
Episode empat puluh satu (41)
Setelah keluar dari gedung, Denisa memesan ojek online sambil berjalan. Tak lama ojek online yang ia pesan pun sampai.
" Dengan neng Denisa?" tanya bapak-bapak paruh baya kepada Denisa.
" Iya pak, saya yang pesan."
" Ke rawa bening kan neng?"
" Iya pak."
" Siap neng." Bapak tukang ojek itu langsung tancap gas dan menuju tempat yang di arahkan oleh Denisa.
Untuk sementara, Denisa tidak pulang dulu. Dia lebih memilih ke rumah Renata untuk menenangkan diri. Dia hanya tak mau melihat ibunya sedih setelah melihat keadaannya yang berantakan seperti ini.
Setelah beberapa menit, akhirnya Denisa sampai di depan rumah sederhana namun sangat nyaman di pandang mata. Setelah memberikan uang kepada tukang ojek, Denisa pun langsung mengetuk pintu rumah Renata beberapa kali, dan akhirnya tak lama seseorang membukakan pintu.
" Eh Nak Denisa, mari masuk dulu Nak!" ucap seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Renata.
Denisa tak menjawab, ia hanya mengangguk lemah, lalu menuruti apa yang di katakan oleh ibu Renata tersebut.
" Mari duduk di sini Nak!" ibu Renata menuntun Denisa menuju kursi dan mendudukkannya di sana.
" Sebentar! ibu panggilkan Renata dulu. Tadi dia sedang berkebun di belakang rumah," ucapnya. Denisa kembali mengangguk dan sedikit menampakkan senyum.
Tak lama seorang gadis tomboy datang dengan baju lusuh dan kotor.
Ia ingin duduk bersama Denisa, namun Denisa memperingatinya untuk mandi terlebih dahulu.
" Mendingan kamu mandi dulu saja! masak, duduk di sini dengan keadaan kotor seperti ini. Dasar jorok," cibir Denisa yang bermaksud hanya bercanda. Mereka sudah terbiasa seperti itu, hingga Renata pun tak merasa tersinggung. Dan lagi pun apa yang di katakan Denisa benar.
" Iya iya, aku mandi dulu. Tapi kamu jangan kabur ya!" ucap Renata.
" Siapa yang mau kabur kalau yang mau kesini itu aku sendiri."
" Oh iya juga ya." Renata nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ya sudah, aku mau bersih-bersih dulu." Renata pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Denisa duduk manis sambil menunggu sahabatnya itu selesai membersihkan diri.
Tak lama ibu Renata muncul dari arah dapur sambil membawakan secangkir teh hangat dan sedikit cemilan sederhana, lalu ia meletakkannya di atas meja.
" Mari di makan Nak!"
__ADS_1
" Iya Bu, terimakasih."
Sambil menunggu Renata selesai, Denisa memakan dan meminum apa yang di suguhkan oleh ibu Renata.
Tak banyak percakapan antara mereka. Hanya percakapan formal saja antara ibu dan teman anaknya.
Tak lama Renata keluar dengan wangi yang sudah menguar di seluruh ruangan. Meskipun Renata seorang wanita tomboy, tapi jika soal kebersihan tubuh, dia paling nomor satu diantara dua temannya, meskipun wangi sabun dan parfum yang ia pakai selalu beraroma khas laki-laki.
Renata duduk tepat di samping Denisa, mengambil satu cemilan, lalu memakainya dengan gaya khas tomboy.
" Kenapa dengan wajah mu? apa kau bertengkar dengan ayahmu hingga wajahmu terlihat seperti mulut bebek?" tanya Renata sambil terus mengunyah.
Denisa menghempaskan nafasnya dengan kasar, menunduk, setelah itu menatap sayu ke arah Renata. Seolah menunjukkan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
" Alex?" tanya Renata tepat sasaran. Renata membalas tatapan Denisa dan menanyakan itu.
Tanpa bersuara Denisa menjawab dengan anggukan kepala saja, sebab ia seakan sudah tak mempunyai tenaga lagi untuk berbicara.
Seperti halnya Denisa, Renata pun membuang nafas panjang nya dengan kasar, lalu menggeleng. Rasa prihatin dan tak habis pikir dengan sahabatnya tersebut, seakan menjadi satu. Renata sudah merasa sangat kesal dengan Denisa yang tak henti-hentinya memikirkan Alex yang menurutnya jelas-jelas tidak akan mungkin bisa dimiliki.
Renata menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lebih tepatnya mengacak-acak rambutnya karena geram.
" Denisa,,,,, Denisa! sudah berapa kali aku bilang, berhenti mengharapkan seseorang yang tidak pasti. Alex adalah pria yang sulit di gapai, apalagi untuk wanita seperti mu."
Denisa tertunduk sedih, air matanya menetes ke punggung tangannya. Dan hal itu membuat Renata tersadar bahwa tadinya sudah sangat keterlaluan.
Renata menatap sendu pada Denisa, lalu memegang pundak Denisa dengan ragu-ragu.
" Ni-nisa!" panggilnya.
Denisa tak menjawab, hanya suara isak tangisnya yang terdengar. Renata semakin merasa bersalah, ia lantas meraih tubuh Denisa dan memeluknya.
" Maafin aku ya! aku tidak bermaksud membuatmu terluka, aku hanya tidak ingin,,,,," perkataan Renata terhenti karena Denisa mencegahnya untuk melanjutkan.
" Aku mengerti kok. Aku sama sekali tidak sakit hati, hanya saja aku seolah baru di sadarkan oleh perkataan mu itu," kata Denisa sambil mengurai pelukannya.
Renata tersenyum, lalu menatap Denisa dengan sendu.
" Cukup ya! aku hanya tidak mau kamu terluka."
Denisa mengangguk, meskipun dengan ragu-ragu. Hatinya belum siap, namun ia pun sadar. Tak ada yang bisa ia harapkan lagi dari Alex.
" Ya sudah, aku tinggal mandi dulu, nanti setelah mandi aku akan mengantarkan mu pulang," ucap Renata sambil berdiri.
__ADS_1
" Jadi kamu mengusir ku?" kata Denisa dengan wajah cemberut.
Renata berbalik badan sekedar ingin menjawab.
" Iya, karena kamu bikin repot, tau tidak?"
Setelah mengatakannya, Renata lantas melanjutkan niatnya yang semula tertunda karena Denisa.
Denisa semakin cemberut dan hanya bisa menggerutu tidak jelas.
Renata yang tadinya berniat mengantar Denisa pulang, kini mereka sudah sampai di depan rumah Denisa. Mereka lantas langsung masuk, kebetulan hari sudah mulai sore, Lita, sang ibu pun sudah berada di rumah.
" Sudah pulang Nak?" tanya Lita yang berasal dari dapur. Dia baru saja selesai memasak untuk makan malam sepertinya.
" Iya Bu." Denisa langsung menghempaskan bo*ong nya di atas sofa kayu, beriringan dengan nafasnya yang ia buang dengan kasar.
Renata juga turut mengikutinya, duduk bersebelahan dengan Denisa .
" Kalian ke sana berdua?" Lita juga ikut duduk bersama kedua anak muda itu. Mata Lita bergantian melirik Renata dan Denisa, seolah mencari jawaban dari mereka.
Renata melirik ke arah Denisa yang nampak diam saja dan tak ada inisiatif untuk menjawab. Dan akhirnya Renata terpaksa menjawabnya.
" Tidak Bu. Denisa tadi mampir dulu ke rumah sebelum pulang ke sini," jawab Renata.
" Begitu kah? lalu kenapa Denisa terlihat tidak bersemangat, apa ada sesuatu yang terjadi, Nak?"
Kali ini pertanyaan itu khusus di tujukan untuk sang anak.
Denisa menegakkan badannya yang semula menyender di bahu kursi.
" Tidak terjadi apa-apa Bu. Aku hanya sangat lelah karena seharian berada di pesta," ucapnya berbohong. Denisa hanya tak ingin ibunya merasa sedih jika mengetahuinya.
" Denisa, aku sepertinya mau pulang dulu. Nanti kalau terlalu lama, ibu cariin," kata Renata.
" Tidak menginap saja Nak? ini sudah senja loh," tawar Lita.
" Tidak usah Bu. Sepertinya saya pulang saja."
" Kamu tidak apa-apa memangnya pulang sendiri?" tanya Denisa.
" Iya, tenang saja, aku bisa jaga diri kok. Kamu istirahat ya, jangan banyak pikiran!" ucap Renata sambil memegang pundak Denisa dan tersenyum.
Denisa membalasnya dengan tersenyum tipis lalu mengangguk.
__ADS_1