
Episode dua puluh tiga (23)
Semua teman-teman Doni, lari kocar-kacir, kecuali Doni sendiri yang kesusahan untuk berdiri karena lukanya yang cukup parah.
Alex dan Angela pun langsung menghampiri Denisa untuk mengecek keadaannya.
" Denisa!!" panggil Angela. Ia hendak memeriksa tubuh Angela, namun di dahului oleh Alex. Ia pun mengurungkan niatnya.
" Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Alex yang tanpa sadar memegang tangan Denisa.
" Aku baik," jawab Denisa.
" Kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya lagi.
Alex lantas tersenyum tipis dan mengangguk.
Tak ada kecemburuan di hati Angela. Dia pun ikut tersenyum kala senyumnya yang mahal itu terbit untuk Denisa walaupun tak begitu nampak.
Fokus Angela tertuju pada Doni yang nampak tertatih-tatih dan sulit untuk berdiri. Dia pun menghampirinya dan mencoba untuk membantunya.
" Ayah!!" ujarnya, dan itu hanya bisa di dengar oleh mereka berdua saja.
Doni lantas menoleh pada Angela dan menatapnya dengan tatapan terkejut.
" Ayah?" tanya Doni dengan suara lantang hingga membuat Alex dan Denisa menatap ke arah mereka.
Angela lantas mengangguk cepat.
" Aku?" tanyanya lagi. Kembali Angela pun mengangguk.
Lalu tiba-tiba saja Doni tertawa terbahak bahak hingga membuat semuanya heran.
" Aku, ayahmu? apakah benar?" tanya Doni, dan kembali ia pun tertawa.
" Apakah kau sedang menipuku?" Angela pun menggeleng cepat.
" Hey dengar Nak! kau lihat wanita gemuk yang ada di sana?" ucap Doni sambil menunjuk Denisa. Angela pun mengikuti arah telunjuk Doni dan mengangguk lagi.
" Dia anakku yang gemuk dan jelek, bahkan tidak berguna untukku. Cocok dengan diriku yang pengangguran dan pemain judi." Doni pun kembali tertawa disela perkataannya.
" Jika kau yang menjadi anakku, apa kau tidak takut?" imbuhnya.
" Takut? kenapa?"
Tiba-tiba Doni mengelilingi tubuh Angela dan menatapnya dengan tatapan lapar, sambil tersenyum licik.
__ADS_1
" Kau tidak takut jika aku menj*al mu pada lelaki hidung belang atau Om Om tua. Mereka akan menjadikan mu istri sim*anan atau sebagai pemuas na*sunya. Dan aku, aku akan menikmati uang dari hasil menj*al dirimu. Sungguh menguntungkan." Doni kembali tertawa, dan kali ini tawanya begitu puas dan terdengar mengejek.
Angela begitu geram dan ingin sekali mengh*jar mulut yang telah mengatainya tersebut. Namun ia tak mungkin melakukannya, karena itu bukan tujuannya untuk saat ini.
Tapi Alex nampak tak terima kekasihnya di rendahkan sedemikian rupa oleh pria seperti Doni. Alex pun menghampiri Doni dengan marah.
" Kurang a*ar kau!!" satu pukulan melayang ke arah Doni.
" Beraninya merendahkan wanita seperti itu. Kau pikir kau lahir dari mana, HAH?" Alex mencengkeram kerah baju Doni dan kembali memukulnya beberapa kali.
" Kak cukup kak, cukup!!" cegah Angela, begitupun Denisa yang menghampiri Alex karena khawatir.
Alex menurut, ia pun menghentikan pukulannya dan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Denisa sambil mengusap punggung Alex.
Sedangkan Angela membantu Doni untuk berdiri.
" Aku tidak apa-apa," jawabnya.
" Bar-bar sekali kau anak muda," ucap Doni sambil menyeka sisa darah di bibirnya.
Alex menggeram tertahan, tangannya mengepal kuat serta tatapannya begitu tajam ke arah Doni.
" Cukup kak! bukan ini yang aku mau, kakak tidak boleh bersikap kasar terhadap orang tua!" ucap Angela.
" Dan lagi pun,,,,,,,,," Angela lantas tertunduk.
" Ada sesuatu yang ingin aku jelaskan kepada kak Alex dan ayah," lanjut Angela.
Sontak Alex dan Doni menatap terkejut kepada Angela. Bukan apa yang ingin ia jelaskan yang membuat mereka terkejut, namun tentang siapa yang Angela panggil ayahlah yang membuat mereka terkejut sekaligus bertanya-tanya.
" Ma-maksud kamu?" tanya Alex.
" Sebenarnya jiwa ku dan jiwa Denisa tertukar," ujar Angela. Nampak Denisa pun mengangguk membenarkan.
" Hey Nak, jangan membuat kami bingung dengan omongan mu yang tak jelas itu," cercah Doni.
" Apa yang kau maksud dengan jiwa tertukar Angela? apa kau sedang mempermainkan ku?" kata Alex dengan wajah serius.
" Tidak kak, aku tidak sedang mempermainkan mu, ini real. Aku pun tak tahu bagaimana bisa terjadi, yang jelas saat aku terbangun, aku sudah seperti ini.
Alex menyeringai. " Heh, konyol. Cerita seperti itu hanya ada di sinetron saja. Kau jangan membohongiku hanya agar bisa menjauh dariku!"
" Maksud kakak apa?"
__ADS_1
" Kau sengaja kan, berbohong agar bisa pergi dari ku dan bisa bersama Adrian? kau jangan repot-repot melakukan kebohongan ini, aku akan segera melepaskan mu, dan kau bisa bersama Adrian sepuas yang kau mau."
Alex nampak sangat marah, terlihat dari matanya yang merah dan tatapannya yang tajam.
Alex pun hendak pergi, namun Denisa mencegahnya.
" Alex, tunggu!!"
Alex pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh kearah Denisa yang memanggilnya.
" Kami tidak berbohong Lex. Aku Angela, dan yang memakai tubuhku itu adalah Denisa. Apa kamu tidak mengenali sifat ku? atau dari tatapan mataku?. Jika kamu tidak mengenaliku, berarti kamu tidak benar-benar mencintaiku, benar begitu?" tuding Denisa.
" Terserah," gumam Alex. Ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju mobil, namun Denisa kembali memanggilnya, dan membuatnya kembali menghentikan langkahnya.
" Alex!! aku mau bilang, kalau aku mau minta maaf sama kamu, urusan kamu mau memaafkan atau tidak, percaya atau tidak, yang jelas aku Judah mengungkapkannya," teriak Denisa.
Namun lagi-lagi Alex nampak tak perduli . Ia masuk kedalam mobil dan melajukan nya tanpa Angela.
" Kekasihmu sudah pergi, apa kau tetap tinggal di sini bersamaku?!" ucap Doni setelah kepergian Alex.
" Urusanku di sini belum selesai," jawab Angela, lantas melemparkan senyum manisnya.
" Urusan?"
" Ya, urusanku dengan ayah. Aku ingin meminta maaf karena dulu pernah bersikap kasar dan tidak sopan terhadap ayah." Sejenak Angela tersenyum, lalu melanjutkan perkataannya.
" Benar kata Denisa tadi, percaya ati tidak, memaafkan atau tidak, itu urusan ayah dan Alex, yang penting sekarang urusanku untuk meminta maaf sudah selesai."
Angela mengulas senyumnya, sebelum akhirnya beralih menatap Denisa. Dia pun memegang pundak Denisa.
" Aku pulang ke rumah Alex dulu. Besok, kita akan bertemu lagi untuk menyelesaikan masalah ini, oke?!"
Denisa mengangguk dan membalas dengan senyuman.
Sebelum benar-benar pergi, Angela sempat menatap ayahnya sekilas dan memberikan senyumannya, lalu pergi mencari taksi untuk pulang ke rumah Alex. Meskipun ia tidak tahu bagaimana sikap Alex setelah kejadian tadi. Meskipun ia tidak tahu, malam terakhirnya akan berakhir indah atau malah menjadi kesedihan untuk selamanya. Walau begitu, Angela tetap berharap, malam terakhir ini akan menjadi kenangan yang tak dapat ia lupakan.
Doni menatap tak berkedip pada kepergian Angela. Otaknya benar-benar ngebleng karena perkataan Angela yang tak masuk akal itu.
Angela yang baru saja pulang langsung di suguhkan dengan tatapan curiga dari semua anggota keluarga yang sedang duduk santai di ruang tamu.
Angela merasa tak nyaman di tatap begitu. Ia jadi menerka-nerka, mungkin Alex sudah mengatakan yang sebenarnya pada mereka, atau tubuhnya yang berubah tanpa sepengetahuannya.
Matanya tiba-tiba membulat, dan Angela pun memeriksa dan meraba-raba tubuhnya, kalau-kalau ada yang aneh dengan dirinya. Namun tak ada yang berubah, Angela pun bisa bernafas dengan lega.
" Ehemmm. Aku kedalam dulu ya," ucapnya sambil melanjutkan langkahnya. Namun langkahnya pun berhenti ketika Ansel menanyainya.
__ADS_1
" Ada apa dengan kalian?" tanya Ansel dengan wajah serius.