Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua

Janda Bengsrat Vs Perjaka Tua
Bab 50 Nasihat Orang Tua


__ADS_3

Senyum cerah terus menghiasi wajah tampan Juki. Dia terus saja teringat dengan percintaan panasnya bersama dengan sang istri. Apalagi, mereka melakukannya di siang hari yang terik. Membuat keduanya bercucuran keringat.


Beruntung saja putri mereka sangat pengertian. Meskipun suara lenguhan menggema memenuhi kamarnya, sedikit pun Shazia tidak terganggu tidurnya. Namun, saat mereka akan melakukan ronde yang ketiga, terpaksa Juki harus mengurungkannya saat pembantu rumah menggedor pintu kamar dan memberitahu ada tamu di depan.


"Shelo, aku lihat tamu dulu ya!" pamit Juki setelah dia selesai membersihkan dirinya dan berpakaian.


"Iya, aku menemani Zia saja ya. Badanku lelah," keluh Shelo dengan merebahkan dirinya di samping putrinya.


"Istirahatlah!" Juki mengusak rambut Shelo sebelum dia pergi menemui tamunya.


Terlihat Rain sedang duduk sendiri sedang memainkan ponselnya seraya tersenyum. Laki-laki yang sudah mengganggu acara indehoynya, seperti laki-laki yang sedang kasmaran. Juki pun segera melemparkan tubuhnya di samping temannya.


"Ck! Kamu datang di waktu yang tidak tepat Rain," gerutu Juki dengan mengintip sedikit ke ponsel temannya itu.


"Sorry, Bro! Aku hanya mampir setelah memastikan rumah yang di samping kamu itu. Mungkin minggu depan aku pindah ke sana. Tadi aku sudah deal dengan pemiliknya. Nyonya Shopia orangnya ramah ya!" Rain pun memasukkan ponselnya ke kantong celana.


"Kamu berdua dengan dia melihat rumah?" tanya Juki merasa tidak percaya.


"Tentu tidak. Tadi bersama dengan Tuan Anez. Tapi beliau tidak banyak bicara. Apa seperti itu ya kalau orang kaya?"


"Gak semua Bro. Buktinya Elgar tidak seperti itu padahal kita tahu dia siapa. Ya meskipun terkadang suka kumat arogan dan sengkleknya."


"Dasar kamu! Apa anak dan istrimu sedang tidur?" tanya Rain basa-basi.


"Iya, istriku kelelahan sehabis olah raga." Senyum Juki langsung mengembang saat selesai dia berbicara.


Mereka pun berbicara ke sana ke mari. Membicarakan apa saja yang ada di pikirannya. Dari mulai masalah pekerjaan, teman-temannya sampai akhirnya Rain menanyakan tentang sepupu Juki. Laki-laki itu pun bicara apa adanya tidak ada yang ditutup-tutupi. Sampai akhirnya terdengar suara adzan berkumandang, barulah Rain berpamitan.

__ADS_1


Malam harinya, Juki dan Shelo terlihat sedang duduk berdua di depan televisi . Mereka melihat film action yang biasa keduanya tonton saat masih muda. Namun, sepertinya tangan Juki sudah tidak bisa lagi dikondisikan. Dia terus saja menjelajah area sensitif Shelo. Membuat wanita cantik itu seperti cacing kepanasan.


"Papa Jia diam apa! Filmnya lagi seru nih," tegur Shelo.


Namun, bukannya menurut, Juki semakin memberikan sentuhan-sentuhan yang mampu meruntuhkan iman. Sampai akhirnya Shelo tanpa sadar melenguh dengan mata yang tidak lepas dari layar kaca.


"Sayang, kamu sudah pengen, kan? Ayo kita ulangi yang tadi siang," bisik Juki.


"Akh ... Juki ... kamu nakal."


Juki hanya tersenyum mendengar suara seksih Shelo yang mendessah. Dia pun akhirnya menyerang istrinya di atas sofa bed. Lagi dan lagi permainan yang menegangkan urat saraf kembali mereka lakukan. Tidak peduli dengan film yang sedang menonton adegan panas mereka. Yang terpenting bagi keduanya, mereka mendapatkan kenikmatan bersama.


...***...


Hari demi hari terus berganti dan waktu pun terus berlalu. Shelo dan Juki semakin hari semakin mesra. Kedua orang tua baru itu begitu kompak menjaga dan merawat putri mereka. Sedetik pun mereka tidak mau melewatkan masa tumbuh kembang putrinya.


Sampai tidak terasa kini Shazia sudah berusia satu tahun. Shelo dan Juki pun sudah menyiapkan pesta kecil untuk putrinya. Hanya keluarga terdekat saja yang mereka undang.


"Selamat ulang tahun juga cucu Nenek," ucap Bu Tiara dengan melakukan hal yang sama dengan besannya.


"Terima kasih, Oma dan Nenek." Shelo tersenyum manis pada dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Shelo, kalau mau kerja lagi, biar Zia sama Mama saja," ucap Mama Lintang.


"Terima kasih, Mah. Tapi aku ingin merawatnya sendiri. Aku dan papanya Zia sudah sepakat untuk merawat anak-anak kami sendiri. Kami tidak ingin merepotkan Mama ataupun Ibu. Biar Mama dan Ibu menikmati masa pensiun nanti dengan tenang. Kalau Mama dan Ibu kangen bisa ke sini main sambil menghilangkan jenuh karena berada di rumah terus," ucap Shelo panjang lebar.


"Putri Ibu sekarang pikirannya sudah dewasa. Ibu bangga dengan kamu, Nak. Meskipun dulu sering membuat kita pusing ya Mbak Lintang dengan kelakuan mereka, tapi sekarang Juki sama Shelo sudah jadi orang tua yang bertanggung jawab," ucap Mama Tiara dengan meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Iya, Mbak Tiara. Aku juga sangat terharu mendengar apa yang Shelo katakan. Ternyata mereka juga memikirkan kita yang sudah semakin menua," sahut Mama Lintang.


"Karena kami sayang sama Mama dan Ibu. Meskipun kami belum bisa membahagiakan Mama dan Ibu, setidaknya kami tidak merepotkan di hati tua Mama dan Ibu," timpal Juki yang baru saja datang bersama dengan papa dan mertuanya.


"Kamu bisa membahagiakan kami dengan mudah. Cukup dengan memberikan kami cucu yang banyak, agar rumah kita tidak sepi ya Mah," Papa Yoga menepuk pundak putranya yang berdiri di sampingnya.


"Benar Juki Shelo, lebih baik kalian secepatnya punya anak lagi. Biar Zia ayah yang asuh. Tahun depan ayah juga sudah pensiun," timpal Ayah Ditya.


"Mama, Papa, Ayah dan Ibu jangan khawatir! Kami setiap malam pasti akan membuat adonannya," ucap Juki dengan senyum yang mengembang


"Juki!" pekik Shelo dengan wajah yang memerah. Dia sangat malu suaminya membocorkan kebiasaan mereka.


Sementara Juki hanya cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bisa berkurang jatah kunjungannya kalau Shelo sampai kesal. Namun berbeda dengan respon para orang tua yang justru senang mendengar anak-anak mereka sering membuat adonan anak.


"Kamu memang anak Papa, Juki. Jangan pantang menyerah sampai akhirnya adonannya mengembang," puji Papa Yoga.


"Shelo juga, sering-sering minum jamu sehat wanita Nak. Agar suami kamu betah rumah," saran Ibu Tiara.


"Benar itu Shelo. Meskipun punya anak kecil jangan lupa merawat diri. Kalau kamu sibuk dengan Zia yang aktif, minta Juki carikan pengasuh. Tapi jangan mau yang masih muda, suruh cari yang sudah berumur saja," timpal Mama Lintang.


Jangankan minum jamu yang begitu, aku minum jamu yang habis melahirkan saja, Juki sering minta terus kalau dia sedang ada di rumah. Memangnya gak cape ya, ngelakuin hal itu sampai harus berkali-kali. Sehari dua kali saja, aku sudah kelelahan, batin Shelo.


Alhamdulillah Ya Allah, Engkau memberi hamba keluarga yang baik dan sayang pada hamba dan keluarga kecilku. Semoga Mama, Papa, Ayah dan Ibu diberi umur panjang, kesehatan yang baik dan rejeki yang berlimpah. Aamiin, batin Juki.


...~Tamat~...


Alhamdulillah kisah Juki dan Shelo sudah sampai di penghujung cerita. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dan membuang jauh-jauh hal buruk yang tidak sengaja author sampaikan.

__ADS_1


Mohon maaf atas semua kekurangannya. Semoga kakak semua terhibur dengan cerita Shelo dan Juki. Akhir kata, sampai ketemu lagi di cerita author yang lain. Selamat berlibur dan selalu jaga kesehatan.


^^^Love u all^^^


__ADS_2