
Episode dua puluh (20)
" Kebohongan apa yang kau sembunyikan dari ku?" tanya Alex dengan wajah dingin dan datar.
Angela semakin kuat meremas tangannya ketika pertanyaan itu keluar dari mulut Alex.
Kegundahan semakin menjadi-jadi, padahal sebelumnya dia sudah mempersiapkan diri untuk mengatakannya.
" Sebenarnya,,,,,,,"
" Sebenarnya apa? jangan bertele-tele!!" Angela terkesiap karena Alex membentaknya.
" Sebenarnya,,,,,, aku bukan Angela, tapi Denisa."
Rasa marah dan terkejutnya berubah seketika menjadi tawa yang ia tahan dan akhirnya pun meledak.
Alex tertawa terpingkal-pingkal karena mendengar pengakuan Angela yang menurutnya tak masuk akal dan tak bisa di terima oleh naluri.
Kini berganti Angela yang berkerut heran. Namun sesaat ia terpaku dan terpesona. Setelah sekian lama mengenal Alex, baru kali ini ia melihat secara langsung Alex tertawa terpingkal-pingkal seperti itu.
( Ternyata seorang Alex juga bisa tertawa?) pikirannya.
" Hahaha, Angela Angela. Kau mau belajar akting ternyata? apa kau mau kembali menjadi publik figur?" ucap Alex dengan sisa tawanya.
" Kan sudah ku bilang, tidak usah kembali menjadi artis, akan menyulitkan untukmu nantinya!" kata Alex lagi.
" Siapa yang mau jadi artis?" kata Angela sambil menggaruk kepalanya karena bingung.
" Akting kamu tadi sangat bagus, tapi simpan saja! aku tidak setuju jika kau menjadi artis lagi."
Setelah itu Alex pun meninggalkan Angela dengan sejuta kebingungan di benak Angela.
Ia bingung harus bagaimana lagi meyakinkan Alex bahwa dirinya bukanlah Angela melainkan Denisa yang jiwanya sedang tertukar.
Angela yang bingung, melangkah menuju kamarnya dan meraih ponselnya, lalu mencari kontak seseorang didalamnya.
" De-nisa," ucapnya sambil terus menscroll layar ponselnya. Setelah ketemu, Angela pun segera menelpon Denisa.
" Kenapa?" tanya orang dari sebrang telpon.
" Aku sudah berusaha meyakinkan Alex, tapi dia malah menertawakan ku dan mengatakan bahwa aku hanyalah akting saja. Dia tidak percaya padaku," keluh Angela.
" Ya wajar sih. Karena itu memang hal yang tidak wajar. Jika aku di posisi Alex pun pasti tidak percaya," timpal Denisa.
" Lalu apa yang harus kita lakukan?"
" Emmmm." Terdengar Denisa sedang bergumam, seperti orang yang sedang berfikir.
" Ya sudah, aku yang akan kesana dan meyakinkannya. Setelah itu, kau yang akan menemui ayahmu dan meminta maaf padanya!" ucap Denisa.
__ADS_1
" Tap,,,,,."
" Tut Tut Tut." Belum sempat Angela berbicara, Denisa sudah memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
" Harus hari ini ya?" gumam Angela.
Setelah itu, Angela pun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan mata terpejam.
Tak lama, suara bel pun berbunyi. Natasya yang kebetulan mendengarnya pun langsung membukakan pintu.
" Cari siapa ya?" tanya Natasya.
" Angela nya ada?"
" Ada, sebentar saya panggilkan!"
Natasya pun pergi ke kamar Angela untuk memberi tahu kepada Angela bahwa ada yang mencarinya di bawah. Namun sebelum itu, Natasya sudah lebih mempersilahkan Denisa untuk masuk.
" Denisa!?" ucap Angela.
" Hey." Denisa pun menoleh dan menyapa Angela.
" Apa kau akan melakukannya sekarang?" tanya Angela setelah ikut duduk bersama.
Denisa pun mengangguk mantap, dan itu membuat Angela menghela nafas panjang, lalu setelah itu tersenyum dengan senyum yang dipaksakan.
" Tapi Alex belum pulang. Dia masih ada di kantor bersama Ansel," tutur Angela.
" Tidak Denisa. Dia akan lembur malam ini, dan mungkin akan pulang larut malam."
" Loh, kok kamu yang mengerti segala hal tentang dia sekarang? apa kau juga menyukainya?" tuding Denisa dengan nada kesal.
" Hah, tidak kok. Itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak menyukai kak Alex."
Sontak saja Angela gugup di tuding seperti itu oleh Denisa. Lagi pula penggemar yang mana yang tidak mencintai Alex dulunya, termasuk Angela atau Denisa.
" Lalu kenapa kau bisa tahu?"
" Kan kak Alex sendiri yang mengatakannya padaku."
Angela tak berbohong. Memang Alex yang mengatakan sendiri bahwa ia akan lembur malam ini, karena ada suatu pekerjaan yang tak bisa di kerjakan di rumah.
Sebenarnya ia bisa saja menyuruh sekertaris nya untuk mengerjakan pekerjaannya, itu bisa saja karena dia seorang pemimpin di perusahaan itu. Namun dia bukan orang yang seperti itu, yang hanya berleha-leha dan memerintah saja. Alex adalah tipe pria pekerja keras, jadi ia pun tahu bagaimana susahnya bekerja.
Alex juga tak sendiri, dia di bantu oleh Ansel yang sekarang juga menjadi bagian dari perusahaan Alex.
" Tapi kenapa Alex lembur? tidak seperti biasanya. Atau sebenarnya dia tidak lembur, melainkan bertemu dengan wanita lain di luar sana," ujar Angela berpikir yang tidak-tidak tentang Alex.
" Husttt. Tidak boleh berpikir seperti itu! kak Alex pasti tidak suka di curigai seperti itu."
__ADS_1
" Ah sudahlah, dari pada menunggu Alex pulang, takutnya aku di curigai di sini. Lebih baik aku pulang ke rumahmu dulu saja ah," ucap Denisa. Setelah itu ia pun berlalu meninggalkan Angela tanpa pamit.
" Itu siapa kak?" tanya Natasya ketika Denisa sudah pulang.
" Itu teman ku," jawab Angela dengan pandangan yang masih tertuju pada Denisa yang sudah tak nampak lagi keberadaannya.
" Ohhhh. Mau apa dia kesini?"
" Cuma mau jalan saja," jawab Angela sambil tersenyum ke arah Natasya.
" Ohhhh. Memangnya kakak mau berteman dengan dia?" tanyanya lagi.
" Mau, memangnya kenapa tidak mau?"
" Ya, kita bisa lihat sendiri kan gaya dan bentuk tubuhnya," ucap Natasya dengan gaya julitnya.
" Maksud kamu dengan gayanya yang kampungan dan tubuhnya yang tidak seksi itu, tidak layak berteman dengan orang seperti kita?" ucap Angela yang mulai tersulut emosi.
Biar bagaimanapun yang Natasya hina adalah tubuhnya. Dan lagipula undang-undang dari mana yang membeda-bedakan antara sesama manusia, meskipun Denisa bertubuh gemuk dan tidak secantik mereka, namun Denisa juga manusia yang layak di lakukan dengan baik.
" Loh, kok kak Angela marah? kan aku menilai si gemuk itu. Kenapa jadi kakak yang marah?" kata Natasya yang tak terima dan ikut tersulut emosi.
" Bukan marah Natasya. Kamu sudah salah faham." Angela sadar bahwa tadi ia sudah berlebihan, dia pun menjelaskan apa yang dia maksud tadi.
" Heh. Tidak marah bagaimana, nada bicaranya saja kasar begitu," ucapnya sambil tersenyum miring.
" Mama, Bibi! kenapa Mama dan Bibi marah-marah?." Tiba-tiba saja Jeje menghampiri mereka dan langsung memeluk kaki ibunya.
Angela pun berjongkok di depan anak itu agar tinggi mereka sejajar.
" Tidak marah-marah kok sayang. Bibi dan Mama mu hanya berbicara biasa saja, cuma memang nada nya saja yang agak tinggi," jelas Angela mencoba menjelaskan pada anak itu agar dia tidak berpikiran yang macam-macam.
" Lebih baik, Jeje main sama Bibi emban dulu ya di belakang!" kata Angela menyuruh anak itu main bersama pembantu. Ia pun tersenyum dan mengusap pucuk kepala Jeje dengan sayang.
" Tidak mau ah, tidak seru. Jeje mau main sama Bibi sama Mama juga," kekeh Jeje dengan suara cedalnya.
" Jeje, sini!!" kata Natasya sambil menarik Jeje dengan kasar.
" Natasya, jangan kasar sama Jeje!!" ucap Angela.
" Iya Ma, Jeje jadi sakit ini," keluh anak itu.
" DIAM KAMU!!" Jeje terkesiap saat Natasya membentaknya. Nyalinya menciut, dan dia pun tak berani lagi berbicara.
Natasya yang sudah terlanjur tersulut emosi pun tak memperdulikan lagi siapa yang ia bentak. Natasya memang emosionalnya tinggi. Hal kecil saja bisa membuatnya tersinggung.
Nanci dan Septian yang kebetulan baru saja tiba dari rumah sakit pun tak sengaja mendengar perdebatan mereka. Nanci lalu menatap Jeje yang nampak sangat sedih. Ia pun berinisiatif untuk menjauhkan dulu anak itu dari dua orang yang sedang bersitegang tersebut.
Tak lupa Nanci juga melirik ke arah suaminya, memberi isyarat agar suaminya itu menjadi penengah atas masalah Angela dan Natasya, meskipun mereka sendiri tidak tahu apa masalahnya.
__ADS_1
" Jeje ikut Bibi Nanci main dulu yuk di belakang!" bujuk Nanci.
Jeje lantas mengangguk dengan wajah sedihnya, lalu mengikuti Nanci dan menjauh dari Angela dan Natasya.