
Tidak ingin berdebat dengan Juki, Shelo langsung pergi ke kamar mandi. Rasa kesal dan bimbang menjadi satu. Shelo tidak memungkiri ucapan Juki ada benarnya juga. Mau tidak mau, dia harus melayani laki-laki itu layaknya seorang istri.
Akan tetapi, dia masih saja merasa belum siap jika harus melakukan hal yang lebih intim dengan Juki. Apalagi, jika mereka harus sampai melakukan hal itu. Karena dia ingin memberikannya pada laki-laki yang dia cintai dan yang mencintainya.
Sementara Juki hanya bisa menjambak rambutnya sendiri di tepi pagar balkon. Dia juga tidak mengerti dengan perasaannya pada Shelo. Entah kenapa, setelah ciuman itu, pandangannya pada gadis itu sedikit berubah. Kebenciannya yang selama ini selalu menguasainya seakan menguap begitu saja.
"Gila! Kenapa aku tadi bilang begitu? Shelo pasti berpikir kalau aku mulai menyukainya. Tidak mungkin banget, tapi setiap melihat bibirnya. Aku jadi ingin memakannya bulat-bulat," gumam Juki.
Lama dia berada di balkon, sampai suara ponsel menyadarkan dia dari lamunannya. Juki pun segera mencari ponselnya yang dia simpan sembarang. Setelah menemukannya, terlihat Renata sedang melakukan panggilan. Juki menghela napas dalam sebelum dia mengangkat telepon dari adik sahabatnya.
"Halo Rena, ada apa?" tanya Juki setelah tersambung dengan Renata.
"Halo juga Kak Juki. Sedang apa? Kakak bisa gak ke rumah hari ini? Kalau gak bisa, biar aku dan kak Regan datang ke apartemen Kakak saja."
Jangan sampai mereka ke rumah dan bertemu dengan Shelo, batin Juki.
"Rena, hari ini Kakak di kampus sampai malam. Kalau kamu mau, ke kampus saja jangan ke apartemen karena gak ada siapa-siapa d apartemen."
"Oh, begitu ya! Ya udah deh, nanti Rena dan Kak Regan ke kampus, biar kita sekalian makan malam."
"JUKI SARAPAN SUDAH SIAP," teriak Shelo di depan pintu kamar suaminya.
"Kak Juki siapa yang berteriak? Seperti suara seorang wanita. Apa Kakak sudah menikah?"
"Oh, itu pelayan aku. Rena, udah dulu ya! Kakak mau siap-siap berangkat ke kampus."
"Ya sudah, Rena tutup ya! See you Kak Juki, muach ...."
__ADS_1
Kenapa aku merinding mendapatkan ciuman jauh dari dia? Coba kalau dari Miss Selow, aku pasti senang. Kenapa gak aku coba nelpon dia ya? Batin Juki.
Laki-laki itu hanya mengangkat bahunya seraya pergi menuju ke meja makan. Terlihat Shelo sudah duduk di sana dengan baju tangtop dan celana pendek sepaha. Juki langsung meneguk ludahnya kasar melihat penampilan istrinya yang seksih.
"Shelo, memangnya kamu tidak punya baju yang lebih sopan?" tanya Juki.
"Kenapa memangnya? Masalah? Ini kan di rumah, gak ada yang lihat selain kamu. Jangan bilang kalau kamu tergoda melihat penampilan aku. Juki ... Juki ... Ternyata hanya segitu iman kamu. Tipis banget setipis kertas tissue," cibir Shelo.
Berani-beraninya dia menantang aku. Oke Shelo, akan aku buktikan kalau imanku lebih tipis dari kertas tissue, geram Juki dalam hati.
Laki-laki tampan itu langsung berdiri dari duduknya. Dia menghampiri Shelo yang sedang menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Tanpa bicara lagi, Juki langsung menarik tangan Shelo dan membawanya ke sofa. Dia mengungkung gadis cantik yang terlihat ketakutan dengan apa yang dilakukannya.
"Juki, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Shelo dengan menelan ludahnya kasar saat melihat sorot mata suaminya yang penuh hasrat.
"Bukankah kamu yang bilang kalau imanku tipis? Aku hanya mau kasih tahu kamu kalau imanku lebih tipis dari itu." Juki mulai memajukan wajahnya, ingin meraup bibir yang selalu berbicara asal kepadanya.
Namun, baru saja dia menempelkan bibirnya dengan bibir Shelo, terdengar suara bel apartemennya. Juki pun segera melepaskan gadis itu dan melihat siapa yang datang di pagi hari mengganggunya.
Tanpa menyahut ucapan suaminya, Shelo segera menuju ke kamarnya dengan membawa sarapan pagi miliknya. Dia berniat untuk melanjutkan sarapannya di kamar. Sementara Juki segera membuka pintu apartemen setelah melihat Shelo masuk ke kamarnya.
"Lama banget buka pintunya, lagi ngapain sih?" gerutu Beno.
"Aku lagi sarapan. Lagian kamu ngapain pagi-pagi ke sini?"
"Aku disuruh Regan untuk menjemput kamu. Ribet banget sih Renata, maksa-maksa terus agar ke rumahnya. Kalau gak ingat Regan bos kita di kantor, malas banget ikutin keinginan adiknya."
"Tumben kamu ngeluh, biasanya juga senang kalau disuruh main ke sana."
__ADS_1
"Hari ini tuh, harusnya aku di rumah bersama istriku. Bikin anak yang lucu-lucu daripada main ke rumah dia. Coba kalau kamu udah nikah, pasti pengennya di rumah terus. Apalagi kalau sudah ngerain enaknya sorabi oncom, pasti ketagihan," cerocos Beno tanpa filter.
Apa benar begitu ya! Kemana aja aku selama ini? Sudah setua ini belum pernah ngerasain sorabi oncom. Apa aku harus mencobanya dengan Shelo. Dia kan istriku, aku juga gak dosa kalau ngelakuin sama dia. Tapi ... Nanti dia kira kalau aku jatuh cinta sama dia. Bisa jatuh harga diriku, batin Juki.
"Juki, malah melamun. Ini nasi gorengnya masih ada gak? Aku cicip kho enak ya!" tegur Beno yang melihat sahabatnya bengong.
"Coba kamu lihat di dapur, masih ada gak? Kalau masih ada, makan aja." Juki kembali duduk ke kursinya dan mulai memakan sarapan paginya yang tadi sempat tertunda. Dia hanya tersenyum tipis saat melihat piring Shelo sudah tidak ada di tempatnya. Dia yakin, kalau gadis itu pasti sudah membawanya ke kamar.
"Juki, aku habiskan ya sisa yang di wajan," teriak Beno dari dapur.
"Iya!" sahut Juki seraya menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
Akhirnya mereka pun makan bersama nasi goreng buatan Shelo. Meskipun istrinya di rumah memasak nasi goreng juga, tetapi rasa nasi goreng buatan Shelo membuat Beno menjadi kembali lapar.
"Beno, kamu sendiri saja ke rumah Regan. Aku mau berangkat ke kampus. Tadi pagi sudah bilang ke Renata kalau aku tidak bisa ke rumahnya," ucap Juki saat mereka sudah selesai makan.
"Kalau kamu tidak pergi ke sana, lalu untuk apa aku ke sana. Yang diharapkan kedatangannya kan kamu, bukan aku."
"Ya bisa saja Rena mau dijadikan istri kedua," seloroh Juki.
"Aku sih gak keberatan kalau memang seperti itu. Orang tuanya tajir, Bro. Lumayan kan kalau nanti dapat warisan," ucap Beno asal. " Tapi sayangnya, dia malah suka dengan kamu. Bukankah kamu juga sudah janji pada Rena untuk menikahinya."
"Sudahlah gak usah dibahas! Aku siap-siap dulu," ucap Juki seraya berlalu pergi ke kamarnya.
Tanpa mereka sadari, Shelo menguping semua pembicaraan Beno dan Juki. Gadis itu hanya menghembuskan napasnya kasar. Entahlah ada sisi hatinya yang seperti tercubit mendengar Juki sudah menjanjikan sebuah pernikahan pada gadis lain.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukunganya ya kawan. Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....