
Langit yang tadinya terang kini sudah berubah gelap. Shelo pun perlahan membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling kamar yang remang-remang. Dia langsung bangun dari tidurnya dan menyalakan lampu kamar.
"Juki ke mana? Sudah malam saja. Padahal tadi pulang dari pantai masih siang," gumam Shelo.
Dia pun mencari keberadaan suaminya, tetapi di setiap ruangan yang dia tuju, Shelo tidak menemukan keberadaan Juki, akhirnya dia memutuskan untuk menelpon suaminya.
"Hallo Juki, kamu di mana?" tanya Shelo saat sudah tersambung.
"Aku lagi di kantor. Mungkin malam ini gak pulang, gak apa, kan kamu tidur sendiri?"
"Ngapain kamu di kantor? Lagi mojok sama Renata ya!"
"Bukan! Cemburu ya!"
"Cemburu gundulmu."
"Ada masalah di perusahaan Regan. Aku hanya membantunya."
"Kamu masih mau bantu dia? Kalau aku sih ogah. Terserah kamu deh, pesankan aku makanan saja. Perutku lapar."
"Iya, kamu mau makan apa?"
"Mie tektek saja deh sama jus jeruk."
"Kenapa gak bikin mie goreng instan saja, kan kamu nyimpan banyak di dapur."
"Ampun deh, pelit banget suami aku. Udah deh, aku mau minta traktir sama Dion saja."
"Jangan! Awas saja kalau kamu berani keluar atau memasukkan laki-laki lain ke apartemen!"
"Iya, iya. Udah cepat pesankan! Aku mau mandi."
Klik!
__ADS_1
Shelo langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur dan berlalu pergi menuju ke kamar mandi. Dia begitu menikmati acara mandinya dengan guyuran air shower yang membuat badannya menjadi lebih segar.
"Ah, segarnya!" gumam Shelo saat dia sudah selesai mandi dan berpakaian.
Tidak berapa lama kemudian, terdengar bunyi bel apartemennya. Dia pun langsung membuka pintu. Nampak di sana Juki sedang tersenyum dengan mengangkat kantong makanan tinggi-tinggi.
"Katanya gak pulang?" tanya Shelo heran.
"Udah kelar kho. Jadinya aku langsung pulang. Biarkan saja Rain dan Beno yang kelarin sisanya," jawab Juki seraya masuk ke dalam apartemen.
"Memang ada masalah apa?" tanya Shelo seraya membuka bungkusan makanan yang dibawa Juki.
"Kantor Regan ada yang retas. Baru ditinggal sebentar saja sudah ada yang mau main-main," ucap Juki dengan menyandarkan punggungnya ke sofa dan menengadahkan kepalanya melihat ke langit-langit dengan tangan yang dia rentangkan
"Kamu gak makan?" tanya Shelo melirik ke arah Juki.
"Aku gak lapar. Shelo, aku jadi merasa tidak tega meninggalkan teman-temanku. Apalagi sekarang persaingan sangat ketat. Rain dan Beno kewalahan menghadapi serangan oknum yang tidak bertanggung jawab."
"Kalau sama teman-teman kamu, selalu kamu merasa gak tega. Tapi sama aku, kamu selalu saja jadi raja tega. Terserah kamu lah! Aku mau kerja di tempat teman kamu yang kemarin itu. Udah cakep, kayaknya orangnya juga asyik. Siapa tahu aku bisa jadi istri bos," ucap Shelo asal.
"Mau!" jawab Shelo singkat.
"Kita buka warung nasi saja. Lalu kita rekrut karyawan. Nanti kamu pasti akan dipanggil bos."
"Ck! Bukan begitu maksudku."
"Memang harus bagaimana? Kenyataannya, siapa saja yang memiliki karyawan, pasti akan dipanggil bos."
"Serah kamu, deh!" Shelo langsung bangun dari duduknya. Dia beranjak pergi ke dapur untuk membuang bekas bungkus makanannya.
Sementara Juki menuju ke kamarnya. Dia langsung bersih-bersih karena badannya terasa sangat lengket. Saat dia keluar dari kamar mandi, terlihat Shelo yang sedang duduk di tempat tidur seraya bermain ponsel.
"Juki, memang Renata sakit, ya?" tanya Shelo saat Juki duduk di sampingnya seraya mengeringkan rambut.
__ADS_1
"Hm ... Jantungnya kambuh," jawab Juki.
"Memang dia punya penyakit jantung? Aku kho baru tahu ya!"
"Memang seberapa dekat kamu dengan dia? Kho kamu gak tahu kalau dia punya penyakit jantung?"
"Gak terlalu dekat sih. Sebenarnya kita akrab karena sering chatting di media sosial," jawab Shelo jujur.
"Kamu punya media sosial?" tanya Juki kaget.
"Punya lah! Hari gini gak bisa main medsos, emang aku tinggal di goa apa?" Cebik Shelo.
"Apa medsos kamu?"
"Maaf ya Juki! Itu rahasia. Karen aku tidak suka privasi aku direcokin orang. Entar kamu sering chat aku lagi. Aku posting apa saja, kamu komentar. Mending kalau puji aku, kamu bisanya hanya hina aku." Lagi-lagi Shelo mencebikkan bibirnya.
"Sini aku lihat!" Tanpa permisi lagi, Juki langsung mengambil ponsel Shelo. Dia membukanya, tetapi Shelo berusaha merebutnya kembali. Sehingga mereka pun saling berebut ponsel seperti anak kecil.
"Juki, kembalikan!" pinta Shelo. Dia terus meloncat-loncat berusaha mengambil ponsel yang ada di tangan Juki. Namun, laki-laki itu menaikkan tangannya ke atas.
"Tidak, bisa! Kamu harus membayarnya dulu," ucap Juki seraya merangkul pinggang Shelo agar lebih rapat ke tubuhnya.
Dia memindahkan tangan itu ke tengkuk Shelo dan menahannya, saat dia mencium bibir tipis istrinya. Sementara tangan yang satunya, dia pakai untuk merekam apa yang mereka lakukan. Awalnya Juki hanya ingin mengerjai Shelo tapi ternyata dia tidak bisa menghentikan permainan bergelut lidah itu.
Semakin lama, hasrat keduanya pun semakin membara. Perlahan Juki menyimpan ponsel Shelo dan mengangkat tubuh istrinya. Dia membawa istrinya ke tempat tidur dan mulai merebahkannya secara perlahan. Lagi dan lagi, malam panjang yang dingin ini mereka habiskan dengan berbagi peluh dan kenikmatan yang memabukkan.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil menunggu Shelo-Juki update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.
__ADS_1