
Juki hanya bisa menghembuskan napasnya kasar mendengar apa yang istrinya katakan. Berkali-kali dia melirik ke arah Shelo yang masih terlihat pucat. Sampai akhir, dia membuka suaranya.
"Shelo, kalau soal Renata ... Aku ... Aku sebenarnya hutang janji sama dia. Aku ...."
"Aku sudah tahu kalau kamu berjanji untuk menikahi dia, kan? Aku tidak akan melarang kamu untuk menepati janji itu, kamu hanya perlu mengabulkan keinginan aku. Semuanya pasti selesai."
"Tidak Shelo! Pernikahan itu bukan hal untuk dijadikan sebuah permainan. Aku akan mencoba bicara pada Regan dan Renata soal hubungan kita. Aku harap kamu sedikit bersabar." Juki menatap dalam mata Shelo yang sedang menatapnya. Sampai akhirnya terdengar suara perut gadis itu yang membuat Juki langsung tertawa mendengarnya.
"Hahaha ... Kamu berapa hari tidak makan? Baru juga aku tinggalkan satu hari, ternyata kamu kelaparan. Ayo kita makan di luar! Aku yang traktir," ajak Juki seraya menarik tangan istrinya.
"Juki, itu aku masih perih. Aku tidak mau pergi ke luar. Malu dilihat orang karena jalannya aneh," tolak Shelo.
"Astaga Shelo, apa sampai segitunya? Bukannya orang lain biasa saja?" tanya Juki merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Terserah, kamu mau percaya atau tidak," ketus Shelo.
"Iya, iya aku percaya. Aku janji kalau kita melakukannya lagi akan lebih lembut," ucap Juki dengan tersenyum nakal.
Bugh! Bugh!
Shelo langsung memukuli suaminya dengan bantal sofa. Namun, sedikit pun Juki tidak merasa sakit, justru laki-laki itu terdengar tertawa kencang.
"Otak kamu itu harus dicuci Juki! Isinya hanya kotoran dan sampah," ketus Shelo.
"Kamu pikir aku udang? Yang nyimpan kotorannya di kepala. Berani kamu ngomong jelek pada suami kamu, maka akan aku hukum." Juki langsung memojokkan Shelo di sofa. Dia langsung menyerang bibir yang terlihat pucat itu. Rasanya begitu nikmat pertautan yang mereka lakukan, saat kedua hati sudah saling membuka diri dan bersiap untuk menyambut datangnya cinta di hati mereka
Sampai akhirnya, Juki benar-benar sudah tidak bisa menahan hasratnya untuk menyerang Shelo. Dia pun langsung membopong Shelo masuk ke kamarnya dan merebahkan gadis itu perlahan di tempat tidurnya.
"Tidurlah di sini. Aku mau mandi dulu, habis itu mencari makan untuk kita," ucap Juki lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia sebenarnya ingin sekali mengulang percintaan mereka yang memabukkan kemarin. Namun, Juki merasa tidak tega jika harus meminta haknya, sementara keadaan Shelo masih sakit.
__ADS_1
Setelah Juki menyelesaikan ritual mandi dan merapikan penampilannya, Laki-laki itu pun bergegas pergi dari apartemennya. Namun dia sangat terkejut saat membuka pintu apartemennya, ternyata orang tuanya masih ada di depan di pintu. Rupanya Mama Lintang dan Papa Yoga sengaja menguping di depan pintu, khawatir kalau anak dan menantunya berpisah.
"Ya Allah, Mama Papa kalian lagi ngapain di sini?" tanya Juki kaget.
"Suttt ... Jangan keras-keras! Bagaimana kalian sudah baikan, kan?" tanya Mama Lintang sangat antusias ingin mengetahui kabar kelanjutan hubungan putranya.
"Sudah, Mah! Aku mau beli makan dulu, kasian Shelo kelaparan."
"Oh, ya sudah kita pulang sekarang. Yuk, Pah!" ajak Mama Lintang.
"Ingat Juki, jangan sampai istrimu kelaparan biar pelayanannya prima," pesan Papa Yoga.
"Iya benar, kamu harus sering menggempurnya kalau Shelo sudah sembuh, agar kalian cepat-cepat punya anak. Kalau sudah punya anak, hubungan suami-istri itu akan susah dipisahkan oleh pihak luar. Kecuali, kalau memang bandel dan sengaja ingin pisah," timpal Mama Lintang.
"Iya, Mah iya. Aku pasti akan memintanya setiap malam."
Kedua oang tua itu terus saja, menasehati putra semata wayang mereka. Keduanya merasa senang karena akhirnya Juki memilih mempertahankan pernikahannya, dibanding memilih gadis lain. Meskipun mereka tahu kalau Regan itu dari keluarga kaya raya. Akan tetapi kedua orang tua itu justru khawatir putranya akan dijadikan sapi perah jika menikah dengan putri dari keluarga kaya.
Sampai akhirnya mereka berpisah saat sudah sampai di basemen apartemen. Juki langsung menuju ke restoran langganannya, sedangkan kedua orang tuanya pulang menuju ke kota sebelah, yang merupakan kota tempat tinggal mereka.
Berbeda dengan Shelo yang berada di kamar Juki. Gadis itu memilih tidur sambil menunggu suaminya. Rasa lapar dan kondisinya yang belum stabil, membuat badannya terasa lemas.
Lumayan lama dia tertidur menunggu kedatangan Juki. Sampai akhirnya sebuah benda kenyal yang terasa dingin menempel di bibirnya. Membuat Shelo langsung terperanjat kaget dan bangun dari tidurnya.
"Makanannya sudah siap, ayo makan!" ajak Juki. "Aku tunggu di balkon ya!"
"Iya," sahut Shelo seraya bergegas pergi menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka bantalnya.
Setelah di rasa fresh, Shelo pun segera menghampiri Juki yang sedang menikmati langit malam. Laki-laki tampan itu terlihat menumpukan kedua tangannya di pagar pembatas balkon dengan pandangan jauh ke depan melihat gemerlapnya kota metropolitan.
__ADS_1
"Juki ayo, katanya mau makan." Shelo sudah duduk di kursi teras yang ada di sana.
Dia mulai membuka makanan yang masih terbungkus rapi dan menuangkannya ke dalam piring yang sengaja Juki bawa dari dapur. Laki-laki itu sengaja mengajak Shelo makan di balkon sambil menikmati langit malam yang indah dengan kelap-kelip cahaya bintang dan rembulan yang bersinar terang.
"Shelo, kenapa aku baru sadar kalau kamu itu cantik. Apalagi saat diterpa cahaya lampu, wajahnya sangat menyilaukan," goda Juki.
Shelo menghentikan gerakannya sesaat. Dia melihat heran ke arah ke Juki. Namun, gadis yang belum lama berubah menjadi seorang wanita seutuhnya itu akhirnya hanya menggelengkan kepala mendengar apa yang suaminya katakan.
"Juki, apa kamu kesambet barongsai sampai ngomng ngawur seperti itu? Ayo cepat makan!" ajak Shelo lalu menyuapkan makanannya.
Juki hanya tersenyum tipis melihat sikap cuek. Sedikit pun gadis itu tidak tersipu dengan gombalan recehnya, andai saja yang di depannya Renata, sudah pasti gadis itu akan seperti cacing kepanasan.
Keduanya pun makan dalam diam sampai akhirnya semua makanan habis tak bersisa. Lagi-lagi Juki terus saja memperhatikan istrinya dalam diam. Meskipun dia sudah selesai makan lebih dulu, tetapi dia tidak beranjak dari tempatnya.
Kenapa aku baru sadar Shelo itu cantik. Ditambah lagi body-nya aduhai. Sayangnya dia selalu saja iseng padaku, makanya aku pun balik iseng sama dia. Tapi semakin lama, aku semakin suka sekali iseng sama dia, rasanya aku menemukan kebahagiaan tersendiri saat bisa mengerjainya, batin Juki.
"Woy, Juki! Mata kondisikan! Melotot aja dari tadi kaya mata capung," semprot Shelo karena merasa risih karena suaminya terus melihat ke arahnya.
"Shelo, kamu tidak pernah pacaran ya! Kenapa tidak bisa romantis," keluh Juki.
"Gimana mau pacaran kalau kamu selalu perusak dalam hubungan aku. Seneng bener jatuhkan aku di depan cowok yang lagi dekat dengan aku."
Ternyata dia tahu, kalau aku yang suka bikin cowoknya mundur. Hehehe ....
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1