Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Pertengkaran Saudara


__ADS_3

Episode tiga puluh dua (32)


" Peluk!!"


Denisa merentangkan kedua tangannya kepada Renata dengan manja.


Renata pun menyambutnya dengan senang hati.


" Kok aku tidak di ajak?" kesal Bobi yang merasa di abaikan.


" Ooooo cini cini!!"


Mereka bertiga pun berpelukan bersama.


Tak lama berkendara, Alex pun tiba di apartemen miliknya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Karena kemampuannya berkendara yang set set, mempermudah Alex sampai lebih cepat.


" Dimana Angela?" tanya Alex ketika sudah masuk ke dalam apartemen.


" Di dalam bang," jawab Septian.


Berbeda dengan Septian yang nampak biasa saja dan menyambut Alex dengan ramah. Ansel malah berbanding terbalik.


Mukanya begitu masam dan menatap tajam terhadap Alex. Dia masih marah kepada Alex yang mengabaikan Angela, saat Angela sedang sakit.


Entah apa yang membuat Ansel begitu kesal terhadap Alex. Yang jelas, Ansel tidak terima jika Angela di sakiti, meskipun itu orang yang sudah ia anggap saudara sendiri.


Tanpa menunggu lama, Alex langsung berlari ke kamar Angela dan berhenti tepat di depan pintu.


Lama ia memperhatikan Angela yang belum sadarkan diri akibat obat penenang yang di beri dokter tadi, lalu perlahan berjalan menuju Angela dan duduk di sampingnya.


" Maafkan aku, aku memang bo*oh," sesalnya pada diri sendiri.


Alex menunduk dalam dan memejamkan matanya.


" Dari mana saja kau bang?" tanya Ansel tiba-tiba. Dia berdiri tepat di depan pintu kamar Angela sambil berkacak pinggang dan tatapan matanya yang tajam.


Alex menoleh ke asal suara.


" Dari menenangkan diri," jawabnya dengan wajah datar.


Ansel menyeringai.


" Menenangkan diri. Kau bahkan sama sekali tak memikirkan bagaimana kondisi Angela saat kau pergi."


" Maaf, aku tidak tahu."


Alex kembali menatap Angela.


" Apa yang kau tahu? yang kau tau hanya bocah berbau kencur itu kan?" lagi-lagi Ansel menyeringai.

__ADS_1


Alex hanya diam dengan pandangan tak lepas dari Angela.


" Kau sudah berjanji padaku, bahwa kau akan selalu membahagiakan Angela. Tapi apa? kau hanya bisa menyakitinya dengan masa lalu mu itu.


Alex memejamkan mata. Tangannya mengepal hebat, Ia muak karena Ansel kembali mengingatkan akan janjinya dulu. Bukan ia ingin melupakan begitu saja, hanya saat ini pikirannya sedang kalut. Jika Ansel mengatakannya, itu akan menambah bebannya.


" Memangnya apa yang kau dapat dari dia? hanya cinta kan?. Aku tidak menyangka, kau rela menyakiti Angela demi gadis kelas bawah seperti dia." Ansel terdengar mengejek, dan itu membuat Alex semakin geram dan ingin sekali menghajarnya.


Alex lantas berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya. Sudah ia coba untuk meredam emosinya tadi, namun sepertinya Ansel terus saja memancingnya.


Ditatapnya tajam Ansel yang masih terlihat santai dengan mimik wajah seakan mengejek.


" Kenapa, kau marah karena aku menghina gadismu itu? bukankah itu memang kenyataannya? Memalukan!!"


Entah mengapa Ansel sebegitu tak sukanya jika Alex bersama wanita pilihannya itu. Yang jelas, dulu Ansel dan Alex serta Angela terlibat cinta segitiga. Alex yang hanya main-main waktu itu terhadap Angela, pun tahu bahwa Ansel memiliki perasaan lebih terhadap Angela. Alex pun ingin menyerahkan Angela kepada Ansel, namun Angela tak mau karena ia hanya mencintai Alex. Ansel pun mengalah dan merelakan Angela bersama Alex dengan syarat, bahwa Alex tak boleh menyakiti Angela. Alex dengan malas mengiyakan saja permintaan Ansel itu. Tapi seiring berjalannya waktu, Alex memiliki rasa sayang terhadap Angela, meski bukan cinta.


" Kau membuat kita semua malu. Masih untung kau memiliki Angela yang dari keluarga terpandang. Jika kau bersama wanita itu, apa kata orang banyak? kau tak lupa kan siapa kita?"


Alex tak menggubris semua perkataan Ansel. Yang dia tahu saat ini, dia benar-benar di buat murka karena Ansel yang terus saja menyudutkan nya.


Tiba-tiba saja Alex langsung menghampiri Ansel dengan langkah cepat dan langsung melayangkan bogemannya kepada Ansel.


Ansel yang tak mengira itu akan terjadi pun tak bisa mengelak lagi. Dia terkena pukulan Alex beberapa kali hingga membuatnya tersungkur dengan wajah babak belur.


" Argh!"


ansel meringis sambil memegangi bagian yang terkena pukulan Alex.


Alex tak menjawab, dia kembali mencengkeram pakaian yang di gunakan Ansel dan memaksanya berdiri.


" Apa yang kau lakukan ini?"


Mendengar teriakkan Ansel, semua berlarian ke sumber suara. Mereka tentu terkejut dengan apa yang di lakukan Alex terhadap Ansel. Angela saja sampai terbangun karena suara kegaduhan yang berasal dari mereka berdua, karena kegaduhan itu tepat di depan kamarnya.


Septian berusaha memisahkan mereka dan berupaya melepaskan cengkeraman Alex dari Ansel. Dengan susah payah, akhirnya Alex mau melepaskannya, namun dengan cara kasar.


" Kalian ini apa-apaan? kenapa ribut di depan kamar orang yang sedang sakit? kalian waras?" ucap Septian kesal terhadap dua abangnya itu.


Keduanya tak menjawab, melainkan hanya beradu tatap dengan tatapan yang tajam.


" A-alex, kau sudah pulang?"


Angela yang baru siuman, berjalan tertatih-tatih menuju dua orang pria yang sedang beradu itu.


Angela langsung memeluk Alex dari belakang, namun Alex sama sekali tak bergeming. Dua terus beradu tatap dengan Ansel yang juga dalam posisi yang masih sama.


" Jangan pergi lagi!"


Angela semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


" Lepaskan dia Angela!"


Suara berat Ansel seakan memecah keheningan.


Pelukan Angela mengendur. Ia seakan menatap tak terima pada Ansel yang melarangnya untuk tidak memeluk kekasihnya itu.


" Apa maksudmu? kenapa kau tiba-tiba melarang ku? aku sangat merindukan Alex, tapi mengapa kau seakan menjauhkan ku darinya?"


" Dia tak pantas untukmu."


Yang lain terkejut, termasuk Nanci dan Natasya yang memang tak tahu apa-apa.


Angela menggeleng, tak habis pikir dengan yang diucapkan Ansel padanya.


" Kau,,,,,,,."


" Sudahlah Angela!" Alex mencegah Angela untuk melanjutkan perkataannya. Ia hanya tak mau semakin memperpanjang masalah.


Angela menurut, ia mengalihkan pandangan ke arah Alex dan tersenyum sendu.


" Aku tahu kau pasti kembali untukku."


Alex tersenyum sekilas


" Aku yakin, kau kembali karena kau lebih memilihku kan?"


Seketika senyumnya memudar. Tatapannya datar mengarah pada Angela.


Melihat ekspresi Alex, Angela seakan paham. Wajah sumringah yang tadi sempat memancar, seketika musnah. Ia menatap Alex kecewa.


" Kenapa? apa aku salah menebak?"


Lagi-lagi Alex hanya diam. Dan itu membuat Angela semakin yakin bahwa Alex menghampirinya hanya karena kasihan.


Ia mengangguk, seolah berkata-kata dalam hatinya.


" Aku telah berpikir sejak tadi. Aku akan merelakan mu, tapi sebelum itu, bolehkah aku bertemu dengan wanita yang telah merebut hati mu dari ku?" mohon Angela dengan sangat.


Alex pun mengangguk dengan ragu-ragu.


Dengan perasaan terkejut, Nanci mendekati Angela dan memegang pundaknya dari belakang.


" Kak Angela!" panggilnya dengan mata berkaca-kaca. Ia seolah mengerti dengan perasaan Angela saat ini, dan merasa prihatin terhadapnya.


Angela tersenyum dan mengangguk, seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja.


Tak lama setelahnya, Alex dan Angela berencana untuk menemui wanita yang di maksud Angela.


Alex menghubungi Denisa untuk meminta alamatnya. Saat Denisa menanyakan untuk apa, Alex lebih dulu mematikan sambungan telponnya.

__ADS_1


Tadi saat di taman, Alex sempat meminta nomor kontak Denisa dan menyimpannya. Dia mengatakan kepada Denisa, agar lebih dekat katanya.


__ADS_2