
Sebulan sudah Juki berada di rumah barunya. Selama sebulan itu pula dia tidak bertemu dengan Renata maupun Regan. Dia benar-benar menghindari kedua kakak beradik itu. Sampai akhirnya regan datang ke kantor Juki bersama dengan Beno dan Rain.
Mereka sengaja ke sana karena memang akan bekerja sama dengan perusahaan Orion. Sekalian juga mengunjungi sahabatnya yang sudah lama tidak ada kabar beritanya.
"Jupiter, apa nomor ponselmu diganti?" tanya Regan saat mereka selesai meeting.
"Tidak. Aku hanya tidak mengaktifkannya. Karena memakai nomor pribadiku," jawab Juki.
"Atas nama Renata, aku minta maaf sama kamu. Jika kejadian waktu itu disebabkan oleh Renata. Kamu jangan khawatir, Renata sudah dikirim ke luar negeri oleh papa."
"Maksud kamu? Tapi aku tidak pernah bilang apa-apa sama papa kamu," tanya Juki heran.
"Memang bukan kamu yang bicara pada papa, tapi mama kamu yang tidak sengaja bertemu dengan orang tuaku di kantor."
"Maksud kamu? Aku jadi semakin tidak mengerti?" tanya Juki dengan wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya
"Waktu itu aku ketemu mama kamu. Beliau meminta aku untuk mengantarnya bertemu dengan Regan. Ya sudah aku bawa saja ke kantor. Ternyata, di sana sedang ada orang tuanya Regan. Jadinya gitu, mama kamu minta agar Renata jangan mengganggu kamu dan Shelo karena sekarang Shelo sedang hamil," jelas Beno panjang lebar.
"Mama tidak pernah mengatakan apapun tentang hal itu."
"Tidak apa, aku mengerti. Jupiter, aku harap, jangan karena masalah Renata persahabatan kita jadi hancur. Meskipun sekarang kamu tidak bekerja bersamaku lagi. Tapi kita tetap bersahabat," ucap Regan.
"Iya, Regan. Aku memang selalu menganggap kamu sebagai sahabat aku, meskipun terkadang ada kesalahpahaman di antara kita," ucap Juki dengan melihat ke arah sahabatnya satu persatu.
"Jupiter, sekarang tinggal di mana? Aku juga sedang mencari rumah baru," tanya Rain yang sedari tadi diam.
"Aku tinggal di Putera Residence. Samping rumah ku masih kosong kalau kamu mau," ucap Juki.
"Wah kebetulan, aku ikut pulang saja ke rumahmu. Bos, aku ijin gak balik ke kantor lagi ya!" ujar Rain meminta ijin pada Regan.
__ADS_1
"Ck! Kamu tuh, awas saja kalau sampai ikut-ikutan Jupiter keluar kerja dari perusahaan aku!" ancam Regan.
"Tenang saja, Bos. Asal kamu kasih gaji yang besar, kita pasti setia. Benar gak Rain?" sela Beno dengan menaik turunkan alisnya.
"Iya, benar." Rain tersenyum menggoda Regan yang terlihat pusing kalau sampai benar mereka berdua keluar dari perusahaannya.
"Ck! Kalian tuh mau merampok aku. Sudah nanti akhir tahun, akan aku tambah bonus kalian."
"Nah gitu dong, Bos. Baru kita betah kerja di sana," ucap Beno dengan tersenyum lebar.
"Kalau Regan memecat kalian, datang saja padaku. Aku pasti akan memberikan kalian pekerjaan," timpal Orion yang baru datang ke ruangan Juki.
"Sialan, kamu Ion! Mau merampok orang-orang ku?"
"Salah kamu sendiri tidak bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaan. Nyesel kan kehilangan Jupiter? Hahaha ... Berarti aku yang sedang beruntung bisa mendapatkan orang yang handal seperti Jupiter." Orion tertawa puas mentertawakan Regan yang menekuk mukanya.
"Sudah-sudah, akhir pekan ini aku mengundang kalian untuk makan malam di rumahku. Bawa pasangan masing-masing, tapi jangan bawa istri orang," ucap Juki langsung menengahi.
"Aku diajak gak nih?" serobot Elgar yang baru datang.
"Ya sudah kalian semua diundang, tapi jangan lupa bawa souvenir-nya."
...***...
Acara barbeque yang Juki adakan di rumahnya terlihat meriah. Bagaimana tidak, rumah yang biasanya sepi kini dipenuhi oleh laki-laki tampan dengan berbagai versi. Ditambah lagi pasangan mereka yang cantik-cantik tidak bosan dipandang mata. Regan yang memang sering gonta-ganti pacar, datang bersama dengan pacar barunya.
Mereka semua saling berkenalan satu sama lain, sehingga menjadi akrab seperti bertemu dengan teman lama. Padahal pasangan para pria tampan itu baru pertama kalinya bertemu di rumah Juki. Hanya istri Beno yang pernah bertemu sebelumnya dengan Shelo.
"Mbak Shelo, sudah berapa bulan kandungannya?" tanya Alya, istrinya Elgar.
__ADS_1
"Sudah jalan empat bulan. Apa Alya juga sedang hamil?" tanya Shelo.
"Bagaimana bisa, Mbak. Bikin saja belum," jawab Alya seadanya.
"Loh, kho bisa? Apa kalian nikah paksa karena dijodohkan?" tanya Shelo yang membuat yang lainnya jadi penasaran.
"Bukan dijodohkan, Mbak. Tapi salah paham. Tuh, gara-gara bujang lapuk itu, aku yang masih sekolah dipaksa nikah sama aki-aki itu," cebik Alya.
Kenapa mirip sama aku ya? Tapi kalau aku nikah paksa karena fitnah. Walaupun awalnya memang dipaksa, tapi tetap saja ujungnya hamil, batin Shelo.
"Tapi gak apa, Dek. Bos Elgar duitnya banyak. Kamu porotin saja dia," ucap Kamila.
"Benar juga ya, Mbak. Tapi banyak-banyak duit buat apa juga. Nanti aku pusing ngabisinnya," ucap Alya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lahir dari keluarga kaya raya membuat Alya tidak tahu bagaimana susahnya mencari uang. Tetapi dia tidak pernah memperlihatkan pada orang-orang kalau dia memiliki segalanya.
Saat para istri sedang sibuk bergosip tentang suami mereka, para suami justru sibuk dengan panggangan dan daging. Mereka begitu bersemangat membakar daging dan juga seafood.
Hanya satu orang yang terlihat menyendiri karena enggan bergabung dengan Shelo dan yang lainnya. Entah merasa sungkan, entah merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah orang asing yang baru dikenalnya.
"Laura, kenapa tidak ngobrol bersama mereka?" tanya Regan pada pacarnya. Dia membawa piring berisi sea food bakar di tangannya.
"Regan, kenapa kamu mau berteman dengan mereka? Bukankah banyak temanmu yang satu level denganmu?" tanya Laura dengan melihat ke arah Regan.
"Kenapa memangnya? Aku nyaman bersahabat dengan mereka. Lagipula, dalam sebuah persahabatan, tidak ada yang namanya perbedaan status. Karena yang menyatukan kami bukan harta tapi ketulusan hati untuk saling berbagi dan saling menjaga satu sama lain."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1