Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua

Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua
Bab 41 Hamil?


__ADS_3

Ruangan serba putih itu nampak sepi. Juki terus saja menatap wajah cantik istrinya yang terlihat pucat. Ada perasaan bersalah yang mendalam di hatinya saat melihat keadaan Shelo yang seperti itu.


"Shelo, cepatlah bangun! Jangan membuat aku ketakutan!" ucap Juki pelan. Tangannya terus saja menggenggam tangan Shelo yang tidak terpasang infus.


Pikirannya terus berkecamuk, memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan yang tidak dia harapkan. Sampai akhirnya dia tertidur di kursi dengan menumpukan kepalanya ke bed tempat Shelo tidur. Lama dia tertidur dengan posisi seperti itu, sampai tidak menyadari ketika wanita cantik yang berstatus istrinya itu perlahan membukakan matanya. Shelo melihat ke arah seseorang yang sedang tertidur di sampingnya.


"Juki ...!" panggil Shelo pelan.


Perlahan Juki pun membuka mata dan mengangkat kepalanya, saat Shelo menggoyangkan tangannya yang masih digenggam oleh suaminya. Laki-laki tampan itu langsung tersenyum cerah melihat istrinya sudah siuman.


"Shelo, apa yang sakit? Kamu mau makan apa? Atau kamu mau jajan di taman? Nanti akan aku kasih tapi kamu harus sembuh, jangan sakit seperti ini!" cerocos Juki mendadak seperti tukang obral barang.


"Haus ...."


"Mau minum? Sebentar aku ambilkan!" Juki pun segera mengambil botol mineral yang ada di nakas. Dia begitu tergesa-gesa membukanya dan memberikan pada Shelo yang terlihat sudah menyandarkan badannya head board dengan tumpukan bantal.


"Terima kasih," ucap Shelo pelan.


Juki hanya menganggukkan kepalanya seraya menatap lekat Shelo. Dia ingin menanyakan banyak hal pada istrinya itu. Tapi rasanya tidak mungkin, dia bertanya saat Shelo baru sadar.


"Aku panggilkan dokter dulu ya!" ujar Juki seraya bangun dari duduknya. Dia mengecup kening Shelo sekilas sebelum pergi memanggil dokter.


"Juki, tekan saja tombolnya!" Shelo mengingatkan suaminya yang sudah berada di depan pintu.


"Ah iya, aku lupa." Juki pun segera melakukan apa yang Shelo katakan.


Tidak berapa lama kemudian, datang seorang dokter dan perawat untuk memeriksa keadaan Shelo. Dokter itu tersenyum seraya melihat ke arah pasangan suami istri. Setelah memastikan hasil pemeriksaannya.


"Mas, Mbak, nanti siang diperiksa ke dokter kandungan ya! Untuk memastikan perkiraan saya. Karena sepertinya Mbak Shelo sedang hamil muda."


"Apa, Dok? Hamil? Kenapa cepat sekali?" tanya Juki kaget.


Apa Juki tidak ingin punya anak dari aku? Lalu kenapa dia selalu meminta jatah padaku? batin Shelo.

__ADS_1


"Tentu saja bisa Mas. Mungkin Mas membuahinya saat Mbak Shelo dalam keadaan subur. Apa Mas belum siap untuk memiliki seorang anak?"


"Bukan seperti itu, Dok! Aku hanya kaget saja, ternyata usahaku tidak sia-sia," sanggah Juki. Dia langsung tersenyum cerah seraya melihat ke arah Shelo.


"Kalau begitu saya permisi. Nanti saya akan konfirmasi pada dokter kandungan."


"Baik, Dok! Terima kasih!" ucap Juki.


Setelah kepergian dokter dan perawat, Juki senyam-senyum sendiri seraya melihat ke arah Shelo. Entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu, tetapi Shelo merasa aneh dengan sikap Juki.


"Shelo, ternyata aku bukan bujang lapuk. Buktinya aku bisa dengan cepat bikin kamu hamil. Aku hebat ya Shelo! Bisa bikin kamu hamil secepat itu," ucap Juki dengan mata yang berbinar.


"Juki, apa kamu tidak menginginkan anak ini?"


"Kata siapa? Aku senang akan punya anak. Nanti sepulang dari sini, kita pindah ke rumah baru ya! Agar Renata tidak pernah tahu keberadaan kita. Seharusnya kemarin-kemarin kita pindah, tapi aku sibuk dengan pekerjaan baruku. Kamu tahu sendiri, setiap hari aku selalu pulang malam."


"Juki, apa kamu yakin untuk mempertahankan aku? Satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak mau ada wanita lain dalam pernikahan kita. Kalau kamu memang tidak hanya memiliki aku di sisimu, lebih baik kita akhiri semuanya saja."


"Aku ingin kamu bersikap tegas sama dia kalau memang kamu masih ingin mempertahankan pernikahan kita."


"Baik, aku akan mengikuti apa yang kamu inginkan."


...***...


Setelah hari itu, setelah dokter mengatakan kalau Shelo hamil lima minggu. Sikap Juki benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat pada istrinya. Dia menjadi lebih sabar menghadapi Shelo. Apalagi saat mamanya menasehati dia, kalau perasaan orang hamil itu sangat sensitif, membuat Juki jadi terus menekan egonya demi anak dan istrinya. Namun, selama seminggu Shelo di rumah sakit, sedikit pun dia tidak menyinggung tentang kebenaran siapa Miss. Selow.


"Shelo, kita langsung pulang ke rumah baru. Mama dan Ibu sudah menunggu di sana," ucap Juki saat mereka akan pulang dari rumah sakit.


"Baju-baju kita bagaimana?" tanya Shelo.


"Tenang saja! Semuanya sudah dipindahkan. Apartemen juga sudah aku sewakan."


"Apa Renata tahu kalau kita pindah?" tanya Shelo dengan melirik ke arah suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, tapi aku tidak mengatakan apapun pada Regan maupun Beno. Kalau aku pindah. Sudahlah Shelo, jangan memikirkan terus soal Renata. Meskipun dia terus mendekati aku, tapu aku tidak akan pernah menerima dia, karena aku hanya menganggap dia sebagai adikku."


Shelo hanya diam tidak menanggapi ucapan Juki. Begitupun dengan Juki yang memilih untuk fokus menyetir. Sampai akhirnya mobil yang dia bawa sudah sampai di sebuah rumah yang bergaya minimalis. Juki pun segera membelokkannya ke garasi.


Mama Lintang dan Bu Tiara yang ada di dalam rumah langsung keluar untuk menyambut kedatangan anak-anak mereka. Karena memang, semenjak keduanya tahu kalau Shelo sakit, mereka memutuskan untuk menjaga anak-anakny.


Apalagi saat keduanya tahu kalau Shelo hamil dan Juki berniat untuk pindah ke rumah baru, mereka begitu bersemangat untuk mengatur semuanya. Sampai akhirnya, semua yang Juki inginkan bisa berjalan dengan sukses berkat bantuan para orang tua.


"Selamat datang di rumah baru, Sayang!" Mama Lintang dan Bu Tiara berhamburan menyambut kedatangan Shelo.


"Selamat datang cucu nenek!" ucap Bu Tiara.


"Mbak Tiara, kenapa nenek? Kita kan masih muda," protes Mama Lintang.


"Sudah gak apa, Mbak. Biar cucu kita tidak pusing. Sama aku panggil nenek, sama Mbak Lintang panggil Oma," ucap Bu Tiara.


"Udah sih, Mah. Shelo mau masuk ke dalam rumah dulu, kenapa Mama dan Ibu menghalangi?"


"Eits ... nanti dulu! Ayo Bi Ijah, Mang Sarman, kita sawer Shelo dulu," ucap Mama Lintang bersiap melemparkan uang koin, kertas dan permen sebagai rasa syukur karena Shelo sudah sembuh dan sekarang sedang hamil.


Sementara Shelo hanya tersenyum melihat dua wanita yang disayanginya terus melemparkan uang ke arahnya. Apalagi saat melihat dua orang pekerja yang akan ditempatkan di rumah Juki saling berebut memungut uang yang berjatuhan ke ubin.


"Ayo, Shelo kita masuk!" ajak Juki langsung memapah istrinya agar masuk ke rumah baru mereka.


...~~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Shelo-Juki update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.


__ADS_1


__ADS_2