
Tanpa terasa dua bulan sudah kini usia Shazia. Kedua orang tua mereka pun sudah pulang ke kotanya. Kini tinggal orang tua baru itu yang sibuk merawat anak semata wayangnya. Hanya sesekali pembantu rumah membantu Shelo untuk menjaga putrinya. Karena dia ingin semua hal yang berhubungan dengan perawatan Shazia, dia sendiri yang melakukannya.
Seperti saat ini, ketika Juki sedang libur kerja, mereka bahu membahu menjaga putrinya. Bahkan mengganti popok pun mereka lakukan secara bergantian. Shelo merasa sangat bersyukur dengan jodoh yang Tuhan berikan padanya. Meskipun pernikahannya diawali dengan hal yang tidak baik, tetapi Juki sosok lelaki yang bertanggung jawab.
Dia tidak membiarkan Shelo kelelahan sendiri merasa putri mereka. Dia selalu ikut menjaganya sampai-sampai dia melupakan hal yang dulu selalu dia tanyakan pada Shelo.
"Papa, besok antar ke rumah sakit ya! Zia harus imunisasi yang bulan ke dua," pinta Shelo saat mereka sedang berjemur bersama di balkon.
"Memang Zia sudah dua bulan?" tanya Juki memastikan.
"Iya, hari ini pas Zia dua bulan."
"Berarti enam puluh hari dong! Kalau begitu, sudah lewat empat puluh hari ya! Shelo, apa nifas kamu sudah selesai?" tanya Juki baru sadar dengan kebutuhan biologisnya.
"Sudah dari dua minggu yang lalu," jawab Shelo enteng.
"Kenapa tidak bilang sama aku?"
"Soalnya aku langsung datang bulan. Ini baru beres."
"Nanti malam bisa aku pakai dong!" wajah Juki langsung berseri membayangkan malam indah dia dengan istri tercintanya.
"Hehehe ... boleh deh!" Shelo cengengesan melihat ke arah Juki.
Cup!
"Istriku menggemaskan sekali. Jadi pengen cepat-cepat malam."
"Dasar kamu!" Pipi Shelo langsung bersemu merah mendengar apa yang Juki katakan.
__ADS_1
Kedua suami istri itu terus saja saling menggoda, sampai akhirnya putri mereka menangis karena terlalu lama berjemur. Barulah keduanya kembali masuk ke dalam kamarnya. Juki langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara Shelo memberikan ASI untuk putrinya.
Selesai dengan acara mandi kilatnya, Juki pun segera berpakaian dan bergegas ke bawah untuk membawa sarapan pagi mereka. Karena kini cacing diperutnya terus saja berteriak meminta sesuatu untuk memuaskan perut mereka.
"Bi, sarapan pagi sudah siap?" tanya Juki dengan melihat ke arah meja makan.
"Sudah, Den! Ada bubur kacang ijo untuk Neng Shelo sama soto ayam untuk Den Juki."
"Oh, ya sudah aku bawa ke atas ya, Bi. Untuk makanan beratnya, tolong bikin sop iga, sayur capcay, sama sambal goreng ati. Terus jangan lupa empingnya ya, Bi."
"Siap, Den. Bibi ke pasar sekarang ya!"
"Ini uangnya," ucap Juki memberikan tiga lembar uang lembaran berwana merah muda.
Setelah selesai memberikan uang pada pembantu rumahnya, Juki pun segera bergegas naik ke atas. Otak nakalnya sudah mulai menyusun rencana agar bisa secepatnya memadu kasih dengan Shelo.
Sesampainya di kamar, terlihat buah Shelo yang mulus itu sedang dinikmati oleh putrinya. Juki mendadak menelan ludahnya dengan kasar. Fantasinya sudah mulai liar menginginkan hal itu secepatnya.
"Papa Zia, kenapa berdiri saja? Apa yang kamu lihat?" tegur Shelo.
"Hehehe ... Enggak kho! Ayo sarapan dulu, mau aku suapi?" kelit Juki.
"Boleh, deh!"
Juki pun dengan telaten menyuapi istrinya. Dia ingn menghemat waktu agar saat putrinya usdah tertidur, dia pun bisa langsung melakukannya bersama dengan Shelo.
"Papa Zia, gimana soal sepupu kamu itu? Apa dia terus meminta perkebunan?" tanya Shelo di tengah-tengah makannya.
"Enggak kho, sudah kau tolak. Sekarang aku bekerja sama dengan Putera Group untuk mengelola perkebunan itu. Lumayan sih untungnya buat tabungan sekolah Shazia."
__ADS_1
"Bagus deh! Entah kenapa aku kho gak suka dengan sepupu kamu itu. Padahal dulu waktu kecil dia pernah main dengan kita ya! Tapi kenapa sekarang terasa jadi orang asing."
"Sudahlah! Jangan ngomongin orang lain. Lebih baik kita buka tumpeng."
"Siapa yang kasih tumpeng?" tanya Shelo tidak mengerti maksud Juki.
"Ada deh! Nanti aku kasih tahu, kalau kamu sudah selesai makan."
Shelo hanya mengangkat bahunya dengan bibir yang mengerucut. Dia pun menidurkan putriny ayang sudah tertelap. Melihat semua itu, Juki segera membereskan bekas makannya dan menyimpan ke dapur.
Dia memastikan dulu pembantu rumahnya sudah pergi atau belum. Setelah dirasa aman, Juki pun langsung menuju ke kamarnya. Terlihat Shelo yang sedang membereskan bajunya. Namun, secepat kilat Juki menahan tangan istrinya.
"Nanti dulu! Kita buka tumpeng dulu," cegah Juki.
"Buka tumpeng gimana?"
"Sini, kamu mendekat ke arahku!" Juki langsung menarik tangan Shelo.
Tanpa bicara lagi, dia pun meraup bibir Shelo yang tanpa pewarna. Dia beitu menikmati permainan lidah dan bibir yang saling beradu. Tidak puas hanya bermain di atas, Juki pun mulai memainkan titik sensitif Shelo, sehingga tanpa sadar, Shelo pun melenguh keenakan.
Akhirnya apa yang Juki inginkan selama dua bulan ini, bisa dia dapatkan di pagi yang cerah. Meskipun awalnya dia kembali kesusahan. Namun akhirnya gawang Shelo dapat dia jebol dengan sukses.
"Makasih, Sayang!" ucap Juki seraya mencium kening Shelo saat mereka sudah mendapatkan pelepasan.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1