
Episode tiga belas (13)
" Kenapa Nak?" tanyanya.
" Sebentar lagi, bibi Nanci akan mempunyai adik kecil," ucap anak itu dengan polosnya.
" Benarkah?" Alex lantas menatap ke arah Septian dan Nanci, istrinya secara bergantian. Seolah sedang mencari pembenaran atas perkataan Jeje.
Septian lalu mengangguk, dan itu membuat Alex tersenyum senang.
" Iya paman. Lalu, kapan paman dan bibi Angela menikah, supaya bisa mendapatkan adik juga seperti paman Septian dan bibi Nanci?" kata Jeje dengan logat cadel khas anak-anak. Dan itu membuat Alex membulatkan matanya.
" Siapa yang mengajari mu bertanya seperti itu?." Alex terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Jeje kepadanya. Sebab ia heran, di usia Jeje yang masih terbilang balita tersebut, bisa menanyakan hal yang bersifat dewasa.
" Papa," jawabnya dengan polosnya.
Alex merasa marah kepada Ansel karena telah mengajari Jeje hal yang belum sepantasnya ia ketahui sebagai anak-anak.
Alex menatap tajam ke arah Ansel, seolah siap untuk menerkam. Namun Ansel seolah mengalihkan pandangan ke arah lain, berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi. Ia malah bersiul riang seolah sedang mengejek Alex.
Tiba-tiba saja Alex tersenyum licik. Seolah mendapat ide brilian, Alex pun tersenyum ke arah Ansel dengan senyum penuh makna.
" Jeje kenal bibi Fany tidak?" tanya Alex sambil melirik ke arah Ansel.
" Bibi Fany?" beo nya.
" Iya bibi Fany. Bukankah Jeje pernah bertemu dengan bibi Fany sebelumnya?"
" Oh iya Paman, bibi Fany yang cantik itu kan?. Jeje memang pernah bertemu dengan bibi Fany, waktu itu ayah menawarkannya untuk naik ke punggung ayah," ucap Jeje dengan bahasa yang masih belepotan.
Sontak saja mata Ansel membulat sempurna mendengar penuturan sang anak yang membongkar rahasianya.
Ansel pun segera mengalihkan perhatian sang anak agar tak membahas tentang Fany lagi. Ia hanya takut jika nanti istrinya menjadi salah faham.
Sedangkan Alex terkekeh puas dengan tawa yang tahan.
" Nak pasti kamu sedang lapar, kita makan yuk!" ajak Ansel pada putranya sekedar untuk mengalihkan perhatiannya.
" Jeje kan tadi sudah makan di pesawat, apa Papa lupa?" jawab Jeje.
Ansel lalu menepuk keningnya karena usahanya ternyata tidak berhasil.
" emmmm, kalau begitu yang lain saja. Atau kamu mau ke suatu tempat, jalan-jalan misalnya?"
Tak sampai di situ usaha Ansel untuk mengalihkan perhatian bocah kecil itu. Semua sudah Ansel tawarkan, namun Jeje tetap membahas Fany yang dia anggap bibi cantik itu.
__ADS_1
" Paman, ingat tidak?" ucapnya bicara pada Alex.
" Apa itu?"
" Waktu itu ayah juga meminta nomor kontaknya loh," ucap bocah berumur empat tahun setengah itu.
" Oh ya," kata Alex dengan wajah berbinar.
Sedangkan Ansel sudah mulai kelimpungan karena Natasya mulai menatap tajam ke arahnya.
" Apa maksudnya ini?" tanya Natasya dengan tatapan tajamnya.
" Sayang, ini tidak seperti yang kau bayangkan, percayalah!" ucapnya sambil memohon.
" Adik ipar! sepertinya, untuk kedepannya kau harus lebih hati-hati menjaga buaya rawa ini!" ucap Alex terdengar mengejek.
" Ayolah bang, kau jangan semakin merusak suasana!" mohon Ansel pada Alex.
" Kau seperti tidak tahu bang Alex saja, dia kan memang suka seperti itu," timpal Septian.
" Hey, aku hanya mencoba menyelamatkan adik ipar dari laki-laki yang satu ini," jawab Alex merasa tidak terima. Septian, Nanci dan Jeje pun tertawa mendengar perkataan Alex yang agak rendom tersebut. Terkecuali Ansel yang di buat kesal oleh Alex.
" Awas ya kau bang!. Aku akan mengatakan kepada kakak ipar Angela, kalau dulu kau pernah menyukai gadis belia," kata Ansel merasa tak terima dan ingin membalas dendam kepada Alex.
" Hey, itu masa lalu. Angela pasti akan memaklumi."
Namun sayangnya yang lain sudah terlanjur tahu bahwa Alex masih memiliki perasaan terhadap gadis lain.
" Dasar kau ini!! tidak bisa menjaga rahasia," ucap Alex berbicara sambil merapatkan giginya.
Sedangkan Ansel berusaha melepaskan tangan Alex dari mulutnya.
" Wahh, benarkah kau masih memiliki perasaan kepada gadis lain?" tanya Septian yang juga ikut penasaran.
" Iya, dulu gadis itu adalah pengagumnya," bukan Alex yang menjawab, melainkan Ansel yang sudah terlepas dari Alex.
Sontak saja semuanya terperangah mendengar cerita Ansel, terlebih Septian yang tak tahu cerita tersebut dari awal, padahal dulu mereka selalu bersama, tapi mengapa hanya Ansel yang di beri tahu tentang itu.
" Kau menyembunyikannya dari ku bang? atau dari kami semua kecuali bang Ansel?" tanya Septian.
Alex nampak mengangguk dan tertunduk, lalu menghela nafas panjangnya.
" Aku minta maaf. Itu kan hanya masa lalu," ucapnya sambil tertunduk.
Ia mencoba menyembunyikan kesedihan di wajahnya, namun itu dapat terlihat oleh Ansel dan Septian yang memang sudah lama bersama Alex.
__ADS_1
Mereka berdua pun lantas mendekati Alex dan menepuk pundaknya.
Mereka memang tak tahu sebenarnya masa lalu yang bagaimana yang telah di sembunyikan oleh Alex, namun mereka pun tak mau melihat Alex yang nampak sangat terpukul.
" Ahh- sudahlah. Mari kita pulang sekarang, aku sudah ingin istirahat!" ucap Septian yang sebenarnya hanya ingin mengalihkan perhatian Alex.
" Baiklah, ayo!!"
Denisa dan Angela yang selepas datang dari rumah Nyi madam pun sudah tiba di rumah.
Mereka memilih untuk istirahat terlebih dahulu sebelum akhirnya besok mereka akan melaksanakan misi, yaitu meminta maaf.
" Ahh- Angela, aku sangat lelah," ucap Denisa sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.
Saat ini mereka sudah berada di depan apartemen Alex, dan masih berada di dalam mobil.
" Iya, aku juga sangat lelah," jawab Angela.
" Kalau begitu aku akan pulang ke rumah mu dulu, besok aku akan ke sini lagi untuk bertemu Alex," ujar Denisa.
" Iya," jawab Angela dengan senyum terpaksa.
" Kalau begitu aku pulang dulu."
" Baiklah. Tolong jaga ibuku selama aku di sini ya," pesan Angela kepada Denisa.
" Pasti, akan ku jaga dia untukmu. Dia memang pantas di jaga, dia orang yang sangat baik." Mendengar ibunya di puji sedemikian rupa oleh Denisa, Angela tersenyum senang.
" Oh ya. Kau tahu makanan yang bernama jengkol tidak?" tanya Denisa.
" Tahu, itu adalah makanan kesukaanku yang biasa ibu masak untukku." Mengingat itu, entah mengapa Angela jadi merindukan Lita, ibunya.
" Bagaimana rasanya?"
" Pastinya rasanya sangat lezat, memangnya kenapa?"
" Tidak ada. Hanya, ibumu menawarkan ku makanan tersebut tadi sebelum pergi, karena aku buru-buru, aku pun menolaknya. Padahal aku sangat ingin menyicipinya," cerita Denisa.
" Benarkah? lalu bagaimana reaksi ibuku ketika kau menolaknya?" Angela sontak membulatkan matanya. Sebab ia pikir, saat ini ibunya pasti bertanya-tanya mengapa tiba-tiba dirinya menolak makanan tersebut.
" Ya, tadi dia sempat termenung sih setelah aku menolak makanan itu, memangnya kenapa?"
" Tidak apa-apa." Dan tentunya jawaban itu hanya bohong. Sebenarnya ia sedang berfikir dan takut jika ibunya sedih dengan perubahannya yang tiba-tiba.
Di satu sisi, ia memikirkan perasaan ibunya, dan di sisi lain dia pun tak mampu untuk meninggalkan Alex.
__ADS_1
Selama beberapa tahun ini ia hanya bisa mengagumi keindahan wajah tampan itu melalui ponselnya saja, namun setelah ia di pertemukan, dia pun harus segera meninggalkannya lagi.