Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Undangan


__ADS_3

Episode tiga puluh tujuh (37)


Hari ini benar-benar hari yang bersejarah buruk bagi Denisa. Baru kali ini ia merasa patah sepatah patahnya. Jika dulu saat dia di hina karena bentuk tubuhnya, di tambah ayahnya yang bersifat kasar dan pem*buk, namun itu sama sekali tak membuatnya putus asa, karena dia merasa punya semangat tersendiri, yaitu Alex. Meskipun dulu hanya menganggap antara fans dan Idola saja. Tapi lain cerita jika kesedihan itu berasal dari penyemangat itu sendiri.


Bahkan beberapa hari ini, Denisa seolah selalu di buat baper oleh Alex, seakan ia memberi harapan kepada Denisa.


Apa jadinya hatinya saat ini ketika mendengar orang yang diharapkan malah sudah menikah.


Denisa pergi dari kantin tersebut, bahkan keluar dari kampus, padahal kelasnya belum dimulai.


Dia berjalan menyusuri jalan raya tanpa memesan ojek ataupun angkutan umum lainnya. Dia sengaja ingin menyendiri terlebih dahulu, agar perasaannya bisa lebih tenang.


Dua sahabat nya itupun bingung ketika melihat Denisa pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Padahal Renata sudah memesan tiga porsi makanan untuk mereka. Tapi Renata paham dengan perasaan Denisa saat ini. Dia memilih tak mengejar Denisa, karena ia pikir Denisa pasti butuh privasi dan ketenangan saat ini.


Pesta pernikahan Alex dan Angela sudah hampir rampung. Hanya tinggal beberapa hal yang belum di urus. Besok rencananya mereka akan menggelar pesta pernikahan secara besar-besaran, dan itu atas permintaan Angela. Tak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini entah mengapa Alex selalu mengiyakan permintaan Angela.


Angela begitu senang, hingga ia tak henti-hentinya mematut dirinya di cermin. Ia merasa dirinya saat ini sebagai seorang putri, putri yang paling bahagia. Berputar sambil tersenyum di depan kaca. Menatap dirinya penuh kebanggaan.


" Cieee yang lagi bahagia," ucap Nanci yang melihat kelakuan iparnya itu dari depan pintu kamar Angela.


Angela terkejut dan langsung menoleh pada sumber suara. Ia merasa malu sendiri karena kepergok oleh Nanci.


" Nanci, sejak kapan kau di sana?"


" Sejak kau berdiri di depan cermin." Nanci pun masuk tanpa di persilahkan oleh sang pemilik kamar. Dia menghampiri Angela dan duduk di tepi tempat tidur milik Angela.


" Eeeee asa a-aku tadi hanya,,,,,,," Angela ingin menjelaskan, namun ia sudah terlanjur malu.


" Iya, aku tahu kok. Kakak ipar pasti sedang senang kan? makanya tak berhenti melihat cermin."


" B-ukan begitu. Aku hanya melihat diriku seperti agak gemuk, makanya aku kurang pede," jelas Angela.


Nanci memicingkan matanya sambil memegang dagu, seolah sedang menerawang perkataan Angela benar atau salah.


" Ku rasa tidak ada yang berubah dari tubuh kakak. Tapi,,,,,,,, memang sedikit lebar di bagian pinggang dan pinggul. Seperti sedang,,,,,,,,,,."


" Eeeeee apa kau sudah makan? kalau belum, mari kita makan di luar saja!" Angela memotong perkataan Nanci dan mengajaknya makan.


" Benarkah kau mengajakku? dengan senang hati," jawab banci dengan wajah berbinar.

__ADS_1


" Iya, jika perlu Natasya dan Jeje juga ikut."


" Baiklah, aku akan memberi tahu mereka untuk bersiap." Nanci langsung keluar dari kamar Angela untuk memberi tahu Natasya dan Jeje.


" Nah, begitu dong. Menjadi laki-laki itu harus gentle!" Ansel menepuk bangga pundak Alex saat mereka bertiga sedang berkumpul di taman belakang.


Alex hanya menanggapinya dengan tersenyum santai.


" Mungkin dia sudah sadar dan mendapat hidayah," timpal Septian.


" Heh, kenapa kau jadi bawa-bawa nama pembantuku? apa dia yang sudah menyuruhmu untuk menikah bang?" tanya Ansel. Wajahnya nampak serius saat mengatakannya.


" Hey, bukan Hidayah itu yang ku maksud." Septian merasa frustasi karena Ansel tidak mengerti maksudnya. Dan itu artinya dia harus menjelaskan detil tentang siapa dan apa itu hidayah.


" Lalu, apa dia temanmu, atau tetangga mu? dimana kau mengenalnya?"


" Bukan. Hidayah itu anaknya pak RT," jawab Septian asal. Dia sudah benar-benar frustasi pada Ansel. Entah itu serius atau mengerjainya saja, yang jelas Septian jadi pusing karena ulah Ansel.


Sedangkan Alex hanya menyimak saja percekcokan konyol dua sahabat itu sambil sesekali terkekeh kecil.


Tiba-tiba Natasya, Nanci dan Jeje memanggil mereka, membuat percekcokan itu berhenti dan lenyap begitu saja.


" Sama siapa?." Tentulah itu Septian yang bertanya.


" Sama aku, Jeje dan Angela," Natasya yang menjawab, dan di angguki oleh Nanci.


" Mau kemana sayang, memangnya?" tanya Ansel pada istrinya itu.


" Di ajak Angela makan di luar, boleh kan?"


" Boleh lah, masa tidak boleh."


Setelah mendapat izin dari suami masing-masing, mereka pun pergi.


" Eh tunggu, stop dulu!"


Tiba-tiba Angela menyuruh Natasya untuk menghentikan mobilnya di tepi jalan raya.


Refleks Natasya pun menginjak rem.

__ADS_1


" Ada apa kak Angela?" tanya Nanci.


" Kalian tunggu disini dulu, aku ingin keluar sebentar, tidak lama kok." Angela lantas membuka pintu mobil, tapi sebelum itu, ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Natasya dan Nanci tidak protes ataupun bertanya. Mereka menurut saja dan menunggu Angela sampai urusannya selesai.


" Hay Denisa!


Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Denisa lekas menghapus air matanya dan menoleh ke asal suara.


" A-angela?"


" Ya, aku ke sini hanya mau memberikan ini untukmu. Jangan lupa datang ya!" ujarnya sambil memberikan kertas yang berbentuk kartu undangan kepada Denisa.


Denisa pun menerimanya sambil mengangguk-angguk. Dia seakan sudah tahu benda apa yang di berikan Angela tersebut.


" Terimakasih ya, aku pasti datang kok. Dan selamat untuk pernikahan kalian, semoga bahagia selalu," ucap Denisa.


" Terimakasih untuk doanya. Pasti aku akan selalu bahagia. Bay the way, kenapa kau berada di pinggir jalan? apa perlu ku antar pulang?" tawar Angela.


" Tidak, terimakasih. Aku memang sengaja berjalan, hanya ingin mencari angin segar saja," jawab Denisa.


" Ya sudah, kalau begitu aku tinggal dulu ya." Denisa mengangguk ramah, lalu Angela pun kembali kedalam mobil dan meninggalkan Denisa yang masih mematung di pinggir jalan.


Denisa tak dapat membohongi hatinya. Meskipun ia tahu bahwa pesta itu akan segera dilangsungkan, namun Denisa tetap tak menyangka bahwa dirinya juga akan di undang dalam pesta besar-besaran itu.


Denisa berdiri di tepi jembatan yang kebetulan ia lalui. Denisa berteriak sekencang-kencangnya di jembatan itu, berharap agar hatinya sedikit lega. Namun itu malah membuat hatinya semakin sakit.


Denisa duduk bersandar pada sisi jembatan sambil meratapi nasibnya dengan hati yang pilu. Tak perduli lagi jika orang yang lalu lalang akan menganggap dia sudah gila, yang penting saat ini ia ingin melakukan apa yang ingin ia lakukan.


Dari kejauhan, seorang wanita dan pria memanggil-manggil namanya. Denisa tak menoleh atau sekedar untuk memastikan. Dia sibuk dengan dunianya sendiri, dunia yang penuh kesedihan.


" Denisa!! apa yang kau lakukan disini? ayo pulang!" ajak Renata dan Bobi yang tiba-tiba menghampirinya.


Denisa tak bergeming atau menjawabnya. Bahkan matanya saja tak berkedip. Hanya air matanya saja yang terus mengalir.


Mengerti akan keadaan sahabatnya itu, Renata langsung memeluk Denisa tanpa mengatakan apa-apa. Ia hanya ingin menyalurkan kekuatan dan ingin mengatakan bahwa Denisa tak sendiri.


"

__ADS_1


__ADS_2