Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua

Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua
Bab 17 Akibat Bakso Pedas


__ADS_3

Tidak jauh berbeda dengan Juki, dia merasa terkejut melihat Shelo sedang makan di sana dengan laki-laki yang mengaku sahabat istrinya. Dia ingin sekali menghampiri Shelo. Namun sudah pasti sahabatnya dan Renata akan mencurigai hubungan mereka. Akhirnya Juki memilih berpura-pura tidak mengenal Shelo.


Akan tetapi, keberuntungan tidak berpihak padanya. Renata sudah terlebih dahulu menyadari keberadaan Shelo, sehingga dia menarik Juki untuk menghampiri gadis itu.


"Kak Shelo, Kak Dion, kalian makan di sini?" tanya Renata.


"Eh, Renata. Apa kabar? Kamu semakin cantik saja." Shelo berdiri dari duduknya dan cipika-cipiki dengan adik tingkatnya itu.


"Aku baik, Kak. Kakak juga semakin cantik saja. Kak Dion apa kabar?"


"Aku baik, senang bisa bertemu dengan kamu lagi. Kalian mau makan juga?" tanya Dion.


"Iya, kalau begitu kami ke sana ya!" pamit Renata.


"Iya, silakan!" Shelo tersenyum manis mengiringi kepergian Renata menuju ke meja yang sudah dibooking oleh kakaknya.


Dia pun melanjutkan kembali makannya dengan tidak melihat ke arah Juki yang sedari tadi memperhatikannya. Shelo berpura-pura biak-baik saja, padahal dalam hatinya di merasa kesal melihat Renata yang terus saja menempel pada Juki.


Dasar kucing garong! Sudah punya istri juga, mau saja di tempelin dengan gadis lain. Memang sih, Renata memiliki segalanya yang semua laki-laki inginkan. Jadi wajar saja kalau Juki menyukainya, getir hati Shelo.


"Dion, aku sudah kenyang. Kita pulang yuk!" ajak Shelo.


"Mau dibungkus gak?" tanya Dion yang mengerti dengan apa yang Shelo rasakan.


"Boleh deh dibungkus saja."


Mereka pun membungkus makanan yang belum tersentuh sedikit pun. Semua itu tidak lepas dari penglihatan Juki yang terus saja memperhatikan Shelo dengan sudut matanya. Membuat Renata merasa terganggu karena Juki diam saja saat dia mengajaknya berbicara.


"Kak Jupiter kenapa sih? Dari tadi diam saja," tanya Renata merasa kesal.


"Kakak hanya cape, Rena. Kamu tahu sendiri, seharian kakak kasih bimbingan. Tidak semua mahasiswa itu cepat tanggap dengan maksud ucapan kakak. Jadi Kakak harus mengulang dengan bicara perlahan pada mereka agar tidak banyak revisi pada skripsi mereka," elak Juki dengan melihat ke arah Renata


"Bukan karena terpesona dengan Kak Shelo, kan? Lagian Kak Shelo sudah menikah. Aku pernah melihat dia mengunggah cincin pernikahannya." Renata menatap lekat wajah Juki yang terlihat sangat sempurna di matanya.

__ADS_1


Iya, dia nikah sama aku, batin Juki.


"Tentu saja bukan. Masa iya harus tergoda dengan istri orang. Hahaha ...." Juki tertawa hambar dengan ucapannya sendiri.


Sementara Shelo tidak langsung pulang ke rumahnya. Dion mengajak Shelo mampir ke pasar malam yang mereka lewati untuk mengembalikan mood sahabatnya yang terlihat buruk.


"Shelo, kita makan bakso dulu yuk di sana. Pasti kamu masih lapar, kan?"


"Ide bagus tuh Dion, yuk kita makan bakso yang pedas pasti enak malam-malam begini. Kamu ingat gak waktu kita KKN dulu. Makan bakso bareng-bareng sepulang acara perpisahan KKN."


"Iya aku ingat. Kamu sama Audy lomba makan bakso pedas kan, sampai rumah kost kalian berdua bolak-balik ke kamar mandi sampai yang lain protes karena gak kebagi kamar mandi."


"Iya bener. Pedesnya nampol banget. Entah berapa ton cabe yang digiling tukang bakso itu."


"Ngomong-ngomong, sekarang Audy di mana? Apa dia sudah nikah?" tanya Dion seraya masuk ke dalam warung tenda. "Bang bakso dua ya!"


"Audy sudah menikah. Dia lagi hamil," ucap Shelo seraya mendudukkan bokongnya di kursi plastik yang tersedia di sana.


"Shelo, yakin gak akan kenapa-kenapa?" tanya Dion yang melihat kuah dimangkuk gadis itu terlihat sangat merah."


"Santai aja Dion. Aku jagoan neon. Pedas segini gak akan ngaruh," ucap Shelo dengan melanjutkan makannya.


Sampai makanan mereka habis tak bersisa, barulah keduanya pulang ke apartemen. Dion pun membantu Shelo membawakan belanjaannya. Namun, sampai di apartemen ternyata Juki sudah pulang lebih dulu dari mereka. Laki-laki itu sedikit pun tidak bersuara saat Shelo masuk ke dalam. Dia hanya menatap tajam istrinya yang membawa barang-barangnya ke dapur.


"Bagus ya Shelo! Suami kerja, kamu kelayapan dengan laki-laki lain. Apa ini yang dikatakan gadis yang baik? Apa seperti ini gadis yang selalu Mama bangga-banggakan? Tidak lebih hanya seorang tukang selingkuh," geram Juki. Dia menarik tangan Shelo yang akan masuk ke dalam kamarnya.


"Apa kamu bilang? Aku tukang selingkuh? Lalu yang tadi lendotan terus siapa? Aku? Pakai otak kamu kalau bicara itu! Jelas-jelas kamu yang berselingkuh dengan Renata. Kenapa malah aku yang dituduh. Dasar kucing garong!" balas Shelo.


"Aku tidak berselingkuh! Renata sudah seperti adik aku sendiri," sanggah Juki.


"Cih! Adik katamu. Apa seperti itu sikap seorang adik pada kakak angkatnya? Mesra bener ...," cibir Shelo.


"Sudahlah! Kamu tidak usah membalikkan keadaan dengan menuduh aku selingkuh. Pokoknya aku tidak suka melihat kamu jalan berdua dengan laki-laki lain. Kamu harus ingat kalau kamu itu sudah menikah."

__ADS_1


"Kalau sudah, cepat lepasin tangan aku! Aku mau ke kamar, perutku sakit!" seru Shelo yang sudah merasakan perutnya melilit.


Brut ... Brut ... Brutttt ....


Shelo langsung berlari menuju ke kamarnya karena sudah tidak tahan ingin mengeluarkan isi perutnya. Cabai itu benar-benar tidak bersahabat dengan perut Shelo. Tetapi gadis itu selalu bandel. Setiap kali ada yang membuat dia kesal dan marah, dia akan melampiaskannya pada makanan pedas.


"SHELO SIALAN!!!" teriak Juki kesal karena mendapatkan serangan gas berbau dari istrinya.


Laki-laki itu langsung mengambil pengharum ruangan untuk menghilangkan bau tidak sedap akibat ulah Shelo yang mmebuang gas sembarangan. Meskipun Juki tahu kalau sebenarnya gadis itu tidak sengaja, tetap saja da merasa kesal.


Namun, kekesalan dia langsung menguap begitu saja, saat melihat wajah Shelo pucat karena terus-terusan bolak-balik ke kamar mandi. Dia pun segera mencari obat mampet dan membawanya ke kamar Shelo dengan segelas air putih di tangannya.


"Shelo, kamu baik-biak saja di dalam?" tanya juki di depan pinu kamar mandi.


"Juki, beliin aku obat. Perutku sakit sekali," keluh Shelo di dalam kamar mandi.


"Ini sudah ada obatnya. Kamu keluar saja dulu. Yang bersih Shelo."


Setelah merasa sudah dikeluarkan semua isi perutnya, Shelo pun ke luar dari kamar mandi. Dia berjalan sempoyongan menghampiri Juki yang duduk di tepi tempat tidur menunggunya. Juki pun dengan sigap memapah Shelo menuju ke tempat tidur dan memberikan obat yang tadi dibawanya.


"Habis minum obat, nanti perutnya dikasih balsem biar enakan," ucap Juki membantu Shelo merebahkan badan gadis itu.


"Badanku lemas sekali. Kamu saja yang olesin," suruh Shelo dengan memejamkan matanya.


Juki hanya bisa menelan ludahnya kasar melihat perut Shelo yang mulus. Ditambah lagi, dia mengelus perut itu. Sementara Shelo merasa lebih baik saat ada tangan yang mengelus lembut perutnya. Dia merasa seperti sedang berada di rumah. Di mana orang tuanya selalu bergantian mengelus perut Shelo setiap kali gadis itu sakit perut.


Ah sial! Peter, kenapa kamu berdiri?


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2