
Hentakan kaki terdengar begitu nyaring di lorong sepi sebuah rumah sakit internasional. Terlihat Regan yang begitu terburu-buru agar cepat sampai di ruang perawatan adik kesayangannya. Dia segera bergegas ke rumah sakit, saat pembantu rumahnya memberitahu tentang keadaan Renata.
Bahkan Regan meninggalkan rapat penting yang sedang digelarnya. Baginya Renata yang utama dari segalanya. Saat sampai di ruangan gadis itu, terlihat kedua orang tuanya sedang menunggu adiknya yang sedang tertidur dengan berbagai peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.
"Mah, bagaimana keadaan Rena?" tanya Regan saat sudah mendudukkan tubuhnya di samping mamanya.
"Rena hanya perlu menenangkan diri, dia tidak boleh emosi berlebihan. Regan, apa benar Jupiter tidak mau menikah dengan Rena?" tanya Tuan Adam dengan melihat ke arah Regan.
"Iya, Pah!" sahut Regan dengan menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan Renata.
"Kenapa?" tanya Tuan Adam lagi.
"Jupiter sudah menikah Pah, katanya mereka dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Tapi aku merasa kalau itu hanya akal-akalan mereka saja," beber Regan.
"Sudahlah tidak usah mendesaknya lagi. Papa tidak mau Renata mendapatkan kebahagiaan semu dengan memaksakan orang lain untuk selalu berada di sampingnya. Sementara hatinya sudah milik orang lain."
"Tapi Pah, Rena hanya mencintai Jupiter. Bagi dia, Jupiter adalah laki-laki yang paling sempurna dalam hidupnya."
"Regan, Rena harus mulai belajar untuk menerima kenyataan bahwa tidak semua hal yang kita inginkan harus dapat terpenuhi. selama ini kita selalu menuruti semua keinginannya sehingga dia selalu menuntut agar semua hal yang dia inginkan dapat terwujud," ungkap Tuan Adam.
Dia memang prihatin dengan putrinya. Tapi dia tidak mungkin memaksa orang untuk menerima putrinya jika orang itu tidak menginginkannya, karena jika dia memaksa, sama saja dengan dia menghancurkan kehidupan Renata sendiri.
Baru saja Regan akan berbicara kembali, terdengar suara ponselnya yang berbunyi nyaring. Dia pun langsung mengambil dan melihat siapa yang telah menghubunginya. Tertera di sana nama Beno yang menghubunginya.
"Halo Beno, ada apa? Kamu handle saja dulu meeting-nya!"
"Gawat Regan! Kita diretas. Aku dan Rain kewalahan, cepat kamu cari bantuan lain, kalau perlu suruh Jupiter buat balik." Terdengar suara Beno yang panik di seberang sana.
"Astaga! Masalah apa lagi ini." Regan menepuk jidatnya sendiri. Dia merasa pusing dengan semua yang telah terjadi.
"Kamu tidak punya pilihan Regan. Kamu ingin perusahaan kamu hancur atau berdamai dengan Jupiter. Lagian bukan salah Jupiter juga. Karena aku tahu adik kamu yang selalu mengejar dia."
__ADS_1
"Udah stop! Aku pusing!"
Regan langsung menutup ponselnya begitu saja. Kepalanya benar-benar mau pecah. Belum juga ada satu Minggu Juki tidak bekerja di perusahaan nya, berbagai masalah berdatangan menghampirinya. Padahal sebelumnya dia yakin kalau Rain dan Beno pasti bisa menghandle semuanya sebelum dia mendapatkan pengganti Juki. Tapi ternyata, tidak mudah mencari tenaga ahli yang handal seperti Juki.
"Nak! Jangan turuti ego kamu terus. Cobalah untuk mengalah pada keadaan," ucap Tuan Adam seraya menepuk pundak putranya.
"Pah, tapi aku ...."
"Kamu hanya perlu meminta maaf pada Jupiter dan mengakui kesalahan kamu. Soal Renata, biar nanti Papa dan Mama pikirkan solusinya. Kamu harus bersikap profesional, agar tidak merugikan orang lain," potong Tuan Adam.
Regan hanya diam, dia menimang-nimang ucapan papanya. Regan berpikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh papanya. Akhirnya dia pun mengambil sebuah keputusan.
"Baik, Pah. Aku akan menemui Jupiter," ucap Regan.
"Pergilah, Nak! Perbaiki hubungan kalian," suruh Tuan Adam dengan menepuk pundak putra sulungnya.
Dia mengerti kenapa Regan begitu menyayangi adiknya, mungkin itu sebagai cara Regan untuk menebus rasa bersalahnya pada pada adik kembarnya Regina, yang meninggal karena terseret ombak, saat mereka sedang berlibur.
Regan langsung pergi setelah dia mencium kening adiknya. Dia bergegas menuju ke apartemen Juki. Namun, setalah lebih dari setengah jam dia berdiri di depan pintu unit apartemen Juki, tidak ada seorang pun yang membukakan pintu. Sampai akhirnya dia melihat kedatangan Juki yang sedang menggendong seorang gadis di punggungnya.
"Regan, ada apa kamu ke sini?" tanya Juki heran.
"Jupiter apa kita bisa bicara sebentar? Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu," jawab Regan dengan terus melihat ke arah gadis yang di digendong di punggung Juki.
"Masuklah! Aku mau menidurkan dulu Shelo ke kamar." Juki berlalu masuk ke dalam unit apartemennya. Dia pun langsung menuju ke kamar untuk menidurkan Shelo.
Sementara Regan hanya duduk di sofa dengan pikirannya yang berkecamuk. Sebenarnya dia gengsi mengakui kesalahannya. Tapi disisi lain, dia juga membutuhkan pertolongan Juki.
"Regan, mau minum apa?" tanya Juki, saat dia sudah keluar dari kamar.
"Seperti biasa saja, kopi dengan sedikit gula."
__ADS_1
"Oke, tunggu sebentar!" Juki langsung menuju ke dapurnya dan membuat minuman untuk mereka berdua. Setelah semuanya siap, dia pun kembali menemui Regan.
"Minumlah! Apa ada hal penting, sehingga kamu datang ke mari?"
Regan tidak langsung bicara. Dia menghembuskan napas jasa Sebelum berbicara pada Juki. "Aku mau minta maaf sama kamu."
Juki hanya tersenyum tipis melihat laki-laki yang duduk di depannya. Dia tahu kalau Regan paling enggan mengakui kesalahannya. Meskipun sebenarnya laki-laki itu tahu kalau dia salah.
"Aku mengerti dengan sikap kamu. Aku juga sudah memaafkan kamu."
"Jupiter, kembalilah ke perusahaan. Bukankah kita sudah berjanji untuk mengembangkan perusahaan itu bersama-sama."
"Itu dulu, saat awal kita membangunnya. Semuanya bisa saja berubah seiring berjalannya waktu," sarkas Juki.
"Juki, perusahaan sedang membutuhkan kamu. Beno dan Rain kewalahan. Aku minta bantulah mereka."
"Aku akan membantunya, tapi aku tidak bisa kembali ke perusahaan kamu."
"Kenapa? Apa kamu masih marah sama aku?"
"Tidak! Aku sudah bekerja di tempat lain."
Sial! Aku harus kehilangan orang berbakat seperti dia, gerutu hati Regan.
Maaf Regan. Aku akan memilih tempat yang bisa menerima aku dan istriku. Semoga ini bisa menjadi pelajaran buat kamu kedepannya. Agar lebih bisa menghargai privasi orang dan tidak memaksakan keinginan kamu tanpa peduli dengan perasaan orang lain.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1
Sambil nunggu Shelo-Juki update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.