Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Nasehat Sahabat


__ADS_3

Episode tiga puluh satu (31)


Setelah di dalam pelukan Denisa, Alex tak terdengar lagi suaranya. Denisa jadi takut jika Alex pingsan di dalam pelukannya itu.


Dia pun memanggil Alex beberapa kali, namun tetap tak ada jawaban. Tak lama Denisa mendengar suara dengkuran halus tepat di telinganya.


" Hemmmm pantas!!"


Setelah Denisa mengguncang tubuh Alex beberapa kali serta menyerukan namanya, barulah Alex terbangun.


Sadar dirinya sempat tertidur, Alex pun berdehem untuk menutupi rasa malunya. Dia juga bertingkah seolah tak terjadi apa-apa.


" Ehemmm, maaf terlalu lama," ucapnya dengan gaya cool.


" Empuk ya kak? jadinya nyaman dan sampai ketiduran hehehe!!"


" HAH! apanya? siapa yang tertidur?" ucapan berkelit dengan wajah tegang.


Sebenarnya Alex sangat malu, ia yakin Denisa sudah tahu bahwa tadi ia tertidur. Tapi jika Alex mengakuinya, maka jatuhlah harga dirinya sebagai pria tampan dan cool yang banyak di ketahui oleh para penggemarnya, termasuk Denisa.


" Kakak," ucap Denisa sambil menggigit bibirnya.


" Aku,,,,,,,, tertidur? hahaha!" ucapnya menunjuk diri sendiri sambil tertawa sumbang.


Ia mencoba menutupi rasa malunya dengan tawa sumbang nya itu.


" Memangnya kakak tidak bisa tertidur?" ucap Denisa dengan pertanyaan konyolnya.


" Bi-bisa, tapi kan tidak di sini "


Denisa mengangguk-angguk sambil menahan senyumnya. Ia tahu saat ini Alex mencoba terlihat cool di depannya dan mencoba menutupi rasa malunya.


Alex yang masih merasa malu pun tak tahu harus berbicara apa lagi. Ia pun mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi ia silent. Dia terkejut karena mendapat panggilan berulang kali dari Ansel.


Pikirannya jadi tertuju pada Angela yang saat ini sedang sakit. Ia jadi berpikir bahwa Ansel menelponnya pasti ada sesuatu yang terjadi pada Angela.


Tanpa pikir panjang, Alex langsung menghubungi balik Ansel.


{ Kenapa menelpon ku berulang kali? apa terjadi sesuatu pada Angela?}


{Kau kemana saja sih bang? kenapa telponku tidak kau angkat?}


Bukannya menjawab, Ansel malah mencerca Alex dengan pertanyaan.


{ Nanti saja aku ceritakan. Sekarang jawab dulu pertanyaan ku!}


{ Angela tadi mengamuk bang, tak lama setelah kau tinggalkan}


{APA?!!}


Bukan hanya Alex yang terkejut, Denisa yang mendengar teriakkan Alex pun ikut terkejut. Dia jadi penasaran, sebenarnya dengan siapa Alex berbicara di telepon hingga membuat nya nampak sangat syok?.


{ Iya bang. Tapi sekarang sudah di tangani oleh dokter}


{ Syukurlah kalau begitu. Baiklah, sebentar lagi aku akan pulang}


Alex pun memutuskan sambungan teleponnya dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


" Ada apa kak? kenapa sepertinya kakak terlihat syok?"

__ADS_1


Alex kembali duduk dan menyandarkan kepalanya di kursi. Ia juga menghempaskan nafasnya secara kasar dan mengusap wajahnya frustasi.


Denisa merasa tak enak karena telah menanyakan hal yang mungkin bersifat pribadi bagi Alex. Takutnya pertanyaan itu juga akan membuat Alex semakin frustasi.


" M-maaf kak, aku tidak bermaksud,,,,,,,,,"


Alex lantas berbalik ke arah Denisa dan memegang tangannya.


" Tidak apa-apa. Itu tadi hanya masalah kantor," ucapnya sambil mengulas senyum manis.


Entah mengapa Alex seolah menutupi tentang kondisi Angela kepada Denisa. Mungkin ia hanya tak mau banyak orang yang tahu tentang Angela yang mengamuk. Tapi entahlah,,,,,,,!


Oh begitu. Jangan terlalu di pikirkan ya kak! aku yakin pasti nanti ada jalan keluarnya."


Alex menganguk dan kembali tersenyum manisssssssss sekali. Mungkin gula saja kalah manis jika Alex sudah tersenyum, bagaimana Denisa tidak spot jantung di buatnya kalau begini terus?.


Ah sudahlah. Rasanya Denisa ingin sekali teriak sangking senangnya dirinya saat ini


" Kakak pulang dulu ya."


What, kakak? Alex menyebut dirinya sendiri kakak untuk Denisa? kenapa Alex tak habis-habisnya membuat Denisa senam jantung sih?.


" I-iya, silahkan kak!"


" Kakak pulang dulu ya. Kamu tidak apa-apa kan ke kampus sendiri?"


Denisa menggeleng datar dengan wajah cengo.


Sebelum pergi, Alex sempat mengusap kepala Denisa dengan sayang.


Lagi-lagi Denisa di buat tersanjung dan hampir ingin jungkir balik jika tak mengingat masih ada Alex di sana.


" Yes yes yes yes!!"


Tanpa Denisa ketahui, ternyata Renata dan Bobi menyusulnya dan tak sengaja melihat tingkah konyol yang di lakukan oleh Denisa.


" Hayo lagi ngapain?"


Denisa menoleh ke asal suara dan tersenyum girang, seolah menunjukkan kepada dua sahabatnya itu apa yang telah terjadi padanya dan Alex tadi.


" Aaaaaaaaaaa kalian percaya tidak apa yang terjadi tadi?" ucapnya kegirangan.


Dua sahabat itu kompak menggeleng.


" Ihhh kalian kok tidak percaya? ini kenyataan."


" Memangnya apa yang terjadi?" tanya Renata.


" Tadi itu,,,,,,,,,," Denisa menutup mulutnya dan tersipu malu.


Renata dan Bobi sontak saling pandang dengan wajah heran.


" Kok yey mendadak lenjeh begini sih?" kata Bobi.


" Bahasa planet mana tuh, lenjeh?" tanya Renata.


" Ihhh bukan planet mana, itu bahasa eke tau," jawab Bobi kesal.


" Apa sih?"

__ADS_1


" Ehh sudah sudah! jadi tidak, mau tahu kami tadi melakukan apa di sini," kata Denisa mengingatkan percakapan awal mereka tadi.


" Paling memintamu untuk jadi ART nya kan?" tebak Renata.


" Ihhhhh bukan. Kami tadi bermesraan di sini."


" Prrrrrrpppttt. Hahaha."


Renata dan Bobi kompak menertawakan Denisa yang menurut mereka hanya berkhayal saja.


" Ihhhhh kok tertawa sih?" Denisa kesal karena Renata dan Bobi tak mempercayainya.


" Lagi pula, kamu menghayal terlalu tinggi sih," jawab Renata dengan sisa tawanya.


" Aku tidak sedang berhayal, dia benar-benar,,,,,,,,,,,,ahh."


Denisa bergidik senang membayangkan kejadian tadi. Dia sampai tak mampu melanjutkan perkataannya.


" Apa perlu kita bawa ke rumah sakit jiwa ya?" tanya Renata pada Bobi.


" Sepertinya begitu."


" Kalian masih tidak percaya?. Benar kok, tadi dia memintaku untuk memeluknya karena dia sedang ada masalah, terus sebelum pulang, dia juga mengusap kepalaku. Mungkin tidak sih, kalau kak Alex menyukaiku?"


" Tidak mungkin," jawab Renata dan Bobi bersamaan.


" Lalu yang tadi apa, kalau itu tidak mungkin?"


" Begini, kau tidak sedang berbohong kan kepada kami, dan apa yang kamu katakan itu benar?" tanya Renata memastikan sekali lagi. Sebab, bagi mereka itu sangat mustahil terjadi.


Denisa berbalik menghadap Renata dan Bobi.


" Tatap mataku jika aku berbohong!" perintahnya kepada dua sahabatnya itu.


Mereka menurut dan memperhatikan mata Denisa dengan jeli untuk membuktikan kebenarannya.


" Bagaimana?" tanya Denisa.


Sebelumnya mereka saling pandang, lalu menatap Denisa dan mengangguk.


" Jadi bagaimana menurut kalian?" tanya Denisa lagi.


" Mungkin dia sedang mencari seseorang yang bisa menghiburnya. Dan kebetulan kau adalah penggemarnya. Itu saja sih menurutku."


Denisa di buat lemas oleh pendapat Renata yang tak sesuai harapannya. Dia terduduk di kursi taman dengan wajah cemberut.


" Apa iya? itu artinya aku hanya sebagai pelampiasan."


Renata menatap prihatin kepada Denisa. Dia lantas ikut duduk di samping Denisa sambil merangkul pundak sahabatnya itu.


" Nis, aku minta maaf sebelumnya. Tapi mungkin tidak sih, Alex menyukai kamu yang,,,,,,,,,." Renata memindai tubuh Denisa seolah memberitahu apa yang dia maksud.


" Iya aku tau. Tapi apa setiap laki-laki itu menilai wanita dari penampilan dan bentuk tubuhnya?"


" Nisa, dengar aku baik-baik!. Aku bukan ingin menjatuhkan mu, tapi sebagai seorang sahabat, aku hanya tidak mau kau kecewa nantinya. Alex adalah orang terpandang, dia juga idaman banyak wanita cantik. Banyak wanita-wanita cantik diluar sana yang mengantri untuk menjadi pasangannya. Apakah mungkin dia memilih wanita sepertimu untuk menjadi pendampingnya?. Pikirkan baik-baik Nisa! carilah lelaki yang sederajat dengan kita! yang mencintaimu tanpa menilai keadaanmu. Mungkin saja Alex menyukaimu, tapi keluarganya, para penggemarnya, apakah terima jika Alex bersanding denganmu? pikirkan Denisa!!"


Denisa menghela nafas panjang, lalu menatap Renata dengan sendu.


Ada benarnya juga yang dikatakan Renata. Mungkin dia yang terlalu bersemangat sehingga tidak berpikir panjang seperti yang dikatakan Renata

__ADS_1


__ADS_2