
Semakin hari perut Shelo semakin membuncit. Dia sudah berhenti kerja karena dipaksa oleh Juki yang merasa khawatir melihat istrinya yang seperti kelelahan setiap kali pulang kerja. Mama Lintang dan Ibu Tiara pun sudah stand by di rumah Juki untuk menanti kelahiran cucu pertama mereka.
Beruntung saja, hari perkiraan lahir Shelo bertepatan dengan libur semester, sehingga mereka tidak perlu ijin saat menginap di rumah Shelo. Sementara pada Bapak yang tidak bisa mengambil cuti seenaknya dari kantor, membuat mereka harus berlapang dada karena ditinggal oleh para istri tercintanya.
"Shelo kalau sudah sering merasa mulas atau ada cairan yang keluar dari jalan lahir, atau pun keluar darah. Kamu langsung bilang saja sama Ibu," suruh Bu Tiara seraya mengelus perut Shelo .
"Iya, Bu. Aku tidur siang dulu ya!" pamit Shelo.
"Hati-hati naik tangganya, Shelo. Kenapa kamu tidur di kamar bawah saja, biar tidak naik turun tangga terus."
"Iya benar, Mbak. Lebih baik tidur di kamar Mama saja," saran Mama Lintang.
"Aku gak bisa tidur kalau gak cium baunya Juki. Cucu Mama tuh baru bisa anteng kalau dekat papanya," keluh Shelo.
"Bagus itu, biar kalian semakin dekat. Ibu senang, akhirnya kalian berbaikan. Apalagi sekarang malah jadi anak, iya kan Mbak Lintang?"
"Iya, benar Mbak Tiara. Makanya, aku pasti akan menyingkirkan setiap gangguan yang merongrong pernikahan anakku."
Setelah Shelo berpamitan, Diapun langsung naik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Namun, baru saja dia menapaki beberapa anak tangga, tiba-tiba saja ada cairan coklat keluar dari jalan lahir. Shelo pun kembali menghampiri kedua wanita yang sangat disayanginya.
"Ibu, aku kenapa ngompol? Ini gak bisa berhenti," tanya Shelo.
"Apa? Itu bukan ngompol, tapi ketuban kamu pecah," panik Bu Tiara. " Mbak Lintang cepat hubungi Juki, kita langsung bawa Shelo ke rumah sakit."
__ADS_1
"Iya, Mbak!" sahut Mama Lintang yang ikutan panik.
"Aku harus gimana, Bu. Apa anakku akan lahir?"
"Iya, Shelo. Anak kamu harus lahir karena ketubannya pecah. Sekarang pakai saja dulu pembalutt agar tidak ceceran ke mana-mana.
Mama Lintang segera menghubungi Juki dan menyuruh pembantu rumah untuk membawa perlengkapan Shelo untuk melahirkan. Untung saja sudah dari jauh-jauh hari disiapkan, jadinya tidak perlu repot-repot lagi mempersiapkan karena tinggal membawanya.
"Ayo, Mbak! Kata Juki kita langsung bawa ke rumah sakit internasional. Katanya klaim asuransinya di sana," ajak Mama Lintang dengan membantu besannya memapah Shelo menuju ke taksi yang sudah dia pesan.
Selama perjalanan, Shelo hanya meringis menahan sakit di perut bawahnya. Dia hanya mengelus perutnya untuk mengurangi rasa sakit. Sementara ibunya terus mengelus punggung bawah Shelo yang terasa panas.
Tidak lama kemudian, taksi yang ditumpangi sudah sampai di rumah sakit yang dituju. Di sana Juki sudah menunggu mereka di depan IGD. Laki-laki tampan itu segera membopong istrinya dan memindahkan ke atas brangkar.
"Juki, sakit ...," keluh Shelo.
"Tahan ya! Aku yakin kamu wanita yang hebat bisa melewatinya dengan baik."
Setelah sampai di ruang IGD, barulah perawat yang mendorong Shelo berbicara, "Permisi, Tuan! Silakan tunggu di luar, kami akan melakukan tindakan untuk pasien."
"Mas, jangan lama-lama! Aku ingin menemani istriku saat melahirkan," seru Juki dengan melihat ke arah perawat laki-laki itu.
"Tenang, Tuan. Saat akan melahirkan nanti, kami pasti akan memanggil Tuan untuk menemani Nyonya."
__ADS_1
"Baiklah! Tapi Mas gak boleh pegang-pegang istriku. Suruh saja perawat wanita yang memberikan pertolongan pada Shelo," saran Juki.
"Baik, Tuan! Tapi tolong Anda menepi dulu. Kami akan memeriksa kondisi istri Anda."
Setelah sedikit drama di depan pintu masuk ke IGD, akhirnya Shelo pun segera di periksa. Setelah Dokter memastikan kondisi ibu hamil itu, Shelo pun dipindah ke ruang bersalin karena dia sudah memasuki pembukaan lima. Tentu saja Juki tidak mau ketinggalan. Dia terus saja berada di sisi istrinya. Tidak peduli dengan tatapan risih dari perawat yang merasa kinerjanya diragukan oleh Juki.
"Mbak, kenapa tidak diberi obat? Lihat Shelo kesakitan begitu! Bagaimana ini, apa tidak ada obat pereda nyeri?" tanya Juki seraya memegang erat tangan istrinya.
"Tuan, tenang. Ini sakit yang biasa dirasakan oleh ibu yang akan melahirkan. Karena terjadi kontraksi dimana bagian atas rahim mengencang, sehingga bayi terdorong ke bawah untuk masuk ke jalan lahir. Kalau ibu hamil tidak mengalami kontraksi maka bayi harus dilahirkan dengan cara operasi caesar."
"Aku mau lahiran normal saja, Dok! Udah Juki, diem, jangan ngomong terus!"
Juki akhirnya diam menurut aoa yang Shelo katakan. Dia hanya ikut meringis setiap kali istrinya meringis. Setelah pembukaannya lengkap, barulah Dokter memberikan intruksi pada Shelo.
"Ayo Shelo! Kamu pasti bisa. Ayo, Nak cepat keluar. Nanti Papa kasih tahu bagaimana dulu Mama kamu manjat jendela Papa."
Shelo tidak mengubris ucapan Juki yang asal. Laki-laki itu terlihat ketar-ketir saat melihat Shelo mendorong bayi mereka dengan sekuat tenaga. Sampai akhirnya seorang bayi perempuan yang cantik lahir dengan selamat. Setelah Shelo tiga kali berusaha mendorong bayinya.
"Alhamdulillah," ucap Juki dan Shelo bersamaan dengan suara tangisan bayinya yang memenuhi ruangan. Dia langsung mencium kening Shelo lama. Lalu berkata, "Terima kasih Shelo, kamu wanita yang luar biasa."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....