Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua

Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua
Bab 21 Juki Bingung


__ADS_3

Merasa kesal dengan apa yang sudah dilakukan suaminya, Shelo pun pergi kerja tanpa pamit pada Juki. Dia hanya menulis pesan pada sticky note dan menempelkannya di lemari es. Sementara Juki yang baru keluar dari kamarnya celingukan mencari keberadaan istrinya. Dia ingin menggoda Shelo, tetapi hanya sticky note yang dia temukan.


Aku berangkat duluan. Jangan lupa habis makan cuci piring sendiri. Bye Juki nyebelin!


Juki hanya tersenyum tipis membaca pesan dari Shelo. Dia tidak peduli dengan apa yang gadis itu pikirkan, yang terpenting baginya, dia merasa senang karena sudah berhasil mengerjai gadis itu. Namun, senyumnya memudar saat Regan dan Renata datang berkunjung ke apartemennya. Dia merasa sangat terkejut dengan kedatangan kakak beradik itu.


"Tumben kalian datang pagi-pagi ke sini," sapa Juki saat dia sudah membukakan pintu untuk Regan.


"Nih Rena ingin sarapan bersama," ucap Regan.


"Ayo masuk! Kebetulan aku juga belum sarapan. Tadi Se ...." Juki langsung menghentikan ucapannya saat tanpa sadar akan menyebut nama istrinya. Dia pun akhirnya hanya berlalu pergi menuju ke meja makan.


"Se apa Kak?" tanya Renata penasaran.


"Gak jadi, tadi Kakak salah nyebut," kilah Juki.


"Kak Juki, ini siapa yang memasak? Kakak pintar juga membuat omelete. Boleh aku cicipi?" tanya Renata seraya mendudukkan bokongnya di kursi.


"Makan saja, Ren!" suruh Juki. Dia pun mulai menyuapkan Omelete yang sudah dia simpan di piringnya.


"Enak Kak. Kakak yang masak ya!" tebak Renata.


"Hehehe ... Iya Renata. Ini resep dari mama," bohong Juki.


"Pantas saja. Oh iya Kak Juki, kapan aku diajak main ke rumah Kakak? Perasaan aku belum pernah main ke rumah orang tua Kakak. Bukankah Kakak serius sama aku?"


Uhuk ... Uhuk ...


Seketika Juki tersedak omelete yang sedang dimakannya. Renata dengan sigap memberikan air putih pada laki-laki itu. Sementara Regan hanya memperhatikan raut wajah sahabatnya.


Juki kenapa? Sepertinya dia merasa keberatan dengan keinginan Renata. Apa dia tidak serius dengan adikku? batin Regan.


"Renata, sebaiknya makan jangan sambil mengobrol. Lihat Juki sampai tersedak begitu," tegur Regan pada adiknya.


"Iya, Kak maaf!" sesal Renata.


Mereka pun akhirnya makan dalam diam. Regan memakan masakan yang dia bawa dari rumah. Sementara Renata menghabiskan omelete yang ada di meja makan.


"Kalau makannya sudah selesai, ayo kita berangkat! Bukankah kamu masuk pagi? Meskipun kamu cucu pemilik sekolah tapi kamu juga harus disiplin dan memberi contoh pada tenaga pengajar yang lain," ucap Regan saat mereka selesai makan.

__ADS_1


"Iya Kakak. Nanti biar Kak Juki yang mengantar aku ke sekolah. Kakak langsung saja ke kantor," suruh Renata.


"Ya sudah, ayo!"


Mau tidak mau, akhirnya Juki mengantarkan Renata ke sekolah tempat dia mengajar. Namun, saat sampai di sana. Gadis itu memaksa Juki untuk mengantar dia sampai ke ruang guru. Hingga akhirnya dia pun menyetujui keinginan gadis itu karena Renata kekeh dengan keinginannya.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Renata.


"Pagi Bu Renata. Wah diantar siapa nih?" tanya salah satu guru yang langsung menyahut sapaan gadis itu.


"Oh iya, kenalkan ini calon suami aku. Namanya Kak Jupiter," ucap Renata dengan tersenyum manis.


Juki hanya tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya menyapa teman kerja Renata yang berdatangan menghampiri Renata. Sudut matanya menangkap Shelo yang sepertinya sedang sibuk dengan laptopnya, sehingga tidak memperdulikan ucapan Renata. Padahal guru-guru yang lain, semuanya menyapa Juki.


"Bu Renata serasi sekali dengan Pak Jupiter. Yang satu cantik, yang satu ganteng," celetuk salah satu rekan kerja Renata.


"Minta doanya ya agar lancar sampai hari H," ucap Renata.


"Aamiin." Kompak guru-guru yang mengerumuni Renata.


"Rena, Kakak berangkat dulu ya! Sudah siang," pamit Jupiter.


"Iya, mari Bu permisi!" Juki langsung pergi dengan menghembuskan napasnya kasar. Entahlah, dia merasa tidak suka melihat sikap cuek Shelo kepadanya. Dia pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju ke kantornya.


Sementara Renata langsung menghampiri Shelo yang sedang mengetik di laptopnya. Dia mengintip sedikit dengan apa yang dilakukan oleh kakak tingkatnya itu sampai-sampai tidak mau menyapa calon suaminya.


"Kakak masih aktif menulis ya!" tebak Renata.


"Iya, Rena. Lumayan buat tambah-tambah beli bumbu dapur," kelakar Shelo dengan mata yang tidak lepas dari layar monitor.


"Kak, kapan-kapan kita double date yuk! Kakak ajak suami Kakak dan aku ajak Kak Jupiter. Kayaknya seru kalau kita nonton bersama," ajak Renata.


"Kayaknya gak bakal bisa Rena. Suami Kakak kerja di luar kota," kelit Shelo.


"Yah sayang sekali. Kalau ajak Kak Dion gimana?" usul Renata.


"Sepertinya Dion juga sibuk. Dia sedang kejar sidang skripsi doktornya." Lagi-lagi Shelo mencari alasan untuk menolak keinginan Renata. "Rena, Kakak mau siap-siap dulu. Sebentar lagi bel masuk sekolah."


"Oh, iya! Aku juga mau siap-siap Kak." Renata langsung menuju ke mejanya dan menyiapkan bahan yang akan dia pakai untuk mengajar.

__ADS_1


...***...


Sementara sesampainya di kantor, Juki langsung panggil oleh Regan ke ruangannya. Laki-laki itu merasa ada yang ganjal dengan sikap Juki pada Renata. Dia ingin meyakinkan keseriusan Juki pada adiknya.


"Bos, ada apa memanggil aku ke mari?" tanya Juki saat sudah berada di ruangan Regan.


"Duduk dulu, aku ingin bicara serius dengan kamu," ucap Regan menghentikan pekerjaannya yang sedang memeriksa berkas penting.


"Apa ada masalahnya dengan perusahaan?" tanya Juki dengan wajah serius.


"Bukan. Tapi mengenai kamu dan adikku," ucap Regan seraya duduk di samping Juki.


"Memang kenapa dengan Renata?" tanya Juki heran


"Bukan dengan Renata, tapi dengan kamu." Regan melirik sekilas ke arah Juki.


"Maksud kamu?" Juki mengeryitkan keningnya merasa tidak mengerti dengan maksud ucapan sahabatnya.


"Apa kamu serius dengan Renata? Kenapa aku melihat kalau kamu tidak begitu respect pada adikku?" tanya Regan dengan menatap lekat Juki.


Juki tidak langsung menjawab pertanyaan Regan. Sejujurnya dia bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Dia hanya berharap Renata akan melupakan ucapannya dulu.


"Regan, kalau aku bilang, aku sudah dijodohkan oleh orang tua aku, apa kamu akan percaya? Aku juga tidak bisa menolaknya, tapi aku benar-benar tidak pernah menduga sebelumnya dengan keputusan orang tua aku."


"Lalu bagaimana dengan adikku? Kamu sudah berjanji untuk menikah dengannya."


"Itulah Regan. Aku juga bingung."


"Kenapa tidak kamu putuskan saja gadis yang akan dinikahkan denganmu dan tetap menikah dengan adikku. Aku tidak mau kalau sampai Renata sakit karena kamu mempermainkan perasaannya. Kamu tahu, jantung Rena lemah. Dia tidak akan bisa tahan saat mendengar kabar kalau kamu sudah dijodohkan."


Masalahnya aku sudah menikah Regan. Aku tidak bisa semudah itu lepas dari Shelo. Meskipun aku tidak mencintainya. Tapi aku juga, tidak begitu tertarik dengan Renata. Karena aku hanya menganggap dia sebagai adik.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....


Kepoin juga karya otor yang lain yuk! Pasti seru deh!

__ADS_1



__ADS_2