Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Episode tiga puluh lima (35)


" Aduh,,,,,, berat sekali sih laki-laki ini."


Dua wanita yang bertemu Alex di bar tadi, membawa Alex keluar dari bar tersebut atas perintah Angela. Sedangkan Angela sendiri sudah menunggu di luar bar.


" Boba!!"


Sepanjang jalan, Alex selalu menyebutkan nama Boba.


" Duh,,,,, siapa lagi nih, Boba?. Kamu sih Lis, coba tadi kamu tidak menelpon pacarnya. Kan aku bisa menjadi istrinya. Kamu tenang saja, nanti jika aku sudah menjadi istri seorang Alexandra Darbara, aku pasti tidak akan lupa padamu. Tapi kamu malah mengembalikannya kepada pacarnya itu," Kania, teman Lisa tak henti-hentinya menggerutu kepada temannya itu.


" Diam!! kau mau uang kan?" tanya Lisa. Kania lantas mengangguk.


" Maka, diam lah!!"


Tak lama sampailah mereka di tempat Angela menunggu. Alex tak henti-hentinya terus saja meracau, menyebutkan nama Boba.


Lisa dan Kania langsung memberikan Alex yang masih setengah sadar tersebut kepada Angela. Angela pun mengambil alih tubuh lunglai tersebut dan langsung memasukkannya kedalam mobil.


" Ini untuk kalian." Angela memberikan sebuah amplop tebal kepada dua gadis itu.


Lisa segera mengambilnya dan tak lupa menghitung jumlahnya.


" Pas. Oke, senang berbisnis dengan anda. Kapan-kapan, kalau ada pekerjaan yang seperti ini lagi, tolong hubungi kami ya!"


Angela hanya mengangguk datar tanpa sepatah katapun, lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan nya.


Beberapa menit berkendara, mobil Angela berhenti di sebuah bangunan besar yang bertuliskan HOTEL MERKEL.


Tampak para penjaga hotel tersebut menunduk hormat pada mobil Angela, seakan sang pemilik adalah orang terhormat di mata mereka.


Dengan sigap, mereka membukakan pintu mobil Angela.


" Selamat datang Nona Angela," sambut salah satu penjaga yang berprofesi sebagai ketua.


" Bawa dia ke kamar ku!" Perintah Angela.

__ADS_1


" Baik Nona."


Angela berjalan lebih dulu, sedangkan dua penjaga yang membawa Alex mengikutinya dari belakang.


Setelah membaringkan Alex di tempat tidur, dua penjaga itu pun undur diri. Angela segera mengunci pintu kamar hotelnya dan berjalan menuju Alex yang masih setengah sadar.


Angela berbaring di samping Alex dengan posisi miring menghadap Alex sambil membingkai wajah Alex.


"Boba!" lagi, Alex menyebutkan nama Boba. Tapi hal itu tak membuat Angela cemburu ataupun marah.


" Kau tenang saja sayang! sebentar lagi kau akan melupakan dia, dan kita akan segera bersatu," ucapnya sambil tersenyum miring. Tangannya masih aktif membingkai wajah Alex dengan lembut.


" Kau tidak akan lagi menolak ku seperti dulu, karena sebentar lagi, aku akan menjadi satu-satunya di hidupmu, dan tentunya bersama anak kita."


Angela mengambil tangan Alex dan di letakkan nya di atas perutnya.


Sebenarnya selama menjalin hubungan, Alex sama sekali tak pernah dan tak mau meny*ntuh Angela, meskipun Angela sudah berusaha menjadi wanita mur*han di depannya, Alex sama sekali tak terg*da. Alex selalu menghentikan aktivitas pa*as nya di tengah-tengah "per*ainan" dengan berbagai alasan.


Tiba-tiba tangan Angela di cekal oleh Alex.


" Boba!" ucapnya sambil menci*m tangan Angela.


Angela membiarkan saja Alex menci*mi tangannya dengan ga*as, hingga beralih dan merambah pada bagian bi*ir.


Alex nampak sangat meni*mati daging kenyal di hadapannya itu, tiba-tiba saja ia seakan tersadar dan langsung mendorong tubuh Angela hingga terlentang. Alex pun langsung turun dari ranjang dengan tubuh yang masih sempoyongan.


" Siapa kau? kau bukan Boba ku," tunjuk nya pada Angela dengan mata setengah terbuka.


Angela lalu berdiri dan mendekat pada Alex, berusaha untuk mer*yunya.


" Aku ini Denisa, Boba mu," ucapnya sambil bergelayut manja di d*da Alex, namun Alex berusaha menghindar.


" Tidak, kau bukan Boba ku," ucapnya sambil mendorong tubuh Angela.


Angela seperti kehabisan akal untuk mendekati Alex. Ia nampak kesal dan marah.


" Iya, aku bukan Denisa. Mana mungkin aku yang cantik begini adalah Denisa. Denisa itu jelek, gendut. Tidak seperti diriku ini yang cantik." ucap Angela dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


" Aku sudah muak, Alex. Yang ada di pikiranmu hanya Denisa Denisa Denisa saja. Apa istimewanya dia sih, sampai kamu begitu menginginkannya? aku yang selalu ada untukmu setiap hari, tapi kenapa Denisa,,,,, terus yang kau ingat? aku sudah muak, Alex. Saat mabuk begini pun hanya Denisa yang ada di pikiranmu. Kenapa Alex,,,,,,, kenapa? bahkan saat kau mabuk berat saja, kau tak mau meny**tuhku. Aku ingin di se*tuh, Alex. Aku ingin seperti wanita lain di luaran sana yang merasakan cinta dengan pasangannya. Aku tak ingin hanya menjadi patung pajangan di rumahmu. Kita ini satu rumah, tapi sampai sekarang pun kau tak pernah tergoda oleh ku. Apa kurangnya aku, Alex?"


Luruh sudah air mata Angela, bersamaan dengan tubuhnya yang juga merosot ke bawah. Ia membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya dan menumpahkan segala rasa kesalnya di sana.


Tak lama setelah itu, Alex juga jatuh tak sadarkan diri akibat efek mabuknya.


Angela membuka tangannya yang menutupi wajah, sekedar untuk memastikan apa yang terjadi.


" Alex?"


Angela terkejut karena melihat tubuh Alex yang lunglai, tergeletak di atas lantai. Dia segera mendekati tubuh itu dan membaringkannya kembali ke atas kasur.


Ia juga duduk di samping Alex sambil memandangi wajah pria yang sudah menjadi teman hidupnya selama tiga tahun ini.


Tiba-tiba Angela tersenyum penuh arti. Ia juga mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, lalu membaringkan tubuhnya tepat di samping Alex.


Tak lupa ia juga memb*ka sedikit pakaian Alex dan juga dirinya.


Ia mengambil foto dirinya dan Alex di bagian yang terbu*a saja, agar lebih terlihat seperti orang yang selesai "mela*ukan".


Setelah selesai, ia pun mengirim nya pada seseorang. Ia tersenyum puas setelah melakukan itu. Meskipun tak bisa mendapatkan Alex seutuhnya, setidaknya ia bisa menyakiti orang yang Alex sayang dengan cara yang sangat halus, namun menyakitkan.


Tak hanya itu, Angela juga merekam suaranya yang di buat semer*sahkan mungkin dan mengirimkannya pada orang yang sama.


Denisa tak dapat memejamkan matanya. Padahal hari sudah sangat larut. Dia memilih menyecroll ponselnya dan sesekali juga main game.


Tiba-tiba dua notifikasi pesan dari aplikasi hijau pun masuk. Membuat Denisa harus menghentikan kegiatannya dan memeriksa pesan tersebut.


Detak jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sesaat setelah membuka isi dari pesan tersebut. Terasa sesak untuk dirasakan ketika melihat foto dan mendengar rekaman suara yang dikirim langsung dari kontak nama Angela itu.


Dunianya seakan berputar, lutut pun terasa lemas seketika meski saat ini ia tidak sedang berdiri. Denisa sampai tak sadar ponsel yang masih berada di genggamannya terlepas.


" Kenapa sakit ya Tuhan?" ucapnya sambil memegangi da*anya.


" Bukankah mereka sudah biasa mela*ukannya. Kuat kuat Denisa!" ucapnya pada diri sendiri.


Denisa mendongak agar air matanya berhenti mengalir. Mengusapnya, lalu kembali fokus pada rekaman dan foto yang di kirim untuknya itu. Dia segera menghapus kedua kiriman tersebut dan menaruh ponselnya ke atas nakas.

__ADS_1


Dia pikir, foto dan rekaman tersebut juga tak ada hubungannya dengan dirinya, mengapa dia harus memikirkannya berlebihan.


Denisa juga ingat pesan ibunya dan Renata, bahwa dirinya dan Alex itu bagaikan langit dan bumi. Dia hanya perlu di pandang, namun tak mungkin dimiliki. Toh, dirinya dan Alex tidak ada hubungan apa-apa, kenapa dia harus merasa cemburu dengan Angela yang sudah jelas sebagai kekasih dari Alex.


__ADS_2