
Episode delapan belas (18)
" Cih, alasan. Kau yang menyuruh dia kesini untuk membantumu kan, supaya aku tidak jadi meminta uang padamu, dan kau terbebas dari ku?" tuding Doni pada Lita.
Dan tentu saja kita menggeleng karena memang ia tidak mengenal orang yang ada di hadapannya sekarang.
" Tidak Mas, aku tidak mengenalnya, bahkan ketemu saja baru kali ini," jawab Lita.
Sungguh, melihat reaksi Lita yang menggeleng saja dia merasa sakit, di tambah Lita mengatakan bahwa ia tidak mengenal dirinya, anaknya sendiri.
Tak ada yang salah dalam hal ini, hanya saja Angela dan Denisa sedang menjalani cobaan yang sudah di tentukan-Nya.
" Halah!! kau ingin menutup-nutupinya dari ku kan?" ucap Doni tak percaya. Dan untuk kedua kalinya kita menggeleng.
" Sudah lah!! Aku tidak perduli, yang penting sekarang uang ini aku ambil, dan sisanya, besok aku kesini lagi untuk mengambilnya," ucap Doni, lalu pergi meninggalkan Angela dan Lita dengan jalan yang masih sempoyongan.
" Ibu tidak apa-apa?" tanya Angela setelah Doni tak nampak lagi keberadaannya.
" Tidak Nak, ibu baik-baik saja," jawab Lita.
" Syukurlah."
" Anak ini siapa ya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" ujar Lita. Lita pun memperhatikan dengan seksama, mana tahu pernah bertemu sebelumnya.
" Saya temannya Denisa Bu, mungkin ibu lupa kalau kita pernah bertemu, jawab Angela sambil tersenyum ramah.
" Oh, iya. Mungkin saja," jawabannya sambil mengangguk-angguk.
" Maaf Bu sebelumnya. Tadi saya lewat dan tidak sengaja mendengar perdebatan ibu dan bapak tadi. Kalau boleh tau, kenapa ya?" tanya Angela yang memberanikan diri untuk bertanya.
" Dia suami ibu. Dia ingin meminta uang kepada ibu untuk membayar hutangnya kepada bandar judi." Tanpa ragu, Lita malah menceritakan tentang suaminya kepada Angela.
" Bandar judi? jadi dia kalah judi, dan hutangnya di tagih, begitu?"
" Benar Nak," jawab Lita sambil tertunduk lesu.
" Eeeeee maaf Bu, saya jadi lancang," ucapnya tak enak hati, lalu menuntun kita untuk duduk di sebuah kursi, di taman itu.
" Iya tidak apa-apa Nak. Ibu malah senang karena punya teman curhat malam-malam begini. Ibu bingung, mau curhat dengan anak ibu, segan. Sebab dia tidak seperti biasanya yang akan bertanya ketika melihat ibu murung. Ibu tidak tahu kenapa dia berubah."
Deghhh
Angela menelan ludahnya dengan kasar setelah mendengar keluhan Lita. Ia pun berusaha untuk tetap tersenyum agar tidak menimbulkan kecurigaan terhadap Lita.
" Mungkin dia juga sedang banyak pikiran Bu," ucap Angela berupaya meyakinkan Lita agar ia tidak curiga.
__ADS_1
" Kau benar, seharusnya aku bisa lebih mengerti dan akan menjadi teman curhatnya bila perlu. Bukan malah minta di perhatikan seperti ini," sesal Lita.
" Tidak apa Bu, dia pasti mengerti," ucapnya sambil memegang pundak ibunya.
Lita menatap sayu pada Angela. Matanya berbinar ketika menatapnya, ia merasa sedang curhat kepada anaknya sendiri. Entah mengapa hatinya pun nyaman saat bersama Angela. Padahal dia pun baru mengenal Angela dan tak tahu asal-usul kehidupan wanita muda tersebut.
" Kalau boleh tau, kenapa malam-malam begini ibu ada di rumah sakit, apakah ada yang sakit?" tanya Angela.
" Tidak ada yang sakit kok Nak."
" Lalu?"
" Ibu bekerja paruh waktu di sini, sebagai office girl, siangnya ibu bekerja di kantor sebagai karyawan," ucapnya.
Terjawab sudah apa yang ingin Angela tahu dari Lita. Ternyata setelah ia tak ada di rumah, kelakuan ayahnya semakin menjadi-jadi, dan ibunya lah yang selalu menjadi korban.
" Kenapa harus menjadi office girl? bukankah jika sudah menjadi karyawan, itu tandanya ibu sudah memiliki ijazah?"
" Karena di sini hanya lowongan itu yang ada. Dan lagi pun, itu bukan jurusan ibu." Angela pun mengangguk.
" Sebenarnya anak ini siapa? namamu siapa Nak?" tanya Lita ditengah-tengah keheningan mereka.
" Nama ku Angela Bu. Aku,,,,,,,"
" Nona Angela!!" teriak sebuah suara yang memanggil nama Angela.
" Aduhhh, mati aku," ucapnya sambil menepuk jidatnya sendiri.
" Dia marah-marah tidak?" tanya Angela kepada bodyguard tersebut.
Bodyguard itu hanya mengangguk dengan muka datar.
" Aduh ibu, sepertinya saya harus kembali sekarang. Saya takut pacar saya mengamuk nanti," ucapnya.
Lalu Angela merogoh sesuatu di dalam tasnya dan memberikannya kepada Lita.
Tentu Lita terkejut, karena yang diberikan oleh Angela adalah uang senilai lima juta.
Uang itu ia dapat dari Alex yang selalu memberinya untuk jajan, shopping dan untuk ke salon, namun ia tidak menggunakannya dan malah menabungnya.
Angela adalah tipe orang yang tidak suka membuang-buang uang untuk hal yang kurang bermanfaat baginya. Ia akan menyimpannya dan menggunakannya nanti untuk hal yang lebih bermanfaat.
" Ini untuk ibu," ucapnya sambil terburu-buru.
" Ini apa Nak? kenapa banyak sekali? ibu tidak,,,,,,," ketika Lita hendak mengembalikannya, namun Angela sudah terlalu jauh untuk dikejar.
__ADS_1
Akan tetapi ia tetap mengucap syukur karena ternyata masih ada orang baik seperti Angela di dunia ini.
" Maaf kak aku terlalu lama ya?" tanya Angela sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena sempat berlari.
" Dari mana kamu? kamu sedang terkena sembelit sampai lama begini di dalam toilet?" kata Alex sambil bersidekap d*da. Sudah seperti detektif yang sedang mengintrogasi saja.
" Emmmm, hehehe. Maaf!" ucapnya sambil nyengir kuda.
" Saya tidak mau tahu, kami harus di hukum karena sudah membuat saya menunggu lama!"
" Hukum? apa hukumannya?"
" Nanti saja setelah sampai di rumah."
" Terus aku hanya apa?"
" Saya tidak mau tahu, kamu harus menidurkan saya malam ini!"
" Hah?!" ucap Angela terkejut.
" Ehemmm." Sedangkan para bodyguard yang mendengarnya menjadi salah faham dan berfikiran yang tidak-tidak dengan ucapan ambigu dari Alex.
Mereka semua pun menahan tawa karenanya.
Sadar dengan ucapannya yang ambigu, Alex pun merasa malu dan menutupnya dengan berdehem.
" Ehemmm."
" Ayo kita pulang sekarang! hari sudah larut malam," ucap Alex. Lalu ia pun berjalan lebih dulu dengan gayanya yang cool untuk menutupi rasa malunya.
" Kak Alex, tunggu!!" kata Angela sambil berlari menyusul Alex.
Setelah berkendara selama satu jam, akhirnya mereka pun sampai di apartemen.
Alex dengan gaya savage nya, langsung turun dan berjalan lebih dulu dan meninggalkan Angela.
" Kak Alex ih, kebiasaan."
Alex yang merasa namanya di sebut pun langsung berhenti dan menoleh. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia lantas menghampiri Angela dan langsung menggendongnya ala bridal style.
" Aaaaaa kak Alex!" teriak Angela yang terkejut, karena Alex secara tiba-tiba menggendongnya.
Namun tanpa di sadari, dengan gaya menggendong seperti itu Angela bisa memandang wajah Alex dengan puas tanpa terhalang oleh apapun.
Ia seakan menikmati pemandangan indah didepan matanya itu tanpa berkedip.
__ADS_1
Tubuhnya yang berkeringat, seakan menyatu dengan kulit putih yang tiada tandingannya itu.
Jakunnya yang turun naik, di tambah lelehan keringat, membuat Alex semakin seksi di mata Angela. Mungkin bukan hanya Angela yang berpendapat seperti itu, tapi wanita yang lain, juga pasti setuju bahwa Alex terlihat begitu sangat tampan dalam kondisi dan situasi apapun. Apa lagi para wanita yang mengaguminya.