
Pagi-pagi sekali, terdengar kegaduhan di apartemen Juki. Masalahnya mereka berdua bangun kesiangan setelah semalam olahraga sampai dini hari. Kini Shelo dan Juki berebut kamar mandi karena keduanya ingin buru-buru pergi melamar pekerjaan.
"Juki, jangan lama-lama! Cepetan mandinya," teriak Shelo di depan pintu kamar mandi. Karena tadi dia kalah berebut pintu dengan suaminya. Namun, bukan jawaban dari Juki yang dia dapatkan, tetapi tarikan tangan dari laki-laki itu.
"Daripada berebut, kenapa kita tidak mandi bersama saja. Biar lebih cepat," ucap Juki seraya melanjutkan mandinya.
Meskipun awalnya malu-malu, akhirnya Shelo pun mengikuti apa yang Juki katakan. Karena memang, dia tidak memakai sehelai benang pun sedari tadi saat mereka berebut. Juki hanya melirik sekilas pada Shelo dengan menahan senyumnya. Dia merasa lucu membayangkan tadi mereka berlarian ke kamar mandi dan berebut pintu dengan tubuh yang toples.
Ternyata lucu juga menikah dengan musuh bebuyutan. Saat akur, seperti memiliki sahabat. Tapi saat perang, berasa jadi anak kecil lagi, batin Juki
"Gak usah ketawain aku!" ketus Shelo saat melihat juki sedang menahan senyumnya.
"Enggaklah Sayang, kamu tuh seksih kalau tanpa baju begini, hahaha ...." Juki tidak bisa menahan tawanya dengan apa yang dia katakan. "Asli, aku geli banget bilang sayang sama kamu. Sudahlah, aku udah duluan mandinya."
Juki segera menyudahi mandinya. Dia pun langsung berpakaian rapi dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. Tidak lupa jas kantor untuk menyempurnakan penampilannya. Tidak berapa lama kemudian, Shelo pun sudah selesai mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor bersama dengan Juki. Mereka sudah mantap untuk bekerja di perusahaan Orion yang bergerak di bidang e-commerce.
"Shelo, kalau sudah siap, kita makan di bawah saja," ucap Juki.
"Iya, sebentar!"
Setelah selesai drama pagi, mereka pun langsung bergegas berangkat kerja. Mereka membeli sarapan di kafetaria dan memakannya di mobil. Shelo dengan setia menyuapi Juki yang sedang sibuk menyetir. Sampai keduanya berada di lampu merah, mereka berdekatan dengan mobil Regan.
Romantis sekali mereka, makan saja sampai disuapi begitu. Kenapa gadis yang aku sukai selalu menyukai Juki. Meskipun mereka tidak pernah diladeni oleh dia. Ternyata Juki diam-diam sudah menyukai Shelo, batin Regan.
Tidak berapa lama kemudian lampu hijau pun menyala. Juki segera melajukan mobilnya. Meninggalkan Regan yang masih melamun di tempatnya. Sampai-sampai terdengar bunyi klakson bersahutan menyadarkan dia dari lamunannya.
Berbeda dengan Juki dan Shelo yang langsung membelokkan mobilnya ke sebuah gedung bertingkat milik Pratama Group. Karena memang perusahaan Orion berkantor di sana.
Setelah dia mengkonfirmasi kedatangannya pada resepsionis, Juki dan Shelo pun disuruh menunggu di ruang tunggu khusus tamu. Tidak berapa lama kemudian keduanya disuruh ke ruangan Orion.
"Selamat datang Jupiter! Apa kamu kesusahan mencari ruangan aku?" tanya Orion menyambut kedatangan Juki.
"Tidak, Tuan Ion. Tadi diantar resepsionis," jawab Juki berusaha bersikap formal.
__ADS_1
"Apa kamu masih ingat dengan temanku ini. Dulu saat aku kita masih kuliah, sering main di klub bareng," ucap Orion.
"Tuan Devan kan? Anda terlihat sangat gagah sekali," tebak Jupiter.
"Ayolah, Bro! Kita bicara santai saja. Kamu ingat Celia? Kemarin aku bertemu dengannya. Dia menanyakan kabar kamu. Apa sekarang kalian sudah tidak main ke klub lagi?" tanya Devan sekenanya. "Bukankah Bang Elgar masih suka main ke sana dengan Regan?"
"Aku sudah jarang ikut dengan Regan, soalnya kalau malam mengajar di kampus."
"Keren kamu, Bro! Workholic banget! Aku kasih tahu ya! Sekarang Celia sudah tidak segar seperti dulu lagi. Sepertinya dia banyak melakukan operasi plastik. Hati-hati kalau booking dia, banyak imitasinya," cerocos Devan.
"Apa kalian suka bermain perempuan saat masih kuliah?" celetuk Shelo yang sedari tadi diam.
Ketiga laki-laki tampan itu saling berpandangan saat menyadari kalau di sana ada seorang perempuan cantik. Saking serunya bertemu dengan teman lama. Membuat ketiga laki-laki itu lupa dengan keberadaan Shelo
"Jupiter, dia siapa?" tanya Devan menunjuk Shelo dengan daguku.
"Dia istriku!" sahut Juki.
"Oh iya hampir lupa, Shelo dulu kuliah jurusan apa? Kemarin aku lupa menanyakannya," tanya Orion langsung mengalihkan pembicaraan. Karena tidak mungkin mereka membongkar masa-masa nakal mereka dulu saat masih kuliah di depan istri temannya itu.
"Kamu mengerti ilmu administrasi, kan? Nanti aku serahkan kamu ke HRD, biar mereka mencari pekerjaan yang cocok. Kalau Jupiter, aku akan menempatkan dia sebagai technical architect," ucap Orion.
"Kamu yakin memberikan tugas itu sama aku?" tanya Jupiter merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Aku yakin. Sudah lama aku ingin mengajak kamu bergabung dengan perusahaan aku tapi aku menghargai Regan, jadi aku tidak mengajak kamu gabung bersama aku. Sekarang kesempatan di depan mata. Aku tidak mungkin menyia-nyiakannya. Iya gak Devan?" Orion melihat ke Devan yang sedang terpaku melihat ke arah Shelo.
"Iya benar! Aku juga sedang mencari oang-orang berbakat seperti kamu tapi aku kalah cepat dari Ion."
"Kamu ahlinya, Devan. Mungkin kamu bisa mengerjakannya sendiri," seloroh Juki.
"Kalau aku kerjakan sendiri lalu kapan aku membuat anak?"
Aku gak nyangka teman-teman Juki seperti itu, bagaimana mereka bisa jadi bos padahal pikiran mereka bocor seperti itu? batin Shelo.
__ADS_1
Setelah teman lama itu puas berbincang, akhirnya mereka pun kembali bekerja. Begitupun dengan Shelo yang ditempatkan di bagian keuangan oleh HRD. Meskipun dia dan Juki bekerja bukan di bagian yang sama, tetapi mereka menyempatkan untuk makan siang bersama.
"Shelo, bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Juki saat keduanya sedang makan siang.
"Ya begitu, ada yang baik, ada juga yang jutek."
"Sepertinya, hari ini aku pulang telat. Nanti kamu pulang duluan saja. Aku ada meeting penting nanti jam tujuh malam. Kalau mau, tunggu sampai meeting selesai."
"Aku pulang duluan saja. Aku kan pulang jam lima. Juki, memang kamu pernah pacaran dengan yang namanya Celia itu?" tanya Shelo dengan melihat ke arah suaminya.
Juki menghentikan makannya, dia meminum minuman miliknya sebelum menjawab pertanyaan dari Shelo. "Bukan pacar, dia hanya teman main. Sama seperti dengan Ion dan Devan."
"Apa Celia itu wanita panggilan yang kalian gilir bersama-sama?" tanya Shelo dengan wajah serius.
Dia sangat penasaran dengan masa muda Juki yang tidak dia ketahui. Karena semasa mereka kuliah, keduanya jarang bertemu. Setiap kali bertemu pun sudah seperti kucing dan anjing.
Pletak!
Bukan jawaban yang Shelo terima untuk menghilangkan rasa penasarannya, tetapi sentilan dari suaminya yang membuat wanita cantik itu meringis dengan bibir yang cemberut.
"Sakit tahu! Kekerasan dalam rumah tangganya," sungut Shelo dengan mengusap jidatnya yang sedikit memerah.
"Salah kamu sendiri. Punya pikiran seperti itu, memangnya kamu pikir, aku ini cowok apaan?"
"Kamu tuh cowok apapun," jawab Shelo dengan sedikit melotot ke arah Juki.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Shelo-Juki update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.
__ADS_1