Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Mengetahui Masa Lalu


__ADS_3

Episode dua puluh sembilan (29)


Baru saja Alex turun dari mobilnya, tiba-tiba Angela mengejarnya dari belakang.


Ternyata setelah kepergian Alex, Angela menyusulnya menggunakan taksi. Sedangkan Adrian ia suruh pulang duluan.


" Alex tunggu, dengarkan dulu penjelasan ku!"


Alex pun lantas menghentikan langkahnya tanpa menoleh pada Angela.


" Kau mengulanginya, Angela," ucapnya dengan nada datar dan terdengar dingin.


" Tadi itu aku,,,,,,,," Angela sempat bingung mau menjawab apa, tapi Alex yang melanjutkannya.


" Kau mau bilang kalau kau tidak sengaja bertemu dengannya? lalu dia hanya mengajakmu makan? hanya itu dan tidak lebih. Iya kan? kau pasti ingin mengatakan itu, benar ?" Alex seolah mampu menebak apa yang ingin Angela katakan.


Angela terdiam. Ia seakan tak berkutik dengan apa yang dikatakan Alex padanya.


Memang itu yang ingin Angela katakan. Jika Alex bisa menebaknya, lalu dia harus beralasan apa lagi?


" Kenapa? benar yang ku katakan?" Alex lantas menyeringai.


" Aku yakin kau tidak akan pernah bisa berubah, apalagi itu menyangkut tentang teman masa kecil mu itu."


Alex kembali melanjutkan langkahnya, tanpa memperdulikan Angela yang berdiri mematung.


" Semua ini karena kau, Alex!!" teriak Angela tiba-tiba, membuat langkah Alex kembali terhenti.


" Kau yang selalu bilang padaku, bahwa aku adalah satu-satunya, bahwa kau sangat mencintaiku. Tapi aku tau, semua itu hanya bohong!!"


Terasa hancur hati Angela ketika kalimat itu keluar dari mulutnya. Sudah lama ia mengetahui itu, tapi ia hanya bisa memendamnya karena ia sangat takut kehilangan Alex.


Sedangkan Alex hanya bisa tertunduk dengan rasa bersalah yang begitu besar terhadap Angela.


Sudah bertahun-tahun semenjak mereka menjalin hubungan, Alex selalu menyimpan rapat tentang masa lalunya kepada siapapun, terkecuali para sahabatnya yang memang sudah mengetahuinya dari awal.


Alex menarik nafasnya yang terasa berat, lalu menghembusnya secara perlahan.


" Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Alex.


Angela mendongak, menahan air matanya yang akan tumpah.


" Aku benar kan? meskipun aku tidak tahu siapa wanita yang telah mengisi relung hatimu lebih dulu itu, tapi aku tau, kau tidak bisa melupakannya hingga saat ini," ucapnya sambil tersenyum getir.


Alex terdiam seribu bahasa. Tak ada kata yang mampu ia ucapkan sebagai alasan, karena semua yang di katakan oleh Angela, benar.


" Lalu selama ini, aku kau anggap apa?"


Suaranya serak karena menahan sesuatu yang akan tumpah. Angela tak mampu lagi mencegah air matanya untuk tetap bersembunyi di kelopak matanya.

__ADS_1


Alex tetap tak bergeming. Hanya matanya saja yang mulai berkaca-kaca karena ikut merasa sesak atas pertanyaan Angela.


Memang benar hatinya sudah terpaut oleh seseorang di masa lalu, namun Angela juga sudah menjadi bagian dari hidupnya saat ini. Alex menyayangi Angela layaknya seorang kekasih. Tentu hatinya juga akan hancur jika melihat air mata yang jatuh di pipi Angela, apa lagi itu karena dirinya.


Awalnya Alex memang marah, bahkan hampir membenci Angela karena ia mengetahui hubungan antara Angela dan Adrian, namun seketika perasaannya terbalik setelah mendengar cerita Angela. Bagaimanapun juga, luka yang Angela rasakan saat ini, di sebabkan karenanya.


" Kau jahat!! bisa-bisanya aku hanya kau jadikan sebagai pelarian mu. Mengapa sejak dulu tidak kau kejar saja dia, hah? jika kau katakan sejak awal, aku yang akan mundur. Aku bukan wanita yang tak tahu diri karena memaksakan kehendak ku sendiri." Angela mengatakannya dengan amarah yang menggebu-gebu.


Namun seketika suaranya terdengar pilu. Semakin membuat Alex tak tega melihatnya.


" Aku bo*oh,,,,,,,,! aku bagai wanita yang tak punya harga diri. Miris!!" ejeknya pada diri sendiri.


Tubuhnya lunglai, ia hampir saja jatuh dan tersungkur ke tanah jika Alex tidak menahan tubuhnya dan memeluknya begitu erat sambil terisak.


Tatapan matanya kosong, jiwanya seakan tak berga*rah, Angela bahkan tak membalas pelukan Alex padanya.


Hancur sehancur hancurnya, bagaikan butiran debu yang di terpa angin kencang. Berserakan tanpa arah.


Ansel, Septian, Natasya, Nanci dan semua penghuni rumah berhamburan keluar karena mendengar kegaduhan.


" Maaf, " ucap Alex di sela isak nya sambil memeluk tubuh Angela yang mulai lunglai.


" Ada apa ini?" tanya Ansel.


" Kakak ipar kenapa bang?" lanjut Septian.


Tak lama setelah Septian bertanya seperti itu, Angela tiba-tiba pingsan.


" Bawa dia ke rumah sakit!!" perintah Septian kepada seluruh asisten.


" Jangan! bawa dia ke kamar saja, lalu panggilkan dokter! dia tidak apa-apa, hanya sedang kelelahan saja," ucap Alex .


Semua patuh dan membawa Angela ke dalam kamarnya. Sedangkan Ansel sibuk menghubungi Dokter pribadi mereka.


Setelah dokter datang, Angela langsung di periksa. Dan saat itu juga kebetulan Angela pun mulai siuman.


" Bagaimana Dok?" tanya Alex setelah dokter selesai memeriksa Angela.


" Nona Angela hanya syok saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"


Alex menganguk. Setelah sang dokter memberikan resep obat, ia pun pamit pulang.


Setelah Angela sadar, tatapan matanya masih terlihat kosong. Ia pun membuang muka ke arah lain, seakan enggan bertatapan dengan Alex.


" Ada apa sebenarnya? apa yang kau lakukan, sehingga membuat Angela syok?" tuding Ansel dengan wajah serius.


" Hanya masalah kecil," jawab Alex.


Ansel menyeringai.

__ADS_1


" Masalah kecil. Apa masalah sekecil itu bisa membuat orang syok?"


" Aku,,,,,,,,,,!" Alex tak tahu harus menjelaskan bagaimana. Ia seakan kehabisan kata-kata.


Tiba-tiba saja Ansel mencengkeram kerah baju Alex dengan kasar. Matanya memancarkan kemarahan yang begitu besar.


" Aku tau dia terluka karena sudah tau masa lalu mu kan?" teriak Ansel dengan marah.


Septian dan yang lainnya berusaha untuk menenangkan Ansel yang sepertinya sudah tidak terkendali lagi amarahnya.


Sedangkan Angela tak bergeming sedikitpun, bahkan matanya tak berkedip dan tak perduli dengan perkelahian itu.


" Cukup bang! tahan emosimu, pikirkan kakak ipar, dia sedang sakit," cegah Septian, berusaha menahan Ansel agar tidak memukul Alex.


Ansel pun menurut. Ia melepaskan cengkeramannya dan mengerang untuk melampiaskan emosinya.


" Arghhhhh!!"


Sedangkan Alex memilih meninggalkan apartemennya tanpa sepatah katapun ia ucapkan. Alex segera mengambil kunci mobilnya dan pergi entah kemana, meninggalkan Ansel yang masih di kuasai emosi dan Angela yang masih terbaring lemah.


" Nis, pelan-pelan makannya! gorengannya masih banyak, jangan khawatir habis!"


Renata menasehati Denisa yang memakan dua puluh gorengan dengan tergesa-gesa. Dia memesan gorengan tersebut dan memakannya sendirian tanpa membaginya kepada kedua temannya. Denisa sudah sangat lama tidak memakan makanan tersebut hingga ia rasanya ingin menghabiskan semua gorengan yang ada di kantin.


Sangking asyiknya makan, Denisa sampai tak sadar bahwa ia sedang di perhatikan oleh seseorang.


Bahkan ia tidak mendengar para siswa-siswi, khususnya para siswi yang berteriak kagum kepada orang yang sedang memperhatikan Denisa.


Suara bising dan teriakan itu seolah tak mengganggu kegiatan makanya.


" Nis Nis!!"


Renata menoel- noel lengan Denisa, mencoba untuk memberitahunya bahwa ada seorang pria tampan yang sedang memperhatikannya tepat di depan Denisa.


Pria itu bertopang dagu sambil tersenyum memperhatikan Denisa.


" Nisa!!"


Renata kembali mencoba memberitahu Denisa, dan kali ini ia mengguncang tubuh Denisa, berharap Denisa menyadarinya.


" Apa sih? ganggu saja kau ini," ucap Denisa kesal sambil terus mengunyah gorengannya dengan sebuah cabe.


" DENISA!!!"


Renata yang kesal karena tak di gubris oleh Denisa pun berteriak dengan kencang, dan itu membuat Denisa sendiri juga merasa kesal karena di ganggu terus menerus oleh sahabatnya.


Alhasil Denisa pun menatap ke arah Renata berniat untuk memarahinya, namun ketika ia mengangkat kepalanya, pandangannya dan pria yang sedang memperhatikannya tadi bertemu.


Angela terkejut hingga membuatnya terpaku dan saling pandang. Ia juga tanpa sadar telah membuka mulutnya yang masih penuh dengan gorengan yang ia makan tadi.

__ADS_1


" K-k,,,,,,,,,,,,,,!!!


__ADS_2