Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua

Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua
Bab 11 Aku Masih Normal


__ADS_3

Melihat Shelo yang keluar dari kamar Juki dengan baju yang terlihat kusut, Bu Lintang sedikit mengerutkan keningnya. Tetapi sesaat kemudian, senyum cerah terbit dari kedua sudut bibirnya. Dia merasa senang karena mengira Shelo dan Juki sudah tidur di kamar yang sama.


"Mama!" panggil Shelo dengan menghambur ke pelukan Shelo.


"Putri Mama kenapa kurusan? Apa Juki selalu mengerjai kamu?" tanya Bu Lintang.


"Iya, Mah. Juki ngeselin, sukanya ngerjain aku terus. Gak siang gak malam pasti saja, ngerjain aku," adu Shelo.


Mendengar apa yang menantunya katakan, Bu Lintang dan Pak Yoga saling berpandangan. Lagi-lagi mereka berpikir ke hal yang iya-iya antara Shelo dan Juki. Sampai akhirnya Bu Lintang kembali berbicara seraya mengurai pelukan Shelo.


"Sabar ya! Coba Shelo belajar ikhlas agar menjadi pahala buat kamu. Karena seorang istri memang berkewajiban untuk melayani suaminya," ucap Bu Lintang dengan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan putranya. "Juki-nya ke mana?"


"Juki tadi ke kamar mandi. Mungkin lagi mencret habis makan nasi goreng," jawab Shelo asal. "Shelo bikin minum dulu ya Mah, Pah."


Shelo pun beranjak pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk kedua mertuanya. Sementara Bu Lintang dan Pak Yoga berbicara saling berbisik. Membuat Juki mengerutkan dahinya melihat kedua orang tuanya yang sedang berbisik-bisik.


"Mama, Papa, apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Juki heran.


"Kebetulan kamu datang, sini Nak!" ajak Pak Yoga.


"Ada apa, Pak? Apa ada yang penting?"


"Sini duduk dulu, mumpung Shelo lagi di dapur!" ajak Bu Lintang.


Juki pun menurut apa yang orang tuanya katakan. Dia duduk bersama dengan kedua orang tuanya dan bersiap mendengarkan apa yang akan papanya katakan.

__ADS_1


"Juki, bukannya Papa mau ikut campur dengan rumah tangga kalian. Papa hanya mau bilang, jangan terlalu memforsir istri kamu sampai badannya kurus begitu. Kamu boleh memintanya untuk melayani kebutuhan kamu tapi kamu juga harus ingat dengan kebutuhan dia. Jangan sampai, karena Shelo harus memenuhi kebutuhan biologis kamu, dia sampai lupa makan."


"Maksud Papa apa? Kebutuhan biologis apa?" tanya Juki bingung dengan ucapan papanya.


"Tadi Shelo bilang kalau kamu suka mengerjainya siang malam. Bukankah kalian melakukan hubungan suami istri seperti orang lain, kan?" tanya Pak Yoga.


"Papa dan Mama sudah salah paham kalau berpikir seperti itu. Aku dan Shelo masih sama-sama tingting."


"Apa??!! Jadi selama sebulan tinggal berdua kalian belum pernah melakukan hal itu?" pekik Bu Lintang. "Juki, apa pisang kamu tidak bisa berdiri tegak sampai tidak tergoda dengan gadis secantik Shelo. Apa karena kamu kelamaan menjomblo jadi lupa bagaimana rasanya menyentuh perempuan?"


"Mama, yang benar saja! Aku masih normal dan aku juga ...." Juki tidak melanjutkan ucapannya saat dia melihat Shelo datang membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan. Dia jadi teringat ciuman panas mereka yang hampir saja dia membobol gamang, seandainya kedua orang tuanya tidak datang mengganggu.


Bukannya aku tidak tergoda, tapi tidak mungkin saja kalau aku harus mengalah karena ingin hal itu pada Shelo. Astaga Shelo! Kenapa kamu mengujiku lagi dengan memperlihatkan buah ranum itu, batin Juki dengan mata yang melotot ke arah Shelo yang sedang menyimpan minuman di depannya.


Sementara Shelo hanya melotot pada suaminya, saat dia sadar kalau Juki sedari tadi tidak berkedip melihat ke arah dadanya. Gadis cantik itu mengepalkan tangannya ke arah Juki dengan bibir yang dia miringkan ke kiri dan ke kanan.


Sudah bukan hal yang aneh bagi dia kalau Shelo dan Juki selalu perang mata kalau mereka tidak bisa saling menghina dengan ucapan. Dengan patuh Shelo pun menghampiri mertuanya.


"Bagaimana sekolah barunya? Apa nyaman bekerja di sana?" tanya Mama Lintang.


"Lingkungan sekolahnya nyaman banget, rekan kerjanya juga baik-baik. Mereka tidak segan untuk membantu jika aku mengalami kesulitan," jawab Shelo.


"Syukurlah kalau begitu, Mama senang kalau kamu kerasan bekerja di tempat baru. Kalau tempt kerja yang baru tidak merasa nyaman, lebih baik mengundurkan diri saja dan ikut program kehamilan. Mama dan Ibu sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari kalian. Mumpung kami masih muda jadi bisa membantu menjaga cucu. Iya, kan Pah!" ujar Mama Lintang.


"Iya bener Shelo. Papa sependapat dengan apa yang Mama kamu katakan. Lagipula usia kalian kan seharusnya sudah memiliki anak dua, lebih baik jangan ditunda lagi untuk cepat-cepat punya anak," timpal Pak Yoga.

__ADS_1


"Papa tenang saja, Juki tidak akan mengecewakan kalian. Juki pasti bisa membuat Shelo hamil secepatnya," ucap Juki dengan tersenyum miring seraya melihat ke arah istrinya.


Sontak saja, Shelo langsung melotot tidak setuju dengan apa yang Juki katakan. Dia ingin melakukan hal itu dengan laki-laki yang dicintainya, bukan dengan musuh bebuyutan yang selalu membuatnya jengkel.


"Mama dan Papa habis dari mana? Kayaknya rapi sekali," tanya Shelo langsung mengalihkan pembicaraan.


"Mama dan Papa habis kondangan dari hajatannya Pak Kadis. Sekalian saja mampir, soalnya tidak jauh dari sini," jawab Bu Lintang. "Oh, iya Mama hampir lupa. Mama sebenarnya mau ngajak Shelo untuk ke Mall. Soalnya gak seru kalau ke Mall bareng dengan Papa. Suka sekali mengajak pulang kalau sedang memilih barang."


Glek!


Shelo menelan ludahnya kasar dia pun sebenarnya suka malas kalau diajak ke mall oleh mamanya Juki karena baik Mama Lintang maupun ibunya, mereka selalu memilah-milah terus barang, tapi akhirnya tidak jadi membeli. Namun, Shelo tidak pernah berani menolak saat dia diajak oleh Mama Lintang untuk menemaninya belanja.


"Boleh, Mah! Tapi Shelo ganti baju dulu," ucap Shelo lalu pergi menuju ke kamarnya untuk memakai baju yang lebih tertutup. Karena memang, saat di rumah dia suka memakai baju yang serba mini, tapi saat ke luar rumah pasti akan memakai baju yang sopan dan tertutup.


"Juki dan Papa juga ikut sekalian. Nanti kalian bisa menunggu kami belanja di timezone," ucap Mama Lintang dengan tersenyum mengejek kedua laki-laki beda generasi itu. "Nanti kita makan siang sekalian di sana. Jarang-jarang loh kita jalan bareng ke mall. Hitung-hitung hiburan untuk melepaskan jenuh karena pekerjaan."


"Iya Papa ikut, menolak pun pasti Mama akan maksa," ucap Papa Yoga. "Kamu juga ikut kan, Juki?"


"Pengennya sih gak usah ikut, Mah. Tapi nanti Mama pasti ngancem mau PHK aku jadi anak," jawab Juki malas.


"Syukurlah! Kalau kalian semua sudah mengerti. Mama kan tidak perlu menjelaskannya lagi." Mama Lintang tersenyum penuh kemenangan karena semua orang mengikuti keinginannya.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2