
Suasana kafe di kawasan elit ibu kota terlihat nampak meriah. Pasangan muda-mudi begitu menikmati kebersamaan mereka dalam pesta penyambutan Renata yang baru pulang dari study-nya di luar negeri. Terlihat Regan dengan setia menemani sang adik menyambut kedatangan teman dan saudara yang mereka undang.
"Kakak, kenapa Kak Jupiter belum juga datang? Bukankah katanya dia mau datang?" tanya Renata, saat semua tamu undangan sedang menikmati alunan lagu yang dibawakan oleh penyanyi kafe yang bersuara merdu.
"Mungkin sebentar lagi. Kamu tidak sabaran sekali ingin bertemu dengan Jupiter," ucap Regan dengan mengacak-acak rambut adiknya.
Renata hanya mengangkat bahunya menanggapi ucapan kakaknya. Dia pun mengambil ponselnya, berselancar di dunia maya. Lalu Renata meng-upload fotonya yang tadi dia ambil di bandara dengan caption, 'Jakarta, I'm coming!'
Kedua sudut bibir Renata terangkat sempurna saat melihat Miss Selow mengomentari postingannya di media sosial biru itu. Dia pun segera membalas komentar dari Miss Selow.
Miss Selow
[Rena, sudah pulang kah? Welcome back, muach muach]
Princess Renata
[Iya, kak. Aku baru datang tadi]
[Kak Selow, sini dong! Aku lagi pesta, lupa gak ngundang kakak]
Miss Selow
[Makasih undangannya, tapi maaf gak bisa datang. Hayati lelah, tadi habis nyasar hehehe]
Princess Renata
[Yah, sayang banget. Padahal Kak Peter datang loh.]
Miss Selow
[Salam aja ya buat Kak Peter.]
Renata tidak membalas komentar Miss Selow lagi, saat dia melihat Juki sudah memasuki kafe bersama dengan sahabat kakaknya. Gadis itu langsung berdiri menghampiri, menyambut kedatangan Juki.
"Kak Jupiter, aku kangen!" seru Renata langsung memeluk Juki tanpa permisi.
__ADS_1
"Selamat datang, Renata!" ujar Juki seraya mengurai pelukan dari adik sahabatnya. Entah kenapa, dia merasa kurang suka saat Renata langsung memeluknya
"Makasih, Kak. Besok ke rumah ya! Aku bawa banyak oleh-oleh buat Kakak."
"Buat Kak Beno gak dibawain nih," celetuk Beno, sahabat Jupiter dan Regan.
"Ada dong, Kak! Besok kan Minggu, pada main ke rumah ya!" pinta Renata setengah memaksa.
"Sepertinya Kakak gak bisa, Rena. Besok masih ada bimbingan untuk mahasiswa kelas karyawan. Soalnya tadi Kakak undur jadwalnya," tolak Juki.
"Sepulang dari kampus juga gak apa, Kak."
"Kita lihat besok ya! Kakak gak bisa janji soalnya," kelit Juki. Memang benar dia masih ada jadwal bimbingan. Ditambah lagi, Juki ingin bermalas-malasan di rumah seharian. Kalau dia mengabulkan keinginan Renata, dia khawatir gadis itu semakin berharap padanya.
Mereka pun terlibat obrolan dengan saling bertukar kabar dan bersenda gurau. Sampai malam sudah larut, barulah Juki berpamitan pulang. Dia membawa roda empatnya dengan kecepatan tinggi, hingga tidak butuh waktu lama, Juki sudah sampai di apartemennya.
Perlahan Juki membuka pintu unit apartemennya. Terlihat apartemen sudah gelap. Hanya lampu malam yang sengaja masih menyala. Mungkin Shelo sudah terlelap tidur, sehingga semua lampunya dimatikan.
Dalam cahaya remang, Juki langsung menuju ke dapur karena merasa tenggorokannya sangat kering. Namun, saat dia berbalik, Juki melihat seseorang yang berwajah putih. Dia langsung berteriak seraya berlari ke kamarnya.
Sementara Selo yang kaget mendengar teriakan Juki, dia pun akhirnya ikut berlari dan ikut berteriak juga, "SETAN...!"
Kedua anak manusia itu kini saling bergelung di balik selimut. Namun saat Juki melihat Shelo di depannya dengan masker di wajahnya, dia pun kembali berteriak.
"SETAN ...!" Dia langsung ke luar dari selimut. Namun, secepat kilat Shelo menarik baju suaminya.
"Juki mana setannya?" tanya Shelo celingukan dengan semakin merapatkan ke tubuh suaminya.
Kenapa suara Shelo? Apa jangan-jangan, yang aku kira setan itu dia? batin Juki.
Perlahan dia membalikkan tubuhnya melihat ke arah suara. Tangannya mencari saklar untuk menyalakan lampu kamarnya. Saat sudah menyala, akhirnya Juki bisa bernapas lega karena ternyata orang yang dia kira setan itu ternyata istrinya sendiri.
Namun, laki-laki yang memiliki ego tinggi itu tidak mau kalau istrinya tahu, apa yang dia takuti itu ternyata Shelo yang sedang memakai masker. Dia pun segera mengarang cerita untuk mengerjai Shelo.
"Itu di sana Shelo! Dia terus melihat ke arahku," tunjuk Juki tirai jendela.
__ADS_1
"Jangan becanda Juki! Aku tidak mau tidur sendiri kalau apartemen kamu ternyata ada setannya."
"Ya sudah, cepat kita tidur! Aku lelah," ajak Juki dengan merebahkan badannya.
"Lampunya jangan dimatikan! Aku takut," pinta Shelo.
Dia ikut merebahkan badannya di samping Juki. Gadis itu terus celingukan melihat ke segala penjuru ruangan. Di rasa tidak menemukan sesuatu yang menakutkan, akhirnya dia melanjutkan kembali tidurnya yang tadi sempat terbangun karena merasa haus.
Berbeda dengan Juki, semakin lama dalam posisi itu, dia merasa tubuhnya mulai memanas saat kulitnya dan kulit Shelo saling bersentuhan. Apalagi, saat tanpa sengaja melihat belahan dada Shelo yang terlihat jelas di depannya. Dia jadi teringat ciuman panas mereka. Pada akhirnya Juki menjadi gelisah sendiri.
Kenapa dengan tubuhku? Kenapa aku ingin sekali mengulang ciuman itu dengan Shelo? Tidak mungkin kan kalau aku mulai jatuh cinta sama dia. Bisa besar kepala dia jika tahu kalau aku menginginkannya, batin Juki.
Juki ingin beranjak pergi untuk membersihkan dirinya. Namun, Shelo malah memeluknya seperti guling. Dia ingin melepaskannya, tetapi gadis itu semakin mengeratkan pelukannya, seakan ingin menguasai sendiri apa yang sedang dipeluknya.
"Shelo jangan salahkan aku kalau aku khilaf! Kamu sendiri yang memancingnya," gumam Juki.
Tangannya mulai merayap menyentuh bagian tubuh Shelo yang ingin disentuhnya. Jantungnya berdegup kencang. Rasa penasarannya yang tinggi. Membuat dia melupakan permusuhannya dengan Shelo.
"Friz diam, jangan ganggu aku! Sini bobo sama Mami saja!" Shelo mengigau mengira yang menyentuhnya itu kucing angora peliharaannya di rumah.
Dia membawa kepala Juki dalam dekapannya. Tentu saja membuat laki-laki dewasa itu semakin tidak bisa menahan hasratnya. Tangannya membuka kancing depan piyama yang Shelo pakai. Dia pun menurunkan sedikit pengamannya. Akhirnya, dia memberikan tanda merah di sana tanpa bisa berbuat lebih.
Keesokan paginya, Shelo sangat marah pada Juki saat dia terbangun dengan baju yang berantakan. Shelo langsung memukuli Juki yang masih tidur di dadanya dengan bantal saat melihat banyak bercak merah di dadanya.
"Brengsekk kamu Juki! Apa yang kamu lakukan hah semalam? Bukannya melindungi aku dari setan itu, malah menodai aku. Suami macam apa kamu?" sewot Shelo.
"Hentikan Shelo! Kamu tanya aku suami macam apa? Lalu kamu sendiri, istri macam apa yang tidak mau melayani suaminya di atas tempat tidur?" Juki menangkap kedua tangan Shelo yang siap hendak memukulnya kembali.
"Untuk apa aku melayani kamu, kalau kamu punya cewek lain di luar sana. Nanti aku hamil terus punya anak, tapi kamu malah bersenang-senang dengan cewek lain."
"Siapa yang punya cewek lain? Meskipun istriku jauh dari standarku, tapi aku gak berniat untuk berselingkuh."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....