Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Ke Rumah Denisa


__ADS_3

Episode tiga puluh tiga (33)


Waktu itu pukul tiga sore. Denisa yang memang pulang cepat hari ini sedang membantu ibunya membuat kue nastar. Kebetulan juga Lita sedang ambil cuti karena beberapa hari ini tak enak badan.


" Bu, kalau ibu capek, lebih baik ini istirahat dulu saja!" kata Denisa yang sedang mencetak nastar.


" Ibu tidak capek kok."


" Tapi kan ibu baru sembuh."


" Ibu tidak apa-apa sayang. Kamu ini kok tidak percaya sama ibu."


" Bukan begitu Bu,,,,,,."


Tok tok tok


Belum sempat melanjutkan perkataannya, mereka mendengar suara pintu yang diketuk dari luar.


" Biar Denisa saja yang buka Bu."


Denisa segera menuju ke depan dan membukakan pintu untuk tamu yang belum ia ketahui.


" Ya sebentar!!"


Setelah pintu di buka, Denisa terkejut dengan dua orang yang sudah berdiri di depannya itu.


Sesaat tak ada suara di antara mereka, hingga tak lama Alex membuka suara lebih dulu.


" Apa kami boleh masuk?"


Denisa tersadar, ia merasa tak enak karena tak mempersilahkan tamunya masuk terlebih dahulu.


" Oh iya, silahkan masuk!"


" Siapa Nisa?" suara Lita yang bertanya dari dapur.


Ketika sampai di depan, Lita terkejut karena tahu siapa yang bertamu ke rumahnya.


" D-dia,,,,,,,?"


" Kak Alex dan Angela, pacarnya." Denisa melanjutkannya.


" Oooooo, Nak Angela ini yang menolong ibu malam itu kan?" ucap Lita. Angela bingung, ia mengerutkan keningnya heran karena sama sekali ia tak merasa pernah melakukan itu. Sedangkan Denisa salah tingkah dengan ucapan ibunya tersebut.


Semenjak Angela tahu yang di tuju adalah rumah Denisa, Angela tak berhenti bertanya kepada Alex, sebenarnya ada apa. Namun Alex tak pernah mau menjawabnya, katanya biar di jelaskan di rumah Denisa saja nanti.


Angela sama sekali tak berpikir bahwa wanita yang di maksud Alex adalah Denisa, karena menurutnya tak mungkin. Dia hanya menerka, mungkin Denisa ada hubungannya dengan wanita itu.


" Hah?"


" Eeeeee kalau begitu aku ambilkan minum dulu ya."


Denisa sengaja memotong perkataan Angela, agar ibunya lupa dan tak membahas lagi pertanyaanya.


" Sekalian ambilkan kue yang tadi kita masak ya Nis!"

__ADS_1


" Iya Bu."


Denisa segera mengambilkan kedua tamunya itu minum. Dia juga membawa sepiring nastar yang tadi dia dan ibunya masak.


" Silahkan!"


Alex langsung mengambil satu gelas teh yang di suguhkan oleh Denisa, dan menaruhnya kembali setelah meminumnya satu tegukan.


Sementara Angela sama sekali tak menyentuh apa yang di suguhkan oleh tuan rumah.


" Kita ke sini ingin berbicara denganmu, Denisa," Alex memulai percakapan.


" Saya?" ucap Denisa menunjuk dirinya sendiri.


" Iya. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan dan ingin Angela tau."


Denisa merasa tegang. Ia menerka-nerka dalam hatinya tentang apa yang ingin Alex sampaikan.


Begitu juga dengan Angela yang mulai was-was di campur penasaran dengan apa yang ingin ia dengar dari Alex.


" A-apa itu kak?"


Denisa menggigit bibirnya. Gugup melanda jantungnya saat ini.


( Belum juga bilang apa-apa, aku sudah gugup duluan. Memangnya apa yang ingin kak Alex sampaikan? palingan cuma di suruh jadi saksi hubungan mereka. Apa jangan-jangan Angela cemburu ya karena semalam kak Alex bersama ku, dan sekarang kak Alex mau menjelaskan bahwa kami tidak ada hubungan apa-apa. Repot sekali sih, masa hanya karena masalah cemburu sampai bela-belain datang ke rumah rakyat jelata)


" Dia gadis yang ku suka," kata Alex dengan mata fokus pada Denisa.


Tentu saja semua yang ada di situ terkejut. Denisa yang tadinya minum dengan anggun karena ingin terlihat cantik di depan Alex pun sampai tersedak hingga air yang di minumnya tersembur. Untung saja tidak mengenai wajah Alex.


Sedangkan Denisa masih pelonga-pelongo tak mengerti siapa yang dimaksud Alex. Ia hanya tak ingin kepedean dan mengira yang di maksud Alex adalah dirinya. Karena itu juga hal yang mustahil menurutnya. Tapi biar bagaimanapun, Denisa tetap mengharap sih.


(


" Hahaha!!"


Akhirnya tawa Angela pecah, seakan memenuhi ruangan rumah Denisa. Tawanya terdengar mengejek. Mana perutnya sambil di pegang sangking terbahaknya.


Lita Alex dan Denisa sampai mengerutkan kening mereka karena heran dengan tingkah Angela yang tertawa sendiri.


" Kau kenapa?" tanya Alex heran.


" Kau,,,,,,,,,, hahaha,,,,,, menyukai dia?!" jawab Angela sambil tertawa dan menunjuk pada Denisa.


Denisa yang baru paham pun menoleh terkejut pada Angela.


( Aku tidak sedang halu atau salah dengar kan? kak Alex, menyukaiku?)


" Memangnya kenapa, apa ada yang salah?"


" Bukan hanya salah, tapi juga konyol, Alex."


" Konyol?" Alex mengerutkan keningnya.


" Menyukainya adalah hal yang konyol. Aku tahu, kau pasti sedang membohongiku kan?"

__ADS_1


" Siapa yang sedang berbohong?"


Untuk yang kedua kalinya, Denisa di buat terkejut sekaligus bahagia.


"K-kakak benar-benar menyukaiku?"


Alex hanya tersenyum. Ia lantas mendekati Denisa dan meraih tangannya untuk ia genggam.


" Boleh kan?" tanya Alex memastikan.


Sungguh tak dapat Denisa ungkapan dengan kata-kata. Bibirnya terasa kelu untuk menjawabnya. Lututnya lemas serasa ingin melayang. Dan jangan di tanya lagi keadaan jantungnya saat ini. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia yang tak dapat ia tahan, namun seketika luntur karena Denisa mengingat kata-kata Renata tadi pagi.


Perlahan, Denisa melepaskan genggaman tangan Alex dan memundurkan langkahnya sedikit dari Alex.


" M-maaf kak," ucap Denisa.


" Aku tidak bisa," lanjutnya.


" Apa yang membuatmu menolak ku?" Alex nampak sangat kecewa, terlihat sekali dari raut wajahnya.


" Ada banyak hal yang membuat aku menolak kakak."


" Apa?"


" Sadar diri."


Tiba-tiba saja Angela bertepuk tangan sambil tertawa, lalu berjalan mendekati Denisa.


" Baguslah jika ku sadar diri. Aku tidak repot-repot lagi menjelaskannya padamu." Angela lantas beralih menatap Alex


" Dan kamu,,,,,,,! sampai kapanpun aku tidak akan pernah merelakan mu jika wanita itu adalah, DIA!!" ucap Angela pada Alex sambil menunjuk ke arah Denisa.


" Bukankah tadi kau bilang ingin tahu wanita yang ku suka?"


" Benar. Tapi jika dia orangnya,,,,,,,,maka aku tidak akan rela," ucap Angela dengan tegas.


" Apa alasanmu?"


Angela menyeringai.


" Alasan? kau masih tanya alasan?. Anak kecil saja tahu apa alasan ku."


Angela yang masih berada di samping Denisa pun, tiba-tiba menegang semua bagian tubuh Denisa, seolah menunjukkan sesuatu di sana.


" Lihat ini! Ini, ini, ini juga! apa kurang jelas yang ku maksud? semua tubuhnya terbuat dari lemak. Bisa-bisanya kamu menyukai wanita seperti ini." Angela mencibir semua bagian tubuh Denisa yang penuh lemak itu.


Bagai di hantam batu jalanan ketika mendengar ejekan itu. Hati Denisa patah sepatah patahnya.


Mungkin dulu dia biasa saja ketika di ejek gendut, tapi berbeda halnya jika itu di depan Alex. Malu dan insiciure bercampur menjadi satu. Ia semakin di buat sadar diri oleh kenyataan pahit, bahwa dia memang tak pantas untuk Alex, bahwa memang seseorang harus memposisikan dirinya pada porosnya masing-masing.


Dirinya termangu. Menatap kosong pada lantai marmer yang mengabus. Matanya yang mengembun membuat penglihatannya mengabur.


Denisa berlari menuju kamarnya tanpa sepatah katapun yang ia tinggalkan untuk kedua tamunya itu.


Bukan bermaksud untuk tidak sopan, dia hanya tidak mau orang lain melihat kesedihannya.

__ADS_1


__ADS_2