
Episode sepuluh (10)
Tentu saja Denisa berbohong saat 8a mengatakan ingin ke rumah Renata. Jangankan bertemu, bahkan mendengar namanya saja baru sekali ini.
Setelah berpamitan Denisa tak langsung pergi, ia berencana berganti pakaian terlebih dahulu.
Sudah banyak pakaiannya yang ia keluarkan dari dalam lemari, namun Denisa merasa tak satupun yang cocok dengan karakternya yang feminim dan anggun.
Semua pakaian di dalam lemari itu kebanyakan kaos oblong, kemeja dan celana jens saja. Ia tak terbiasa memakai pakaian seperti itu, namun karena tak ada pakaian yang ia inginkan, terpaksa ia harus memakai salah satu pakaian yang ada tersebut.
Setelah selesai dengan auofit tomboy ala-ala Denisa, ia pun lantas segera pergi, tak lupa juga Denisa meraih tasnya.
" Nak, Tunggu sebentar!" ucap Lita.
Mau tak mau, Denisa yang sedang buru buru pun menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Lita.
" Ada apa Bu?"
" Makan dulu Nak! ini ibu sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu," ucap Lita yang baru saja selesai menyiapkan makanan.
" Apa itu Bu?"
" Biasa, jengkol balado kesukaanmu," jawabnya dengan sumringah.
" Jengkol?"
Agak lama Denisa mengingat nama makanan tersebut. Sungguh itu terdengar asing di telinganya, karena ia pun baru pertama kali mendengar nama makanan itu.
Sungguh Denisa penasaran dengan makanan yang bernama jengkol tersebut, namun karena ia ingin segera bertemu Alex, terpaksa ia urungkan untuk mencicipi makanan itu.
" Nanti saja ya Bu setelah saya pulang, sekarang saya lagi buru-buru," ucapnya.
Seketika senyum sumringah Lita memudar seketika. Bukan merasa sedih karena makanannya tidak di makan oleh sang anak, namun Lita merasa ada yang aneh dari diri Denisa yang sekarang. Ia merasakan perubahan pada anaknya tersebut semenjak kecelakaan itu. Bagaimana tidak, tadi dia seolah tak mengenal ayahnya, dan sekarang Denisa malah menolak makanan kesukaannya sendiri. Padahal dulu Denisa paling tak bisa menolak makanan yang bernama jengkol tersebut, meskipun dia sedang sibuk atau buru-buru sekalipun.
Setelah menolak ajakan sang ibu untuk makan, Denisa kembali berpamitan dan segera pergi ke rumah Alex.
Karena memang Denisa tak memiliki kendaraan, ia terpaksa harus menunggu taksi.
Tak berselang lama, taksi pun tiba dan ia meminta supir taksi itu untuk mengantarnya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Denisa sudah sampai di depan rumah Alex. Dan setelah membayar taksi tumpangannya, Denisa segera memencet bel pintu rumah Alex dengan tak sabar.
Dan beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka dan menampakkan seorang wanita cantik tanpa polesan make up. Siapa lagi kalau bukan Angela. Angela yang sekarang tak suka bermake up, sebab jiwa Denisa yang ada dalam tubuh Angela memang suka hal yang simpel. Berbeda dengan jiwa Angela, ia sangat suka berdandan, bahkan saat tidur sekalipun. Bahkan saat ini pun, tubuh Denisa di buatnya begitu cantik dengan sedikit polesan tipis di wajahnya.
Sesaat mereka hanya saling tatap. Angela dengan tatapan tak enaknya, sedangkan Denisa dengan tatapan datar tanpa senyuman.
Namun tak lama dari belakang Angela, tiba-tiba saja Alex menegang kedua pundak Angela, membuat Angela terjingkat lalu menoleh ke arah Alex.
Denisa yang melihat kedatangan Alex, spontan langsung tersenyum senang.
" Alex," ucapnya sambil hendak merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Alex, namun ia urungkan karena mengingat saat ini dirinya bukanlah sebagai Angela, melainkan Denisa.
" Teman kamu?" tanyanya pada Angela.
" I-iya kak."
" Kenapa tak di suruh masuk?"
" I-iya kak, ini juga mau di suruh masuk."
Tanpa menyapa atau sekedar basa-basi terhadap Denisa, Alex pun lantas kembali masuk ke dalam rumahnya.
" Kamu mau minum apa?" tanya Angela. Namun tiba-tiba Denisa menatap tak suka pada Angela yang menawarkannya minum.
Seakan mengerti, Angela pun meralat ucapannya.
" Eh maaf, bukan bermaksud lancang karena menawarkan minuman di rumah mu sendiri, tapi saat ini kan kita sedang memerankan karakter masing-masing," ucap Angela sambil menunduk.
" Iya aku mengerti, aku juga minta maaf karena bersikap egois," jawab Denisa sambil tersenyum, dan kali ini senyumnya nampak tulus.
" Iya tidak apa."
" Oh ya, kamu mau minum apa?" Angela kembali bertanya.
" Apa saja."
" Oh ya sudah, aku ambilkan dulu untukmu." Angela hendak beranjak ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk Denisa, namun Denisa kembali memanggilnya.
" Eh tunggu!" otomatis Angela pun langsung menoleh.
__ADS_1
" Kenapa? apa ada yang lain yang kau inginkan?"
" Ah tidak, hanya saja aku ingin bertanya. Bukankah disini ada banyak pembantu, kenapa kau tidak menyuruh mereka saja?" tanya Denisa.
" Tidak apa. Aku hanya berbisa melakukan ini sendiri. Hitung-hitung untuk bergerak supaya tubuh tidak kaku, kan. Lagi pula jika semua mengandalkan asisten rumah tangga, itu terlalu enak buatku."
Denisa hanya tersenyum. Ia tak menyangka, ternyata gadis yang bertukar tubuh dengannya itu adalah gadis istimewa. Dia wanita kuat dan tangguh. Tidak seperti dirinya yang selalu bersikap manja dan semua harus tersedia tanpa mau tahu kesusahan orang lain yang menuruti semua keinginannya itu.
" Ya sudah aku ke belakang dulu ya." Lamunan Denisa buyar ketika Angela menyapanya untuk kembali meminta izin.
" Oh iya, silahkan!"
Setelah beberapa saat kemudian, Angela kembali dengan membawakan dua gelas jus beserta beberapa cemilan dan meletakkannya di atas meja.
" Maaf, aku tidak tahu kesukaan mu apa, jadi aku bawakan cemilan ringan ini saja. Ini cemilan yang biasa aku makan," ujarnya.
" Aku tidak terlalu suka ngemil. Biasanya aku hanya makan buah saja jika ingin mengemil," jawab Denisa.
" Oh pantas saja tubuhmu indah begini," kata Angela.
" Tapi ku perhatikan, tubuh mu kelihatan agak gemuk, dan wajah mu juga terlihat agak berjerawat, apa kau tidak merawat tubuh ku itu?"
Angela yang di tanya begitu pun lantas cengengesan.
" Hehehe, iya nih. Aku terbiasa makan banyak, hingga tidak merawat tubuh ini. Bahkan kak Alex sering menawarkan ku untuk perawatan dan belanja semua kebutuhanku, tapi aku menolaknya."
" Loh, kenapa?"
" Ya karena menurutku itu pemborosan, lebih baik uangnya di tabung untuk kebutuhan yang lebih penting," jawab Angela dengan polos.
Denisa pun hanya menggeleng tak percaya. Ternyata ada, wanita yang tak tergiur dengan kemewahan dan barang-barang branded seperti Angela, pikirnya.
Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata Alex sedari tadi menguping percakapan mereka. Bukan dengan sengaja ia melakukannya, hanya saja ia tadi ingin ke belakang untuk mengambil minum, dan tak sengaja mendengar percakapan mereka.
Alex tersenyum bangga terhadap Angela yang sekarang. Banyak perubahan pada diri Angela semenjak kecelakaan terjadi. Mulai dari sikapnya yang tak lagi manja, suka berhemat dan selalu percaya diri.
Tapi bukan berarti Alex tidak suka Angela boros seperti dulu, atau pelit dengan hartanya, karena Alex tidak akan takut kehabisan hartanya yang tujuh turunan itu tidak akan habis. Hanya saja, ia bangga dengan sikap Angela yang berbeda dari kebanyakan wanita lainnya.
Ia tidak tahu saja, bahwa yang menempati tubuh Angela bukanlah Angela sendiri, melainkan Denisa. Si gadis bertubuh gemuk, yang memang sudah terbiasa dengan kehidupan keras dan susah, hingga ia tahu bagaimana caranya harus berhemat.
__ADS_1
Alex merasa dirinya kembali jatuh cinta terhadap sikap baru Angela. Rasa sakit yang pernah Angela berikan padanya seolah terkikis begitu saja.