
Episode empat puluh (40)
Baru saja masuk, Denisa sudah di suguhkan pemandangan yang begitu indah. Dengan ruangan yang besar dan megah, bak istana. Denisa sampai celingukan karena begitu banyak tamu yang hadir. Bagaimana tidak, mereka semua nampak begitu cantik dan tampan dengan balutan busana mewah yang melekat pada tubuh mereka. Denisa merasa insicure, ia pun beralih memperhatikan tubuh dan pakaiannya yang berbeda jauh dari mereka. Denisa merasa hanya dirinya lah yang berpakaian sederhana seperti itu. Padahal dari rumah ia sudah merasa percaya diri karena pujian dari sang ibu, tapi kembali di hempas kan setelah datang ke pesta ini.
Dengan langkah ragu-ragu, Denisa berjalan menuju kursi tamu yang sudah di sediakan. Ia menatap lirih pada para tamu yang nampaknya sedang memperhatikannya. Entah apa yang ada pada diri Denisa hingga mereka seakan memandang jijik pada dirinya. Denisa sampai memeriksa dan menciumi tubuhnya, kalau-kalau ada bau atau sesuatu yang aneh pada dirinya. Tapi ia tak melihat sesuatu yang aneh itu pada tubuhnya, lalu mengapa semua orang memperhatikannya sedemikian rupa, seolah terlihat membencinya.
Denisa mencoba tak memperdulikan pandangan mereka pada dirinya. Ia terus saja berjalan dan duduk pada sebuah kursi.
Kebetulan acara belum di mulai, kedua mempelai saja belum tiba.
Denisa berdiri hendak mengambil minuman untuk dirinya, lalu duduk kembali sambil menikmati minuman soda yang ia ambil tadi.
Tibalah pada awal acara. Pembawa acara pun mulai membacakan serangkaian acara demi acara. Dan tibalah pada kedatangan kedua mempelai.
Semua orang nampak berdiri di samping karpet merah, memberi jalan untuk kedua mempelai untuk menduduki singgasananya. Begitupun Denisa yang mengikuti apa yang di lakukan orang-orang.
Angela begitu cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih berpayet mewah. Begitupun pun Alex yang begitu tampan dengan stelan jas berwarna cerim, dipadukan dengan bunga kecil dan saputangan di bagian d*da. Mereka terlihat sangat cocok. Para tamu pun nampak bahagia dengan pernikahan mereka. Berbeda halnya jika Angela yang duduk di sana. Mereka pasti akan mencibir, menertawakan, bahkan mungkin melempari Denisa dengan makanan atau minuman yang ada di sana. Untuk yang kesekian kalinya, Denisa merasa insicure, namun ia memilih tak memperdulikannya. Denisa berusaha memasang senyum tulusnya, meskipun begitu sulit dan terasa sakit baginya.
Saat itu juga, entah di sengaja atau tidak, mata Denisa dan Alex saling bertemu. Entah perasaan apa yang di rasakan Denisa saat ini, yang jelas perasaan canggung, nerves, hancur dan sedih menjadi satu. Meskipun begitu, Denisa mencoba untuk tetap tenang dan berusaha untuk tersenyum meski terasa pahit. Namun, jangankan untuk membalas senyum Denisa, Alex malah membuang muka ke arah lain dengan wajah datarnya. Seketika senyuman di wajah Denisa pun redup, seiiring dengan wajah acuh Alex yang terlihat tanpa dosa itu.
Sakit?
__ADS_1
Jangan ditanya lagi bagaimana rasanya. Di beri harapan palsu, lalu di tinggal menikah dengan bonus di acuhkan seolah tak pernah saling mengenal, membuat Denisa merasa sakit berkali-kali lipat.
Tapi tidak! Denisa harus baik-baik saja dan harus tetap tinggal hingga acara selesai.
Setelah selesai makan, Denisa berniat untuk pulang, namun sebelum pulang Denisa harus menemui kedua mempelai dan keluarganya terlebih dahulu. Ingin rasanya Denisa langsung pulang saja tanpa menemui kedua mempelai yang sedang berbahagia itu, namun rasanya tidak sopan jika Denisa pergi tanpa mengucapkan selamat kepada kedua mempelai terlebih dahulu.
Dengan langkah terpaksa, Denisa pun menunju ke atas pelaminan sambil mengikuti langkah tamu yang ada di depan.
Denisa menyalami kedua mempelai untuk memberikan selamat, namun sebelum itu Denisa lebih dulu menyalami ayah dari Alex, lanjut ke Alex.
" Selamat ya kak Alex."
" Lama sekali sih. Cepat gantian!"
Suara orang dari arah belakang membuyarkan lamunan Denisa, membuat Denisa harus segera maju dan bergantian memberi ucapan selamat kepada Angela.
" Selamat untuk mu. Semoga bahagia selalu."
" Iya, pasti. Terimakasih ya karena sudah mau datang," ucapnya sambil tersenyum tulus.
" Iya sama-sama."
__ADS_1
Tiba-tiba saja Angela membisikkan sesuatu kepada Denisa. Entah apa yang dia bisikkan hingga membuat raut wajah Denisa berubah terkejut sekaligus tegang. Denisa mengangguk pelan dengan senyum yang nampak dipaksakan. Ia terlihat tegang hingga membuatnya menelan ludahnya dengan kasar.
Setelah menyalami kedua orang tua Angela, Denisa segera turun dari pelaminan dengan tergesa-gesa. Karena terlalu tergesa-gesa, membuat kakinya tersandung dan terjerembab ke lantai.
Gelak tawa mengisi ruangan gedung resepsi tersebut. Tak asa satu orang pun yang berniat menolong atau sekedar menawarkan bantuan. Mereka asik sendiri dengan tawa mereka, seolah itu adalah sebuah lelucon dan hiburan tersendiri untuk mereka. Denisa merasa sangat malu karena sudah sangat ceroboh dan akhirnya membuatnya malu sendiri.
Ia mencoba untuk bangkit sendiri lalu menatap kerumunan orang yang masih belum selesai dengan tawa mereka. Untuk yang kesekian kalinya, Denisa menatap Alex, sekedar berharap mendapat pembelaan atau hanya sebuah senyuman terakhir. Namun nampaknya harapan Denisa hanya sebuah hayalan semata, sebab kali ini tak ada balasan dari Alex. Ia seakan sudah enggan menatap Denisa.
Dengan langkah lesu, Denisa berjalan keluar dari gedung yang terasa seperti neraka baginya. Tak lupa ia menenteng sepatu pansus yang ia pakai, karena ternyata saat jatuh tadi membuat pansus yang ia pakai sobek cukup lebar. Dengan terpaksa Denisa harus berjalan tanpa menggunakan alas kakinya.
" Itu bukannya gadis kecil yang selalu memberikan karakter Boba kepada Alex ya. Benar kan?" seorang pria bernama Julian menunjuk ke arah Denisa yang sudah berada di depan pintu keluar. Ia seakan meminta pembenaran dari keempat adiknya atas tebakannya.
" Masak sih bang? kenapa tidak mirip?" ujar Ansel.
" Iya, bukankah gadis yang dulu itu imut dan kecil, sedangkan yang itu,,,,,,,,." Raffa tak mau melanjutkan perkataannya. Ia tahu, semua saudaranya pasti mengerti apa yang ia maksud.
" Tidak. Aku sangat yakin itu orangnya." Julian bersikeras dengan apa yang dia ingat di masa lalu. Julian yang memang di kenal dengan ingatannya yang kuat, merasa sangat yakin dengan ucapannya tersebut.
" Sudahlah, iya kan saja apa yang di katakan bang Julian! kalian lupa bahwa memori nya sangat kuat? jangan sampai dia bermukhodimah karena kesal kalian tidak mempercayainya," ucap Septian ikut menimpali. Dia tahu benar dengan karakter Julian yang memang sangat suka marah-marah jika sesuatu tak sesuai keinginannya, dan disitulah Julian akan marah-marah seperti ibu-ibu beranak selusin.
Tiga saudara berbeda ibu dan bapak itu tertawa dengan candaan yang mereka buat sendiri. Sedangkan di sisi lain, Darrell yang tak ikut menimpali hanya tersenyum getir, seolah ada sesuatu yang ia rasakan atau sembunyikan.
__ADS_1