Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Siapa Boba?


__ADS_3

Episode dua puluh satu (21)


" Hemmmm. Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua?" tanya Septian sambil bersidekap dada. Matanya berganti menatap Angela dan Natasya.


" Tidak ada apa-apa Septian. Sebenarnya ini hanya salah faham saja," jelas Angela.


" Heh. Salah faham bagaimana maksud kakak? jelas-jelas kak Angela tadi bicara kasar ketika aku menyebut temanmu itu gemuk," ucap Natasya dengan wajah nyolotnya.


" Bukan begitu Natasya."


" Ah sudahlah kak!"


" Hey hey hey! kalian bisa diam tidak!!"


Septian yang pusing melihat perdebatan mereka pun lantas menengahinya.


" Kalian belum pernah merasakan jemari-jemari ajaib ku ini, hah?" ucapnya sambil menunjukkan jari-jari tangannya.


" Memang ada apa dengan jemari mu itu?" tanya Angela penasaran.


" Dia bisa apa saja tahu tidak?. Dia bisa menjewer telinga kalian, juga memelintirnya," kata Septian dengan gaya kocaknya.


" Hahaha. Septian Septian! kau pikir kami anak kecil yang harus menerima jeweran darimu?!"


Angela tertawa mendengar hukuman konyol dari Septian.


Ada-ada saja tingkah konyol Septian yang tak pernah gagal membuat orang tertawa, bahkan geleng-geleng kepala mendengarnya.


Ia bahkan mampu membuat Angela tertawa terbahak-bahak karena ulahnya. Karena itu memang tujuannya. Namun itu tidak mampu membuat Natasya tertawa ataupun menampakkan senyumnya barang sekilas pun. Dan itu artinya Natasya masih marah terhadap Angela dan belum memaafkannya.


" Huh, membosankan," kesal Natasya. Dia lantas berlalu meninggalkan Angela dan Septian tanpa sepatah katapun.


"Hehhh." Angela menghela nafas panjangnya, merasa lelah karena usaha Septian pun tak berhasil membuat suasana kembali seperti semula.


" Sudahlah kakak ipar! biarkan kakak ipar Natasya menenangkan diri dulu!. Aku yakin, nanti setelah moodnya kembali, dia akan kembali baik lagi." Septian menepuk pundak Angela, mencoba untuk menenangkannya.


" Aku harap begitu," tutur Angela.


" Kalau begitu aku mau menemui Nanci dan Jeje dulu di halaman belakang," ujar Septian.


Angela pun mengangguk dan tersenyum.


Saat malam tiba, Angela tak bisa tidur. Ia gelisah entah karna apa. Dia hanya berguling-guling di kasurnya sambil berusaha memejamkan matanya, mana tahu bisa terlelap. Namun usahanya sia-sia saja.


Hatinya masih tertuju pada pertengkarannya siang tadi. Ia jadi merasa tak enak hati kepada Natasya karena sempat membentaknya walaupun tanpa sengaja.


Karena tak bisa tidur, Angela bangun dari pembaringannya untuk menuju meja belajar.


Ia membuka buku diary nya dan mengambil sebuah pena.

__ADS_1


Ia ingin merangkai sebuah kata untuk mengungkapkan perasaannya malam ini, namun ia pun tak tahu apa yang harus ia tulis. Perasaannya yang tak nyaman seolah membuat otaknya beku.


Ia pun kembali ke kasurnya dan merebahkan diri di sana, serta menyelimuti seluruh tubuhnya kecuali kepala, lalu meringkuk dan mencoba kembali memejamkan matanya.


Namun baru beberapa saat ia bisa terlelap, sebuah benda kenyal dan dingin, melingkar erat di pinggangnya.


Angela terkejut, lalu terbangun. Namun belum berani menoleh ke belakang, siapa yang telah memeluknya.


" Ehemmm, k-kak Alex?"


Angela memang tak tahu siapa orang yang merengkuh tubuhnya tersebut, namun ia pun bisa menebak dari aroma parfum yang orang itu pakai.


Ia lantas meraba tangan yang dia kira Alex tersebut.


Dan benar saja. Tangan itu kekar dan besar, seperti tangan milik laki-laki.


" hemmm," gumam laki-laki itu.


" Kapan kakak pulang?"


" Tadi," jawab Alex dengan suara berat khas orang mengantuk.


Ia juga membenamkan wajahnya di punggung Angela dengan manja.


" Emmmm, Kakak,,,,, tidak tidur di kamar kakak saja?"


" Emmmmm,,,,,, ya sudah, biar aku saja yang pindah."


Angela pun hendak berdiri untuk pindah kamar lain, namun dengan sigap Alex menahannya dan memeluknya dengan erat hingga Angela tak dapat bergerak dari dekapannya itu.


" Di sini saja, biarkan seperti ini!. Aku janji tidak akan macam-macam," ucap Alex dengan mata terpejam.


Angela mengangguk patuh, lalu ikut memejamkan mata meski tak sepenuhnya tertidur.


Angela masih bisa merasakan hembusan nafas Alex di tengkuknya, terasa hangat dan lembut. Tak lama,


Angela mendengar dengkuran halus tepat di telinganya, itu berarti Alex benar-benar sudah tertidur dengan pulas. Ia juga nampak sangat kelelahan setelah seharian bekerja.


Angela membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Alex.


Sejenak Angela terpaku dengan pesona yang di miliki Alex. Meski sedang tertidur, tak mengurangi sedikitpun ketampanan yang ia miliki, namun malah semakin membuatnya terlihat manis.


Pria bertubuh suspek itu, memiliki kulit putih bak salju yang begitu halus, serta pipi chubby yang begitu menggemaskan. Sangat jauh berbanding dengan sifatnya yang dingin dan cuek, serta berwajah datar bak seorang mafia.


Tanpa sadar tangan Angela naik, membelai lembut seluruh wajah Alex. Menapaki sejengkal demi sejengkal pahatan indah itu. Dari mulai kening, hingga turun ke hidung, lalu berhenti di bibir merah muda milik Alex dan mengusap setiap incinya.


( Kapan lagi aku bisa sedekat ini dan seperti ini?. Mungkin ini terakhir kalinya aku bersama mu kak, setelah itu aku hanya bisa berkhayal untuk bisa bersamamu lagi) ucapnya dalam hati sambil terus mengusap lembut bibir ranum itu.


Namun tiba-tiba Angela terkejut ketika tangannya di pegang oleh Alex.

__ADS_1


" Jangan pergi!!" ucap Alex dengan mata terpejam.


Angela pun memeriksa apakah Alex benar-benar tidur atau berpura-pura saja. Namun ia tak menemukan tanda-tanda kepura-puraan di sana.


( Mungkin kak Alex mengigau) pikirnya.


" Jangan pergi Boba ku! kembalilah, aku merindukanmu!"


Nampaknya Alex kembali mengigau, namun tangannya malah semakin erat memegang tangan Angela, seolah tak mau di tinggalkan olehnya.


( Siapa Boba? apa itu gelaran untuk Angela, atau,,,,,,,?)


" Kak!!"


Angela pun memastikan bahwa Alex sudah benar-benar tertidur. Ia pun melepaskan cekalan tangan Alex secara perlahan, agar Alex tidak terganggu tidurnya.


" Hemmmm, masak iya, kak Alex menyukai wanita lain selain Angela," pikir Angela yang bermonolog sendiri.


" Kalau memang benar, lalu siapa si Boba itu?"


Angela pun menyandarkan kepalanya pada ranjang sambil memikirkan siapa wanita yang di sebut Boba oleh Alex tersebut. Namun, Lama kelamaan akhirnya Angela pun mengantuk dan akhirnya tertidur dengan posisi semula.


Namun ketika di pagi hari, saat ia terbangun. Angela mendapati dirinya terbaring dengan posisi normal, dengan selimut sebatas d*da.


Angela pun menoleh ke samping, mencari keberadaan Alex yang semalam tidur bersamanya. Namun kini sudah tak terlihat lagi keberadaannya.


Tapi ia mendengar samar, suara gemericik air dari dalam kamar mandinya. Dan tak lama setelah itu pun, Alex keluar dari kamar mandi tersebut, sudah lengkap dengan pakaian kerjanya.


" Loh, kak Alex."


" Kenapa? ada yang aneh?" tanya Alex sambil memeriksa tubuhnya.


" B-bukan itu kak."


" Lalu?"


" Kenapa kakak pakai baju di kamar mandi?"


" Lalu, aku harus pakai baju di depanmu, begitu?"


" Ihhh, bukan begitu juga maksud ku."


" Kenapa kakak tidak pakai baju dan mandi di kamar kakak saja?"


" Suka-suka saya. Bukankah ini rumah saya?" ucap Alex dengan ciri khas bicaranya yang savage.


Lalu ia pun berlalu meninggalkan Angela dengan segala kebingungannya.


" Iya juga sih," pikir Angela sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2