Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Kembalinya Denisa


__ADS_3

Episode sembilan (9)


Tak ada kejadian apa-apa malam itu. Alex nampak tertidur pulas dengan dengkuran halus yang terdengar oleh Angela.


Angela bisa sedikit lebih tenang, karena akhirnya ia terbebas dari hal yang mengerikan yang ia bayangkan sebelumnya.


Karena rasa kantuknya mulai menyerang, Angela pun perlahan-lahan ikut tertidur dengan posisi masih dalam pelukan Alex.


Anehnya Angela malah merasa lebih tenang berada dalam pelukan itu. Meskipun tadi sempat berfikir takut akan kehilangan Alex, seketika hilang seolah tanpa beban.


Fajar mulai menampakkan wajahnya. Masih di posisi yang sama seperti malam tadi, Angela mulai membuka matanya perlahan, dan mengerjap ngerjapkan matanya karena masih terasa lengket.


Angela terkejut ketika sepasang mata ternyata menatap ke arahnya sambil tersenyum.


Sekali lagi ia merasa bagaikan mimpi bisa di tatap sedemikian rupa oleh orang yang ia kagumi.


Angela menelan ludahnya berkali-kali karena merasa grogi berada sedekat itu dengan pria idamannya.


Apalagi Alex tersenyum begitu indah kepadanya. Senyum yang dulu hanya dapat ia lihat dari dunia Maya, kini begitu nyata gummy smile itu, membuat Angela tak dapat menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini.


" K-kak Alex, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Angela dengan perasaan gugup.


" Indah." Satu kata yang keluar dari mulut Alex, yang mampu membuat Angela tersipu. Namun seketika ia teringat akan ucapan jiwa Angela tadi malam. Hatinya kembali sakit ketika mengingat kenyataan bahwa yang di puji bukanlah dirinya, melainkan pemilik tubuh yang ia pakai.


Dengan perlahan Angela pun menjauhkan diri dari Alex, dan tentu hal itu membuat Alex heran dan bertanya-tanya, apakah dirinya salah bicara?.


" Eeeee a-aku mandi dulu ya kak," ucap Angela sambil berlari ke arah kamar mandi.


Alex tersenyum sekilas lalu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Angela.


Alex mengangap Angela hanya malu saja karena mereka tidur berdua semalaman. Meskipun tak biasanya Angela malu-malu kucing begitu, akan tetapi Alex menyangka itu karena Angela yang sedang lupa ingatan saja, padahal saat ini Angela sedang menahan tangisnya di dalam kamar mandi.


Sedih karena harus menjauhi Alex demi janjinya pada Angela yang asli.


Sedangkan Denisa kini berangsur-angsur pulih


Karena jiwa Angela yang bersedia masuk ke dalam tubuh Denisa.


Meskipun Denisa merasa asing dengan tubuh dan suasananya sekarang, namun demi bisa masuk kembali ke tubuh aslinya, ia rela masuk ke dalam tubuh Denisa.


Hari ini adalah hari dimana Denisa sudah di perbolehkan untuk pulang oleh dokter. Kebetulan uang Lita untuk biaya pengobatan Denisa sudah habis. Lita pun haru kembali bekerja untuk menghidupi dia dan anaknya. Karena sudah beberapa Minggu ini ia cuti untuk merawat Denisa.


" Ma eh maksudku Bu, kita akan pulang ke mana?" tanya Denisa sambil membantu Lita berkemas.


Lita menoleh pada Denisa sekilas dengan kening berkerut karena bingung dengan pertanyaan ambigu dari Denisa.

__ADS_1


" Pulang? pulang ke rumah kita lah sayang, memangnya pulang kemana lagi?" ucap Lita, lalu kembali mengemas pakaian Denisa.


" Oh iya." Denisa menggaruk kepalanya sambil nyengir kuda. Ia lupa bahwa dirinya saat ini bukanlah sebagai Angela, tapi sebagai Denisa. Wajar saja jika Lita heran dengan pertanyaan yang ia ajukan.


Selesai berkemas, Lita dan Denisa segera meninggalkan rumah sakit dan akan pulang ke rumah mereka.


Baru saja sampai di teras rumah, Lita sudah di hadang oleh Doni dan di cerca dengan berbagai pertanyaan yang tidak penting menurut Lita.


" Lita, aku minta uang lagi," ucap Doni dengan tidak tahu malunya.


" Uang? uang untuk apa lagi Mas, bukannya kemaren kamu sudah minta lima ratus ribu, apa itu belum cukup?"


Denisa yang tidak mengenal siapa laki-laki sangar di depannya itu, ia hanya bisa menyaksikan dan menyimak saja percekcokan dua orang asing tersebut. Namun di lihat dari tingkah nya meminta uang kepada Lita, Denisa paham bahwa lelaki itu adalah ayah dari gadis yang ia pinjam tubuhnya itu.


" HEH, kamu pikir uang lima ratus ribu itu jumlah yang besar? paling cuma buat minum dan main saja sudah habis." Dengan kasar Doni menarik kerah baju Lita, namun Lita tak beraksi apa-apa.


Denisa syok, ternyata keluarga wanita yang bertukar tubuh dengannya itu adalah keluarga broken home. Denisa baru tahu, dan ia pun baru menyadari betapa malang menjadi gadis ini, pasti setiap harinya ia harus menyaksikan pertengkaran dan kekerasan ini, pikirannya.


Karena merasa kasian dengan Lita, Denisa pun segera berdiri dan mencoba mencegah Doni untuk melakukan kekerasan lainnya terhadap Lita.


" Pak sudah cukup! kasihan ibu," ucapnya sambil melerai.


Doni langsung terdiam sambil menatap Denisa dengan tatapan takut. Perlahan-lahan ia pun melepaskan cengkeramannya dari Lita dan perlahan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Denisa di buat bingung dengan sikap Doni yang seolah takut padanya. Padahal dia hanya melerai dan bukan memukul, mengapa dia tiba-tiba pergi.


" Mungkin saja karena dia takut dengan mu," ucap Lita sambil sama-sama menatap kepergian Doni yang mulai menjauh.


" Takut?" Denisa pun menoleh ke arah Lita seolah meminta penjelasan.


" Ya mungkin." Lita mengangkat kedua tangannya tanda tak pasti.


" Sudahlah, jangan dipikirkan! mari kita masuk!" ajak Lita. Begitu pun Denisa yang tak menghiraukannya lagi apa yang terjadi tadi, ia pun mengikuti Lita dari belakang untuk masuk kedalam rumah.


Rumah berukuran tiga meter persegi itu nampak sederhana namun sangat rapi dan bersih serta sangat nyaman jika di pandang mata.


Denisa merebahkan tubuhnya di atas sofa sederhana berukuran panjang tersebut. Ia menarik nafas panjang, seolah sedang menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Entah mengapa ia merasa nyaman di rumah barunya tersebut. Meskipun sederhana, namun terasa sangat asri.


" Nisa, kalau mau istirahat di dalam kamar saja, biar lebih leluasa," kata Lita.


" Iya Bu, nanti saja," jawabnya.


" Ya sudah, ibu tinggal ke dapur dulu ya."

__ADS_1


" Iya Bu."


Ditengah aktivitas bersantai nya, Denisa teringat bahwa ia harus segera menemui Angela untuk misi mereka mengembalikan jiwa mereka ke tubuh masing-masing.


Denisa pun pergi ke dapur di mana kita berada. Ia berniat meminta izin untuk ke rumah Angela.


" Bu, saya pergi dulu sebentar boleh tidak?"


Lita yang sedang memasak sesuatu tersebut pun menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Denisa.


" Mau pergi ke mana Nak, kamu kan baru pulih."


" Mau,,,,,,ke,,,,,,rumah teman, iya. Ada yang mau di antar," ucapnya terbata.


" Apa yang di antar, tugas kuliah? ke rumah siapa, Renata ya?." Karena Denisa tak mengenal siapa itu Renata, ia pun hanya mengangguk membenarkan, biar sisanya ia pikirkan nanti.


" I-iya, ke rumah Renata."


" Ohh. Tapi kamu perginya sama siapa? Ibu takut terjadi apa-apa di jalan jika kamu sendirian."


" Tidak apa Bu, aku sudah lebih baik kok. Ibu jangan khawatir," ucapnya meyakinkan.


" Yakin tidak apa-apa?"


" Iya Bu."


" Ya sudah, tapi jangan lama-lama. Nanti kalau mau pulang, minta antar saja sama Renata, ya "


" Iya ibu."


" Aku pergi dulu ya ibu. Dahhh!"


Denisa pergi tanpa bersalaman terlebih dahulu kepada ibunya seperti biasa ia lakukan. Membuat Lita heran dan terpaksa memanggil Denisa kembali.


" Iya Bu, kenapa?" tanya Denisa.


" Kamu lupa sesuatu?" tanya ibunya.


" Lupa? lupa apa memangnya Bu?"


" Kamu lupa salaman sama ibu?"


Agak lama Denisa memikirkannya, dan beberapa saat ia baru menyadari sesuatu.


" Ohhh iya. Maaf Bu, saya lupa." Denisa pun meraih tangan Lita dan menciumnya, layaknya seperti yang biasa Denisa asli lakukan.

__ADS_1


Meskipun Angela asli bukan dari keyakinan yang sama, namun sedikit banyaknya ia tahu apa saja aturan-aturan di dalam Islam.


__ADS_2