
Episode tujuh belas (17)
Dan ternyata bukan hanya Septian dan Nanci yang menunggunya, namun Ansel dan beberapa asisten rumah tangga yang siap ikut untuk membantu Nanci jika di perlukan nanti. Namun sayangnya Natasya tidak bisa ikut karena Jeje sedang tidur.
" Apa semuanya sudah di persiapkan?" tanya Alex dengan nafas yang terengah-engah karena berlarian.
" Sudah bang," jawab Septian.
" Aduhhh sayang, sakitttt," rintih Nanci kepada Septian, yang kini di papah oleh Septian sendiri.
" Iya, sabar ya sayang. Kita akan segera ke rumah sakit," ucap Septian sambil membantu mengusap perut sang istri agar sakitnya bisa berkurang.
" Kita pergi sekarang!!" ucap Alex sambil menuju mobilnya.
" Ikut!!" teriak Angela sambil berlarian.
" Angela?!" ucap Alex.
" Boleh ikut kan?" ulang Angela dengan nafas tersengal.
" Untuk apa?" tanya Alex.
" Menemani Nanci lah, memang buat apa lagi?!"
" Tidak perlu! kau di rumah saja. Lagipula, Natasya dan Jeje kan hanya berdua, kau temani mereka saja!"
" Yahhh," ucap Angela melemah.
Angela pun menurut, ia memutar tubuhnya dan hendak masuk kembali ke dalam rumah, namun Nanci manggilnya dengan suara lemahnya.
" Kak Angela!!" sontak saja Angela menoleh.
" Kakak ikut ya, aku butuh kakak," ucapnya.
Angela pun tersenyum lebar mendengar permintaan Nanci, namun senyumnya kembali redup ketika mengingat bahwa Alex tak mengizinkannya.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya bak lampu neon. Ia pun menatap ke arah Alex dengan memasang wajah memelas dan di buat seimut mungkin.
" Boleh ya?!"
Benar saja, akhirnya Alex pun luluh dan akhirnya mengizinkan Angela untuk ikut serta.
Sepanjang perjalanan, Angela lah yang selalu berada di samping Nanci, itupun atas kehendak Nanci sendiri. Kedekatan mereka sudah seperti kakak dan adik saja.
Setelah sampai di rumah sakit, Nanci langsung di tangani di ruang UGD.
Sekitar beberapa menit mereka menunggu dokter yang menangani Nanci tersebut keluar, dan akhirnya orang yang ditunggu-tunggu pun keluar.
Septian yang sedari tadi tidak bisa diam karena khawatir pun langsung menghampiri dokter, ketika dokter tersebut keluar dari ruang UGD.
" Bagaimana keadaan Nanci dokter?" tanya Septian dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
" Tuan Septian tidak usah khawatir, tidak terjadi apa-apa kepada Nona Nanci, dia baik-baik saja," jelas dokter.
" Syukurlah," ucap semuanya.
" Lalu bagaimana dengan bayi kami Dok?" tanya Septian lagi. Dokter itu lantas tersenyum.
" Ibu dan bayinya tidak apa-apa. Tadi itu hanya pendarahan kecil saja, yang biasa terjadi pada kehamilan muda yang terlalu aktif. Jadi jangan biarkan Nona Nanci kelelahan ya tuan!" pesan dokter itu.
Septian lantas mengangguk senang karena ternyata tak terjadi apa-apa terhadap istri dan anaknya.
Alex mendekati Septian dan menepuk pundaknya beberapa kali, karena merasa bangga kepada sahabat yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri itu.
" Kau telah menjadi suami sekaligus ayah yang siaga. Kerja bagus Septian," ucap Alex memuji Septian karena itu memang pantas untuknya.
Setelah itu, mereka pun menjenguk Nanci di kamar rawatnya.
" Bagaimana perasaanmu sekarang Nan, apa masih ada yang sakit,?" tanya Angela.
" Tidak kak, sekarang aku merasa lebih baik," jawab Nanci.
" Syukurlah kalau begitu."
" Oh iya bang, jika kalian merasa lelah, tidak apa-apa jika kalian ingin pulang duluan!" usul Septian.
" Hooooaaaammm. Iya, aku sudah mengantuk sekali, rasanya ingin tidur kembali," kata Ansel.
" Baiklah, kalau begitu kami pulang lebih dulu. Kau tidak apa-apa kan kami tinggal?" tanya Alex.
" Jadi tidak apa-apa nih kita pulang sekarang?" tanya Ansel.
" Iya, tenang saja!"
" Baiklah, kita pulang sekarang saja!" timpal Alex.
Lalu semuanya pun ikut pulang dan hanya tinggal Septian yang menunggui Nanci.
Namun saat mereka sedang berjalan di koridor, Angela melihat seorang wanita paruh baya yang sepertinya dia kenal. Wanita itu nampak memakai seragam seorang OG( office Girl).
" Ibu!?" ucapnya.
( Mau apa ibu kesini? kenapa malam-malam begini ke rumah sakit? pakai pakaian OG lagi) pikir Angela.
" Ibu, ibu siapa yang kau maksud?" tanya Alex yang kebetulan mendengar gumaman Angela.
" Hah, apa maksud kakak?" tanya Angela yang berusaha mengelak.
" Tadi aku mendengar mu menyebut ibu. Ibu siapa yang kau maksud itu?"
" Oooh itu. Itu,,,,,, ibunya Denisa," jawabnya.
" Denisa?" beo Alex.
__ADS_1
" Iya, Denisa. Kakak ingat kan, waktu itu dia pernah datang ke apartemen?"
" Ingat," ucapnya pula dengan nada datar.
" Sudah lama kau berteman dengannya?" tanyanya lagi.
" Baru beberapa bulan terakhir ini kok kak. Memangnya kenapa?"
" Tidak apa-apa. Hanya saja kau nampak begitu akrab dengannya. Apakah kau benar-benar sudah melupakan sahabat kecilmu itu, dan menggantinya dengan Denisa?"
" Maksud kakak apa, aku tidak mengerti?"
" Sudahlah tidak usah di bahas. Kita lanjutkan lagi perjalanan!" kata Alex yang sebenarnya tadi mereka sempat berhenti karena melihat ibu Denisa. Sedangkan Ansel sudah lebih dulu pulang menggunakan motor.
" Emmmm. Kakak duluan saja ke mobil, aku mau ke toilet sebentar," kaya Angela yang sebenarnya hanyalah alasan saja.
Sebenarnya ia hanya ingin mengikuti Lita yang berjalan kearah taman rumah sakit itu, entah apa yang dia lakukan di sana. Angela pun ingin memastikannya.
" Ya sudah. Tapi ingat!! jangan lama-lama!"
Angela pun mengangguk senang, lalu pergi ke arah toilet yang kebetulan satu arah dengan tempat yang ia tuju.
Di taman tersebut, ia melihat Lita bertemu dengan seorang pria yang membawa sebuah botol dengan jalan yang agak sempoyongan, dan ternyata itu ayahnya sendiri, alias ayah Denisa yang sepertinya sedang mabuk berat.
Ia ingin langsung menemui ayah dan ibunya tersebut, namun ia urungkan karena ia masih ingin memantau dari jauh, sebenarnya mau apa kedua orang tuanya itu ada di sini.
" Sudah ada belum?" tanya Doni dengan nada kasar.
" Maaf Mas, adanya cuma segini. Itu pun aku pinjam dulu, dan akan di bayar nanti setelah gajian," kata Lita sambil memberikan tiga lembar uang seratus ribuan kepada Doni.
Angela mulai geram, ternyata ayahnya kembali berulah lagi.
Plakkk,,,,,,
" Uang segini cukup untuk apa? kamu sengaja kan memberi aku uang sedikit, dan sisanya kamu yang pegang?" Bentak Doni.
" T-tidak Mas, uangnya memang segitu, karena aku belum gajian," ucapnya sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan Doni.
Sedangkan di balik persembunyiannya, Angela sedang menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya erat.
Ingin rasanya ia menghajar laki-laki yang telah menghadirkan dirinya di dunia tersebut, namun ia pun tak mau membuat nama baik Angela jadi rusak karenanya nanti.
" Arghhhh. Dasar tidak berguna!!" umpatnya sambil melemparkan botol yang ia pegang kelantai hingga pecah dan berserakan. Dan itu membuat Lita terkesiap.
Angela benar-benar tak tahan lagi melihat tingkah Doni yang semakin menjadi, ia pun segera keluar dari persembunyiannya, dan menghampiri mereka.
" Apa yang kalian lakukan di sini malam-malam begini?" tanya Angela. Sontak saja kedua orang tuanya pun menoleh ke arahnya.
" Cih. Siapa kau berani ikut campur?" ucap Doni dengan kasar.
" Aku bukan siapa-siapa. Aku kebetulan lewat saja, dan kebetulan mendengar pertengkaran kalian," ucap Angela sambil melirik ke arah ibunya.
__ADS_1
Padahal saat ini ia ingin sekali mendekat ke arah ibunya dan memeluk wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik tersebut, namun siapa lah dia saat ini? dia bukan Denisa, anak yang selalu ada untuk ibunya seperti sebelumnya, ia hanyalah Angela. Orang asing yang mendambakan pelukan sang ibu seperti dulu saat ia menjadi Denisa.