
Hari-hari yang Shelo lewati selama kehamilannya terasa begitu menyenangkan. Bagaimana tidak, Juki selalu menuruti semua keinginannya. Entah itu karena memang dia sedang mengidam. Entah itu karena Shelo sedang iseng pada suaminya. Namun, laki-laki yang biasanya selalu beradu argumen itu lebih banyak mengalah pada istrinya.
"Shelo, hari ini aku pulang telat ya! Ada meeting dengan klien nanti jam tujuh malam. Tidak apa kan kalau pulang sendiri?" tanya Juki saat mereka makan siang bersama di kantor.
"Iya gak apa. Nanti aku naik taksi saja," jawab Shelo.
"Jangan! Nanti aku yang akan mengantar kamu pulang, baru kembali ke kantor. Aku khawatir kalau kamu pulang sendiri. Anak Papa, baik-baik ya sama Mama. Kalau ngantuk, boleh tidur lebih dulu. Tapi nanti Papa pulang, Papa bangunkan ya!" Juki mengelus lembut perut buncit Shelo. Dia memang selalu mengajak bicara pada janin yang ada di dalam kandungan istrinya.
"Iya, Papa. Tapi nanti pulangnya bawa bubur kacang ya!" ujar Shelo.
"Oke, sayang! Papa pasti bawa," ucap Juki lalu mencium perut istrinya.
"Pak Jupiter sweet banget sama Bu Shelo. Bikin kita yang masih jomblo iri saja," celetuk salah satu karyawan yang makan bareng di kafetaria perusahaan.
"Kalau istri sedang hamil, harus dibuat bahagia. Agar anak kita juga bahagia di dalam kandungan. Nanti pas lahirnya tidak akan rewel," ucap Juki sekenanya.
"Memang benar seperti itu ya, Pak."
"Mungkin juga, ini kan hanya ilmu cocoklogi, menurut pandangan saya." Lagi-lagi Juki bicara asal pada mereka.
"Sudah Mbak, jangan didengar! Suami saya, memang suka kadang-kadang," timpal Shelo yang ikut nimbrung pembicaraan Juki dengan dua karyawan yang menjadi resepsionis.
__ADS_1
"Memang aku kadang-kadang apa?" bisik Juki.
"Pake nanya lagi. Kamu tuh kadang-kadang baik kadang-kadang nyebelin. Tapi sekarang kamu sedang baik sama aku. Pasti ada maunya," tebak Shelo.
"Hehehe ... Kamu tahu saja. Nanti malam kita pakai gaya baru ya! Aku baru dikirim videonya sama Ion," bisik Juki pelan.
Shelo hanya memutar bola matanya malas. Makin hari memang suaminya semakin sering meminta jatah sama dia. Dengan alasan yang menurut Shelo tidak masuk diakal. Karena Juki selalu bilang kalau dia semakin seksih dengan perut yang membuncit
Selesai mereka menikmati makan siangnya, pasangan suami istri itu kembali ke ruangannya masing-masing. Mereka pun kembali dengan aktivitas masing-masing. Shelo memang belum mengajukan cuti. Meskipun Juki sudah sering menyuruhnya untuk berhenti kerja dan fokus pada kehamilannya. Namun, dia tetap kekeh ingin bekerja sampai waktunya dia melahirkan.
...***...
Malam harinya, Shelo terlihat gelisah. Sudah jam sepuluh malam tetapi Juki belum pulang juga. Dia sudah mencoba menghubungi ponsel suaminya, tetapi tidak diangkat juga. Sampai akhirnya terdengar suara deru mesin mobil memasuki halaman rumahnya.
"Kenapa jam segini baru pulang? Kamu habis ngapain dulu?" tanya Shelo dengan melihat tangan di dadanya saat Juki masauk ke dalam kamarnya dengan membawa dua mangkok kosong di tangannya.
"Jangan marah dong, Mama Utun. Nih, aku habis keliling-keliling mencari bubur kacang ijo. Soalnya yang dekat kantor gak jualan. Ayo duduk, aku buka dulu buburnya!" ajak Juki.
Shelo pun hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia melihat ke arah Juki yang dengan sigap memindahkan bubur kacang ke dalam mangkuk. Setelah semuanya siap, barulah Juki berbicara.
"Utun sayang, ayo kita makan bubur! Apa mau Papa suapi?" Juki mengelus lembut perut Shelo sebelum dia menciumnya.
__ADS_1
Namun, sejurus kemudian bukan hanya perut buncit itu yang dia cium tetapi si pemilik perut pun, Juki cium juga. Membuat keduanya menjadi terhanyut dengan suasana yang mereka ciptakan.
"Shelo, aku senang melihat kamu marah saat aku pulang telat. Dari situ aku tahu, kalau kamu selalu menungguku," ucap Juki setelah mereka saling melepaskan pagutannya.
"Aku memang menunggu kamu. Aku khawatir kalau kamu pulang larut. Apalagi sekarang sedang marak geng motor," ucap Shelo terus terang dengan apa yang dipikirkannya.
"Tadi meetingnya sampai jam sembillan malam, tapi aku keliling dulu mencari bubur."
"Lain kali, kalau memang yang jualannya gak ada, pulang saja. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa."
"Ternyata rasanya begini saat kita dikhawatirkan oleh orang yang kita cintai. Hatiku raanya terbang melayang."
"Apaan sih Juki? Memang kamu mencintai aku? kapan bilangnya?"
Aku juga lupa sudah bilang cinta belum sama dia tapi kan kita sudah gitu-gituan. Apa harus bilang cinta lagi. Tapi baiklah, membahagiakan istri itu katanya pahala, batin Juki.
"Shelo, kamu satu-satunya gadis yang aku inginkan. Seperti sebuah ukiran, kamu terukir indah di hatiku. Aku mencintaimu dengan semua yang ada pada diri kamu. Tetaplah di sisiku sampai raga ini sudah tak bernyawa lagi."
"Love you more, Papa Utun." Keduanya pun saling melempar senyum dengan perasaan bahagia yang membuncah di dada.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih...