Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Kemesraan Yang Berujung Kegagalan


__ADS_3

Episode enam belas (16)


Sontak saja keduanya menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka tersebut, namun tak ada siapapun yang terlihat di sana.


" Sebentar!" Alex pun berinisiatif untuk memeriksa keadaan sekitar, kalau-kalau ada orang yang lewat dan tak sengaja mendengar mereka. Namun tak ada satu orang pun yang ada di sana.


Alex mengelus d*danya karena merasa lega.


Ia kembali menutup pintunya dan tak lupa pula untuk menguncinya. Dan itu membuat Angela semakin berdebar, hingga tak terasa meremas kasir yang didudukinya.


Setelah selesai menutup pintu, Alex kembali mendekati Angela dan duduk di sampingnya, namun kali ini dengan pandangan tak lepas dari Angela.


Angela yang merasa ngeri dengan tatapan itu pun menggeser sedikit posisi duduknya dan agak menjauh dari Alex. Namun tak di sangka Alex malah menahannya dan memegang tangan Angela.


" Aku sedang ingin. Aku mohon!!" ucapnya dengan sedikit memelas.


Angela bukan anak kemaren sore yang tak mengerti maksud Alex. Ia pun semakin di buat gugup, bahkan takut. Ia sama sekali tak pernah melakukan hubungan terlarang itu sebelumnya, dan dia bukan Angela yang asli yang mungkin biasa melakukannya dengan Alex. Dia hanyalah seorang anak kuliahan yang belum pernah merasakan rasanya jatuh cinta selain dengan Alex sendiri yang memang dari dulu ia kagumi.


" Emmmm aku,,,,,,,," ucapnya sambil terus menunduk.


" Tidak usah takut, kita sudah biasa melakukannya," ucap Alex sambil meraih dagu Angela dan mengangkatnya.


Angela semakin berdebar, ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Hatinya memang menolak, namun tidak dengan tubuhnya yang seakan pasrah menerima apa yang akan terjadi nantinya.


Entah dorongan dari mana, Angela pun refleks memejamkan matanya seolah memberi pertanda bahwa ia sudah siap.


Alex pun semakin bersemangat untuk meneruskan keinginannya itu. Ia pun mendekatkan wajahnya pada Angela dengan perlahan-lahan.


( Tuhan, maafkan aku Tuhan. Ibu,,,, aku janji, ini hanya sekali. Setelah ini aku akan menjauhinya. Biarkan ini menjadi kenang-kenangan terakhir untukku!)


Batin Angela terus saja bermonolog. Ia juga membuka matanya perlahan, dan memberanikan diri untuk menatap Alex yang begitu dekat dengannya saat ini.


Dan benar saja. Saat ini Alex tepat berada di depan matanya dengan wajah yang saling berdempetan tanpa jarak sedikitpun.


Alex mulai mengangkat tangannya dan membelai rambut Angela.


Terasa nyaman dan mampu membuat Angela merasa hanyut semakin jauh terbawa arus cinta yang diberikan Alex padanya. Matanya sayu seakan menikmati belaian lembut pada rambut indahnya.


Angela bahkan tak menyangka. Mungkin saat di luaran, Alex di kenal memiliki sifat dingin dan acuh, serta savage saat berbicara. Namun ketika ia bersama pasangannya, ia akan bersikap lemah lembut dan sangat romantis. Itu yang dirasakan Angela beberapa bulan terakhir ini, saat bersama Alex.


Alex pun mulai mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Namun saat bibir mereka mulai menyatu, tiba-tiba,,,,


Tok tok tok tok


" Kakak ipar!!"

__ADS_1


Sontak saja mereka segera menyudahi aktivitas mereka dan saling menjatuhkan diri satu sama lain.


" Sial!!" umpat Alex, kesal karena aktivitasnya di ganggu.


" Kakak ipar!!" ulang suara dari luar. Dan sepertinya itu adalah suara Septian, dia memanggil dengan suara yang terdengar panik.


" Biar aku buka ya kak, sepertinya itu penting," ucap Angela.


" Terserah!!" jawab Alex dengan nada ketus.


" Kak!"


" Iya iya. Buka saja sana!"


" Tapi kakak jangan di sini, nanti mereka curiga!" ucap Angela mewanti-wanti.


" Ck, Iya . Sudah sana pergi!"


Sebenarnya Septian dan Ansel juga sudah terbiasa melihat Alex dan Angela berduaan di dalam kamar. Hanya saja Alex tak mau ribut dengan Angela dan mengulur waktu, jadi ia terpaksa mengalah saja.


Angela pun mendekati pintu dan segera membukanya.


Dan tak salah lagi, yang mengetuk pintu tadi adalah Septian. Dia dengan wajah paniknya mondar-mandir di depan pintu kamar Angela.


" Ada apa?" tanya Angela setelah membukakan pintu.


" Emmmm tidak ada, memangnya kenapa?" jawab Angela yang juga ikut melihat ke dalam kamarnya untuk memastikan bahwa Alex sudah tidak ada didalam.


" Yahhh,," ucapnya tertunduk sedih.


" Padahal aku kira dia berada di sini."


" Eeeee tidak ada. Mungkin dia sedang ke kamar kecil, mungkin," jawab Angela.


" Kakak ipar, aku bisa minta tolong?!"


" Minta tolong apa?"


" Istriku perutnya keram. Dari tadi dia kesakitan," ucapnya dengan wajah panik.


" Hah, yang benar? tunggu apa lagi, ayo kita bawa ke rumah sakit!!" kata Angela yang ikutan panik.


" Masalahnya, aku ke sini tidak membawa mobil, jadi aku mau pinjam dulu sama bang Alex, tapi bang Alex nya tidak ada di kamarnya."


" Ya sudah, kakak bawa saja dulu Nanci nya, nanti saya menyusul dengan kak Alex!!"

__ADS_1


Sangking paniknya, hingga Angela tidak sadar dengan panggilannya. Untung saja Septian yang juga panik tidak begitu ngeh, sehingga ia pun tidak membahasnya.


" Baiklah kakak ipar, aku akan membawa Nanci duluan."


Septian pun segera pergi dan melaksanakan perintah Angela. Sedangkan Angela mencari keberadaan Alex di seluruh ruangan kamarnya. Dan ia pun mendapati Alex yang sedang berendam di bathtub tanpa menggunakan sehelai benangpun. Bahkan air bathtub tersebut pun hanyalah air kran biasa yang terlihat bening, hingga nampak sangat jelas bagian tubuh Alex tersebut.


Tak seperti kebanyakan wanita yang akan menjerit dan langsung menutup matanya ketika melihat pemandangan haram tersebut. Angela malah terpaku di tempat, dengan mata yang tak berkedip. Otaknya seakan ngelg dengan tatapan satu arah yang kosong. Namun ia bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depannya saat ini.


Alex pun ikut melihat seluruh bagian tubuhnya dengan wajah heran. Ia bahkan tidak menutupi sama sekali apa yang Angela lihat, seolah itu sudah biasa terjadi diantara mereka.


" Kau kenapa?" tanya Alex.


Namun tak ada jawaban dari Angela. Ia masih tetap pada posisinya yang terpaku tanpa berkedip.


Alex pun berdiri dan meraih handuknya, lalu memakainya di depan Angela tanpa jaim sedikitpun. Setelah itu dia juga mendekati Angela dan melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Angela. Sontak saja Angela langsung tersadar dari lamunannya.


" Hah, kenapa kak?" ucapnya.


" Kenapa kamu melihatku seperti itu, nafsu?" kata Alex.


" Hah, nafsu? ih kakak ada-ada saja," jawab Angela tidak terima.


" Pandanganmu itu seperti kucing lapar, tahu tidak?" ejek Alex.


" Ih, siapa juga yang lapar. Kakak tuh, yang seperti kucing garong," ucap Angela tak mau kalah.


" Oooo, kau mengatai ku kucing garong ya?! baiklah, aku akan menjadi kucing garong yang siap menerkam mu."


Nampaknya Alex tidak main-main dengan ucapannya. Dia pun mendekati Angela dengan tangan yang berada pada handuk yang ia pakai, seperti siap untuk membukanya kapan saja.


" Kakak mau apa?" Angela yang takut pun, mundur sedikit demi sedikit.


" Mau tidur!! ya mau makan kamu lah," ucapnya sambil terus maju.


" Jangan sekarang ya, please!!" ucapnya sambil menghalangi Alex dengan tangannya.


" Kenapa?" tanyanya sambil berhenti di tempat.


" Karena Septian dan Natasya sedang membutuhkan kita saat ini."


" Memangnya kenapa mereka?"


" Kata Septian, Natasya sakit perut, dan sekarang sedang menunggu kakak untuk pergi ke rumah sakit."


" APA!! Kenapa tidak bilang dari tadi?!"

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Alex segera pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian, lalu setelah itu, iapun segera menyusul Septian dan Natasya yang sudah menunggunya di luar.


__ADS_2