Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua

Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua
Bab 48 Gara-gara nifas


__ADS_3

Acara syukuran baru saja digelar. Kini Juki dan Shelo sedang mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena seharian menyambut tamu yang datang. Putri kecil mereka yang diberi nama Shazia Kiandra , terlihat sedang tertidur pulas. Sementara kedua orang tuanya hanya saling berpelukan.


Rasa cinta yang terus bertambah di antara pasangan suami istri itu, membuat mereka bisa saling menerima semua kekurangan dan kelebihan yang dimiliki pasangannya. Meskipun terkadang ada riak kecil dalam biduk rumah tangganya. Namun, keduanya bisa melewati dengan baik.


"Shelo, kata Papa, sepupuku ingin perkebunan teh yang dulu aku jadikan maskawin itu," ucap Juki seraya mengelus lembut rambut Shelo yang sedang tertidur di dadanya.


"Itu punya Shazia. Tidak boleh diberikan pada sepupu kamu itu," ucap Shelo dengan mata yang mulai terpejam.


"Apa kamu ingin mempertahankannya. Meskipun tidak menghasilkan banyak uang untuk kita?" tanya Juki dengan melihat wajah istrinya.


"Tidak apa, setidaknya para pemetik teh itu tidak kehilangan mata pencahariannya. Tugas kita untuk mencari solusi agar perkebunan itu bisa menghasilkan banyak uang. Bukan menjualnya," ucap Shelo dengan suara semakin melemah.


Benar juga apa yang Shelo katakan. Semenjak kepergian eyang, perkebunan teh itu jadi kurang terawat. Aku terlalu sibuk dengan duniaku. Begitupun dengan mama dan papa yang sibuk dengan tugas-tugasnya. Tapi apa yang harus aku lakukan? Batin Juki.


Juki melihat ke arah Shelo yang sudah tertidur pulas di dadanya. Dia pun ikut memejamkan matanya menyusul istrinya ke dunia mimpi. Namun, baru saja matanya terpejam, terdengar suara tangis putri kecilnya. Dia pun kembali terbangun dan segera membangunkan Shelo.


"Shazia bangun, Mam Say! Mungkin haus mau mimi," ucap Juki seraya menggoyangkan tangan Shelo.


Mama muda itu pun segera bangun dan duduk. Dia segera mengambil putrinya yang tertidur di tempat tidur khusus yang sengaja disatukan dengan tempat tidurnya. Dia memberikan ASI pada Shazia dengan mata yang mengantuk.


"Shelo, bangun dulu. Nanti kalau Zia tersedak bagaimana?" tegur Juki pada istrinya.


Mendengar apa yang Juki katakan. Mata ngantuk Shelo langsung terbuka lebar. Dia takut kenapa-napa kalau sampai putrinya tersedak. Dia juga jadi teringat pada kisah tetangganya, dimana bayinya meninggal karena ibunya ketiduran saat menyusu. Bahkan ibunya tidak menyadari kalau anaknya terjatuh dari tempat tidur sehingga nyawanya tidak bisa diselamatkan.

__ADS_1


"Juki tolong ambilkan minum teh hangat. Aku ngantuk sekali," pinta Shelo.


"Bilang apa tadi, coba diulangi lagi!"


"Juki ...."


"Shelo, bisa tidak memanggil aku Papa Zia gitu atau Papa Sasi. Boleh juga Abang, Mas, Aa mungkin," protes Juki.


"Ya udah deh, Papa Zia, tolong ambilkan teh hangat!" Shelo akhirnya memilih mengalah dan mengulang permintaannya.


"Nah gitu, dong! Kan lebih enak didengar," ucap Juki dengan tersenyum lebar.


Dia pun segera beranjak pergi menuju ke dapur dan mengambil apa yang Shelo inginkan. Setelah mendapatkan secangkir teh hangat, Juki segera kembali ke kamarnya. Namun, saat melewati kamar orang tuanya, dia mendengar suara-suara yang membuatnya merinding. Juki pun buru-buru menuju ke kamarnya.


Tidak ingin semakin tercemar pendengarnya, Juki pun segera bergegas naik ke kamarnya. Napasnya sampai ngos-ngosan seperti habis dikejar anjing. Tentu saja hal itu membuat Shelo mengerutkan keningnya karena merasa heran.


"Kamu kenapa? Ada maling di bawah?" tanya Shelo heran.


"Iya, maling tempat. Nih minumnya!" Juki segera memberikan cangkir teh hangat yang ternyata isinya tinggal setengah. Karena sepanjang perjalanan airnya berceceran akibat Juki yang berjalan setengah berlari.


"Kenapa hanya tinggal setengah? Kamu minum di jalan ya!" tuduh Shelo dengan terus menelisik suaminya.


"Enggak Mam Say! Sudahlah aku haus, aku juga pengen minum," tukas Juki segera menuju ke lemari es mini yang ada di kamarnya.

__ADS_1


Dia segera mengambil botol air mineral yang sengaja di simpan di sana. Tanpa bicara lagi, satu botol air mineral lima ratus mili liter tandas hingga tak bersisa. Lagi-lagi Shelo mengerutkan keningnya melihat gelagat aneh suaminya.


"Papa Zia, kamu kenapa? Kho aneh sekali," tanya Shelo lagi.


Juki hanya menarik napas dalam dan menghembuskan-nya kasar. Dia pun menghampiri Shelo yang masih memberikan sumber kehidupannya untuk putri mereka.


"Tadi aku tidak sengaja mendengar suara aneh di bawah," jelas Juki dengan melihat ke arah Shelo. "Berapa lama lagi, kamu nifas? Apa tidak bisa kalau aku mencicilnya dari sekarang?"


"Ck! Yang benar saja. Apa kamu tidak melihat kalau anakmu lebih membutuhkan aku? Seharusnya kamu sebagai seorang suami mendukung istri yang baru melahirkan. Bukan menginginkan hak kamu sebagai seorang suami." Shelo berdecak sebal mendengar pertanyaan dari suaminya.


Bukan apa-apa, saat dia masih merasakan rasa linu di organ inti dan perutnya, bisa-bisanya Juki memikirkan hal itu. Membayangkannya saja sudah terasa horor.


"Bukan begitu maksud aku!" elak Juki cepat. "Aku hanya mau menghitungnya saja. Berapa lama lagi aku harus berpuasa?"


"Jangan dihitung! Nanti kamu pasti akan merasa sangat lama. Lebih baik kalau kamu mencari kegiatan yang positif, seperti membantu merawat anakmu sendiri. Apalagi sekarang kondisi aku belum stabil," ucap Shelo.


"Baiklah! Aku tidak akan menghitungnya."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2