
Episode empat belas (14)
" Heyy!!"
Angela terkesiap ketika Denisa memanggilnya.
" I-iya."
" Apa yang sedang kau pikirkan?"
" Ah tidak."
" Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu." Angela pun mengangguk, dan Denisa pun pulang ke rumahnya karena hari pun sudah mulai gelap.
Setelah selesai mandi dan bersih-bersih tubuh, Angela merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya.
Matanya menerawang ke atas langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba saja suara ketukan dari luar mengejutkannya.
Dia pun segera bangkit untuk membukakan pintu.
" Ehh ibu," ucap Angela ketika sudah membuka pintu. Dan ternyata yang mengetuk pintunya adalah seorang asisten rumah tangga.
" Nona, itu- tuan Alex sudah datang bersama tuan Septian dan tuan Ansel beserta keluarganya. Tuan Alex menyuruh saya untuk memanggil kan nona."
" Baiklah Bu, nanti saya segera ke sana."
" Kalau begitu saya permisi dulu nona." Angela mengangguk, dan asisten rumah tangga itu pun pamit untuk melanjutkan lagi pekerjaannya.
Setelah selesai bersiap-siap dan belajar memoles sedikit wajahnya dengan make up, Angela pun keluar dari kamarnya untuk menemui tamu Alex.
Angela berjalan dengan perlahan dan ragu-ragu untuk menemui Ansel dan Septian yang dulu juga sebagai idolanya.
Perasaan canggung dan malu-malu seakan menyelimuti hatinya saat ini. Meskipun dia adalah juara karate, tapi tetap saja untuk urusan mereka, hatinya tak bisa di bohongi.
" Se-selamat malam semuanya." Sontak saja semuanya menoleh ke sumber suara, yaitu Angela.
" Heyy kakak ipar, sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" kata Septian.
" A-aku baik," jawab Angela sedikit tergagap.
" Kau kenapa kakak ipar, apakah kau sedang sakit?"
" Iya, kenapa wajahmu nampak pucat?" timpal Ansel.
__ADS_1
" Eeee itu. Iya, aku sedang tidak enak badan saja," jawabnya sedikit berbohong. Padahal dia sedang panas dingin karena gugup.
" Oh begitu?. Wahhh, kau ini bang Alex, sudah tau wanita mu ini sakit, kenapa malah kau tinggal?" ucap Septian berlagak memarahi Alex.
" Heyy mana ku tahu kalau Angela sedang sakit, saat ku tinggal tadi dia baik-baik saja."
" Benarkan?" ucap Alex lagi seakan meminta pembenaran kepada Angela.
" I-iya."
Memang benar adanya, Angela bisa tiba-tiba sakit jika berdekatan dengan mereka secara bersamaan seperti ini, apa lagi dalam versi lengkap.
Untuk Angela yang dulu mungkin tidak masalah jika berdekatan dengan mereka, karena dia sudah terbiasa. Tapi untuk Angela yang versi Denisa seperti ini, tidak akan kuat.
" Huuu, selalu saja mencari pembenaran," ejek Ansel. Lalu Ansel dan Septian pun menertawakan Alex.
Angela senang, karena ia bisa melihat mereka secara langsung seperti ini. Mereka begitu nyata tanpa terhalang layar sentuh lagi. Tawa dan candaan mereka begitu indah jika dilihat langsung.
" Sudah kakak ipar, nanti kalau bang Alex sikapnya masih dingin seperti itu, bilang saja padaku, biar kucari kan yang baru saja untukmu," celetuk Ansel, dan itu membuat Alex kesal dan memukul Ansel.
" Argh, kau ini memang suka main kekerasan ya bang," kata Ansel. Ia tahu bahwa Alex tidak benar-benar memukulnya. Dia hanya mencoba bercanda meski dengan wajah datarnya.
" Eeee sudah sudah!!" Angela pun memisahkan Ansel dan Alex agar tidak berkelanjutan.
" Kalian mau istirahat dulu atau mau langsung makan?" 5anya Angela lagi.
" Iya, aku juga mau bersih-bersih diri dulu," timpal Ansel.
" Oh, ya sudah kalau begitu. Kalian istirahat dulu saja, sembari menunggu makanannya selesai di masak," ucap Angela.
Angela pun pamit dan mengatakan bahwa ia ingin masak untuk mereka.
Sontak saja semuanya terperangah tak percaya, terutama Ansel dan Septian yang memang mengetahui bahwa Angela tidak suka memasak, lebih tepatnya tidak bisa.
Kalau untuk Alex, ia sudah mengetahui perubahan Angela beberapa bulan ini, bahkan ia juga pernah merasakan masakan Angela.
" Kita tidak salah dengar kakak ipar ingin memasak untuk kita?" tanya Septian ragu-ragu, sebab ia takut Angela merasa tersinggung dengan pertanyaanya.
Dan ketakutan Septian ternyata salah. Angela sama sekali tak tersinggung, ia malah menyunggingkan senyumnya yang paling manis untuk mereka.
" Iya. Kalian tidak usah khawatir, saya pernah belajar memasak kok. Jadi saya jamin rasanya akan lumayan," ucap Angela.
Mereka pun mengangguk dengan ragu-ragu.
" Kau yakin ingin memasak? tadi kau bilang, kau sedang sakit," tutur Alex.
__ADS_1
" Yakin kak. Lagi pula rasanya sudah enakan kok," jawab Angela. Alex hanya mengangguk, yang artinya dia pun tak masalah.
" Kak, boleh aku bantu? Kebetulan aku juga suka memasak, tapi aku tidak bisa. Jadi aku ingin belajar dengan mu, apakah boleh?" ucap Nanci.
" Boleh. Tapi aku bukan mengajarimu, tapi kita sama-sama belajar ya," jawab Angela.
Ia senang karena akhirnya dia memiliki Tan baru seperti Nanci. Dia pikir, para istri sahabat suaminya tersebut tidak ramah, ternyata mereka begitu baik dan ramah kepada Angela.
" Emmm aku minta maaf ya, karena aku tidak bisa ikut. Aku harus memandikan Jeje dan menidurkannya," ucap Natasya sambil melirik kearah anaknya yang ternyata sudah menguap terus sedari tadi. Pantas saja bocah itu diam saja dan tidak seperti waktu di bandara tadi yang selalu mengoceh.
" Tidak apa-apa, kau tidurkan lah anak mu dulu. Kami bisa menanganinya," jawab Angela sambil tersenyum.
" Terimakasih kak."
Angela dan Nanci pun mulai memasak di dapur, serta beberapa asisten rumah tangga yang ikut membantu mereka.
" Kak Angela, kakak rencananya mau masak apa?" tanya Nanci ketika mereka telah berada di dapur.
" Rencana aku mau masak sup ayam, rendang daging sapi, sambal balado ikan sama capcay, gimana?"
" Wahhh itu semua kesukaanku kak. Aku bisa sambil belajar kan?"
" Pasti, kita sama-sama belajar ya." Nanci mengangguk senang. Akhirnya ia bisa belajar memasak juga seperti yang ia inginkan selama ini.
Angela dengan cekatan mengolah semua bahan masakan yang ingin ia masak. Begitupun Nanci yang tak segan bertanya jika ada yang ia tidak mengerti tentang memasak.
Sangking cekatannya Angela memasak, hingga para asisten rumah tangga saja tak kebagian memegang bumbu dapur. Semua ia kerjakan sendiri sambil di bantu Nanci.
Setelah semua masakannya selesai di masak, para asisten rumah tangga pun menatanya di meja makan.
Semua berkumpul untuk makan malam kecuali Jeje yang memang sudah tertidur.
" Wah, sepertinya aromanya nikmat sekali," ujar Septian, lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan.
" Benar kata mu Tian, jika masakan asisten rumah tangga bang Alex, baunya biasa saja. Apa kalian merekrut pembantu baru?" tanya Ansel kepada Alex dan Angela. Ia menatap Angela dan Alex secara bergantian.
" Tidak," jawab Alex sesingkat mungkin sambil mulai menyendok nasi dan lauk pauknya kedalam piring.
" Siapa bilang yang masak ini asisten rumah tangga, ini kakak ipar yang masak semuanya," ujar Nanci.
" Benarkah? semuanya?" tanya Ansel yang nampak terkejut. Nanci lalu mengangguk, namun Angela hanya tersenyum malu.
" Sudah, jangan banyak bertanya, makan saja!" ucap Alex yang sudah mulai menyuap nasinya.
Ansel dan Septian pun mulai makan, begitupun Natasya dan Nanci yang juga ikut mencicipi masakan Angela.
__ADS_1
Tak di sangka semuanya terbelalak dan mengacungkan jempol kearah Angela tanpa komentar apa-apa, lalu menghabiskan makanannya dengan lahap.