Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Pulang


__ADS_3

Episode dua puluh delapan (28)


Setelah menggerutu, Renata dan Bobi pun pergi. Mereka kesal karena tak dapat jawaban dari Denisa, karena saat ini Denisa sedang melamun, lebih tepatnya sedang memikirkan satu alasan untuk membuat para sahabatnya percaya lagi padanya.


Sadar para sahabatnya pergi, Denisa pun lantas mengejar mereka.


" Tunggu!!"


Dan untuk yang kedua kalinya mereka di buat kesal oleh Denisa. Renata pun menghembuskan nafas panjangnya.


" Kenapa lagi?"


" Please, dengarkan cerita ku dulu, mau kan?" mohon Denisa.


" Hemmm ya sudah. Kita duduk di kantin saja!"


Denisa senang karena Renata akhirnya mau memberinya kesempatan untuk menjelaskan, walaupun dengan terpaksa.


" Ada apa?" tanya Renata to the poin ketika mereka sudah sampai di kantin.


" Pesan makan atau minum dulu setidaknya!" ucap Denisa.


Renata memutar bola matanya jengah. Untuk yang kesekian kalinya ia di buat kesal oleh sahabatnya sendiri.


" Bu! bakso tiga, green tea tiga ya!" ucap Renata kepada penjaga kantin.


Setelah pesanan sampai, Renata membiarkan dulu Denisa untuk melahap makanannya, nanti setelah makanannya habis, Renata baru akan menanyakan apa yang ingin Denisa katakan padanya.


" Katakan, apa yang ingin kau katakan?" tanya Renata setelah makanan Denisa habis.


" Minum dulu." Denisa lantas meraih botol green tea nya dan menenggaknya hingga tersisa separuh.


" Ehemmm, jadi begini. Kalau seandainya kalian aku ceritakan apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini, apa kalian akan percaya?"


Renata dan Bobi pun saling pandang. Mereka memang masih sangat kesal terhadap Denisa, akan tetapi rasa percaya mereka tidak pernah berubah antara satu sama lain, mereka tetap mempercayai Denisa seperti sebelumnya.


" Memangnya apa?" tanya Bobi.


" Kalian merasa tidak, kalau sifat ku akhir-akhir ini berubah?"


Bobi dan Renata pun saling pandang, menatap kembali ke arah Denisa, lalu mengangguk secara bersamaan.


" Nah, itu karena ada sebabnya," ujarnya.


Mereka tak lagi menjawab, mereka tetap fokus mendengarkan cerita Denisa.


" Kalian percaya mistis tidak?"


" Antara percaya dan tidak sih, memangnya kenapa?" tanya Renata.


" Kalian percaya bahwa jiwa seseorang itu bisa berpindah?"


Renata dan Bobi di buat terkejut dan saling pandang. Mereka bingung harus percaya atau tidak. Di satu sisi, cerita Denisa sangat konyol dan tak masuk akal, namun di sisi lain mereka berpikir bahwa Denisa tak mungkin berbohong.

__ADS_1


" Aku tau kalian pasti bingung? aku juga tidak memaksa kalian mau percaya padaku atau tidak, yang jelas apa yang ku katakan memang begitu adanya."


Namun tiba-tiba Denisa mengingat sesuatu.


" A,,,,,, begini. Bukannya kau pernah ke tempat Nyi madam?" tanya Denisa yang tertuju pada Renata.


" Iya, kenapa?"


" Berarti kau percaya pada hal-hal mistis?"


" Tergantung."


" Tergantung, tergantung bagaimana maksudnya? lalu kemarin kau ke sana untuk apa?"


" Hussst jangan keras-keras! nanti ya lain mendengar," ucap Renata merasa was-was, karena Denisa yang berbicara terlalu keras.


" Tidak apa-apa. Lagi pula yang lain kan tidak mengenal Nyi madam," jawab Denisa dengan entengnya.


" Dari mana kau berasumsi seperti itu? mungkin saja yang lain malah langganan dengannya."


" Iya juga ya," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ya sudah, sekarang kembali lagi pada ceritamu itu!" ucap Renata.


" Nanti dulu, kau katakan dulu untuk apa kau mengunjungi Nyi madam hari itu!"


Renata menghempaskan nafasnya dengan kasar. Dan dengan terpaksa ia pun menjawabnya. Karena ia tahu sifat Denisa, jika tidak menuruti keinginannya, maka masalahnya tidak akan selesai.


" Karena aku menyukai seseorang, dan aku meminta bantuan kepada Nyi madam, agar dia juga menyukaiku. Sekarang puas?" kesal Renata.


" Hahaha, ternyata kau bisa juga menyukai seseorang?" ledek Denisa. Bobi yang tak enak hati kepada Renata pun menyikut Denisa yang asyik tertawa, agar Denisa menghentikan tawanya.


" Ya bisa lah, memangnya kau pikir, kau saja yang boleh menyukai Yoga pranata?"


Seketika tawa Denisa hilang, berganti dengan tatapan tajam ke arah Renata.


" Uppss salah, maksudku Alexandra Darbara," ucap Renata sambil menutup mulutnya yang tidak sengaja mengatakan nama asli Alex.


Sejak dulu, Denisa memang tidak suka siapa pun mengungkit atau menyebutkan nama masa lalu Alex. Karena Alex sendirilah yang memintanya dulu kepada semua penggemarnya.


" Maaf, tidak sengaja," ucap Renata sekali lagi.


" Iya," jawab Denisa singkat.


" Lagi pula, kau duluan yang mengatai ku," ucap Renata.


" Iya, aku juga minta maaf."


Akhirnya, suasana kembali damai. Denisa dan Renata pun sama-sama tersenyum dan kembali melanjutkan cerita mereka.


" Kau dulu yang cerita, atau aku?" tanya Denisa.


" Kau saja! bukankah kau tadi yang ingin menjelaskan kepada kami, kenapa jadi panjang dan kemana-mana ceritanya?" jawab Renata.

__ADS_1


" Baiklah, aku yang akan cerita, tapi setelah itu kau harus memberi tahu ku siapa orang yang kau suka itu!"


" Iya iya, setelah kau bercerita, aku akan mengatakannya."


Denisa tersenyum, dan akhirnya menceritakan semua yang telah terjadi pada dirinya dan Angela kepada dua sahabatnya itu. Dari mulai bagaimana mereka bisa bertukar jiwa, hingga pengalamannya bersama Alex.


Tentu saja awalnya Renata dan Bobi terkejut, namun mereka percaya, semua yang di katakan Denisa bukanlah rekayasa. Karena mereka mengenal betul siapa Denisa. Dia tidak suka dan tidak akan pernah berbohong jika itu tidak untuk kebaikan.


" Kau mau kembali ke rumah?" tanya Darrell sambil menikmati kacang almond nya.


Saat ini Alex sedang mengemasi barang-barangnya. Ia berencana akan pulang ke apartemen hari ini. Ia merasa sudah cukup lama ia meninggalkan Ansel dan Septian, ia takut mereka akan merasa khawatir padanya karena terlalu lama pergi.


" Iya, aku akan pulang, apa kau juga ikut?"


Alex pun selesai memasukkan pakaiannya ke dalam koper, lalu ikut bergabung bersama Darrell.


" Tidak. Mungkin aku akan menginap dulu beberapa hari di sini, lalu setelah itu aku akan pulang ke rumah," jawab Darrell sambil terus mengunyah kacang almond nya.


Alex menganguk, lalu menepuk pundak Darrell.


" Baiklah, jaga dirimu baik-baik!"


" Hemmm." Darrell pun mengangguk.


Tak banyak perbincangan antara mereka, karena setelah itu Alex pun keluar dari villa sambil menyeret koper nya.


" Jalan pak!" perintah Alex kepada supir pribadinya.


" Baik tuan."


Alex bersandar pada kursi penumpangnya dengan pandangan mengarah ke luar jendela mobil yang terbuka.


Alex sengaja membukanya agar bisa menghirup udara segar dari luar mobil.


Tiba-tiba pikirannya tertuju pada seorang gadis sederhana di masa lalunya, namun mampu membuatnya selalu teringat-ingat hingga saat ini.


Ia memejamkan matanya sambil menikmati angin yang menerpa wajahnya. Seulas senyum terbit di bibirnya, seolah bayangan itu sedang menari-nari di pikirannya.


Ia kembali membuka matanya ketika mendengar suara klakson yang saling bersahutan. Ternyata jalanan saat itu sedang macet parah.


Antriannya terlalu panjang hingga membuat para pengendara marah dan saling membunyikan klakson mereka masing-masing.


" Tuan, ini bagaimana? apa kita putar balik saja? di persimpangan sana ada jalan lain tuan," usul supir Alex.


" Apakah jauh?"


" Benar tuan. Jalannya lumayan jauh dan sedikit rusak."


" Ya sudah, kita tunggu sebentar lagi saja!"


" Baik tuan."


Ketika Alex menoleh ke samping, tiba-tiba pandangannya tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang sangat ia kenal. Wanita itu nampak sangat gugup dan berusaha memalingkan wajahnya untuk menyembunyikannya dari Alex. Tapi sayangnya Alex sudah lebih dulu memergokinya.

__ADS_1


Alex hanya memberikan senyum smirk tanpa mengatakan apapun kepada wanita itu


Dan tak lama mobilnya pun berjalan karena macetnya mulai mereda.


__ADS_2