergi, bikin aku tidak berselera saja," usir Juki.
"Sebentar Juki! Aku hanya mau lihat," kekeh Shelo.
"Tidak bisa! Ini milikku, kalau kamu mau, kamu bikin saja sendiri."
Sampai akhirnya mereka berebut piring yang masih tersisa setengah nasi goreng di dalamnya.Tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya, hingga piring melayang jatuh ke bawah.
Pranggg ....
"Puas kamu! Aku memang iseng sama kamu, tapi aku tidak pernah menggangu acara makan kamu. Cepat bersihkan!" sentak Juki.
Laki-laki itu langsung pergi dengan wajah yang mengeras. Dia sangat kesal karena Shelo mengganggu kesenangannya menikmati nasi goreng seperti Miss Selow itu. Dia ingin marah besar, tapi Juki selalu teringat dengan ucapan mamanya setiap kali wanita yang dia sayangi itu menelpon. Mama Lintang selalu menasihati dia agar menjaga Shelo dan tidak boleh menyakitinya.
__ADS_1
Sementara Shelo hanya melihat kepergian Juki tanpa bicara apapun. Dia merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya. Shelo hanya bisa menghela napas panjang sebelum dia membersihkan kekacauan karena ulahnya.
Selesai dia membersihkannya dapur, Shelo pun berniat masuk ke kamar Juki dengan membawa puding mentega di tangannya. Dia berniat untuk meminta maaf dengan apa yang sudah terjadi.
Tok ... tok ... tok ....
"Juki, aku boleh masuk ya!" Tidak ada sahutan dari dalam kamar Juki. Shelo pun langsung membuka pintu kamar Juki dan langsung masuk tanpa menunggu si pemiliknya mengijinkan.
Namun, Shelo langsung tertegun melihat Juki yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan handuk yang melilit di pinggangnya. Mata Shelo membulat sempurna melihat roti sobek yang terpampang dengan jelas di depan matanya.
Juki hanya tersenyum miring melihat gadis itu yang melongo dengan mata yang tidak berkedip saat melihat ke arahnya. Dia berpura-pura tidak menyadari kehadiran Shelo. Dengan cueknya, Juki berniat membuka handuk di depan Shelo.
"JUKI JANGAN!!!" teriak Shelo dengan menutup mata memakai telapak tangannya yang bercelah.
"Elah, kamu ingin lihat aku pakai baju, kan? Makanya menyelinap ke sini. Meskipun aku lagi sangat kesal sama kamu, tapi sebagai suami yang baik, aku akan memperlihatkannya sama kamu dan kamu harus melakukan tugasmu sebagai seorang istri dengan baik." Juki menghampiri Shelo dan menangkap tangan gadis itu saat Shelo akan pergi dari kamarnya.
"Tu-tugas apa maksud kamu? A-aku sudah menjalankan tugasku dengan baik. Aku membersihkan apartemen dan menyiapkan makanan untuk kamu." Jantung Shelo berdetak lebih cepat dari biasanya. Jarak yang sangat dekat dengan Juki yang tidak memakai baju, membuat Shelo mendadak menjadi gugup.
"A-aku mau minta maaf soal yang tadi. I-ini aku bawakan puding buat kamu."
"Aku tidak mau puding."
"Lalu-lalu kamu mau apa?" tanya Shelo dengan melangkah mundur.
"Aku mau kamu."
"Maksud kamu? Jangan macam-macam Juki! Aku-aku ...."
Brugh!
__ADS_1
Shelo menabrak ujung tempat tidur hingga dia terjatuh ke atas tempat tidur bersama dengan Juki yang menimpanya. Sebagai laki-laki dewasa, jiwa laki-laknya langsung terpanggil dengan posisi yang sedekat itu.
Awalnya dia hanya ingin mengerjai Shelo dengan menakut-nakuti gadis itu, seakan dia benar-benar menginginkan Shelo. Tapi kejadian yang tidak diduga itu membuat sesuatu yang di bawah sana, dengan tidak tahu malunya mendadak mengeras.
"Awas Juki! Kamu berat sekali," usir Shelo karena laki-laki itu sedikit pun tidak mau berpindah daei posisinya.
"Kamu yang memintanya Shelo. Jangan salahkan aku, jika aku mengambil hak aku sekarang."
Juki langsung menyerang bibir ranum itu antara hasrat dan logikanya sudah tidak berjalan seiringan. Dia begitu menikmati pertautan bibir itu, tanpa peduli Shelo yang kesusahan untuk bernapas.
Shelo terus saja memberontak saat Juki mengekplor seisi rongga mulutnya. Namun laki-laki itu langsung mengunci kedua tangan Shelo. Saat Shelo sudah terlihat benar-benar kehabisan stok oksigennya, barulah Juki melepaskan pertautan bibir mereka.
Shelo mengambil napas sebanyak-banyaknya. Dia melihat ke arah Juki dengan mata yang menyala penuh dengan kemarahan. "Ka-kamu jahat Juki! Ka-kamu kenapa menodai aku? A-aku ...."
Belum selesai Shelo bicara, Juki sudah kembali meraup bibir tipisnya. Laki-laki itu seperti kehilangan kendali untuk menahan hasrat yang menggebu di dadanya. Dia menaikkan tangan Shelo ke atas kepala gadis itu dan menguncinya dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya dia pakai untuk menjelajahi bagian lain yang ingin disentuhnya.
Shelo hanya bisa diam, karena tenaganya tidak cukup untuk menyingkirkan tubuh Juki yang berotot itu. Sampai akhirnya, pertahanan Shelo runtuh saat Juki memainkan titik sensitif gadis itu. Namun, saat keduanya sudah mulai sama-sama menikmati permainan Juki, terdengar ada suara yang memanggil nama mereka.
"JUKI, SHELO, KALIAN DIMANA?"
"Mama ...," lirih Juki langsung bangun dari posisinya.
Meninggalkan Shelo dengan keadaan yang berantakan. Gadis itu langsung membenarkan bajunya yang tersingkap, bekas tangan Juki yang menelusup masuk ke dalamnya.
Dia bernapas lega, karena Mama Mertuanya datang menyelamatkan dia dari serangan Juki yang sedang kesetanan ingin menodainya. Setelah, dirasa sudah rapi, Shelo pun segera keluar dari kamar suaminya. Sementara Juki menuntaskan apa yang tadi dimulainya di kamar mandi.
Kenapa Mama datang di waktu yang tidak tepat. Akh ... Aku harus bermain sendiri.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....