
Episode dua puluh empat (24)
" Kalian? kalian siapa maksudnya?" tanya Angela berpura-pura tidak tahu.
" Ya siapa lagi kalau bukan kakak ipar dan bang Alex? memangnya kalian bertengkar?" lanjut Ansel.
" T-tidak, siapa yang bertengkar? kami sedang baik-baik saja kok," sanggah Angela.
" Lalu kenapa kalian pulang sendiri-sendiri? dan kenapa juga bang Alex pulang dengan wajah ditekuk begitu? tidak mungkin kan kalian sedang beradu akting?"
" Ya, kalau akting memangnya kenapa?" ucap Angela membenarkan.
" Sudahlah kakak ipar, jangan menutup-nutupi apapun dari kami! kami ini sudah seperti saudara, dan kami juga sudah lama bersama. Jadi kami tahu karakter dan sifat masing-masing."
" Kalian sedang bertengkar kan?" tuding Ansel lagi.
Angela tertunduk sambil tersenyum getir.
" Ceritanya panjang. Nanti, kalian juga akan tahu yang sebenarnya," jawab Angela.
Ia lantas menatap ke arah Natasya sambil tersenyum.
" Natasya, saya minta maaf ya. Semalam saya terlalu cepat emosi, seharusnya saya bisa lebih sabar dan menjelaskannya secara perlahan, tapi saya malah marah padamu. Ternyata saya tidak cukup dewasa untuk itu," tuturnya.
Tak di sangka, Natasya membalas senyuman itu dan malah mendekati Angela.
" Aku juga minta maaf ya kak, aku juga salah karena marah-marah tak jelas kepada kak Angela."
Keduanya punn saling berpelukan dan saling meminta maaf.
" Nah, begitu kan enak dilihatnya. Tidak seperti tadi yang mirip kuburan, sepi," celetuk Ansel.
Angela menatap bergantian ke arah Ansel dan Natasya, seolah meminta penjelasan pada Natasya tentang dari mana Ansel tahu bahwa sebelumnya mereka ada masalah.
" Kami yang memberi tahu bang Ansel," jawab Septian, dan diangguki oleh Nanci.
" Lagi pula kita kan saudara, mana baik menyembunyikan masalah dari saudara sendiri, iya tidak Nan?" ucap Septian lagi, dan kali ini meminta pembenaran kepada istrinya.
" Benar sekali sayang."
" Dia bukan saudara kita." Tiba-tiba Alex menyahuti percakapan mereka dari dalam kamar.
Sontak semuanya terdiam dan saling pandang dengan wajah keheranan. Namun Angela nampak menelan ludahnya, karena tenggorokannya terasa tercekat.
__ADS_1
Matanya mulai berkaca-kaca, tapi sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak tumpah.
" Kak Angela!" panggil Natasya. Ia hanya ingin memastikan bahwa Angela baik-baik saja mendengar ucapan Alex tadi.
Namun, hati siapa yang tidak terluka mendengar ucapan dari orang yang mereka cintai. Begitu halnya dengan Angela, ia mencoba tersenyum, meski terlihat di paksakan.
" Aku, ke kamar dulu ya," izin Angela.
Dia pun lantas pergi ke kamarnya sebelum semuanya mengiyakannya.
Bukan ke kamarnya, Angela malah masuk ke kamar Alex. Jika biasanya dia akan segan dan malu-malu untuk masuk ke dalam kamar Alex, untuk saat ini tak ada lagi perasaan itu. Rasa sakit seolah menghilangkan rasa malunya.
Angela masuk ke kamar Alex dan melihat sekeliling ruangan itu, namun tak nampak keberadaan Alex di sana. Ia pun terus masuk lebih dalam dan mendengar suara dentingan gitar yang di mainkan oleh seseorang. Suara itu begitu indah dan merdu.
Angela pun terus mencari asal suara itu di mainkan, dan dia pun menemukan Alex yang sedang bermain gitar di balkon kamarnya, berbekal secarik kertas dan pulpen serta secangkir teh lemon hangat.
Angela memberanikan diri untuk mendekati Alex yang nampaknya belum mengetahui keberadaannya.
" K-kak Alex!" panggil Angela.
Nampaknya Alex sudah mengetahui siapa yang memanggilnya tersebut. Ia tidak menoleh sama sekali ke arah Angela, namun ia hanya berdehem untuk memberi isyarat bahwa ia mengetahui yang datang adalah Angela.
" Ehemmm. Kenapa kau ada disini, bukankah kau akan pergi meninggalkanku?" ucapnya tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
" Mungkin karena aku bukan Angela yang asli, jadinya aku tidak tahu siapa saja yang dulu dekat dengan ku. Tapi asal kakak tahu saja, Angela sudah menyesali perbuatannya dan dia pun berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Apa kakak masih tidak mau memaafkannya?"
Alex hanya tersenyum smirk tanpa menjawab pertanyaan Angela. Dia lantas berdiri dan mendekat pada Angela.
" Meninggalkanku dengan kata lain, benarkan?"
Setelah mengatakan itu, Alex pun masuk kedalam kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuknya, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya tanpa tersisa.
Angela bingung. Otaknya ngeleg dan masih mencoba mencerna ucapan yang baru saja Alex katakan.
Angela pun menghampiri Alex dan duduk di atas tempat tidur, tepatnya di samping Alex.
" Maksud kakak apa?"
" Sudahlah! tidak usah di pertanyakan lagi, tidak penting," ucap Alex, berbicara tanpa membuka selimutnya.
" Ihhhh kak Alex, kalau berbicara itu buka dong selimutnya! tidak sopan tau."
Angela yang merasa kesal karena di abaikan pun langsung menarik selimut yang digunakan Alex, namun Alex malah mempertahankan selimutnya agar tidak terbuka. Dan terjadilah tarik-menarik antara mereka. Tapi dengan tiba-tiba, Alex menarik selimutnya dengan kuat dan membukanya sebatas leher, otomatis Angela dengan tenaganya yang tak seberapa itu langsung tersungkur dengan posisi wajah dan bibir yang saling beradu.
__ADS_1
Angela membulatkan matanya, terkejut dengan posisinya saat ini. Tapi Alex malah menikmatinya dan langsung mel*mat bibir Angela dengan rakus.
Nampaknya Alex memang sengaja melakukannya. Ia sengaja agar Angela tidak protes padanya jika itu terjadi nanti.
Angela hendak berdiri dan mencoba mendorong tubuh Alex, namun Alex dengan kuat menahan tubuhnya.
Dengan terpaksa, ia pun pasrah dan membiarkan Alex bermain pada bi*irnya.
Sesaat, terdengar Angela melenguh pelan. Ia dibuat melayang oleh permainan yang dibuat oleh Alex, hingga tak sadar, Angela memposisikan tubuhnya agar lebih mendekat pada Alex. Begitu pun Alex, ia semakin menekan tengkuk Angela agar ciu*an mereka semakin dalam.
Namun tak lama kemudian, Alex melepaskan pangutannya lalu menatap Angela dalam.
Tatapannya begitu sendu, dan dari sorot matanya seolah ingin berbicara sesuatu yang begitu dalam tentang perasaan.
" Jangan pergi!!" ucapnya pada Angela. Namun Angela tak memahami itu, keningnya berkerut karena heran.
Setelah itu Alex pun memeluk tubuh Angela tanpa berkata apa-apa lagi.
" Kak!!" panggil Angela. Namun tak ada jawaban dari Alex.
Angela malah mendengar suara dengkuran halus di telinganya.
Ternyata Alex tertidur di pelukan Angela.
Perlahan Angela meletakkan kepala Alex di atas bantal dan tak lupa setelah itu menyelimutinya.
" Senyaman itu ya kak? sampai tertidur dengan pulas sekali," gumam Angela.
Ia pun tersenyum sekilas, lalu mengusap kepala Alex dengan lembut.
" Maafkan aku kak, tapi aku harus pergi," ucapnya lagi.
Lalu setelah itu Angela pun keluar dari kamar Alex.
Saat tengah malam, Angela terjaga. Ia merasa sangat haus, tapi tak mendapati air minum di atas nakas nya, mungkin asisten rumah tangganya lupa menaruhnya di sana.
Angela pun terpaksa bangun untuk mengambil air minum di dapur.
Namun ketika melewati ruangan kerja milik Alex, Angela mendapati Alex yang sedang tidur di meja kerjanya sambil memeluk suatu benda. Karena merasa kasihan melihat Alex yang tertidur tanpa menggunakan selimut, Angela pun berinisiatif untuk mengambil selimut dari kamar Alex dan menyelimutkannya pada Alex. Tapi ia salah fokus dengan benda yang di peluk Alex tersebut.
" Boneka Boba?" gumamnya.
Angela juga melirik pada beberapa barang yang terletak di atas meja, di sana ada beberapa barang yang bermotif serba Boba. Ada Kaling berliontin Boba, dan ada gantungan kunci yang juga bermotif Boba.
__ADS_1
" Kok seperti tidak asing dengan barang-barang ini. Apa jangan-jangan,,,,,,,,??!"