
Episode dua puluh tujuh (27)
Darrell hanya mengangguk menanggapi ucapan Alex, lalu melanjutkan menikmati makanannya.
Di pagi hari yang cerah, untuk pertama kalinya, Denisa kembali menghirup udara pagi yang segar di balik jendela kamarnya.
Sudah beberapa bulan ini ia tinggal di rumah besar nan megah milik Alex, namun sayangnya tak merasakan kenyamanan seperti di rumahnya sendiri.
Suara bising motor dari luar rumah, suara anak-anak yang akan pergi ke sekolah, serta suara tetangg menunggu tukang sayur lewat. Dan itu baru ia rasakan kembali pagi ini. Sedangkan saat di rumah Alex, kompleks itu nampak sepi dan hanya ada beberapa orang yang lewat untuk berolahraga di pagi hari, dan itupun hanya untuk hari libur saja.
Denisa membuka pintu jendela kamarnya dan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Ia seakan rindu suasana ini. Suasana sederhana, namun sangat berkesan di masa kecilnya hingga menjadi kenangan indah sampai saat ini.
Meskipun Denisa tak bisa membohongi dirinya, bahwa dia juga sangat merindukan Alex, namun derajatnya seolah menyadarkannya bahwa dia hanyalah butiran-butiran kecil yang tak terlihat keberadaannya.
Sejenak, Denisa teringat akan sesuatu. Dia masih sangat penasaran dengan seorang pria yang di temuinya semalam.
" Suaranya kok mirip kak Alex ya. Apa dia kak Alex? lagi pula kan kak Alex sudah kenal sama Denisa. Tapi,,,,,,,,masak sih." Denisa seakan berdebat dengan dirinya sendiri.
" Tau ah."
" Denisa!!!" suara Lita yang memanggil Denisa yang tak kunjung keluar dari kamarnya, padahal hari sudah mulai siang.
" Iya Bu, sebentar!!"
Denisa pun bergegas mandi dan mengganti pakaiannya, lalu segera menghampiri ibunya yang sudah menunggunya sejak tadi.
" Kamu ini,,,,, anak gadis kok bangunannya siang, kebiasaan," gerutu Lita sambil menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
" Kebiasaan, kok kebiasaan? kan baru ini aku bangun siang. Soalnya aku lelah sekali Bu," keluh Denisa.
" Baru kali ini bagaimana? kamu tuh hampir setiap hari bangun siang."
" HAH?!"
Denisa kembali ingin protes, namun ia baru teringat bahwa ibunya mengatakan itu untuk Angela dan bukan dirinya.
( Ohhhh berarti Angela suka bangun siang?)
" Hehehe ya maaf Bu."
" Makanya, kamu itu kalau kuliah jangan terlalu kelelahan! kan jadi tidak baik bagi tubuh kamu sendiri," ucap Lita menasehati.
" Iya ibu."
" Ya sudah, sini makan! ibu sudah memasak jengkol yang kamu minta."
Dengan semangat, Denisa segera menghampiri meja makan dan memakan jengkol yang dimasak ibunya dengan lahap hingga habis.
__ADS_1
" Nisa berangkat dulu ya Bu," ucapnya setelah selesai makan.
Denisa meraih tangan ibunya dan menciumnya, lalu meraih tasnya yang sudah ia ambil tadi dari kamar.
" Hati-hati Nak!"
" Iya Bu."
Seperti biasa, Denisa ke kampus menggunakan taksi, namun karena tidak ada taksi yang lewat, Denisa memilih menggunakan bus travel.
Di perjalanan ke kampus, Denisa melihat seorang wanita yang mirip sekali dengan Angela, sedang bersama seorang pria yang sepertinya pernah ia kenal sebelumnya.
Karena takut salah lihat, Denisa pun memperjelas pandangannya. Dan kali ini ia sangat yakin itu adalah Angela bersama seorang pria, tapi bukan Alex.
Pria itu nampak bebas merangkul Angela tanpa membuat Angela risih sedikitpun. Angela malah terlihat sangat nyaman bersama laki-laki tersebut, dan dia pun membalas pelukan laki-laki yang bersamanya itu tanpa rasa jaim.
Mereka sudah seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta saja.
Denisa sampai mengerutkan keningnya heran melihat tingkah Angela yang bermesraan bersama pria lain di depan umum tanpa rasa malu sedikitpun. Padahal yang semua orang tahu, Angela adalah kekasih dari Alexandra Darbara.
( Itu bukannya Angela? kenapa dia bersama temannya yang bernama Adrian itu? apa mereka sudah biasa seperti itu? kak Alex tau tidak ya kalau mereka semesra itu?)
( Ah, kenapa mengurusi hubungan mereka, aku kan bukan siapa-siapa)
Denisa pun tak lagi memikirkan hal itu, ia kembali fokus untuk pergi ke kampus.
Tadinya, Angela tidak ada rencana untuk bertemu Adrian. Awalnya ia hanya ingin keluar dan mencari angin segar sambil berbelanja di butik langganannya. Tapi, kebetulan dia berpapasan dengan Adrian yang juga baru keluar dari butik tersebut. Entahlah dia sedang apa berada di butik khusus pakaian wanita itu. Tapi dia bilang sedang mengambil pesanan ibunya di sana.
" Eh Hay Dri! sedang apa kau disini?"
" Sedang mengambil barang yang di pesan ibuku," jawabnya.
" Ohh."
" Kamu sendiri?"
" Ini," jawab Angela sambil mengacungkan paper bag di depan Adrian.
" Oh, kamu sedang membeli pakaian?" Angela pun mengangguk.
" Sudah lama ya, kita tidak bertemu. Semenjak,,,,,,,." Adrian menggantung ucapannya, membuat Angela penasaran dan mengerutkan keningnya.
" Semenjak apa?" tanya Angela.
" Ah sudahlah, tidak usah di bahas! tidak penting juga."
Angela pun mengangguk dan tidak lagi bertanya kelanjutan apa yang Adrian ucapkan tadi.
__ADS_1
" Oh ya, karena kita bertemu di sini, bagaimana kalau aku mengajak kau makan dulu?!"
" Boleh."
Angela seakan melupakan pantangan dari Nyi madam, yang melarangnya untuk tidak lagi berhubungan dengan sesuatu atau seseorang yang membuat pasangannya terluka.
Dengan menerima tawaran Adrian untuk makan bersama, itu sama saja mendekatkan diri lagi pada Adrian, dan itu membuat Alex tidak suka akan hal itu.
Bukan hanya makan bersama yang mereka lakukan pada hari itu. Mereka berjalan bersama, bergandengan, tertawa bersama, bahkan berpelukan layaknya sepasang kekasih.
Begitulah Angela, jika sudah bersama Adrian, ia seakan lupa akan jati dirinya. Ia juga lupa bahwa statusnya kepada Adrian hanyalah sebagai seorang sahabat masa kecil saja.
Ketika sudah sampai di kampus, Denisa langsung melihat keberadaan kedua sahabatnya di sana. Ia pun segera memanggilnya, karena sudah lama ia tidak bertemu dengan dua sahabatnya itu. Ia sangat merindukan mereka.
" Renata, Bobi!!"
Dua orang berbeda jender itu pun menoleh ke asal suara, namun hanya sekilas mereka pun kembali melanjutkan langkah mereka.
Mereka seakan tak perduli dan melengos begitu saja.
Denisa pun heran dengan sikap mereka yang seakan marah padanya.
Tak berpikir lama, Denisa pun mengejar mereka.
" Woyy, tunggu!!"
Dan akhirnya Denisa mampu mendahului langkah mereka dan menghadangnya.
" Tunggu!!"
Renata memutar bola matanya jengah.
" Kenapa?" tanya Renata terdengar jutek.
" Kalian kenapa sih, kok seperti sedang menjauhiku?"
Renata menyeringai, begitupun dengan Bobi.
" Menjauhi, apa tidak terbalik? bukankah kau yang meminta kami untuk menjauhi mu?"
" Aku?" tanyanya dengan heran sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Jangan beralasan bahwa kau kemarin sedang lupa ingatan!"
Denisa terdiam sejenak. Ternyata banyak sekali yang tidak ia ketahui saat jiwanya berpindah tempo hari. Banyak sekali yang di ubah oleh Angela tanpa sepengetahuannya. Dan sekarang ia harus memperbaikinya, dan mencari alasan yang tepat untuk meyakinkan para sahabatnya tersebut.
" Heyy! jika tidak ada kepentingan lain, kami akan pergi. Jangan membuang-buang waktu kami!!" ucap Bobi dengan gaya centilnya.
__ADS_1
Denisa memang mempunyai sahabat yang unik-unik. Bobi dan Renata mempunyai sifat yang bertolak belakang. Jika Bobi memiliki gaya centil seperti seorang ba*ci, maka begitu sebaliknya dengan Renata. Renata punya sifat tomboy dan gayanya yang nyentrik. Bibir dan hidung serta telinganya, penuh dengan tindik.
Walaupun begitu, tiga orang unik tersebut saling menyayangi. Persahabatan mereka begitu erat dan tulus. Jika salah satunya ada yang kesusahan, maka yang lain tak segan untuk membantu, baik itu dalam segi harta atau tenaga, dan bahkan jika di perlukan, mereka akan bertaruh nyawa satu sama lain.